
Suasana pesat semakin sore semakin ramai, banyak teman-teman Rey yang datang setelah pulang dari tempat kerja. Ada beberapa yang Malik kenal juga di sana. Cukup lama Malik berbincang dan tidak memperhatikan Ayu yang sudah tidak ada di atas.
Malik mengedarkan pandangan dan tidak menemukan Ayu dimanapun, terakhir Ayu terlihat bersama Rey dan Ana yang saat ini sedang bicara dengan tamu lain. Sahabat-sahabat Ayu juga sedang asik sendiri menikmati makanan yang di suguhkan. Malik memutuskan untuk mencari Ayu, pikirannya sudah tidak bisa tenang jika tidak melihat Ayu di dekatnya.
“Rey, diamana Ayu?” Malik tidak menemukan Ayu dimanapun.
“Tadi dia turun ke bawah.” Rey kembali melanjutkan obrolannya dengan beberapa sahabatnya yang hadir, mengenalkan Ana yang sebentar lagi akan resmi jadi istrinya.
Malik buru-buru turun menyusul Ayu ke bawah. Malik melihat Ayu yang sedang menaiki tangga dengan kepala tertunduk. Malik mempercepat langkahnya saat melihat Ayu seperti orang yang sedang kelelahan.
“Ayuna” Ayu berhenti saat mendengar suara Malik. Kakinya yang lemas kini mati rasa, Ayu tidak bisa lagi menahan beban tubuhnya.
Malik meraih tubuh Ayu yang hamper saja jatuh, menagkapnya dalam pelukkan Malik yang kini merasakan jantungnya berdebar sangat kencang. Benar saja firasatnya, untung saja Malik sedikit lebih cepat, bisa aja Ayu jatuh karena dia belum sepenuhnya pulih.
Tolong…….tolonggg….tolonggg….
Ayu masih membuka matanya, tapi tidak merespon ucapan Malik yang saat ini memanggil-manggil namanya. Tubuhnya basah bercucuran keringat. Malik panik melihat Ayu yang kesulitan bernafas di pangkuannya.
Semua orang berhambur lari kearah tangga saat mendengar teriakan minta tolong. Rey membantu Malik membawa Ayu ke ruangannya, kebetulan Adam baru saja tiba ditempat Rey. Adam segera memberikan pertolongan pertama karena Ayu mngalami sesak nafas menurut Malik. Bisa saja ini karena gangguan panik yang Ayu alami.
Hanya ada Rey, Adam dan Malik yang menemani Ayu di ruangan Rey. Adam gemetar menahan amarahnya yang mulai memenuhi kepalanya. Lagi-lagi kejadian seperti ini timbul padahal Adam sudah memberikan peringatan keras pada Malik. Adam tidak habis piker kenapa Ayu selalu saja diambang penderitaan. Malik tau sorot mata Adam yang menyalahkan dirinya, kali ini Malik memilih menghindar dan tidak membela diri. Memang semua salahnya yang tidak menjaga Ayu dengan baik.
“Kita harus membawanya ke rumah sakit. Aku harus melakukan pemeriksaan penuh.” Adam khawatir saat Ayu tidak kunjung sadar. Malik menggendong tubuh Ayu yang tidak berdaya menuju parkiran.
Malik tidak melepaskan tubuh Ayu dari pelukkannya, sudut matanya basah menyesali kesalahannya yang tidak menjaga Ayu dengan baik. Malik lengah terlalu asyik menanggapi obrolan bersama teman-temannya yang sudah lama baru bertemu.
Sesampainya di rumah sakit, Malik tidak membiarkan perawat membawa Ayu. Malik menggendong tubuh Ayu sampai ke ruang perawatan. Adam melihat ada penyesalan yang besar, Malik tidak mungkin mengingkari janjinya, dia orang yang selalu bertanggung jawab dengan apa yang sudah menjadi komitmen hidupnya.
Malik dipaksa keluar dari ruang perawatan, Adam mendorongnya keluar karena Malik bersikeras tidak mau meninggalkan Ayu sendiri. Malik akhirnya menuruti permintaan Adam yang memaksanya keluar dengan kasar.
__ADS_1
Tidak lama Adam sudah keluar dari ruang perawatan, wajahnya terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Malik berharap Adam membawa kabar baik. Sudut bibir Adam sedikit terangkat memberikan ketenangan. Adam menyesal berprasangka buruk pada Malik, dia harus mencari tau apa penyebab sebenarnya sebelum menghukum Malik.
“Nak….” Terlihat keluarga Malik dan keluarga Ayu yang baru saja sampai. Semua nya terlihat khawatir saat mendengar Ayu pingsan di acara Rey.
“Kalian semua sangat kompak, aku iri melihat keluarga yang sangat dekat seperti ini.” Adam memeluk Mamih yang merentangkan tangannya. Pelukkan pertmanaya untuk Adam, bukan untuk Malik.
“Kau juga putraku, katakana apa yang terjadi? Dia ini selalu saja tidak bisa menjaga Ayu dengan baik.” Mamih memicingkan matanya menatap Malik.
“Ini bukan salahnya, Ayu tiba-tiba tidak sadarkan diri.” Rey membela Malik yang sedang terpojok. Rey tidak tega semua orang menghakimi Malik seorang. Rey lihat sendiri Malik membatasi pergerakan Ayu agar tidak terlalu lelah.
Malik bahkan mondar-mandir melayani Ayu yang banyak keinginan. Tidak ada sedikitpun Malik mengeluh, dengan sabar Malik meladeni Ayu yang bersikap kekanakan di acara Rey. Tapi semua orang tau Ayu sedang menguji kesabaran Malik yang tidak melepaskannya sedikitpun.
“Tenang semuanya, tidak ada yang serius. Bisa saja Ayu hanya kelelahan. Kita tunggu sampai Ayu sadar untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.” Adam tidak menemukan gejala yang berbahaya.
“Terimakasih dokter, tolong supaya Ayu bisa kembali sehat ya dok.” Lia sedih akhir-akhir ini Ayu sering sekali sakit. Lia khawatir dengan keselamatan putrinya.
Adam mempersilahkan Malik untuk menemani Ayu di dalam ruang perawatan, Hadi ikut masuk ingin memastikan keadaan Ayu saat ini. Hadi merangkul tubuh Malik, keputusannya merestui hubungan Malik dan Ayu sudah tepat.
Setiap melihat Malik, Hadi selalu bisa merasakan ketulusan cinta Malik pada putrinya. Ayu adalah wanita yang sangat beruntung bisa masuk ke dalam keluarga yang selalu saling mencintai dan saling menjaga satu sama lain dalam keadaan apapun.
Malik menyentuh lembut kepala Ayu yang masih belum sadarkan diri, dia selalu saja ada di rumah sakit ini. Malik menarik nafasnya yang terasa berat. Semuanya tidak akan seperti ini jika aku tidak melalkukan hal bodoh yang berujung penyesalan dan penderitaan panjang bagi Ayu.
“Bapak…” Ayu sudah sadar. Matanya masih terasa silau karena cahaya lampu yang cukup terang.
“Sayang, kamu baik-baik saja? Apa yang sakit? Aku akan panggil Adam.” Ayu menahan Malik yang akan keluar. Malik membatu Ayu yang berusaha duduk.
“Bapak, Ayu sayang Bapak.” Ayu tidak bisa menahan tangis. Ayu menangis meraung-raung, Hadi merasa ada yang tidak benar, putrinya tidak pernah cengeng seperti ini. Apalagi menangis keras, pasti ada yang membuatnya sedih dan takut.
Malik sangat terpukul mendengar tangisan Ayu, tidak pernah sekalipun Ayu menangis seperti ini selama Malik mengenalnya. Sepertinya Ayu butuh bicara berdua dengan Bapak agar bisa lebih leluasa.
__ADS_1
“Aku akan meninggalkan kalian berdua, tolong Ayu ya Pak!.” Hadi mengangguk, pasti Malik sangat takut hal buruk terjadi pasa Ayu.
Ayu masih menangis di pelukkan Hadi saat Malik keluar, tidak sedikitpun Ayu memperhatikan dirinya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi hanya Ayu seorang diri yang tau.
“Bagaimana Nak?” Yang lain sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Ayu. Malik menahan Lia dan Mamih yang sudah mau masuk. Mereka paham saat Malik menggelengkan kepalanya. Semua orang Malik bawa untuk duduk menunggu Ayu siap bertemu dengan orang lain.
Setelah Ayu cukup tenang, Hadi mencoba membuat Ayu tertawa. “Apa yang terjadi dalam mimpi mu Nak? Kenapa begitu sadar kau memeluk Bapak sampai gak bisa nafas loh Bapak. Hehehe…” Ayu masih saja terlihat murung. Ayu sedang tenggelam dengan pikirannya sendiri.
“Apa benar yang mereka katakana? Bagaimana semua ini bisa terjadi? Bapak….tolong jangan biarkan semua ini jadi kenyataan.” Hadi menduga saat ini Ayu tau siapa jati dirinya. Ayu menarik baju Hadi sekuat tenaga.
“Apa yang kau bicarakan, Bapak tidak paham loh.” Hadi menolak menatap mata Ayu yang berlinang air mata, tidak kuat melihat putrinya yang hancur mengetahui kenyataan siapa dirinya.
“Tolong katakana aku anak Bapak. Aku bukan anak orang lain.” Tangis Ayu kembali pecah, Hadi yang bertekad tidak menunjukkan kesedihannya ikut menangis.
Semua ini pasti terjadi, tapi kenapa Ayu harus tau saat kondisi tubuhnya tidak stabil. Hadi sangat terpukul mendengar tangisan Ayu yang penuh derita. Hadi mengusap lembut wajah putrinya yang sembab. Tangisnya masih belum reda, hatinya saat ini pasti sangat hancur.
“Ini semua sudah takdir Tuhan, bukan tanpa alasan Tuhan membawa Ayu ke Jakarta. Mungkin memang seharusnya Ayu tau dari awal. Bapak yang menyembunyikannya karena takut kehilangan putri Bapak.” Ayu menggelengkan kepalanya, tidak pernah terpikir sedikitpun ada rahasia seperti ini yang orang tuanya sembunyikan.
“Aku tidak mau dengar, aku hanya punya Bapak dan Ibu. Aku tidak mau orang lain.” Ayu bicara sambil terisak.
Tangis Ayu terdengar sampai ke luar ruangan, Lia sudah menduga putrinya saat ini sudah tau siapa Ayah kandungnya. Malik memeluk tubuh Lia yang melemah, tidak ada orang tua yang ingin anaknya menderita.
Sejak awal Lia sudah tidak yakin mengijinkan Ayu pergi ke Jakarta, hal yang selama ini Lia takutkan akhirnya terjadi. Setelah ini Lia tidak tau akan seperti apa hubunganya dengan Ayu kedepannya.
“Kita akan lalui ini semua bersama-sama. Tenang yah.” Mamih mencoba memberikan kepercayaan diri pada Lia, dia tidak sendiri.
Lia tidak bisa berkata apa-apa, hanya ada ketakutan jika Ayu akan menyalahkannya dirinya atas apa yang terjadi. Pikirannya sudah tidak bisa menerima masukkan dari orang lain, hanya membuatnya semakin sedih dan bingung.
Hadi keluar ruangan setelah menenagkan Ayu sampai terlelap tidur, matanya masih sembab tapi senyum tidak luntur dari bibirnya. Hadi duduk di sebelah Lia yang menatapnya nanar, tidak tericap satu patah katapun, tapi Hadi tau bagimana perasaan Li saat ini. Hadi memeluk Lia, mencoba memberikan harapan agar Lia tidak menyalahkan dirinya.
__ADS_1