
Ayu sedang istirahat makan siang bersama teman-temannya saat seorang satpam memanggilnya karena ada tamu yang menunggunya di pos satpam. Ayu sedikit khawatir karena raut wajah Pak Satpam terlihat sedikit khawatir. Ayu mengikutinya tanpa banyak bertanya karena Pak Satpam tidak ingat nama wanita yang mendatanginya.
Dari jauh Ayu bisa mengenali siapa wanita yang datang dari perawakannya meski dia Nampak dari belakang. Ayu segera berlari mendahului Pak Satpam yang berjalan di depannya dengan cepat.
“Mbak Murni.” Ayu terkejut saat melihat setengah wajah Mbak Murni yang tertutup tangannya penuh dengan luka lebam. Senyum di wajah Ayu memudar, air mata berderai begitu saja melihat kondisi Mbak Murni yang sangat mengenaskan. Wajahnya sangat pucat. “Apa yang terjadi Mbak….” Suaranya terbata karena tengorokan Ayu terasa sakit menahan tangis.
Murni masih berusaha menutupi kesedihannya. Dia tetap tersenyum dengan wajahnya yang penuh luka. Dia hanya menyodorkan surat dari tangannya. Ayu bingung kenapa Mbak Murni memberinya surat yang Ayu tidak tau apa maksudnya.
“Aku tau kamu pasti bingung. Mbak Cuma ingin minta tolong sama kamu. Tidak ada lagi orang yang Mbak kenal di Jakarta ini Yu.” Murni menatap mata Ayu penuh dengan kesedihan. Hati Ayu semakin sakit melihatnya. Ini semua pasti perbuatan Mas Ali yang tidak bertanggung jawab dan selalu bertindak kasar.
“Apa yang terjadi. Ayo bicara di tempat yang nyaman.” Ayu membawa Mbak Murni ke halaman belakang sekolah. Lumayan sepi jadi mereka bisa berbagi cerita dengan leluasa.
Murni tampak mempersiapkan diri untuk membuka kisah hidupnya yang cukup menyedihkan. Dia sudah memendamnya seorang diri cukup lama. Baginya semua masalah yang ada hanya akan mencoreng nama baik keluarganya jika orang lain tau. Tapi ternyata Murni tidak kuat lagi bertahan dengan perbuatan Ali yang semakin lama semakin tidak terkendali.
“Kita sebaiknya ke rumah sakit memeriksakan luka Mbak Murni.” Ayu ingin sekali membawanya pergi jauh dari tempat tinggalnya saat ini. Hanya ada penderitaan saat dirinya tinggal dengan laki-laki yang tidak mencintainya.
“Kamu pasti tau bagaimana sifat Mas Ali. Dia akan mencari kemanapun Mbak pergi. Percuma jika Mbak menghilang. Dia bisa dengan mudah menemukan Mbak Yu. Dia punya kuasa untuk menemukan Mbak dimanapun.” Benar apa yang Mbak Murni katakana, dia seorang polisi yang bisa dengan mudah menemukan siapapun apalagi jabatannya cukup tinggi.
“Lalu apa yang akan Mbak lakukan? Apa isi surat ini?” Ayu membuka perlahan. Ayu tercengang melihat isi surat dalam amplop coklat. Isinya surat wasiat dengan beberapa buku tabungan yang isinya cukup banyak.
“Aku rasa ini akan lebih berguna untuk menebus kesalahan Mbak pada Ayu. Mbak tidak bisa melindungi Ayu dan membiarkan Ayu hidup menderita seorang diri demi Mas Ali.” Murni tampak sedih, Ayu memeluk wanita yang sebenarnya sangat mencintainya dengan tulus.
“Aku tau kita saling terhubung. Aku yakin bukan maksud Mbak untuk membuatku menderita. Aku yakin Mbak sangat menyayangiku seperti keyakinan Buyut pada Mbak.”
“Aku yakin Ibu sangat kecewa padaku. Aku melindungi apa yang seharusnya aku lepaskan. Aku malah menelantarkanmu, maafkan Mbak Yu.” Keduanya saling terisak. Saling menyesali apa yang sudah terjadi dimasa lalu.
“Buyut orang yang sangat bijaksana. Dia pasti akan sedih jika kita saling menyalahkan, kita harus saling mendukung seperti layaknya keluarga Mbak.” Mengeratkan pelukan penuh emosi.
“Mbak sudah tidak bisa lagi menahan Mas Ali. Mbak yakin umur Mbak mungkin tidak akan lama lagi. Mbak sudah pasrah jika Tuhan mengambil nyawaku kapan saja.” Murni sedang putus asa. Laki-laki yang dia pilih ternyata malah membuat hidupnya penuh penderitaan.
“Kenapa bicara seperti itu, aku akan membantu Mbak. Kita pasti bisa mengatasinya bersama Mbak.” Murni menggeleng, rasanya sulit untuk dirinya lepas dari cengkeraman Ali. Menyeret orang lain hanya akan menambah daftar orang yang bisa Ali sakiti dengan sesuka hatinya. Beruntung Murni terpikir untuk mengusir Ayu sebelum Ali benar-benar menempatkannya menjadi wanitanya.
“Sudah terlambat, aku yang tidak mau kamu menyelamatkanku. Aku hanya datang untuk menyerahkan apa yang aku bisa serahkan sebagai permintaan maafku.” Murni sudah berdiri dan menyudahi pembicaraan mereka.
Ayu menahan tubuh Murni dengan memeluknya. Ayu tidak rela Murni kembali pada laki-laki yang tidak menghargainya. “Aku tidak akan membiarkan Mbak pergi begitu saja.” Ayu terisak, Murni menahan diri agar tidak terlihat lemah.
__ADS_1
“Aku tidak mau membawa orang lain dan menempatkannya dalam bahaya. Tolong jangan membuatku menyesali kedatanganku Yu. Jika kamu memaksa ikut campur, Mbak benar-benar kecewa. Aku berharap Ayu tau apa yang Mbak maksud.” Murni bicara tanpa menoleh pada Ayu yang memeluknya dari belakang.
“Lalu aku membiarkanmu hidup dengan laki-laki bajingan itu.” Ayu berteriak karena suaranya tidak keluar dengan baik tercekat di tenggorokan. Emosinya memuncak karena Murni masih saja keras kepala.
“Ayuna….” Suara Malik yang tiba-tiba saja muncul mengejutkan Murni dan juga Ayu. Keduanya tidak percaya saat melihat Malik yang sudah berdiri di hadapan mereka. “Apa yang sedang terjadi? Kenapa kamu terluka seperti ini?” Malik tidak percaya saat Satpam sekolah menceritkan wanita yang datang menemui Ayu di sekolah.
Malik khawatir dan langung meluncur ke sekolah saat tau Ayu bertemu orang yang Satpam Sekolah tidak pernah melihatnya. Malik khawatir karena banyak orang-orang yang berniat menghancurkan hubungan pernikahan mereka.
“Aku harus pergi, jangan mencoba untuk menolongku.” Murni lari tidak menanggapi pertanyaan dari Malik.
“Mbak….Mbak berhenti Mbak!!!!!.” Ayu terisak dalam dekapan Malik. Ini bukan kali pertama Malik melihat Murni dalam keadaan babak belur. Dia sampai lupa dengan niatnya yang ingin menyelidiki apa yang terjadi pada Murni dulu.
“Tenang….tenang sayang.” Malik tau bagaimana perasaan Ayu. Meski Murni tidak begitu baik, tapi mereka masih saudara. Pasti ada keterikatan yang tidak bisa orang lain rasakan. “Tolong jagan menagis.” Malik kehilangan akal membuat Ayu berhenti menangis.
Setelah cukup tenang, Malik membawa Ayu untuk pulang. Keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk mengikuti kelas. Sandra dan Melani merasa khawatir saat seorang Satpam mengambil tas Ayu dari kelas. Mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Ponsel Ayu terhubung tapi tidak ada jawaban.
“Apa Ayu baik-baik saja San?” Melani menggenggam tangan Sandra merasa khawatir. “Aku harap tidak ada lagi orang yang menyakitinya. Seharusnya kita mengikutinya tadi San.” Melani sangat mendalami perasaannya. Sandra hanya memeluk Melani agar bisa sedikit menenangkan.
“Jofan pasti sangat khawatir jika kita menceritakan apa yang terjadi. Apa sebaiknya kita diam saja?” Sandra bingung, tapi pasti Jofan akan sangat berterimakasih padanya jika Sandra memberikan informasi.
“Ternyata kau semakin dewasa Mel.” Sandra bangga pada sikap Melani yang cukup masuk akal. “Kita harus mencari tau dulu apa yang terjadi. Kita akan menceritakannya jika memang Jofan perlu tau.” Mereka setuju untuk tidak bertindak gegabah.
Pulang sekolah Sandra dan Melani duduk di taman menunggu Satpam yang tadi memanggil Ayu saat sedang bersama mereka. 10 menit menunggu tapi batang hidungnya belum juga tampak.
“Apa mungkin beliau sudah pulang?” Melani sudah kegerahan karena cuaca cukup terik meskipun sudah mejelang sore hari.
“Kit tunggu lima menit lagi. Jika tidak juga mun…..” Belum selesai dengan ucapannya, Sandra melihat Pak Satpam yang dia maksud sedang berjalan menuju pos. Melani mengikuti arah mata Sandra melihat. Segera keduanya berlari mendekati pos.
“Pak…….kami sudah lama menunggu Bapak.” Melani seperti bertemu malaikat tampan. Pak Satpam yang merasa terkejut hanya terdiam tidak tau apa yang mereka maksud.
“Pak, bapak bisa ceritakan apa yang terjadi pada sahabat kami.” Terlihat berpikir.
“Ayu Pak. Yang tadi siang ikut sama Bapak menemui orang yang mengaku saudaranya.”
“Oh….iya….iya…Memangnya ada apa dengan Non Ayu.” Melani meringis tidak percaya karena Pak Satpam malah balik bertanya pada mereka.
__ADS_1
“Kami kan yang datang untuk bertanya Pak. Kenapa Bapak malah Tanya Non Ayu kenapa.” Melani menepuk pundak Melani agar tidak emosi.
“Sabar Mel. Pelan-pelan.” Sandra menghalau emosi Melani yang sepertinya ingin meledak.
“Pak, boleh ceritakan pada kami siapa yang datang menemui Ayu?” Terlihat enggan membuka suara. “Kami sahabatnya, Bapak pasti tidak berani cerita karena Tuan Malik tidak mengizinkannya kan?” Tersenyum karena ketahuan misinya.
“Bukan tidak mau Non. Itu hanya demi kenyamanan kita bersama.” Sandra tidak bisa mengorek informasi, apalagi mereka sudah berjanji untuk tidak membocorkan rahasia.
Melani dan Sandra meninggalkan pos dengan tangan kosong tanpa hasil yang mereka harapkan. Keduanya saling berpikir bagaimana caranya memastikan keadaan Ayu saat ini.
“San, kenapa kita tidak mencoba menghubungi Kak Malik. Hehehehe…..”Tidak percaya dengan usul yang baru saja dia ucapkan. “Apa itu tidak masuk akal.” Sandra merasa ada benarnya juga.
Mulai mencari daftar nama di ponsel masing-masing. Sandra menyimpan nomor ponsel Kak Malik. Menetapkan hati dan jiwanya untuk menelpon laki-laki yang kini menjadi suami Ayu. Ini pertama kalinya mereka mencoba menelpon Kak Malik. Tangan Sandra gemetar. Melani bahkan sedikit menjauh takut mendengar suara Kak Malik yang begitu nyata. Mereka jatuh cinta pada Malik karena parasnya yang tampan dan suaranya yang seksi.
Mulai menghubungi, satu kali panggilan masuk dari Sandra tidak di angkat. “Apa kita batalkan saja? Aku takut.”
“Kitakan bukan mau merampok, kenapa harus takut San.” Sandra menyodorkan ponsel pada Melani yang membual. Melani kembali mundur dengan senyum datar di wajahnya.
“Lihat lah, kau saja tidak punya nyali.” Menyambungkan kembali. “Aku coba sekali lagi, jika tidak diangkat berarti kita batalkan saja.” Melani mengangguk setuju dengan usul Sandra.
“Hallo….siapa ini.” Suara yang sangat indah, menggetarkan hati Sandra dan Melani. “Hallo….saya anggap salah sambung yah jika tidak ada jawaban.”
“Kenapa dia sangat manis….” Sandra membekap mulut Melani yang pasti suaranya terdengar oleh Kak Malik.
“Melani yah, ada apa Mel.” Malik hafal betul suara sahabat Ayu.
“Iya Kak, aku hanya ingin Tanya keadaan Ayu Kak.” Sandra menyodorkan ponsel ke mulut Melani karena Kak Malik terlanjur mengenali suara Melani.
“Maaf yah aku membawa Ayu tanpa pamit pada kalian. Ayu sedang istirahat sekarang, apa kalian mau mampir?” Sandra dan Melani saling tersenyum. Sudah lama mereka ingin main ke apartemen Kak Malik yang sangat nyaman.
“Apa kita bisa kesana sekarang?” Melani tertawa girang.
“Tentu saja, aku akan masak makanan enak untuk kalian.” Keduanya saling pukul memukul bahagia dengan apa yang baru saja Kak Malik ucapkan.
“Kami segera datang…..sampai jumpa.” Melani menyudahi panggilannya dan segera meluncur keparkiran. Mereka berdua lari girang penuh kebahagiaan. Lidahnya sudah tidak sabar ingin menikmati makanan lezat hasil karya laki-laki tampan yang mereka kagumi.
__ADS_1