Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 36 ( Demam )


__ADS_3

Hari libur biasanya Ayu akan datang ke restaurant dari Pukul 08.00 Pagi. Hari ini Jofan pagi-pagi buta sudah meluncur ke restaurant Kak Rey. Dia berharap bisa menemukan sahabatnya disana.


“ Mbak, Ayu dimana?” Tanya Jofan pada salah satu karyawan yang sedang sibuk merapikan meja dan kursi.


“ Kurang tau Mas, belum kelihatan datang hari ini” Jawab karyawan dengan sopan, mereka tau Jofan adalah keluarga pemilik restaurant.


Jofan langsung saja melangkahkan kaki nya keruangan Kak Rey. Jofan langsung saja menempel dibahu Rey.


“ Berat, turunkan kepalamu” Jofan langsung saja menurunkan kepalanya yang bersandar dibahu Kak Rey.


“ Apa Ayu tidak datang? Apa dia memberitahu kalo hari ini dia tidak datang?” Jofan penasaran karena tidak menemukan Ayu.


“ Tidak tau. Jangan ganggu Kak Rey Fan. Laporan ini saja sudah membuat pusing” Rey masih sibuk dengan laporan keuangan restaurantnya. Tangannya sibuk mencatat dan matanya fokus memperhatikan setiap angka yang ada didepannya.


“ Masa Kak Rey tidak tau. Kan Kak Rey harus perhatikan setiap karyawan Kaka” Jofan duduk diatas meja menghadap kearah Rey. “ Kalo terjadi apa-apa bagaimana?” Jofan menatap netra Rey dengan serius.


“ Kau kenal dengan orang yang membawa Ayu?” Rey juga penasaran hubungan Ayu dengan Malik. Karena dia bukan orang biasa yang mudah diajak berteman.


“ Kak Malik?” Alis Jofan sedikit terangkat. “ Kak Rey kenal dia?” Jofan juga penasaran, karena selama ini tidak pernah mencari tau sosok seperti apa sebenarnya Malik itu.


“ Dulu Kaka satu kampus dengan dia” Rey menyenderkan kepalanya, matanya menerawang mengingat masa lalu.


“ Di Jerman?” Jofan masih penasaran karena Kak Rey sepenggal-penggal saat bercerita. “ Cerita dengan benar Kak, aku penasaran”Jofan menggerutu akan ulah Kak Rey.


“ Anak kecil tidak usah ikut campur, bisa saja aku salah melihat kemaren. Penglihatanku tidak tajam jika malam hari” Rey pergi meninggalkan Jofan yang masih penasaran.


“ Kak......Kak....kau belum selesaikan ceritamu Kak” Jofan kecewa karena Kak Rey hanya membuatnya penasaran saja.


***


“ Kau baik-baik saja?” Malik kembali memegang kening Ayu. Wajah Ayu bersemu merah karena Malik menyentuhnya dengan sangat lembut.


“ Kak....” Ayu menurunkan tangan Malik dari keningnya. “ Aku tidak papa Kak, Bu. Sepertinya Ayu masuk angin saja karena tidak terbiasa menggunakan AC dirumah” Ayu tersenyum agar semuanya tidak khawatir.


Malik kembali menarik Ayu dan membawanya kedalam kamar. Malik menyuruh Ayu untuk rebahan diatas ranjangnya.


“ Masuklah” Malik mengangkat selimut agar Ayu bisa rebahan dibawah selimut. Ayu menggelengkan kepalanya. Dia takut Malik masih mengincar dirinya, dasar Ayu. Pikirannya kadang suka aneh memang.

__ADS_1


“ Jangan melawan, atau aku akan mempersulit hidupmu” Tangan Malik memaksa Ayu agar masuk kedalam selimut dan mengistirahatkan tubuhnya.


Ayu tidak melawan, raut muka Malik terlihat sangat khawatir dan marah. Ayu tidak bisa membedakannya.


Malik meninggalkan Ayu didalam kamar dan kembali keluar. Dia menuju dapur dan bersiap-siap untuk membuat Sup Ayam untukmembantu menghangatkan tubuh Ayu.


“ Sedang apa Nak?” Mamih masih saja kepo dengan anaknya. “ Mau Mamih bantu?” Malik terlihat sibuk dengan gedgetnya dan tidak menghiraukan Mamih.


“ Tidak perlu, masakan Malik lebih enak dari Mamih” Malik tersenyum meledek Mamihnya. Mamih hanya menggelengkan kepalanya. Dia kembali duduk di sofa ruang tamu dan tidak mau mengganggu Malik.


Malik memang anak yang mandiri, karena kesibukan kedua orang tuanya. Dia terbiasa mengerjakan segala sesuatunya sendiri.


30 menit sudah berlalu. Malik masih sibuk dengan supnya yang sudah hampir matang. Setelah yakin dengan rasa supnya yang Malik yakin akan disukai Ayu, dia kembali melangkah menuju kamarnya.


Dia melihat tubuh Ayu yang hampir hilang di balik selimut, hanya nampak wajahnya sedikit dari balik selimut.


Malik menatap dengan sendu. Dibalik wajah Ayunya tersimpan banyak luka. Masih terngiang jelas saat Malik menemukan Ayu menangis tersedu-sedu.


Malik mencoba membangunkan Ayu, dia menggoyangkan beberapa kali kaki Ayu dari balik selimut. Tapi tidak ada respon, Ayu masih saja terlelap.


Tangannya dijulurkan kekening Ayu. Mata Malik terbelalak, dia kaget karena suhu badan Ayu sangat panas. Dia mencoba mencari termometer yang biasanya dia taro dilaci. Tapi sudah di obrak abrik isi laci, termometer tidak ditemukan.


Mamih yang melihat anaknya berlari kencang kaget dibuatnya. Mamih tau, pasti ada yang tidak beres dengan Ayu. Mamih tidak menghiraukan Malik, dia berjalan cepat menuju kamar. Mamih mencoba memeriksa Ayu.


Dan benar saja, ternyata badan Ayu sangat panas. Mamih mencari termometer, dan dia menemukanya di atas meja sebelah kiri ranjang.


Suhunya sangat tinggi sampai 39 derajat. Mamih mencari kotak P3K yang biasanya Malik simpan dilemari dekat tempat tidur. Mamih memasangkan kompres di dahi Ayu karena tidak menemukan obat penurun panas.


Tut...Tut...Tut.... ( Malik menghubungi Adam )


“ Cepat datang ke apartmen, aku beri waktu 10 menit” Malik langsung saja menutup telponnya tanpa mendengar jawaban dari Adam.


***


“ Brengsek kau Lik” Adam membanting HP nya diatas sofa. Padahal dia baru saja mengatur jadwalnya untuk berduaan bersama Sarah. Karena setelah beberapa bulan, baru kali ini jadwal libur mereka bersamaan.


“ Kenapa? Apa Malik membuat ulah?” Sarah mencoba menenagkan Adam yang terlihat frustasi. Adam beberapa kali mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


“ Katakan, ada apa?” Sarah menatap Adam dengan lekat, tangannya mengusap lembut bahu suaminya. Adam hanya pasrah, dia mendekap erat tubuh Sarah dalam pelukannya.


“ Apa tidak bisa anak itu tidak mengganggu kita sebentar saja?” Adam menatap Sarah sedih, tidak banyak waktu yang mereka miliki berdua.


“ Apa Malik tidak sehat? Dia tidak biasanya mengganggu kita dan menyuruh kita datang ketempatnya. Kau tau kan, dia paling tidak suka karena kau sangat jorok” sarah mencoba membujuk Adam.


“ Dia hanya memberi kita waktu 10 menit untuk segera sampai ditempatnya” Adam langsung saja mengambil perlengkapan dan menuju ketempat Malik.


“ Apa aku boleh ikut? Aku penasaran” Sarah merasa ada yang aneh dengan Malik yang tiba-tiba saja menyuruh Adam datang.


Adam hanya mengguk. Dia menggandeng tangan Sarah dan menuju ke lift, tangannya sudah memencet tombol untuk naik kelantai 5 apartmen.


Kebetulan mereka tinggal di apartmen yang sama, hanya berbeda lantai. Di dalam lift Adam masih saja bergelayut dipundak istrinya. Dia sangat kesal karena rencanaya berantakan, Sarah yang melihat tingkah Adam hanya tersenyum. Dia sudah terbiasa menghadapi tingkah kedua sahabat ini. Mereka tidak pernah akur tapi saling menyayangi.


Malik sudah menunggu Adam dibalik pintu, saat mendengar suara langkah kaki. Malik langsung saja membuka pintu dan menarik paksa tangan Adam.


“ Kenapa lama sekali?” Malik menarik paksa Adam dan membawanya kedalam kamar. Adam kaget karena ada Ayu didalam kamar Malik.


“ Kau apakan anak di bawah umur ini?” Adam curiga karena Ayu terlihat sangat lemas. Matanya memandang Malik penuh kecurigaan.


Pletakkk..... ( Malik menjitak jidat Adam yang mesum ), Adam mengelus jidatnya yang memerah karena tangan Malik cukup kuat.


“ Jangan banyak bicara, cepat periksa. Ayu menggigil dan tubuhnya deman” Adam langsung saja mengeluarkan peralatan medisnya.


Adam memeriksa dengan serius. Saat bersama Sarah dan Malik, Adam seperti anak-anak yang nakal. Tapi saat bekerja, dia akan sangat serius dan mendetail. Dia termasuk salah satu Dokter muda yang berbakat dan diperhitungkan.


Setelah melihat Adam selesai memeriksa, Malik langsung saja memberondong Adam dengan banyak pertanyaan.


“ Apa serius? Apa Ayu baik-baik saja? Dia tidak dalam kondisi yang fatal kan?” Malik menarik-narik lengan baju Adam.


“ Kau kira dia kenapa? Dia hanya demam? Hanya karena ini kau membuatku kehilangan waktuku bersama Sarah” Adam memasang mimik sedih, dia mencoba mengambil keuntungan karena sudah dirugikan Malik.


“ Apa kau yakin dia hanya demam? Dia tadi menggigil” Malik masih tidak percaya dengan apa yang Adam katakan.


“ Kau dokter?” Adam meremehkan Malik dan tersenyum kecut.


“ Kau yang dokter, kenapa bertanya hal yang aneh” Malik merasa aneh dengan pertanyaan Adam. Adam masih sibuk merapikan peralatannya dengan kesal.

__ADS_1


“ Itu sudah menjawab semua pertanyaanmu” Adam berbalik dan meninggalkan Malik yang masih tidak paham dengan ucapannya.


__ADS_2