
Malam ini Jofan lembur menyalin tulisan dari buku-buku Ayu yang basah. Matanya sudah mengantuk namun demi sahabatnya, Jofan rela bergadang.
Bagi Jofan, pengorbanan yang dilakukan tidak sebanding dengan apa yang sudah dialami sahabatnya.
***
Tut...tut....tut.
Sandra mencoba menghubungi Jofan karena penasaran dengan apa yang Jofan lakukan dengan buku-buku dan tas Ayu.
“Iya....kenapa San?”. Jofan mengangkat telponnya yang berdering.
“Apa aku mengganggu?”. Sandra ragu karena Jofan sedikit cuek terhadap dirinya.
“Menggangu, aku sedang sibuk”. Jofan bermaksud menutup sambungan telponnya.
“ Aku hanya penasaran, apa yang kamu lakukan dengan barang-barang Ayu”. Sandra menahan agar Jofan tidak menutup telponnya.
“ Tidak ada, ada lagi yang ingin kamu tau?”. Jofan mendesak Sandra
“ Kenapa kamu sangat galak? Apa aku tidak berharga seperti Ayu dan Melani di matamu? Apa salah kalo aku mau tau tentang apa yang kamu lakukan? Aku menganggap kamu juga sahabat ku Fan. Aku peduli”. Sandra memutuskan sambungan telponnya.
Jofan tertegun dengan apa yang baru saja terjadi, tidak biasanya Sandra marah padaku seperti ini. Apa aku melakukan kesalahan? Sepertinya aku bersikap seperti biasanya.
Batin Jofan berperang dengan berbagai macam perasaan, ada perasaan bersalah membuat sahabat nya marah karena perbuatannya.
Jofan meraih kembali HP, dia mencoba menghubungi nomor Sandra berkali-kali namun tidak diangkat. Sandra malah memblokir nomornya sehingga tidak bisa terhubung sama sekali.
__ADS_1
“Wah anak ini benar-benar ngambek”. Jofan berbicara pada diri sendiri
***
Di kediaman Malik, pagi ini terjadi perang dingin antara Malik dan Ayahnya. Terdengar suara Ayah dan Anak yang saat ini sedang saling berteriak satu sama lain. Aldo yang ada dibalik pintu hanya mondar mandir karena tidak berani masuk kedalam.
“Aldo, ada apa?”. Mamih Ajeng tergopoh-gopoh menghampiri ruangan kerja Pak Rama yang membuat gempar seisi rumah.
“Bu Ajeng, Aldo gak tau Bu. Aldo gak berani masuk Bu”. Aldo membantu Bu Ajeng yang terlihat syok.
Tok...Tok...Tok....
“Ayah, Malik”.
Tok...Tok...Tok... Mamih Ajeng mengetuk pintu berkali kali namun tidak ada respon dari dalam.
Setelah 10 menit Aldo terlihat berlari menghampiri Mamih Ajeng membawa kunci cadangan. Segera di buka pintu yang terkunci itu.
Kedua laki - laki yang sangat di cintai tampak sedang saling berdebat, entah apa yang sedang mereka ributkan.
“Ada apa ini Yah? kenapa kalian seperti anak kecil? Lihat seisi rumah ini bergetar mendengar kalian berdebat”. Mamih meraih tangan Malik yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk.
“Jangan terlalu ikut campur urusan asmaraku, selama ini aku tidak menuntut apapun dari Ayah. Jangan mengganggu gadisku”. Malik berpaling meninggalkan Ayahnya, namun sebelum keluar Malik mencium kening Mamih yang sangat dicintainya. Ada tatapan sendu di mata Malik yang membuat Mamih luluh dan melepaskan genggaman tangannya.
“ Kenapa Yah? memang Malik sedang naksir sama gadis mana? Kenapa kamu mengusiknya?”. Mamih duduk di sebelah suaminya.
“Jangan hanya kasih dia kemewahan, kasih juga dia pelajaran supaya tidak mempermalukan keluarga kita”. Pak Rama masih meradang.
__ADS_1
Mamih mengusap pelan dada bidang suaminya, meskipun usia nya sudah memasuki kepala 6, namun badan nya yang Atletis membuat penampilannya terlihat lebih muda dari usia nya.
Mamih tidak banyak bicara, akan percuma berbicara dengan orang yang dalam keadaan emosi. Yang ada hanya akan menambah masalah baru.
***
Malik memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, bahkan dia tidak mengajak serta supirnya yang biasanya selalu ada dimanapun Malik berada.
Aldo yang melihat Malik pergi dengan emosi mengikutinya dari belakang. Aldo sangat tau kalo Malik termasuk orang yang kalem, namun tidak bisa meredam emosinya. Dia bisa melakukan apa saja saat dalam keadaan emosional.
Aldo yang mengikutinya heran saat melihat Malik memasuki gedung Sekolah. Tidak biasanya dia akan pergi kesana, biasanya saat emosi Malik akan pergi ke tempat yang sunyi untuk menyegarkan pikirannya.
“Siang pak Malik”. Sapa Pak Imron yang di balas senyum oleh Malik.
Malik memarkirkan mobilnya dan langsung menuju ke kelas Ayu. Malik hanya melihat Ayu dari balik jendela kaca yang tembus ke kelas.
Namun yang di perhatikan tidak tau. Dia masih fokus mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh Guru Kelasnya.
Setelah 30 menit berlalu Malik memutuskan untuk pergi ke perusahaan. Hatinya sudah tenang sekarang.
Aldo masih mengikuti mobil Malik dari belakang, Aldo sedikit mendapat jawaban dari semua pertanyaan yang ada di kepalanya. Kenapa Pak Rama bisa semarah itu pada Malik. Ternyata anaknya mencintai gadis bau kencur.
“Lik, kamu kenapa?”. Terlihat Sarah memasuki ruangan Malik. Sebenarnya Sarah sudah tau hal ini akan terjadi.
Bahkan dulu saat bergaul dengan Sarah pun Pak Rama tidak suka, dia mengharuskan Malik bergaul dengan orang-orang yang setara dengan dirinya.
Malik menyenderkan kepala nya di pundak Sarah. “Apa aku salah jika jatuh cinta?”. Malik memejamkan matanya.
__ADS_1
Sarah mengelus lembut pundak Malik. Dia tau sahabatnya ini sangat rapuh dan tidak berdaya melawan Ayahnya.