
Klara mengajak adik dan teman-temannya untuk segera kembali ke villa mereka setelah keadaan sudah kondusif. Rasanya seperti sarapan listrik di pagi hari. Semua urat saraf menegang membuat bergidik ngeri.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ayu dan Kak Malik?” Pertanyaan sederhana dari mulut Lissa yang pura-pura tidak tau apa yang terjadi.
“Kaka juga kurang tau, sudahlah. Kak Malik sudah menangani dengan baik. Sekarang kalian mandi dan cepat beres-beres agar tidak terjebak macet saat pulang” Klara meninggalkan ruang tamu menuju kamar yang digunakannnya.
“Hans, videonya kapan mau kita upload? Aku sudah tidak sabar!” Lissa berbisik pada Hans setelah memastikan semua orang sudah tidak ada.
“Jangan gila, jangan membuat semuanya bertambah kacau” Hans melotot pada Lissa.
Sesungguhnya dia khawatir saat membayangkan kemarahan Oji.
“Kita sudah setengah jalan. Aku tidak mau mundur” Lissa balik menatap tajam mata Hans. Tangannya mencengkeram kuat pergelangan tangan Hans.
“Lissa! Ayo cepat. Barang-barang kamu paling banyak diantara kita semua” Suara klara mengagetkan Lissa dan Hans yang sedang bersitegang.
“Iya kak” Lissa berlari ke kamar. Dia kembali berbalik dan menajamkan mata dengan bibir sedikit manyun.
Kali ini Hans bernapas lega, Lissa tidak bisa berbuat apa-apa karena ruang geraknya diawasi oleh Kaka nya. Setelah kejadian di sekolah, orang tua Lissa melarang keras anak bungsunya pergi tanpa pengawasan.
Apalagi saat ini orang tua Lissa sedang membangun kerajaan bisnis dengan serius.
Semenjak kerjasama terjalin antara perusahaan milik orang tua Lissa dan perusahaan orang tua Malik. Semuanya berjalan lancar, omset perusahaan melambung tinggi dan membuat perusahaan menjadi diperhitungan di industri negeri ini.
Nama baiknya tidak boleh ternoda, itu bisa menjatuhkan bahkan membuat perusahaan menjadi tidak sehat.
“Kenapa kita tidak semalam lagi Kak? Kan aku masih panjang waktu liburannya. Kalo aku kuliah nanti, aku tidak akan punya waktu banyak Kak!” Merengek seperti anak kecil.
“Ingat sayang, kita hanya diberi waktu Papa sehari semalam” Mencoba memberi pengertian pada adik yang sangat dia sayangi.
Setelah semua selesai, dan memasukkan semua barang-barang ke dalam mobil, Lissa tiba-tiba menarik tangan Hans dan mengajaknya duduk dikursi paling belakang.
“Duduk lah, kalian bertiga di tengah saja. Kak Lissa biar didepan menemani Pak Anton” Ada senyum mencurigakan dari bibir Lissa. Ketiga sahabatnya memcingkan mata heran.
Kak Klara sudah biasa dengan kelakuan adiknya, dia tidak pernah memiliki prasangka buruk terhadap adik satu-satunya. Dia membiarkan Lissa melakukan apa saja yang dia inginkan.
Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata, Pak Anton sangat hati-hati karena yang dibawa semua anak-anak orang kaya. Terlebih dia sudah bekerja dengan orang tua Lissa cukup lama. Jadi sudah hafal betul bagaimana perangai orang tua masing-masing sahabat dari anak majikannya.
“Mana videonya? Ayo cepat kita upload videonya!” Berbisik. Tangan Lissa dengan kasar mencengkeram lengan Hans.
“Aku tidak akan bertanggung jawab dengan semua ini. Kau sudah melewati batas” Lissa merebut handpone yang sudah semalaman di tangan Hans.
__ADS_1
Hans mempertimbangkan apa yang harus dia lakukan dengan video yang semalam dia rekam menggunakan handpone Lissa. Jika di hapus, pasti Lissa akan sangat marah dan kembali menolak cintanya.
Hans akhirnya kalah dengan perasaan cinta. Dia rela mengorbankan harga dirinya dan jiwa raganya demi wanita yang sangat dia cintai.
Akhirna Hans memutuskan untuk membuat akun dengan nama lain selain nama dia dan Lissa. Dengan begini tidak akan ada yang tau siapa yang mengunggah video ke dunia maya.
“Aku sudah buatkan akun palsu, kirim lah. Setelah upload kau harus segera hapus akun ini” Hans menyerahkan handpone pada Lissa.
Lissa tersenyum girang dengan ide cemerlang Hans. Langsung saja dia mengunggah Video yang semalam sudah dia buat dengan susah payah.
Setelah beberapa lama akhirnya video berhasil di unggah di media sosial. Lissa tertawa kecil, membuat ketiga sahabatnya menengok ke kursi belakang.
“Apa yang kalian lakukan?” Barbie penasaran, yang satu mukanya bahagia luar biasa. Yang satu manyun kaya orang kesambet. Tidak ada jawaban, mereka kembali duduk dengan tenang memainkan hanpone di tangan masing-masing.
“Lihat, sudah ada 53 orang yang menonton video ini!” Lissa bangga meunjukkan angka yang dia peroleh. Tiba-tiba saja Hans merebut dengan kasar handpone dari tangan Lissa.
“Awwww.....Kak. Kenapa kamu kasar, kan bisa minta baik-baik!” Lissa meniup tangannya yang sedikit tergores.
Hans terlihat seperti orang linglung. Dia mencari dan memeriksa semua fitur yang ada di handpone yang tiba-tiba hilang. Termasuk semua foto-foto didalam galeri.
“Kak Hans, kenapa?” Kali ini Lissa sedikit takut melihat gelagat Hans yang tidak biasa.
“Lihat, semua file yang ada di sini hilang!” Hans mengembalikan HP Lissa dengan kasar. Ini semua sudah diluar batas.
“Bagaimana ini....Hans cepat cari jalan keluar. Kak Klara tolong aku. Kenapa semuanya hilang. Aduh....foto-foto aku juga semuanya hilang” Lissa sangat khawatir dan panik sekarang. Dia mencoba membuka satu persatu aplikasi di dalam handpone nya dan semuanya sudah hilang di telan bumi.
“ Kenapa Lissa, Hans?” Klara menolehkan kepalanya ke belakang. Suara berisik di kursi belakang sudah berganti menjadi ketegangan.
“Pak Anton, kita mampir sebentar di restaurant. Sepertinya ada yang tidak beres.”
Dengan sigap Pak Anton memebelokkan mobil ke area restaurant terdekat.
Setelah mobil berhasil parkir dengan sempurna Klara langsung turun dari mobil dan membuka pintu belakang. Menyuruh semua yang ada di dalam mobil untuk turun dan berbicara dengan kepala dingin.
Sepanjang perjalanan masuk ke restaurant, Lissa meracau tidak jelas dan terus membolak-balikkan aplikasi yang ada di layar handponenya.
“Please, duduk dulu. Coba tenang, tarik nafas.....keluarkan” Lissa mengikuti aba-aba yang di minta Kak Klara.
“Bagaimana ini Kak?” Sekarang air mata membanjiri wajah catik Lissa. Dia memeluk erat tubuh Klara karena panik akan ulahnya sendiri.
“Ceritakan dengan benar, kenapa? Ada apa dengan semua ini?” Klara mencoba mencari tahu dan membuka handpone Lissa.
__ADS_1
“Lihat, semuanya hilang. Foto-foto kita kemaren juga gak ada Kak. Huaaaaa.” Lissa menangis keras dan tidak terkendali. Untung saja mereka ada di private room.
“Handpone kamu rusak? Kan tinggal minta Papa beli aja yang baru, kenapa harus ada keributan?” Klara masih tidak paham.
“Ada video yang aku buat semalam bersama Hans” Klara terkejut, begitu juga semua sahabat Lissa termasuk Hans.
“Apa yang kamu lakukan Lissa?” Sekarang berganti ketakutan yang luar biasa. Klara takut adiknya melakukan perbuatan yang tidak bisa di maafkan.
Lissa kaget dengan kata-kata yang baru saja terlontar dari mulutnya. Bagamaimana ini, Lissa menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“Lupakan, aku hanya kaget karena tiba-tiba saja semua file yang ada di dalam sini hilang” Lissa menunjuk handpone yang teronggok di atas meja.
“Syukurlah, aku pikir kalian berbuat hal yang tidak-tidak” Klara bernapas lega, dia masih percaya pada adik kecil yang selalu jadi cinta.
Untung saja aku tidak keceplosan, hampir saja aku mengatakan yang sebenarnya. Kalo mereka tau, pasti aku akan di kubur hidup-hidup oleh Papa dan Kak Klara. Lissa mengelus dadanya yang berdetak sangat cepat.
***
“Tuan...Tuan anda harus lihat ini” Pras menyodorkan iPad pada Pak Rama. Dia terlihat kelelahan karena berlari cukup jauh.
“Apa yang terjadi Pras” Menarik iPad dari tangan Pras. Menyaksikan anak laki-lakinya tidur bersama seorang perempuan yang selama ini dia anggap baik dan menjadi semangat untuk anaknya.
Dada nya tiba-tiba bergemuruh. Rasanya sesak dan begitu sulit untuk bernapas. iPad terjatuh kelantai dan Rama menyenderkan kepalanya di kursi. Mencoba mengatur nafas dengan baik agar tidak terpancing dengan suasana.
Rama terlihat beberapa kali menarik nafas panjang, Pras mencoba membantu dengan memberikan segelas air putih hangat pada Rama yang terlihat syok.
“Apa sudah kamu atasi?” Rama sudah berdiri, tidak mampu berbicara dengan suasana hatinya yang sedang emosi.
“Sudah Tuan. Saya sudah menyuruh Ed memblokir dan menghancurkan file dengan kecanggihan teknologi yang biasa dia lakukan.” Rama hanya menepuk pundak Pras, selanjutnya dia pergi meninggalkan Pras dan masuk ke dalam kamar.
Saat masuk ke dalam kamar, Rama mendapati istrinya yang sedang duduk santai sambil membaca surat kabar. Membalikkan halaman demi halaman.
“Kenapa menatapku seperti itu?” Mata Mamih Ajeng mengekor kemana suaminya akan berhenti. Rama hanya tersenyum, tapi senyumnya palsu. Mamih mengikuti Ayah Rama yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Tidak bisa masuk karena pintu terkunci dari dalam.
“Ayah, kamu baik-baik saja?” Berbicara dari balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Masih tidak menyahut juga, ada apa ini sebenarnya? Kenapa sekarang dia tampak seperti orang bingung yah. Apa dia mau bilang kalo dia sekarang punya wanita lain yang lebih cantik? Lebih muda?. Ah... itu tidak mungkin. Dia itu sangat mencitaiku, dan tidak akan berubah selamanya. Banyak spekulasi yang keluar dari otak nakal Mamih.
Akhirnya Mamih membiarkan Rama tenggelam dalam pikirannya di dalam kamar mandi. Memberikan ruang agar suami tercintanya mampu menguasai diri dan menceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya saat ini.
Terkadang sulit menghadapi suami yang serba bisa, perempuan jadi hanya bisa menunggu dengan penuh kesabaran.
__ADS_1