
Lissa dan teman-temannya kecewa karena bukan Ayu yang masuk kekolam, melainkan Pria yang sedang diincar Ayahnya untuk dijadikan menantu.
Terlebih lagi Jofan langsung saja pergi meninggalkan pesta setelah kejadian. Lissa sangat kecewa dan beberapa pengumuman kejutan pun dibatalkan. Saat ini malah dirinya yang terkejut dengan apa yang terjadi. Kenapa semua laki-laki menempel pada Ayu. Gadis kampungan yang tidak ada apa-apa nya di mata Lisa.
***
“ Fan, Kak Malik membawa Ayu kemana ya Fan?”. Sandra penasaran karena Malik dan Ayu pergi begitu saja.
“ Mereka tidak mengatakan apapun. Pasti Ayu baik-baik saja, jangan khawatir”. Jofan kembali fokus menyetir setelah mencoba menenangkan kedua sahabatnya.
Jofan masih kepikiran dengan Kak Rey yang terlihat aneh, biasanya jika segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencanya, dia akan sangat marah dan tidak segan-segan memecat siapapun yang membuat rencananya berantakan.
Selesai mengantarkan Sandra dan Melani, Jofan memutuskan untuk menemui Kak Rey di restaurant. Banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan. Lebih tepatnya pembelaan terhadap sahabatnya.
Setelah 2 jam menunggu, akhirnya Rey dengan rombongannya sampai. Jofan langsung saja menghambur memeluk Kak Rey.
“ Kak, aku sangat merindukanmu Kak “. Rey melotot, saat ini dia ingin segera istirahat karena lelah seharian ini.
“ Kenapa lagi? Tidak puas sudah mengacaukan semuanya?”. Rey menjatuhkan tubuhnya diatas sofa empuk yang ada di ruangannya.
“ Kak Rey, kamu tidak marahkan dengan sahabatku?”. Jofan duduk disebelah Rey dan menyenderkan kepalanya dibahu Rey.
“ Ckckckck”. Rey berdecak, tangannya memukul mundur kepala Jofan yang tanpa pamit mendarat dibahunya.
“ Awwwww....( Jofan mengangkat kepalanya yang terkena bogem ). Sakit Kak Rey”. Jofan mengusap-usap kepalanya yang lumayan sakit.
“ Pergi sana, jangan ganggu aku”. Sekarang Rey merebahkan tubuhnya diatas Sofa. Matanya terpejam karena dia sangat lelah.
“Kalo Kak Rey berjanji tidak akan memecat Ayu, aku akan pergi. Aku tidak akan menggangu Kak Rey lagi”. Jofan masih memohon agar kali ini Kak Rey memaafkan sahabatnya.
Hening....tidak ada jawban dari bibir Rey. Jofan menggoyang-goyangkan kaki Rey agar merespon. Usahanya diselingi rengekan-rengekan, Jofan tau jika Kak Rey sangat benci saat dirinya merengek.
__ADS_1
“ Baiklah, bilang pada sahabatmu jangan membuat kekacauan. Jika terjadi lagi, aku akan memecatnya”. Kak Rey berkata tanpa membuka matanya.
Jofan senyum sumringah mendengar kata-kata Rey, hatinya bahagia dan lega. Biasanya Kak Rey bukan orang yang mudah memaafkan kesalahan sekecil apapun.
***
“ Pakailah”. Malik menyodorkan handuk pada Ayu.
“ Aku tidak basah Kak. Kan Kak Malik yang masuk ke kolam”. Ayu bingung karena Malik menyodorkan handuk, padahal dirinya sendiri yang basah kuyup.
“ Oh iya benar, aku pikir kau sudah hilang kesadaran. Karena sedari tadi kau memandangku tanpa berkedip Yu”. Malik menggosok-gosokkan handuk ketubuhnya yang basah kuyup, dia menahan tawa agar tidak lepas dari bibirnya.
Ayu baru sadar jika sedari tadi dia asik dengan dunianya, dia memimpikan Kak Malik adalah sosok pangeran yang selalu ada disetiap dia dalam masalah.
Seperti kisah-kisah dongeng yang sering dia baca. Kak Malik seperti Pahlawan Kesiangan yang selalu ada untuk Ayu.
Selama ini banyak sekali bantuan yang silih berganti tak tau apa rencana yang sedang Tuhan jalankan. Aku hanya bisa berpasrah diri, sesungguhnya selama ini aku berusaha sekuat mugkin untuk tidak pernah menyerah.
Tiba-tiba saja HP Ayu berdering, dia kaget karena getaran yang dihasilkan sangat kuat. Muka nya memerah melihat ke arah Kak Malik. Ayu melihat ada senyum hangat dari bibir Kak Malik.
“ Boleh aku angkat sebentar?”. Ayu menunjukkan Hp nya yang berdering kearah Malik. Matanya menjawab dengan kedipan. Membuat Ayu merona dibuatnya.
Ayu bercakap-cakap menggunakan Bahasa Jawa, Malik mengerti sedikit karena clientnya banyak yang berasal dari Jawa.
Ayu harus berbohong kalo saat ini dirinya baik-baik saja berama Mbak Murni. Ayu tidak mau menambah beban Ayah dan Ibu. Sudah cukup selama ini Ayu menyusahkan mereka. Netra ayu berkaca-kaca, sulit menyembunyikan kepedihannya.
Melihat Ayu yag menahan tangisnya setelah menerima telpon, Malik berpura-pura keluar untuk mancari pakaian ganti. Malik meninggalkan Ayu agar Ayu melepaskan air matayang dia tahan.
Cukup lama Malik membiarkan Ayu sendiri didalam mobil, sekarang Malik kembali dan menghampiri Ayu yang sekarang sudah lebih stabil. Matanya masih sedikit bengkak karena menangis. Namun Malik berpura-pura tidak mengetahuinya. Biar saja Ayu selalu jadi gadis yang periang seperti yang selalu diperlihatkan padanya.
“ Sekarang sudah cukup malam, apa kamu pulang kerumah Mbak Murni?”. Malik penasaran karena Aldo belum mengetahui kepindahan Ayu.
__ADS_1
“ Sudah Kak, sudah sekitar 2 hari aku pindah dari tempat Mbak Murni”. Ayu menghela nafas.
“Sekarang Ayu tinggal dikos-kosan dekat dengan tempat Ayu bekerja”. Ayu tetap tersenyum. Itu salah satu hal kecil yang selalu membuat Malik Bahagia ada didekat Ayu. Dia tidak pernah mengeluh, senyumnya tidak pernah redup.
“ Ok, beritau aku alamatnya”. Ayu pun menjelaskan letak jalan dari yang dia ingat. Masih meraba-raba, karena Ayu masih belum hafal betul.
Sesampainya didekat restaurant, Malik mengedarkan pandangan mencari gang kecil yang Ayu sebutkan, tapi nihil. Malik tidak menemukannya.
Malik melirik arlojinya yang berharga puluhan juta. Sudah larut malam, Ayu juga sudah tertidur pulas. Tidak tega jika harus membangunkan Ayu yang sudah kelelahan.
Malik memutuskan untuk pulang keapartmen membawa serta Ayu. Dia tidak tegajika harus membangunkan Ayu. Malik menggendong tubuh Ayu yang kurus kering.
Ayu tidak bangun sama sekali, Malik memandangi wajah Ayu yang teduh saat tertidur. Kalo dia bangun, pasti aku akan dapat pukulan maut karena berani menyentuhnya.
Ada dua kamar tidur di apartmen Malik yang cukup luas, biasanya itu akan digunakan jika ada tamu atau temannya yang menginap.
Sudah selesai, Malik sudah menyetel kamarnya mode tidur. Ayu semakin pulas dan tidak bangun sama sekali. Akhirnya Malik meninggalkan Ayu, dia takut ada setan yang menggoda jika tidak segera meninggalkan Ayu pergi. Maklum saja, usia Malik sudah tidak muda lagi.
Malik mencoba menghubungi Aldo, dia ingin memastikan jika tidak ada siapapun yang mengikutinya selama dia bersama Ayu.
Malik tau betul dengan ancaman yang Ayah nya lontarkan, dia tidak akan segan-segan menyakiti dan menyingkirkan orang-orang yang dianggapnya menjadi penghalang.
Tut...tut...tut...
“ Iya Pak?”. Aldo baru saja merebahkan tubuhnya, dia langsung sigap berdiri setelah tau Malik yang menghubunginya.
“ Apa kau sudah pastikan tidak ada yang membuntutiku?”. Malik telpon sambil rebahan di sofa ruang tamu, dia juga sangat lelah hari ini.
“ Sudah pak, aman pak. Hari ini bapak sangat sibuk dengan semua dokumen yang bapak tinggalkan”. Aldo bangga dengan hasil kerjanya yang sesuai dengan keinginan Malik.
“ Ok, bonus menantimu Al”. Malik menutup telponnya bahagia. Aman untuk saat ini, masih panjang perjuangan yang harus aku lalui. Tidak mudah meluluhkan hati Ayah yang sangat keras.
__ADS_1