
Setelah kejadian kemaren Malik berjanji tidak akan membiarkan Ayu hilang untuk kedua kalinya.
Melihat kenyataan bahwa dirinya tidak bisa kehilangan Ayu membuat Malik lebih offer protektif memperlakukan Ayu.
Mencoba menjadi penjaga Ayu dan tidak membiarkan Ayu dalam kesulitan.
"Kaka mengantarku hari ini? Kak Malik bilang minggu-minggu ini sangat sibuk!." Ayu penasaran dan merasa heran.
"Kan ada Aldo, untuk apa aku memberikan gaji besar kalau Aldo masih tidak bisa bekerja dengan baik." Menyombongkan diri.
Mencoba menunjukkan betapa besar kekuasaan yang dia miliki agar Ayu terpesona.
"Oh gitu, ok Kak." Ekspresinya biasa saja, berbeda dengan ekspektasi yang Malik bayangkan.
Gadis yang tidak pernah bangga bersanding denganku. Dia akan sangat bangga kalau tau siapa aku sebenarnya. Dia tidak akan bisa mundur kalau tau kekuasan ku yang sebenar nya. Bicara dalam hati.
Terlihat Mamih baru bangun, Ayah yang biasanya sarapan bersama tidak nampak. Dia berjalan sendiri dengan wajah yang masih terlihat mengantuk.
"Ayah masih istirahat?" Malik menyuapkan apel yang dia kupas ke mulutnya, lalu menyuapkan pada Ayu.
"Kau membuat kami cemas dan tidak istirahat dengan baik semalaman." Mamih duduk setelah mengecup kening Ayu.
Malik berlari memeluk Mamih yang membuat mood nya sangat bahagia mendengar ucapannya.
"Benarkah? Kalian sangat khawatir?" Mamih memukul tangan Malik yang bergelayut manja memeluknya dari belakang.
"Tentu saja kami khawatir, jangan mengulanginya. Cepat selesaikan sarapan nya." Menyuruh Malik agar duduk kembali.
Ayu tersenyum, ternyata perbuatannya menyusahkan banyak orang. Ayu menyesali kesalahannya.
Tidak ada niat membuat semua orag khawatir, tapi apalah daya. Ayu dan Helga tiba-tiba saja di tangkap satpol PP.
Malik memarkirkan mobil dan mengantar Ayu sampai ke depan kelas. Biasanya dia mengantar hanya sampai di parkiran.
"Kak, kenapa mengantarku sampai ke kelas. Nanti banyak yang bertanya. Ada hubungan apa kita!." Kan masih rahasia, pikir Ayu.
"Katakan saja aku suami mu." Ayu membekap mulut Kak Malik yang bicara seenaknya.
Tersenyum pada siapapun yang melihat mereka berdua pagi ini berjalan bersama, Kak Malik bahkan tidak melepaskan genggaman tangannya.
"Kak, nanti ada yang dengar." Bicara berbisik.
Malik menggenggam tangan yang membekapnya, mengecupnya dengan lembut sambil tersenyum.
Ayu bergidik ngeri berusaha melepaskan pergelangan tangannya.
Malik tertawa melihat ekspresi Ayu, melepaskan tangannya perlahan kemudian berbalik setelah mengecup kening Ayu di depan teman-temannya.
"Ingat, jangan mematikan ponsel mu." Berteriak dan berlalu meninggalkan Ayu yang masih mematung di depan pintu kelas.
Melani dan Sandra yang melihat dari kejauhan berlari ke arah Ayu. Mereka berdua iri pada Ayu yang diperlakukan sangat romantis.
"Kenapa Kak Malik sangat manis sekarang? Dia juga bertambah ketampanan nya karena sering tersenyum sekarang." Melani mengagumi dengan tulus.
"Kau ini, jangan berlebihan. Meskipun itu semua benar." Gelak tawa mereka bertiga pecah memenuhi udara.
Sahabat yang saling support satu sama lain dalam keadaan apapun. Menjaga satu sama lain dengan penuh kasih.
***
Pagi ini sangat sibuk di rumah sederhana Adam dan Sarah.
__ADS_1
Mereka yang terbiasa hidup di apartemen dengan segala fasiltas nya sekarang harus mengurus rumah mereka sendiri.
Terlihat Sarah yang sedang memasang selang di halaman depan, bunga-bunga yang cantik di halaman butuh perhatian.
Mereka tidak terawat karena Adam meninggalkan rumahnya cukup lama. Tapi bunga-bunga ini tidak mati, mereka masih bermekaran menebarkan keindahan.
"Kau sedang apa?" Sarah terkejut Adam datang tiba-tiba. Membuyarkan segala pikiran tentang keindahan bunga yang bermekaran.
"Sayang, untung saja jantungku tidak copot." Adam tersenyum, dia tidak bermaksud membuat Sarah terkejut.
"Sini biar aku yang menyiram semua tanaman ini." Bersikap seperti seorang pahlawan.
"Benarkah? Lalu apa yang harus aku lakukan?" Bergelayut manja di lengan Adam yang sudah mengambil alih selang dari tangan Sarah.
"Duduk saja, emmmm....baca koran kalau mau, biar tidak bosan." Bingung sendiri karena Sarah orang yang suka sekali bekerja.
"Siap suamiku, tapi aku ingin menyiapkan sarapan. Apa aku boleh melakukannya?" Sarah bosan beberapa hari ini Adam tidak memperbolehkan nya mengerjakan apapun.
"Iya, buat senyaman mungkin sayang. Tapi jangan memaksakan diri. Aku hanya ingin menjaga kalian." Adam offer protektif pada Sarah.
Penantian panjang nya yang dia rasakan tidak boleh di sia-sia kan begitu saja. Harus di jaga dengan baik agar tidak menyesal.
"Aku tau sayang." Sarah mengecup pipi Adam sebelum masuk ke dalam rumah.
Adam bahagia karena Sarah menuruti segala keinginannya, mendengarkan segala permintaan Adam dan tidak pernah mengeluh.
Bunga-bunga pagi ini terlihat lebih cantik dari biasanya, membuat Adam bersemangat merawat mereka dengan sepenuh hati.
"Ehmmm....ehmmmm... Pagi Pak Adam." Sapa seorang laki-laki yang tidak asing menggunakan pakaian olahraga.
"Pagi, kita sepertinya pernah bertemu." Mencoba menemukan memory yang hilang. Mata Adam membulat saat tau siapa yang datang.
Kala tersenyum. "Benar Tuan, kita bertemu beberapa hari yang lalu karena saya kurang hati-hati."
"Kita sepertinya bertetangga Tuan. Saya tinggal berapa blok dari sini." Kala sangat ramah. Membuat Adam tidak mencurigai niat jahatnya.
"Tidak di sangka kita bertemu lagi. Mari jadi tetangga yang rukun Tuan Kala." Mereka berdua tertawa.
Perbincangan tidak sampai di sana, Adam mengajak Kala untuk minum teh bersama. Adam merasa menyesal dan malu karena pertemuan pertamanya dia tidak bersikap ramah.
Adam meninggalkan Kala sebentar, tidak pantas jika tamu tidak di suguhkan minuman. Kala melihat inci setiap bagian rumah Adam dari balik jendela.
Dia tersenyum tatkala melihat Sarah yang sedang berbincang dengan Adam. Senyum nya menyiratkan banyak dendam di masa lalu.
Entah apa yang membuat Kala begitu mencintai Sarah, dia bahkan menunggu dan mencari Sarah ke segala tempat. Tapi dia tidak berhasil menemukan keberadaannya.
"Sayang, tolong buatkan teh yah." Adam menunjukkan dua jarinya.
"Ada siapa?" Bangkit dari duduk menuju dapur.
"Ada tetangga yang datang menyapa." Adam segera keluar setelah tersenyum semanis gula Jawa pada Sarah.
Sarah membuatkan teh hijau kesukaan Adam.
Dua cangkir sudah siap sesuai pesanan. Sarah berjalan perlahan agar teh tidak tumpah.
Kepala nya menunduk memperhatikan setiap gerakkan agar tidak mengusik ketenangan air teh di dalam cangkir.
"Silahkan." Pandangan Sarah masih pada cangkir yang sudah mendarat di atas meja.
"Terimakasih banyak Nyonya, maaf merepotkan." Sarah masih menunduk, suara yang selama ini menghantui hidupnya.
__ADS_1
Perlahan Sarah mengangkat kepalanya, memberanikan diri memastikan siapa yang ada di hadapannya sekarang.
Sarah limbung, kakinya tiba-tiba tidak bertenaga. Adam dengan sigap menangkap tubuh Sarah agar tidak terjatuh.
"Kenapa sayang, hei." Adam tanpa malu memeluk Sarah di depan Kala. "Sebentar ya Tuan, sepertinya istri saya kurang sehat."
Adam memapah tubuh Sarah ke kamar. Merasa khawatir karena wajah Sarah sangat pucat. Pandangan matanya kosong seperti ada beban berat di kepalanya.
Adam berhasil mendaratkan tubuh Sarah di atas tempat tidur dengan selamat. Tapi Sarah masih tampak murung tidak seperti Sarah yang Ada kenal.
"Hei...(Adam menyibak rambut Sarah yang menutup wajahnya), kamu baik-baik saja? Apa perlu kita cek ke dokter?" Adam mengusap pipi Sarah lembut, memberikan semangat sebisa mungkin.
"Maaf, aku ingin istirahat." Badannya sudah tenggelam di bawah selimut.
Adam tau betul mood orang hamil yang mudah berubah. Adam banyak belajar saat penantian panjangnya. Mempersiapkan diri agar matang saat waktunya tiba.
Adam mengecup kening Sarah, memberikan ruang agar Sarah membuka diri untuk menceritakan apa yang dia rasakan tanpa Adam minta.
"Aku tinggal ya sayang, aku bawa ponselku. Kalau kamu merasa tidak nyaman telpon aku." Sarah mengangguk.
Kala tersenyum melihat bagaimana Sarah terkejut degan kehadirannya.
"Maaf Tuan, istri saya sedang hamil muda. Jadi dia sedikit kurang sehat." Muka Kala merah padam.
Tidak rela saat mendengar Sarah mengandung seorang anak dari laki-laki lain.
"Ah... maaf. Saya juga harus segera pamit. Ada panggilan dari kantor." Kala bangkit, Adam merasa ada yang aneh kali ini.
Tapi Adam tidak pernah menaruh curiga, hanya membuang waktu sia-sia dengan pemikiran negatif yang tidak berkesudahan.
Hari ini Adam tidak ke rumah sakit, melihat Sarah seperti ini membuat Adam tidak bisa meninggalkannya sendirian.
Dia sedang sibuk di dapur menyiapkan makan siang.
Adam tidak begitu pandai memasak, tidak seperti Malik yang handal bahkan mampu melampaui Sarah dalam hal mengolah makanan.
Tapi Sarah tetap mencintainya, baginya Makanan Adam adalah yang terbaik karena di buat dengan penuh cinta.
***
"Kita makan di kantin yah, ayo kita ajak Sandra dan Melani." Jofan terlihat sangat bahagia.
"Ada apa dengan wajahku Mas. Kamu kelihatan sangat bahagia." Ayu ikut tersenyum.
"Ini Mamah yang buatkan, rasanya sangat enak. Dia berharap kalian menikmati makanannya." Membuka tutup makanan, membuat Ayu terperangah melihat isi di dalam nya.
"Kelihatan sangat lezat." Air liur Ayu banjir.
"Ayo kita cepat, aku tidak sabar ingin menikmatinya." Menutup wadah makanan dan segera membawanya.
Jofan tersenyum bangga melihat bagaimana Ayu takjub dengan karya orang tuanya.
Keempat serangkai sudah duduk, mereka semua sudah tidak sabar menikmati makanan yang terlihat sangat lezat di buat oleh Mamah yang sangat hebat bagi Jofan.
"Wah...mantap, enak banget." Sandra
"Ya ampun, baru pernah aku makan makanan seenak ini." Ayu
"Aku harus banyak belajar agar bisa memasak seenak ini. Supaya dia suka." Kedua sahabatnya melirik tajam, Sandra hanya tertawa.
"Aku hanya bercanda. Makalah."
__ADS_1
Jofan hanya geleng-geleng kepala melihat keunikan sahabat-sahabat nya.