Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 140 ( Ayu Adik Kandung Ku )


__ADS_3

Sandra dan Melani mengejar Jofan yang berjalan pulang begitu saja tanpa menyapa kedua sahabatnya seperti biasanya. Sepertinya suasana hatinya benar-benar tidak baik. Sandra segera mengemasi buku pelajarannya, setelah selesai Sandra langsung menarik tangan Melani mengejar Jofan yang sudah cukup jauh.


“Jofan…..tunggu….Jofan….” Teriak Sandra dan Melani membahana, Jofan tidak mendengar suara keduanya. Pikirannya sedang tidak terkontrol sampai tidak bisa focus dengan benar.


“Jofan….” Sandra akhirnya sampai didepan Jofan yang sedang mencari kunci mobilnya di dalam tas. Jofan sedikit tersentak merasa terkejut melihat kedua sahabat nya yang tiba-tiba muncul dihadapannya.


“Kalian buat aku jantungan saja, kenapa!” Nada suaranya sangat kasar. Sandra yang mendengar jadi terpancing.


“Kau tidak bisa sedikit lembut, kami hanya ingin tau kau ini kenapa? Seharian tidak bicara dan melamun.” Sandra sedikit berteriak. Melani masih tidak bisa mengikuti ritme keduanya yang penuh emosi. Melani bingung, saat-saat seperti ini Melani jadi merindukan Ayu yang beberapa minggu ini absen.


“Kenapa kalian jadi bertengkar.” Melani bicara dengan nada lembut.


“Diam!!!” Teriak Jofan dan Sandra bersamaan. Melani di hakimi, padahal hanya ingin mengingatkan agar tidak emosi.


“Kau apa bisa tidak usah ikut campur urusanku, kenapa selalu saja merepotkan.” Jofan membentak Sandra. Matanya mulai berkaca-kaca mendapat perlakukan Jofan yang kasar.


Sandra lari meninggalkan Jofan, hatinya sakit saat Jofan bicara membentaknya di depan umum. Padahal maksudnya baik, Sandra tidak tega melihat Jofan sedih seorang diri. Sandra berharap Jofan mau berbagi beban yang saat ini menganggunya.


“Kau akan menyesal, kenapa bicara begitu kasar!.” Melani marah mendapat perlakuan kasar, tapi hatinya kuat karena sudah biasa dengan sikap Jofan yang suka sekenanya. Berbeda dengan Sandra, dia lebih mudah sakit hati karena perasaan cinta yang cukup besar pada Jofan.


“Ahhhhh……”Jofan berteriak menyesal. Selalu saja tidak bisa menahan emosinya. Dan lagi-lagi Sandra yang jadi sasaran kemarahannya.


“Ayo ikut aku, aku akan jelaskan. Tapi kalian harus merahasiakan apa yang terjadi sampai Ayu siap menerima semuanya.” Melani sedikit berlari mengimbangi langkah kaki Jofan yang panjang. Ada rasa penasaran hubungan Ayu dengan masalah yang saat ini menganggu Jofan.


Terlihat Sandra yang mengaduk-aduk isi tasnya mencari kunci, Sandra terburu-buru sampai linglung tidak menemukan letak kunci di dalam tasnya. Perasaan malu menghantui jika sampai Jofan melihatnya menangis saat ini. Sandra paling anti menitikkan air mata di depan orang lain.


Jofan sudah berdiri di belakang Sandra yang masih mengacak-acak isi tasnya. Frustasi karena kunci tidak ditemukan, Sandra memutuskan untuk menghindari Jofan. Sandra buru-buru pergi tapi langkahnya dihadang Jofan yang saat ini menatapnya dengan intens. Sandra yang masih kecewa membuang muka tidak sudi melihat wajah Jofan.


“Maaf kan aku. Aku selalu marah tanpa alasan padamu.” Jofan memeluk Sandra.


“Tolong jangan marah padaku saat ini. Aku butuh dukungan kalian.” Jofan menatap wajah Sandra yang menunduk.


“Aku akan ceritakan apa yang sedang terjadi. Tolong dengarkan tapi kalian harus berjanji tidak akan menceritakannya lagi pada orang lain. Aku mohon.” Akhirnya Sandra mengangguk, Melani tertawa dalam hati melihat sepasang kekasih yang belum resmi jadian bertengkar dan berbaikkan.

__ADS_1


Jofan, Melani dan Sandra duduk di bangku taman sekolah. Suasana sudah sepi karena anak-anak sudah pulang. Jofan memperhatikan sekeliling sebelum memulai ceritanya. Melani dan Sandra ikut memperhatikan pergerakan Jofan.


“Ini sepertinya melukai Ayu, kita tau dia punya hati yang sangat lembut. Dia tidak pernah bisa menyakiti atau membalas perbuatan orang lain yang jahat padanya.” Sandra dan Melani semakin penasaran.


“Kenapa berbelit-belit. Apa yang sebenarnya terjadi?” Sandra sudah penasaran setengah mati.


“Dia adik kandungku.”


“APA!!!!!!” Serempak membuat Jofan kaget.


“Hussshhhh……Jangan terlalu keras, nanti ada yang dengar.”


Jofan menceritakan masa lalu kedua orang tuanya, bagaimana Ayu bisa hadir menjadi semangat hidup baru bagi Ferdinan. Siapa pun tidak akan bisa menolak gadis baik hati seperti Ayuna. Jofan sendiri bahkan merasa bahagia saat tau Ayu adalah adik kandungnya. Kemarahan yang berakar di dalam hatinya mendadak sirna begitu saja. Hanya ada kebahagiaan, tidak ada hal lain yang Jofan inginkan.


“Kenapa kau tersenyum?” Sandra tersenyum bahagia.


Laki-laki bodoh, tentu saja saat ini dia sangat bahagia. Itu artinya Ayu tidak akan pernah masuk dalam hati Jofan sebagai perempuan istimewa yang akan memilikinya sebagai kekasih. Mereka saudara dan Sandra lega Ayu bukan penghalang hubungan mereka berdua. Melani bicara dalam hati.


“Aku bahagia, itu artinya kita akan jadi saudara.” Sandra membekap mulutnya yang bicara seenaknya. Mukanya seketika merah menahan malu.


Sepertinya aku nyamuk. Mereka bahkan saling merayu di depanku. Dasar tidak tau malu. Melani memaki keduanya yang tidak tau tempat saat saling mengutarakan cinta.


“Lalu bagaimana dengan Ayu? Apa dia baik-baik saja menerima semua ini? Sama seperti kamu dan keluargamu?” Melani ragu Ayu dalam keadaan baik saat ini.


Jofan menggeleng, senyum bahagianya sirna. Tersirat kesedihan yang menggambarkan perasaannya saat ini. Melani dan Sandra menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Hubungan yang secara tidak disengaja terjalin antara Jofan dan Ayu sangat rumit. Mereka sama-sama harus berbesar hati menerima takdri atas kesalahan yang orang tua nya perbuat di masa lalu.


“Kita akan bantu, kita harus meyakinkan Ayu jika ini semua bukan salahnya. Dia pasti akan luluh jika kita tulus.” Sandra mencoba menguatkan Jofan. Melani masih bingung harus bagaimana menyikapi keadaan saat ini.


Sandra tau betul kenapa Ayu merasa bersalah, selama ini Jofan tidak bisa menerima masa lalu yang merampas kebahagiaan dan keharmonisan keluarganya. Bagaimana mungkin Ayu baik-baik saja saat tau dirinya adalah orang menyebabkan kehancuran keluarga Jofan.


***


Hari ini kedua orang tua Ayu memutuskan pulang ke kampong halaman, setelah menunggu dua hari dan putrinya tidak juga datang. Sepertinya Ayu butuh waktu lama menerima semuanya. Rama dan Mamih sangat baik mengurus kedua orang tua Ayu selama ada di rumah mereka.

__ADS_1


Hadi sampai tidak enak hati dan memutuskan segera pulang agar tidak merepotkan lebih lama. Lia sebenarnya masih ingin menunggu sedikit lebih lama, tapi Hadi membujuknya agar menunggu dengan sabar. Ini semua bukan hal mudah yang bisa Ayu terima begitu saja.


“Terimakasih sudah menerima putri ku dengan segala kekurangannya. Saya minta maaf karena tidak menceritakan latar belakang Ayu sebelum menikah dengan Malik.” Rama menepuk pundak Hadi.


“Siapa pun tidak akan bisa menolak Ayu. Ayu bahkan bisa merubah pendirianku dalam sekejap. Dia anak yang sangat baik. Mungkin ini tujuan Tuhan memisahkanya dari Ferdinan. Dia bahkan tidka bisa mengurus putrinya dengan baik. Tapi lihat Ayuna.” Rama merasa bangga.


“Jangan bicara sembarangan, dia juga berusaha dengan baik membesarkan putra dan putrinya dengan penuh cinta. Jangan dengarkan laki-laki ini.” Mamih menolak pernyataan suaminya yang tidak baik. Tidak ada orang tua yang mau menjadikan anaknya sebuah kegagalan. Pasti semua orang tua berusaha keras memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.


“Mamih sangat bijaksana. Semoga Ayu banyak belajar, supaya hidupnya kelak bisa anak-anaknya banggakan di masa depan.” Lia bahagia melihat keharmonisan rumah tangga Rama dan Mamih. Keduanya sering berbeda pendapat tapi tetap saling mendukung.


“Aku ingin ajak kalian hidup di sini bersama-sama agar bisa dekat dengan Ayu. Apa tidak bisa kalian tinggalkan saja kampung halaman!” Rama membuat Hadi tergelak.


“Kalau saya hidup di kota, nanti saya bisa jadi pesaing bisnis Tuan Rama di Jakarta. Heheheeh….” Rama ikut tertawa mendengar Hadi tertawa.


“Kami masih ada putra kami yang harus kami besarkan. Ini sudah dua pekan lebih kami tinggalkan dia seorang diri.” Rama ingat Riyan yang seorang diri di kampong halaman.


“Oh benar, aku selalu lupa saat ingin menanyakan kabarnya. Terakhir bertemu saat dia datang mengunjungi Ayu bersama Lia.” Lia mengernyitkan dahinya.


“Seingatku saat itu aku belum mengenal Tuan.” Berpikir keras. Rama membongkar aibnya sendiri di depan semua orang.


“Hahahaha….tolong lupakan ucapanku barusan. Aku lupa jika saat itu sedang menggali inforasi tentang Ayu secara diam-diam.” Rama merasa malu, Mamih tersenyum suaminya merasa malu saat mengakui kesalahannya.


“Selamat siang Tuan.” Pras datang dengan senyum mengembang di bibirnya.


“Kenapa wajahmu sangat bahagia. Ada apa Pras?.” Mamih ikut bahagia melihat Pras tersenyum begitu bagia.


Pras menyodorkan undangan pernikahan. Ada foto dirinya dan Rera yang sangat cantik berbalut busana berwarna putih di dalam undangan.


“Selamat Pras, kau adalah putra tertua Mamih.” Mamih memeluk haru akhirnya Pras memutuskan untuk menikah dengan Rera setelah pacaran cukup lama.


“Aku sebenarnya tidak yakin, tapi melihat Adam dan Malik saja mampu, aku jadi punya semangat jika aku bisa seperti mereka setelah menikah.” Pras tidak berhenti tersenyum. Membuat semua orang merasakan atmosfir kebahagiaan calon pengantin.


“Sekali lagi selamat ya Nak. Rera pasti sangat bahagia.” Mamih ingat rekaman suara Rera yang menangis di depan Malik. Wanita memang suka sekali bermain dengan air mata untuk menjatuhkan pertahanan laki-lakinya.

__ADS_1


Mamih bangga akhirnya satu persatu putra-putranya bisa menemukan pasangan hidupnya dna hidup berbahagia dalam ikatan cinta. Mamih merasa usianya sudah menua, entah sampai kapan dirinya bisa bertahan mendampingi anak-anaknya sampai akhir.


__ADS_2