Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 157 ( Malam Penuh Cinta )


__ADS_3

Kamu hadir membawa warna baru


Kamu obati luka ku tentang masa lalu


Kamu mampu mengubah kehidupan ku


Jauh lebih baik dari kehidupan yang lalu


Kamu manusia sederhana yang mampu


Memberikan cinta yang luar biasa


Cinta yang tak mampu di ungkapkan oleh kata-kata


Mendengar apa yang tidak dikatakan


Mengerti apa yang tidak dijelaskan


Terima kasih cinta


Atas segala hal yang kamu berikan


Cinta tulus dan juga pengajaran tentang berbagai hal


Kamu telah mengajarkan apa itu menghargai,


menerima, bersyukur, ikhlas, dan mandiri.


Kini ku mampu berdiri sendiri dengan tenang


Melewati semua permasalahan pribadi


Dan kini aku telah mengerti apa itu hidup dan juga cinta sejati


Berharap setiap mimpi akan menjadi nyata


Hidup bahagia bersama selamanya


Semoga rasa antara kita tak akan pernah pudar


Bersama sang waktu


Sehingga tiada celah bagi cinta yang lainnya

__ADS_1


Prok…..prok….prok……prokkkk


Tepuk tangan meriah terdengar bergemuruh, Ayu tersipu malu mendengar puisi yang sangat indah di bacakan Malik. Ayu tidak menyangka Malik punya sisi seromantis ini, selama ini dia masih mengangapnya laki-laki dingin yang suka sekali mempermainkan perasaannya.


Malik merentangkan tangannya, Sarah mendorong tubuh Ayu agar mendekati Malik. Ayu terlihat sangat malu kali ini. Malik malah senang saat melihat wajah Ayu yang bersemu merah menahan perasaannya. Malik mengeluarkan kotak hitam dari dalam jasnya yang berwarna hitam, senada dengan pakaian para pria yang hadir.


Malik meminta Ayu mengulurkan tangannya, Ayu pasrah saja. Dia sudah terbawa suasana sekarang. Rasa malunya masih ada, tapi sekarang bercampur dengan perasaan bahagia. Malik menatapnya penuh dengan rasa cinta, Ayu sampai gugup melihat mata Malik yang seolah sedang merayunya.


Malik menyematkan cincin yang sangat cantik di jari tengah Ayu. Air mata mulai membasahi wajah Ayu. Malik memeluknya erat dengan perasaan haru. Sudah banyak yang mereka berdua lewatkan selama 1 tahun menjalani pernikahan.


“Terimakasih sudah menemaniku salama ini, aku harap kita akan menua bersama dengan penuh kebahagiaan.” Kata-kata Malik semakin membuat Ayu terisak. Dia laki-laki yang selama ini selalu ada dalam keadaan apapun.


“Mulai sekarang kita simpan air mata kita untuk hal yang bahagia. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi.” Tidak hanya Ayu yang menitikkan air mata, hampir semuanya merasa terharu dan ikut terbawa suasana.


“Aku sangat berterimakasih sudah diterima dengan baik oleh kalian semua. Aku bukan siapa-siapa tanpa kalian di sisiku.” Malik mengusap air mata dari wajah wanita yang sangat dia cintai.


“Kami yang harus berterimakasih, kau hadir menyatukan kita semua menjadi keluarga yang saling mencintai satu sama lain.” Semua orang mengangguk setuju dengan ucapan Malik. Kehadiran Ayu memang perantara pengerat hubungan mereka semua.


Ayu kembali memeluk Malik, menyembunyikan air matanya yang tidak berhenti mengalir. Malik dengan penuh kasih sayang membelai Ayu dengan cintanya. Ayu merasa sangat beuntung memiliki mereka semua dalam perjalanan hidupnya.


Selesai acara romantis yang berjalan dengan baik, Malik mempersilahkan semua tamu untuk menikmati makanan yang sudah terhidang, meski hanya keluarga yang datang. Tapi suasan sangat ramai, apalagi ada Melani yang tidak berhenti tertawa karena lelucon Dokter Adam yang membuatnya menggila.


“Kau tidak berhenti tersenyum. Apa kau sangat bahagia melihat mereka saat ini?” Jofan mengangguk, dia merangkul Sandra melepas perasaan bahagianya. Sandra sangat senang sampai tidak sadar tangannya memeluk Jofan.


Ada senyum bahagia di sisi lain. Wajah yang sudah menua yang saat ini tidak melepaskan matanya dari Ayu. Orang yang selama ini berjuang mencintai dirinya tanpa syarat. Ayu melangkah mendekati Ferdinan. Tangannya terbuka lebar menyambut putri kecilnya yang sudah tumbuh dengan baik tanpa kasih sayang darinya.


“Selamat Nak. Kau pantas bahagia sayang.” Rey yang duduk di sebelah Ferdinan tidak tahan, dia ikut memeluk Ayu dan Ferdinan membuat semua orang tertawa melihat tingkah konyol Rey.


Semua orang yang ada dan hadir tau betul bagaimana perjuangan Ayu selama ini. Dia punya semangat yang luar biasa untuk bisa merubah masa depannya. Meski banyak rintangan yang harus Ayu lalui, dia senantiasa berlapang dada menerima takdir Tuhan.


Semua menikmati hidangan yang sudah Malik dan Ayu siapkan dengan bantuan semua orang. Tidak terasa waktu cepat berlalu, enggan rasanya mengakhiri acara yang penuh cinta hari ini. Banyak cerita yang Ferdinan lontarkan hari ini, dia terlihat sangat bahagia mala mini.


“Sekarang sudah malam, aku harus segera pulang. Kasian Mahesa pasti sangat kelelahan hari ini.” Sarah menatap wajah putranya yang masih segar bercanda dengan Adam dan Ana. Ana segera menyerahkan Mahesa pada Sarah.


“Dia anak yang sangat menggemaskan.” Ana tidak bisa mengalihkan


perhatiannya dari bayi laki-laki yang mencuri hatinya.


“Kita akan punya bayi-bayi lucu sebentar lagi.” Rey berbisik ditelinga Ana. Sontak Ana memukul perut Rey yang dekat dengan siku tangannya. Rey mengaduh pelan karena terkejut.


“Ana pasti akan punya anak-anak yang lucu nantinya. Dia akan punya wajah ibunya yang cantik dan wajah Ayahnya yang sangat berkharisma.” Tina mendengar candaan Rey pada Ana karena berdiri di belakang mereka. Ana tersipu malu mendengarnya.


“Kita pulang sama-sama Kak. Aku antar mala ini.” Rey berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Ayu dan Malik mengantar tamu yang siap pulang. Ayu sedih karena acara cepat sekali selesai. Ingin rasanya berlama-lama saling bercerita kisah-kisah penuh kebahagiaan. Semua sudah menghilang tidak terlihat. Malik mengajak Ayu masuk ke apartemennya. Belum juga mereka menutup pintu, sudah terdengar suara Aldo yang berteriak di lorong apartemen.


Aldo berjalan menarik seorang wanita di sisi kirinya, ada wanita lain yang mengikuti langkah Aldo dari belakang. Dua wanita yang tidak asing dimata Ayu dan Malik. Malik lupa memberi pesan pada Aldo agar tidak membawa Martha hari ini. Mereka sudah terlanjur samai di depan apartemennya.


“Bos, Nona. Maaf aku tidak sampai tepat waktu. Perjalanan lumayan tersendat.” Ayu menatap dua laki-laki yang berdiri di belakang Aldo. Sepertinya ada yang tidak baik.


“Masuklah, kita bicara di dalam.” Malik meminta Aldo dan yang lainnya masuk ke dalam. Ayu mengikuti langkah Malik.


“Apa aku bisa ganti pakaianku dulu Kak.” Malik mengangguk. Menggandeng tangan Ayu mengantarnya sampai ke kamar.


Malik membantu Ayu melepaskan pakaiannya yang cukup sulit jika di buka seorang diri. Ayu menurut saja tanpa membantah. Sebenarnya banyak yang ingin Ayu tanyakan, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.


“Kau pasti ingin mempertanyakan kedatangan mereka malam-malam begini.” Malik membalikkan tubuh Ayu.


“Apa yang terjadi? Aku takut mendengar kejujuran Kak Malik. Aku harap semuanya baik-baik saja.” Ayu tersenyum dengan rasa takut. Dua wanita yang datang tidak di bawa secara baik-baik, wajah mereka bahkan sangat tertekan.


Malik membawa Ayu duduk di pangkuannya. Membelai lembut rambut Ayu yang saat ini tergerai. “Aku harap apapun yang nanti akan kamu dengar bisa Ayu terima dengan lapang dada. Kita harus menghadapinya bersama-sama.” Malik meyakinkan Ayu agar percaya padanya.


Selesai berpakaian Malik membawa Ayu kembali keluar menemui Martha dan juga Nikita. Jantung Ayu berdebar-debar takut dengan apa yang sebenarnya terjadi. Apa hubungan mereka berdua, dan apa yang sebenarnya sudah mereka berdua lakukan kali ini. Ayu tidak bisa menutupi wajahnya yang saat ini sedang tegang. Malik menggenggam erat tangan Ayu agar merasa lebih tanang.


“Sekarang ceritakan apa yang terjadi. Sejak awal, aku mau tau apa yang sudah kamu lakukan dan dengan siapa saja kamu melakukan kejahatan yang tidak pantas kamu lakukan.” Keringat dingin membasahi tubuh Martha. Dia merasa takut melihat tatapan Malik yang begitu mengerikan.


“Ayu maafkan aku.” Martha berlutut di depan Ayu. Ayu kenal Martha adalah gadis yang baik. Dia tidak pernah menyakitinya. Ayu ingin meraih tangan Martha tapi Malik melarangnya. Ayu menarik kembali tangannya yang sudah terulur.


“Jangan mencari simpati, aku tidak akan menerimanya. Kau harus bertangung jawab. Sekarang ceritakan kejadiannya!.” Malik berapi-api. Ayu mengusap air matanya yang lolos begitu saja. Tidak tega melihat Martha yang mengiba di depannya.


“Aku menyamar jadi siswa di camping. Aku yang melepaskan babi hutan, aku yang meminta Sandra dan Melani mengantarku ke toilet dan meninggalkan Ayu sendiri di tenda agar bisa memasukkan ular di dalam tenda. Setelah itu….” Martha menelan ludahnya berulang kali. Suaranya disertai isak tangis. Ayu ikut menangis, dia ingat detail kejadiannya di dalam kepalanya. “Aku juga yang membuat Ayu jatuh dari tebing. Aku yang mebuat jebakan agar Ayu celaka, aku yang membawanya ke dekat jebakkan agar dia jatuh.” Martha terisak, dadanya terasa sesak.


“Kau tidak mungkin melakukannya seorang diri. Kau ada di dekat mereka setiap saat.” Martha menunduk, dia takut Malik akan bertambah marah jika tau ada orang lain yang membantunya. Nikita memegang erat tangan Martha yang gemetar.


Martha menggeleng, mencoba menyembunyikan pelaku sesungguhnya. “Jika kau tidak jujur, aku akan membuat Kakakmu menerima ganjarannya.” Malik ingat Aldo bilang Martha melakukan semuanya demi Nikita.


Nikita hanya menangis menyesali perbuatannya yang memancing emosi adik satu-satunya yang sangat dia sayangi.


“Kak Nikita tidak ada kaitanya dengan semua ini. Aku melakaukannya tanpa dia tau.” Martha berlutu di depan Malik memohon agar Nikita tidak dilibatkan dalam hukuman yang akan dia dapat.


Malik berdiri, perlahan mendekati Nikita. Jari-jarinya perlahan menyentuh rambut Nikita yang berwarna hitam pekat. “Aku tidak pernah menyukai Kaka mu lebih dari teman, jika kamu tidak mau jujur, aku akan membuatmu menyesal.” Malik menarik tubuh Nikita ke pelukannya menggertak Martha. Ayu memejamkan matanya tidak tega melihat apa yang akan terjadi.


“Aku mohon….Kak….tolong lepaskan Kak Niki. Aku akan katakana siapa yang membantuku.” Martha menarik tangan Kakanya agar menjauh dari jangkauan Malik.


“Katakan, setelah itu aku akan serahkan kalian pada pihak berwajib.” Martha mengangguk.


“Lissa….Lissa yang membantuku melakukan kejahatan pada Ayu. Aku sangat menyesal. Aku sungguh sangat menyesal.” Kepala Ayu terasa berputar, Ayu bernafas dalam berusaha tetap sadar dan bisa menguasai emosinya.

__ADS_1


__ADS_2