
Lia mendengar perdebatan Tina dengan Ferdinan. Bagaimanapun kejadiannya dirinya pasti bersalah di mata Tina. Lia tidak berhak membela diri, semua yang terjadi jelas menyakiti jiwa raganya. Terlebih saat ini Tina sedang hamil muda buah cinta pertamanya bersama Ferdinan.
Ferdinan laki-laki yang selama ini begitu di kagumi oleh seorang Tina. Kesalahan yang sering dia lakukan tidak tampak di hadapan Tina, semua tertutup rapat oleh rasa cintanya pada sang suami tercinta.
Ferdinan membelai pelan puncak kepala Tina yang saat ini menangis di hadapannya. Dosa besar yang sudah Ferdinan lakukan melukai perasaan wanita yang sangat dia cintai. Tiba-tiba Tina berlalu begitu saja meninggalkan Ferdinan.
Ferdinan hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan mejadi keputusan Tina. Dia akan rela jika Tina meminta untuk di ceraikan.
Ferdinan sudah tidak bisa berpikir jernih saat ini, hanya ada bayangan-bayangan hukuman yang akan dia terima karena perbuatannya.
Terlihat Tina keluar dari kamarnya memegang amplop putih berjalan menuju kamar belakang. Sudah bisa di pastikan dia akan menemui Lia.
Brakkk....
Tina membuka pintu dengan kasar, matanya menebarkan kebencian pada perempuan yang terduduk lemas di pinggir tempat tidur.
“Nyonya.” Lia terkejut. Tidak pernah melihat Tina dengan raut muka yang begitu membencinya. Lia hanya bisa pasarah dengan keadaannya saat ini.
Brukkkk...
Tina melemparkan amplop berisi uang penuh. Amlop terbuka dan isinya berserakan di bawah kaki Lia. Lia bercucuran air mata.
Selama ini Tina tidak pernah menganggapnya orang lain. Dia sangat menyayangi Lia seperti saudara dan sahabat nya sendiri.
“Ini yang kau inginkah? Ambil dan cepat gugur kan anak yang ada di dalam kandungan mu.” Lia tercengang, seperti tersambar petir jiwa dan raganya.
Tidak ada kata-kata yang bisa Lia lontarkan. Saat ini dirinya hanya mampu terisak menerima perlakuan yang tidak manusiawi.
“Sayang, apa yang kamu lakukan?” Ferdinan mencoba menarik tangan Tina untuk mmebawanya keluar dari kamar.
Tapi Tina tidak bergeming. Tina malah menggigit tangan Ferdinan yang mencoba menariknya dengan paksa. Ferdinan tidak bisa berbuat kasar, dia khawatir dengan anak yang ada di dalam kandungan Tina saat ini.
“Jangan coba-coba membela diri. Jangan halangi aku untuk menyingkirkan anak haram itu!.” Tina masih begitu emosi. Tubuh Lia semakin gemetar melihat kemarahan Tina pada dirinya.
“Tapi anak itu tidak bersalah. Ini semua salahku. Tolong jangan ambil jalan seperti ini.” Ferdinan merasa iba melihat Lia yang menjadi korban nafsu bejadnya harus menerima hukuman dari Tina.
“Lalu kamu mau menikahi dia? Kamu mau kita tinggal satu atap dan menjadi istrimu?” Tina mendorong kasar tubuh Ferdinan sampai terpojok.
“Tidak, bukan itu maksud ku. Kita bisa merawat anak nya setelah dia lahir.” Ferdinan hanya asal bicara.
“Kau pikir aku mau membesarkan anak haram itu? Jangan pernah bermimpi.” Tina semakin panas mendengar permintaan Ferdinan.
“Itu juga bukan salah Lia sayang, aku yang bersalah. Aku yang mabuk dan mengira Lia itu kamu!.” Ferdinan masih berusaha meyakinkan Tina.
“Tidak, aku yang berhak megambil keputusan. Kalian berdua sudah mempermainkan aku.” Tina mendekati Lia. Ferdinan mengikutinya takut jika Tina akan berbuat kasar pada Lia.
__ADS_1
“Nyonya, maaf kan aku.” Lia merosot dari atas kasur, bersimpuh memohon ampunan atas kesalahan nya.
“Jangan coba-coba mengambil hatikku. Selama ini aku sudah berbaik hati dengan kamu, tapi apa yang kamu lakukan Lia.
Kenapa kamu tega merampas kebahagiaanku!.” Tina berteriak.
Plakkkk...
Tina menampar Lia,tangan Ferdinan kalah cepat dengan tangan Tina. Ferdinan merangkul tubuh istrinya agar tidak menyakiti Lia.
“Lepaskan.”
“Aku tidak akan melepaskanmu. Aku sudah jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Itu semua bukan salah Lia. Itu salah ku.” Ferdinan mulai terpancing.
“Kau lebih membela perempuan murahan ini? Kau mau bersamanya?.” Tina kehabisan kesabaran dia manangis meronta-ronta membuat Ferdinan menggendongnya dengan paksa keluar dari kamar Lia.
Ceklek...
Ferdinan mengunci pintu kamar dan mengawasi istrinya yang menangis membanting semua barang yang ada di dalam kamar. Ferdinan hanya mengawasi dalam diam, dia tidak meninggalkan Tina.
Ferdinan takut Tina akan berbuat yang tidak-tidak yang bisa mencelakai dirinya dan kandungannya.
Kamar yang biasanya tertata rapih kini hancur. Menyiratkan kesedihan dan kehancuran penghuninya. Setelah membanting semua benda yang ada di depan matanya, Tina saat ini sudah meringkuk di samping tempat tidur. Badan nya lelah dan perutnya sedikit kram karena terlalu banyak mengeluarkan energi.
Hanya tersisa air mata yang masih belum mengering. Matanya sembab, Tina sedih mengenang kebersamaannya dengan Lia.
Ferdinan mengangkat tubuh istrinya, memindahkannya ke atas kasur dan memberikan pelukan penuh penyesalan.
Berulang kali Ferdinan mencium puncak kepala Tina dengan lembut. Tidak pernah terbayang jika dirinya akan menyakiti perasaan Tina, orang yang paling penting dalam hidupnya saat ini.
“Maaf kan aku. Aku tidak pernah berniat menyakitimu.” Ferdinan menangis, ini semua tidak akan terjadi jika dirinya tidak punya kebiasaan buruk menenggak minuman keras.
Mereka berdua tertidur, Ferdinan memeluk erat tubuh istrinya yang lemas di dalam pelukannya. Tina wanita yang sangat kuat dalam segala hal. Dia mandiri dan cantik rupawan. Ferdinan begitu menyayangi Tina melebihi apapun.
Perbuatannya pada Lia adalah sebuah kecelakaan. Selama ini Ferdinan sangat menghargai wanita. Mereka mahluk yang sangat rapuh meskipun terlihat begitu kuat. Ferdinan begitu paham bagaimana memperlakukan wanita dengan baik.
Asmaranya dengan beberapa perempuan sebelum menikah dengan Tina memberinya banyak pelajaran bagaimana memperlakukan mereka dengan baik.
Ferdinan terbangun, Tina masih terlelap di pelukannya. Ferdinan mengecup kening Tina kemudian turun dari tempat tidur. Ferdinan bermaksud melihat keadaan Lia yang begitu tersiksa dengan amarah Tina.
Krekkkk...
“Lia, kau di kamar mandi?” Ferdinan tidak melihat Lia di dalam kamarnya. Ferdinan mulai sedikit khawatir.
Ferdinan berkeliling mecari keberadaan Lia. Suaranya yang bising membuat Tina terganggu dan terbangun.
__ADS_1
“Lia tidak ada?.” Tina sudah mulai mampu menguasai emosinya.
Dia berlari ke kamar Lia dan mencari Lia di dalam kamar. Tina membuka lemari dan betapa kaget saat melihat isi lemari yang sudah kosong.
“Apa dia pergi dari sini?” Tina menyesal telah meluapkan amarahnya pada Lia.
Ferdinan menemukan kertas terlipat di bawah gelas di atas nakas. Ferdinan mencoba menarik nafasnya dengan perlahan.
Mengumpulkan keberanianya membaca isi surat yang akan dia kenang sepanjang hidupnya sebagai bentuk penyesalan.
Tina duduk di samping Ferdinan, matanya kembali meneteskan air mata.
Kebersamaannya beberapa bulan bersama Lia membuatnya merasa memiliki sahabat baik. Selama ini Tina sibuk dengan karir dan lupa bergaul dengan anak-anak seusianya. Kebanyakan teman yang Tina miliki hanya rekan bisnis yang menjadi sahabat.
Untuk Tuan Ferdinan dan Nyonya Tina
Lia mohon untuk di bukakan pintu maaf atas kahadiran Lia yang menjadi jalan setan menggangggu hubungan rumah tangga Tuan dan Nyonya. Tidak terbersit sedikitpun dalam diri Lia membenci kalian berdua.
Terimakasih selama ini sudah memperlakukan Lia seperti keluarga kalian. Lia bahagia bisa mengenal kalian dalam perjalan hidup Lia.
Lia mohon jangan cari Lia dan anak Lia, Biarkan Dia Hidup. Aku akan membesarkannya dengan kasih sayang seperti kasih sayang yang selama ini Lia dapatkan dari Nyonya Tina.
Salam
Lia
Ferdinan terisak setelah membaca isi surat yang membuat dirinya tidak berdaya. Tina sama hancurnya karena selama ini Lia begitu mengagumi dirinya.
“Kita harus mencarinya. Kita harus merawat Lia dan bayinya.” Tina menarik tangan Ferdinan, memohon agar Ferdinan mau mencari keberadaan Lia.
***
“Mas.” Lia sudah berdiri di depan pintu kontrakan yang selama ini mereka tinggali. Air matanya masih deras membasahi pipinya.
“Kenapa menangis dek.” Hadi menuntun Lia masuk ke dalam. Meraih tas besar yang ada di tangan Lia.
“Kamu di pecat?” Hadi memeluk Lia. Lia menggeleng, hadi penasaran karena tidak biasanya Lia membawa semua pakainnya pulang.
“Lalu kenapa? Minum dulu, setelah itu ceritakan ada masalah apa sebenarnya.” Hadi menyodorkan teh hangat yang baru saja dia buat.
“Apa pun yang akan Mas lakukan Lia pasrah. Lia tidak akan meminta ampunan karena Lia tidak pantas mendapatkannya.” Hadi bingung dengan apa yang Lia katakan.
“Ada apa?” Hadi tersenyum. Lia sering kali mengerajai dirinya. Tapi kali ini wajahnya sangt serius, tidak mungkin dia sedang bercanda.
Lia panjang lebar menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Muka Hadi merah padam medengar cerita Lia. Dia tidak habis pikir saat ini istrinya hamil janin dari laki-laki lain.
__ADS_1
“Mas, tolong bawa aku pulang. Aku tidak minta apapun, aku mohon lindungi anak ini. Jika setelah ini kamu mau membunuhku, aku rela. Tapi aku mohon lindungi dia.” Lia memeluk erat perutnya yang masih rata.
Hadi begitu frustasi. Tapi bagaimanapun Hadi sangat menyayangi Lia melebihi dirinya sendiri. Malam itu juga Hadi membawa Lia pergi meninggalkan kota Jakarta.