
Malik semakin protektif saat tau Ayu sedang mengandung buah hatinya. Apapun yang Ayu lakukan selalu Malik protes. Ayu sering menahan perasaan ngidamnya karena Malik menolak memenuhinya. Menurut Malik, tidak ada ngidam. Kalau tidak sehat dan tidak baik untuk Ayu dan bayinya, Malik akan dengan tegas menolak.
Sore yang mendung membuat gejolak ibu hamil yang ingin makan ini dan itu membayangkan banyak makanan berkuah hangat yang menggiurkan. Malik masih fokus dengan pekerjaannya, dia selalu pulang setelah Ayu selesai kuliah. Dia tidak mau Ayu seorang diri di rumah, semua Malik yang lakukan. Ayu tidak di ijinkan bergerak sedikitpun, alasannya demi kesehatan Ayu dan bayinya.
“Kak…aku boleh makan ini?” Gambar bakso malang yang terlihat lezat. Bakso langganan Ayu sudah masuk dipasaran online, sudah maju. Malik melirik sebentar dan menggeleng. “Aku makan air kuah panas saja kalau begitu, semua tidak boleh aku makan.” Protes Ayu merasa kesal. Dia hanya makan makanan rumah buatan Malik, Mamih atau Kak Rey semenjak hamil.
“Tidak boleh protes, semua demi kebaikan anak kita.” Malik memandang punggung istrinya yang sedang merajuk. Menutup laptop dan menyudahi pekerjaannya.
Malik memeluk Ayu yang duduk di sofa dengan wajah cemberut, semenjak hamil Ayu mudah sekali marah. Atau malik yang terlalu banyak mengatur Ayu. Entahlah.
“Kau suka sekali merajuk. Kak Malik akan masak bakso malang seperti yang ada di gambar.” Ayu masih diam tidak bergeming.
Ingin sekali rasanya berteriak, rasa masakan Kak Malik sudah tidak seenak dulu. Ayu rindu jajan di luar. Di kampus saja, Malik menyuruh orang mengawasinya. Malik sangat keterlaluan, Ayu benar-benar tidak bisa bernafas bebas. Jajan sembarangan sudah seperti tindakan kriminal, akan berbuntut panjang dan merugikan Ayu.
Malik memasak bakso malang seperti keinginan Ayu, tentu saja rasanya tidak seenak yang Ayu bayangkan. Ayu bahkan tidak menyentuhnya, hanya menyeruput sedikit dan tidak mau merasaknnya lagi. Dibenaknya hanya ada bakso malang Pak Gito.
Kali ini Malik menatap Ayu dengan sedikit emosi, susah payah memasak dan Ayu tidak menghargai kerja kerasnya. Ayu hanya menunduk tidak berani menatap mata Malik, mulut dan perutnya menolak. Dulu dia tidak pernah menolak apapun makanan yang Malik masak. Semuanya Ayu makan dengan lahap. Sebenarnya bukan Ayu yang pemilih, tapi Bayi yang ada di dalam kandungannya.
“Masih tidak mau makan.” Ayu masih diam ditempatnya, meremas jemari karena merasa takut. Sudah lama Malik tidak pernah marah padanya, mungkin kali ini Ayu sudah keterlaluan, tapi itu bukan keinginannya. Malik mengangkat mangkok yang ada di depan Ayu, membantingnya keras di bak cuci piring, bahkan sisa kuah dan bakso yang Malik masak masuk ke dalam tong sampah.
Ayu mengusap air mata yang menetes di pipinya, Ayu merasa bersalah tidak menuruti permintaan Malik. Tapi dia benar-benar ingin makan bakso malang langganannya dulu saat masih jadi anak kos-kosan. Hatinya entah kenapa sangat sensitive, ingin melawan tapi takut. Ayu hanya pasrah menangis dalam diam.
Malik meninggalkan Ayu agar bisa berfikir dengan jernih. Malik berfikir ibu hamil tidak boleh kalah dengan keinginan tanpa memperhatikan kesehatan buah hatinya. Semua boleh di makan asalkan sehat. Benar-benar pemikiran yang menyebalkan bagi si ibu hamil.
Tidak lama Mamih datang membawa banyak makanan hasil olahannya. Cucu pertamanya tidak boleh kelaparan, tentu saja semua makanan yang Mamih bawa harus Malik sortir satu persatu. Kandungan Ayu sudah memasuki 7 bulan saat ini, tapi Malik masih saja kaku seperi kanebo kering. Semua serba harus bersih, higienis dan berbahan super. Tidk boleh sembarangan.
“Dimana putri Mamih yang cantik.” Mamih mengelap tangannya yang basah setelah cuci tangan.
“Dia di kamar, merajuk karena tidak boleh makan bakso malang abang-abang.”
Awwww….
Teriak Malik yang mendapat cubitan keras di pantatnya. “Kenapa Mamih mencubit ku.” Malik mengusap pantat nya yang ngilu.
“Dia tidak pernah menyusahkan mu semenjak hamil. Minta apapun kamu tidak pernah menurutinya. Ini dan itu tidak boleh, kau pikir dia akan keracunan hanya kerena bakso malang?” Malik heran kenapa Mamih sangat marah. “Kau pikir mengandung itu mudah, kau pikir jadi wanita itu menyenangkan. Kau ini jahat sekali.” Mamih berlalu menemui Ayu yang megurung diri di dalam kamar. Malik menggaruk kepalanya yang tidak gatal, serba salah pikirnya.
__ADS_1
Tidak lama Mamih keluar menggandeng Ayu dengan tas besar di tangannya. Mata Malik sampai membelalak hampir keluar dari tempatnya tidak percaya.
“Mamih, apa yang kalian lakukan.” Malik ketakutan, merebut tas dari tangan Mamih. Ayu menolak tangan Malik yang mengharapkan belas kasihan.
“Mamih….Mih please.” Malik memeluk Ayu dan Mamih. Ternyata ide Mamih berhasil, Malik terlalu kaku sampai semua orang pusing.
“Aku tidak akan biarkan siapa pun menyakiti putriku dan cucuku.” Mamih berusaha melepaskan pelukkan Malik.
“Aku akan turuti semua kemauan Ayuna mulai sekarang. Tolong beri aku kesempatan.” Mamih meremas tangan Ayu memberi tanda. Benar saja Malik tidak bisa jauh dari istrinya barang sedetik pun.
“Kau jaji?” Malik mengangguk mantap. “Sekarang ajak kemana Ayu ingin makan bakso malang langganannya. Jangan membuat cucu tampan ku kelaparan.” Dalam hati mereka berdua tertawa puas berhasil menggertak Malik.
Semenjak kejadian itu Malik tidak lagi banyak melarang, Ayu yang diberi kebebasan juga tidak seenanaknya, dia menjaga dengan baik kesehatan calon buah hatinya sampai lahir nanti agar jadi bayi yang sempurna. Malik dan Ayu menikmati setiap momen indah sebelum kelahiran putranya. Ayu tidak absen dari kuliah, banyak yang membantunya terutama kedua sahabatnya.
Malik menyiapkan semua dengan baik agar kehadiran buah hati mereka tidak mengganggu karir Ayu sebagai seorang wanita muda, kedua orang tua Ayu juga sering berkunjung agar Ayu selalu merasa diperhatikan. Kebahagiaan yang sangat besar bagi Ayu, keutuhan keluarga adalah segalanya.
Kandungannya kini memasuki usia 9 bulan, Ayu masih saja bolak balik kampus padahal sudah diberi ijin belajar online oleh pihak kampus. Sepi katanya, jika dirumah dia hanya ingin tidur-tiduran. Badannya mendadak lelah dan ingin segera berbaring. Lebih baik di kampus, jika lelah banyak teman yang bisa menghiburnya. Dia banyak yang memperhatikan, semua kenal Ayu sebagai istri sah pemilik perusahaan terbesar di Indonesia. Tapi Ayu selalu tidak perduli meski kadang ada yang memanfaatkannya. Biarkan saja, dia hanya ingin menjadi baik bagi siapa saja.
Sandra yang satu kelas dengan Ayu merasa ada yang aneh siang ini, wajah Ayu sedikit pucat dan keringat tidak berhenti mengucur dari wajahnya. “Ayu, kau tidak baik-baik saja aku tau. Aku antar ke rumah sakit.” Ayu mengangguk memegangi perutnya. Saat dia berdiri, tiba-tiba saja perutnya terasa keras sampai Ayu terkejut dan mengeratkan genggaman tangannya. “Kenapa? Kau baik-baik saja?” Sandra sampai berteriak ketakutan.
Dua teman laki-laki Ayu membantu Sandra membawa Ayu ke dalam mobil yang sudah siap di lobby utama dalam sekejap. Dalam kepanikan Sandra segera menghubungi Malik yang juga sama terkejutnya seperti Sandra. Jadwalnya belum tepat, tapi putra Malik sudah ingin kelur dari dalam perut ibunya.
Setelah di rawat 3 hari dirumah sakit, Malik membawa Ayu ke rumah besar. Disana akan lebih aman, banyak yang menjaga putra kecilnya dan Ayu tentunya. Kedua orang tua Ayu juga setia menemani, Ferdinan sendiri sering datang untuk berkunjung bersama Rey dan Ana yang sedang berbadan dua.
Semua kesehatan Ayu dan Putranya, Malik serahkan pada Sarah. Mahesa sering Malik bawa kabur agar tidak menganggu Sarah saat sedang merawat Ayu dan Putranya. Tangan kecilnya sering jahil mencubit pipi merona milik bayi yang menggemaskan. Malik sendiri paham, dia juga sama dengan Mahesa. Dia hanya belum bisa mengontrol pergerakan tangannya.
Nalendra Ranu Saputra, nama yang akhirnya keluarga besar setujui bersama. Ayu senang tidak perlu repot mencari nama baik untuk putranya, sudah diwakili kepusingan yang seharusnya dia lalui.
Hari-hari Ayu dipenuhi kebahagiaan, putranya tumbuh dengan penuh kasih sayang. Rama bahkan memutuskan pensiun dini, hanya sesekali mengawasi perusahaan yang ada di bawah naungannya yang dia serahkan pada Pras dan juga Hans. Dia ingin menghabiskan waktunya bersama cucu kesayangannya.
***
Ayu pagi ini sedang membantu Mamih membuat bekal yang akan di bawa ke taman bermain. Sudah lama tidak liburan karena sibuk, kini Malik mengajak keluarga besarnya liburan di taman hiburan miliknya yang diliburkan hari ini. Keluarga besarnya akan menikmati suasana taman hiburan yang cukup ramai setiap harinya, kini hanya ada keluarga besarnya. Semua berkumpul sesuai instruksi Malik. Seluruh karyawan juga turut hadir, lumayan tidak merogoh kocek sendiri untuk masuk taman hiburan yang cukup terkenal.
Seluruh keluarga besar sudah sampai, mereka berkumpul di taman yang dipenuhi bunga-bunga indah dan pohon-pohon besar yang rindang. Malik sedang kewalahan mengejar putranya yang sudah mulai bisa berjalan meski tertatih-tatih. Bicaranya juga sudah lancar meski belum fasih betul pengucapannya. Dia tumbuh jadi anak yang cerdas dan jadi kesayangan semua orang.
__ADS_1
Ayu tib-tiba lari membuat Malik penasaran siapa yang datang. Rasa cemburu memuncak saat Ayu memeluk laki-laki yang jelas-jelas Malik kenal adik kandung Ayu yang bernama Riyan. Pelukan kedua mendarat pada laki-laki yang berdiri di belakang Riyan yang tidak lain adalah Jofan. Sejak kuliah Jofan membawa Riyan tinggal bersamanya di Swiss, Riyan sangat bahagia Jofan seperti kakak kandung baginya.
Tina meminta Lia dan Hadi menyetujui permintaan Putranya, dia ingin menebus kesalahan terbesarnya di masa lalu. Riyan yang tidak tau apa-apa pun menyetujui, kesempatan langka bisa sekolah di luar negeri. Dia tidak kesulitan karena punya otak yang cemerlang seperti Ayuna.
“Jangan memeluknya terlalu lama!” Teriak Malik disela kesibukannya mengejar Ranu.
“Lihat suami mu, masih saja sama.” Jofan mengeratkan pelukannya sebelum melepaskan. Jofan menggandeng tangan Ayu dan merangkul pundak Riyan berjalan bersama.
Hadi dan Lia memeluk putra yang sudah sangat lama tidak hadir dalam hari-harinya. Tidak lupa pelukkan juga mendarat di tubuh Jofan sebagai ucapan terimakasih yang tidak bisa di luapkan dengan kata-kata. Mereka terhubung sebagai saudara, semua sudah melupakkan kesalahan di masa lalu. Sekarang semua orang fokus menghadirkan kebahagiaan bagi satu sama lain.
Meski cemburu, Malik tetap menyapa adik-adiknya dengan ramah. Mereka yang akan Malik andalkan kelak di masa depan menjaga perusahaan bersama dirinya dan anak keturunan mereka. Ayu yang sangat bahagia menitikkan air mata, Malik memeluknya dengan hangat. Ayu memang mudah sekali tersentuh, melihat semua orang bahagia saja bisa membuatnya menangis.
Ranu yang melihat ibunya sedih mendekat, memeluknya menirukan apa yang Malik lakukan. “Ja..nan dih amih.” Ayu membalas pelukkan putranya yang mencoba menghiburnya.
“Ingat yah, kalau kau sudah besar Papah tidak akan biarkan kau memeluk amih seperti sekarang.” Ayu hanya tersenyum mendengar ucapan Malik. Ranu jadi ikut tertawa melihat Ayu tersenyum.
Ada gadis cantik yang tersenyum bahagia melihat kehadiran Jofan. Tapi juga ada kesal karena Jofan tidak memberitahukan kepulangannya. Jofan yang sadar menghampiri Sandra dan memeluknya. Sandra sampai tercengang melihat Jofan dengan berani memeluknya di depan semua orang. Semua orang turut bahagia melihat hubungan Jofan dan Sandra masih baik-baik saja meski terhalang jarak yang cukup jauh.
“Wah....sepertinya kita menganggu dua sejoli yang sedang melepas rindu nih..” Celetuk Adam yang memang suka sekali iseng. Sandra tersipu malu dan segera melepas pelukkan Jofan.
“Kau ini, seperti tidak pernah muda saja.” Balas Sarah yang juga gemas melihat keduanya, seperti sedang melihat masa lalu.
“Kau ini, aku kan jadi malu.” Bisik Sandra yang masih tersipu malu.
“Aku sangat rindu.” Balas Jofan dengan suara lantang.
Cie.....cie....cie....
Serempak semua bersorak menyoraki keduanya. Suasana jadi riuh karena saling meledek Jofan yang sudah jujur di depan semua orang.
“Nak, Mamah tidak keberatan punya menantu secantik Sandra.” Semakin bergemuruh sorak sorai sampai Sandra merasa ingin masuk dalam lubang bersembunyi. Tina memeluk Sandra yang terlihat canggung. “Jangan malu, kami semua keluarga mu sayang.”
Tidak ada lagi kesedihan, Ayu bisa merampungkan kuliahnya dan mendapatkan gelar Sarjana Hukum. Melenceng dari cita-cita awalnya yang ingin menjadi seorang Dokter. Kedepan dia akan berdiri bersama Malik mengurus perusahaan besarnya dibantu Sandra yang juga memilih jurusan yang sama.
Melani memilih jurusan seni yang tidak banyak kepusingan. Dia suka mengekpresikan dirinya dengan lukisan-lukisan cantik hasil karyanya. Semenjak kuliah Melan sering mampir menemui Ana dan belajar melukis dengan benar.
__ADS_1
Kini tidak ada lagi yang memandang Ayu sebelah mata. Dia bisa membuktikan dirinya mampu bekerja keras meski banyak sekali rintangan dan cobaan yang menyertai langkahnya. Tetap fokus pada tujuan, dan jangan lupa untuk terus menjadi diri sendiri. Bahagialah dimanapun dirimu saat ini, dengan begitu kita akan mampu melewati setiap rintangan.
Sampai jumpa di karya ku selanjutnya. Terimakasih yang sudah setia membaca, semoga bisa menghibur dan bermanfaat.