Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 57 ( Obat Tidur )


__ADS_3

Mereka semua berlari menghampiri Louisa yang terjatuh diatas rumput memegangi perutnya. Karena merasa iba Jofan segera memapahnya dan membawanya kedalam Villa.


Yang lain kembali duduk dimeja makan, karena sepertinya Louisa hanya sakit pada perutnya dan tidak terluka. Tidak ada yang menyadari jika Lissa dan Hans tidak bergerak dari tempat duduknya.


Setelah membantu Louisa, Klara dan Jofan kembali menghampiri yang lain sambil memapah Louisa ke meja makan.


Mereka semua tampak menikmati makanan yang terhidang diatas meja. Kali ini tangan Klara mencoba menyuapkan nasi dan potongan daging ke mulut Lissa. Namun tangan Lissa spontan menolak dan menghempaskan sendok sampai terbang jauh dari tangan Klara.


“Lissa....!!!” Kenapa kau kasar sekali. Klara memungut sendok yang melayang.


“Maaf Kak. Aku tidak bermaksud kasar” Hampir saja, kalo aku ikutan tidur, siapa yang akan membuat permainan menjadi seru.


Malik makan beberapa suap makanan dari sendok Ayu. Mulutnya tidak henti meminta Ayu menyuapkan makanan dari sendok Ayu dengan berbisik.


Merasa menjadi pusat perhatian, Ayu sengaja mengisi sendok nya dengan penuh dan menyuapkannya.


Awalnya Malik merasa Ayu sedang marah padanya, tapi perasaan bahagia mengubur begitu saja perasaan malunya. Berpura-pura cuek dan tidak menanggapi apapun yang sedang dirasakan Ayu saat ini.


Biarkan saja dia marah, paling tidak tangannya dengan tulus menyuapkan nasi kedalam mulutku. Aku tidak akan melupakan kejadian manis ini. Batin Malik tersenyum didalam hati.


Setelah selesai makan, mereka semua bekerja sama membersihkan piring dan peralatan lain yang ikut kotor. Kecuali Malik dan Klara yang nampak asyik mengobrol diruang TV.


Setelah selesai, mereka semua bergabung di ruang TV. Tidak butuh waktu lama, semua orang sudah tertidur dengan lelap. Kecuali Hans dan Lissa yang masih terjaga dan tersenyum penuh kemenangan.


“Lihat Lis, mereka semua sudah tidur. Sekarang apa rencana selanjutnya?” Hans penasaran dengan isi pikiran Lissa.


“Kita buat Ayu berfoto telanjang, aku akan menyebarkannya di media sosial!” Hans kaget, selama ini dia bekerja sebagai mata-mata Oji. Dan tugasnya menjaga Ayu, sedangkan kali ini Lissa memintanya melakukan hal gila yang bisa membunuhnya kapan saja.


“Kau gila. Aku tidak mau terlibat dan berurusan dengan Oji. Kau tau betul dia orang seperti apa” Hans mencoba kabur. Lissa menghalanginya.


“Kau bilang sangat mencintaiku! Aku perlu bukti” Lissa memberikan angin segar pada Hans. Dia selalu memanfaatkan perasaan Hans untuk membantunya melakukan hal-hal gila dan tidak manusiawi.


“Tapi tidak berarti aku harus melakukan hal mengerikan seperti ini, aku tidak mau!” Hans masih bersikeras menolak permintaan Lissa.


Dengan berani Lissa mengalungkan kedua tangannya dileher Hans, Lissa mencium bibir Hans cukup lama, membuat laki-laki itu tidak bisa bergerak. Hans pasrah sekaligus bahagia mendapat ciuman yang didamba-dambakan nya selama ini.


“Kau akan dapat lebih dari ini jika mengabulkan permintaanku kali ini saja” Akhirnya dengan berat hati Hans mengikuti keinginan Lissa.


Hans menggendong tubuh Ayu yang kurus ke kamar utama, menidurkannya dikamar dan membantu Lissa melucuti pakaian Ayu. Saat ini tubuh polos Ayu hanya tertutup selimut tebal.


“Ayo” Mata Lissa memerintahkan Hans untuk naik ke atas kasur.

__ADS_1


“Aku tidak mau. Kenapa tidak Jofan saja yang jadi model laki-lakinya. Aku tidak mau” Bibir Hans mengerucut tajam.


“Enak saja, Jofan itu berharga. Tidak boleh dengan Jofan” Kali ini mata Hans menyorotkan kebencian mendengar kata-kata Lissa.


“Apa maksudmu? Setelah semua pengorbananku dan kau memilih laki-laki lain?” Muka Lissa pias melihat amarah Hans. Biasanya Hans sangat lembut dan penuh kasih sayang meskipun terus diolok-olok olehnya dan teman-temannya.


“Bukan itu maksudku. Bagaimana jika Kak Malik saja yang kita jadikan model laki-laki?” Hans menyetujui ide Lissa.


Mereka bersusah payah menggotong tubuh atletis Malik kedalam kamar dan menidurkannya di samping Ayu.


“Jika ini masuk tindakan kriminal. Jangan bawa-bawa namaku!” Hans hanya orang biasa. Tidak bisa berbuat semaunya seperti anak-anak orang kaya pada umumnya.


“Baiklah, tenang saja. Aku akan menjaga rahasia ini seperti aku menjaga hatiku hanya untukmu” Lissa merayu Hans dengan kata-kata manisnya.


Lissa dengan sigap mengarahkan Ayu dan Malik agar terlihat natural. Foto-foto yang sangat indah dan cantik menurut Lissa.


Foto-foto ini akan tersebar luas saat kalian membuka mata. Selesai sudah, Lissa dan Hans berpura-pura berbaur dan ikut terlelap didepan TV seperti yang lainnya.


Ayu seperti biasa terbangun diwaktu subuh. Kepalanya terasa pusing dan berat. Matanya sulit dibuka dan badan terasa lemas.


Saat memegang kepalanya, Ayu kaget karena kerudung sudah lepas dari kepalanya. Seingat Ku, semalam aku masih bersama yang lainnya. Batin Ayu sambil terpejam.


Ayu terduduk, Ayu mencoba memberanikan diri melihat tubuhnya dari balik selimut. Netra ya mulai berkaca-kaca, dia mendapati tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun.


Dosa besar apa yang sudah aku lakukan ya Tuhan. Ayu menahan tangisnya dengan mengigit selimut. Air mata Ayu semakin banjir saat melihat celana dalamnya teronggok dilantai dengan noda merah.


Kali ini tangisan tidak dapat ditahan. Ayu meraung-raung sejadi-jadinya. Malik kaget dan segera bangun. Dia sendiri sangat terkejut melihat Ayu dan dirinya berada di kasur yang sama.


Berkali-kali Malik memukul kepalanya mencoba mengingat kejadian semalam. Tapi tidak ada bayangan kejadian apapun.


Malik memakai celananya, mencoba menghampiri Ayu yang masih memegangi selimut menutupi dirinya sambil menangis tersedu-sedu.


Malik mencoba meraih tangan Ayu. Tapi Ayu menangkisnya, tidak sanggup berkata-kata. Dia masih bingung dengan apa yang sudah terjadi, begitu juga dengan Malik.


Ayu berlari ke kamar mandi. Menutup pintu kamar mandi dengan kasar dan menguncinya dari dalam. Bibir Malik seolah kelu saat melihat celana dalam Ayu yang terdapat sedikit bercak merah.


Arrhhhh...


Malik berteriak merasa frustasi. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga dan merawat Ayu sampai saat nya tiba. Tapi kejadian yang menimpa mereka benar-benar diluar kendali Malik.


“Aku mohon maafkan Aku. Aku benar-benar tidak ingat telah melakukan hal bodoh ini” Malik tidak bisa menahan tangisnya. Dia merasa menyesal dengan apa yang menimpa Ayu.

__ADS_1


Tok....Tok...Tok...


Terdengar suara pintu kamar yang diketuk dari luar. Malik sengaja menguncinya agar tidak ada siapapun yang bisa masuk dan melihat Ayu yang sedang hancur.


“Kak, apa kalian baik-baik saja?” Suara Sandra dari balik pintu.


“Kami baik-baik saja, tolong tinggalkan kami sebentar saja” Malik mencoba menyembunyikan kebenaran yang sedang terjadi.


“Yu, tolong keluarlah. Aku akan bertanggung jawab” Masih tidak ada jawaban, suara tangis Ayu bahkan sudah tidak terdengar lagi.


Setelah menunggu cukup lama, Ayu akhirnya keluar juga dari toilet dengan wajah penuh amarah. Dia memakai pakaian yang ada didalam kamar mandi tanpa mengenakan hijab.


Malik menghampiri Ayu dan membawakan Hijab Ayu. Tidak bergeming, Ayu duduk dengan pandangan kosong. Malik semakin panik saat Ayu menolak mengenakan hijabnya.


“Kenapa kau merenggutnya?” Kata-kata yang menyayat hati Malik.


“Aku benar-benar tidak tau apa yang sudah terjadi. Aku sendiri bingung kenapa semua ini bisa terjadi” Malik berjongkok dihadapan Ayu.


“Kau melakukan perbuatan keji padaku, dan Kak Malik bilang tidak ingat apapun?” Ayu kembali meneteskan air mata. Dia juga merasa aneh karena tidak mengingat apapun yang sudah terjadi.


“Aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahi mu!” Malik berkata dengan berderai air mata. Kesedihan mendalam menyayat hatinya. Tidak pernah terbayang akan melakukan hal bodoh seperti ini.


Kali ini Ayu hanya menangis, dia sendiri bingung degan yang sudah terjadi. Bagaimana dengan sekolahku, bagaimana dengan perasaan Bapak dan Ibu jika tau anaknya sudah berbuat dosa besar.


Ayu berdiri, kakinya melangkah menuju pintu keluar setelah meraih kerudungnya yang ada ditangan Malik. Baru berjalan dua langkah, tubuh Ayu terjatuh pingsan. Malik menangkap tubuh Ayu dan menjatuhkan tubuhnya menjadi bantalan tubuh Ayu.


Kali ini Malik benar-benar menangis pilu sambil memeluk tubuh Ayu yang lemas didalam dekapan tangannya.


Malik membopong tubuh gadis kecilnya keluar dari kamar, semua mata tertuju pada Ayu yang tidak sadarkan diri. Jofan berlari mencoba mencari jawaban.


Sedari tadi mereka semua cemas karena mendengar tangisan Ayu dan tidak mendapati Malik disana. Mereka semua curiga Ayu menangis karena Malik.


Saat keluar Ayu dalam keadaan tidak sadar, membuat tangis Sandra dan Melani pecah. Jofan merasa sangat berdosa melihat semua kejadian ini. Mereka semua masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


“Apa yang sedang terjadi Kak. Kenapa Ayu bisa pingsan?” Malik menghentikan langkah kakinya. Rasanya Jofan perlu tau apa yang terjadi, tapi tidak sekarang. Keselamatan Ayu lebih penting sekarang.


“Apa kau percaya padaku? Tolong tenangkan semua sahabat-sahabat Ayu. Aku akan mengurusnya dan memastikan Ayu baik-baik saja” Malik menatap tajam netra Jofan. Akhirnya Jofan melepaskan tangan Malik yang digenggamnya.


Rasanya sulit tidak mempercayai Kak Malik, dia adalah laki-laki terhormat dan tidak mungkin menyakiti sahabatnya. Terlebih Jofan tau Malik mencintai Ayu dengan tulus.


Malik mengendarai mobilnya dengan cepat, membawa Ayu ke rumah sakit terdekat dan memastikan Ayu dalam keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2