
Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan antara Lia dan Hadi, keduanya membisu. Lia sesekali melirik wajah suaminya yang tidak bicara sepatah katapun. Jelas sekali saat ini Hadi sedang bingung dan marah karena Lia mengandung anak dari laki-laki lain.
Kurang lebih perjalanan 5 jam mereka lewati mengunakan bus antar kota. Saat ini mereka sudah berdiri di depan rumah dengan bergandengan tangan, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Hadi mencoba bijaksana menyikapi apa yang menimpa Lia.
Bagaimanapun tidak ada yang menginginkan kejadian seperti ini menimpa rumah tangga mereka.
Setelah membersihkan diri, Lia beranjak ke dapur mempersiapkan makanan. Perutnya keroncongan dan badannya sudah mulai lemas karena belum makan apapun.
Makanan sederhana sudah siap di atas meja. Lia bermaksud mengajak Hadi untuk makan bersamanya. Lia berjalan pelan karena sedikit ragu. Lia sangat takut dengan apa yang akan menjadi keputusan Hadi nanti. Tapi anak ini tidak bersalah ( Lia mengelus perut ratanya ).
Terlihat Hadi yang duduk termenung di depan ruang tamu. Pandangan matanya kosong membuat Lia merasa bersalah dengan perbuatannya. Lia memberanikan diri melangkah mendekati Hadi yang duduk membelakanginya.
“Mas, ayo kita makan. Aku sudah selesai masak.” Hadi melihat ketulusan Lia dari matanya. Tidak tega rasanya menolak ajakannya.
Hadi berjalan menggandeng tangan Lia. Tersungging senyum di wajah Lia yang tegang sedari tadi. Hadi ikut tersenyum melihat senyum cantik yang hilang dari pandangannya satu harian ini.
Hadi terlihat menikmati makanan yang Lia masak. Sudah lama Hadi tidak menyantap masakan Lia. Memandang wajah Hadi yang berpura-pura baik-baik saja membuat hati Lia terenyuh. Tidak terasa air mata menganak sungai tidak terbendung.
Lia tidak bisa menahan lebih lama untuk tidak membiacarakan isi hatinya. Lia tersimpuh di bawah kaki Hadi. Lia menangis tersedu-sedu mengutarakan semua perasaannya.
“Tolong jangan hukum aku dengan kebaikan kamu mas. Aku tidak bisa menerima kebaikan Mas setelah apa yang aku lakukan.” Hadi menyentuh pipi Lia, menyeka air mata yang menderas.
Hadi tersentuh, ternyata hanya dia yang Lia pikirkan. Dia bahkan tidak memikirkan perasaannya sendiri atas apa yang menimpanya.
“Aku tidak akan berubah. Kamu tetap istri yang aku cintai.” Hadi memeluk Lia dengan erat.
“Tapi bagaimana dengan anak ini? Aku tidak mau membiarkannya menerima hukuman atas perbuatanku.” Lia begitu menderita di lubuk hatinya.
“Kita akan membesarkannya bersama. Biarkan kita kubur cerita ini menjadi kebahagiaan. Dia anak kita, Allah hadirkan dia meskipun dengan cara yang salah. Tapi ini sudah takdir yang harus kita jalani bersama.” Hadi mengelus perut Lia.
Lia semakin tidak bisa menahan tangisnya. Lia memeluk erat tubuh Hadi sebagai ungkapan rasa terimaksihnya yang begitu besar.
Selama ini Hadi memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Terlepas dengan sikapnya yang ke kanak kanakan dan selalu mau menang sendiri saat bersama suaminya. Hadi selalu menerima apapun yang menjadi kekurangan Lia.
“Aku mohon maaf kan segala kesalahanku Mas. Aku sangat menyesal ini semua harus terjadi.” Hadi mengangkat tubuh Lia ke atas kursi. Memposisikan tubuhnya berlutut di depan Lia.
“Kau tau,aku sangat marah karena ada laki-laki yang menodai kamu. Tapi semua ini sudah takdir yang harus kita terima. Anak yang ada di dalam kandungan kamu tidak akan pernah menjadi anak orang lain. Dia anak kita, jangan biarkan siapa pun merebutnya dari tangan kita. Kamu mengerti!.” Lia hanya mengangguk mengiyakan perkataan suaminya.
Cerita masa lalu sudah selesai. Sekarang kita kembali ke masa-masa membahagiaan Malik dan Ayu yang sedang menjadi pengantin baru ya teman-teman.
__ADS_1
Pagi ini Bapak dan Ibu sudah bersiap untuk kembali ke kampung halaman di antar kan supir keluarga Rama Saputra yang bernama Gunawan.
Ayu masih betah berada di pelukan sang Ibu. Otak nya sedang berpikir keras apa yang akan terjadi saat kedua orang tuanya sudah tidak ada di sini.
Ayu membayangkan wajah Ayah Mertuanya. Dia datang menghampiri Ayu membawa koper berisi uang ratusan juta dan menyeretnya keluar dari rumah. Ayu bergidik membayangkannya. Ibu sedikit terganggu karena kepala Ayu tidak bisa diam.
“Kau ini sedang memikirkan apa? Kepalamu tidak bisa diam dari tadi.” Lia menjitak kepala Ayu dengan jari tengahnya.
“Ibu, kamu sudah tidak menyayangiku?” Ayu menyentuh kepalanya yang sedikit berdenyut.
“Kamu ini asal saja kalo bicara. Kamu itu putri kesanyangan Ibu dan Bapak.” Lia merangkul kembali tubuh putrinya.
Mereka menghabiskan waktu yang tinggal beberapa menit lagi dengan berpelukan seperti sepasang kekasih. Sesekali ciuman mendarat di kening Ayu dengan lembut.
“Ayo Bu, semuanya sudah siap.” Ayu mendongak, Ayu berlari ke pelukan Bapak yang baru selesai merapihkan barang-barang yang akan di bawanya pulang.
Rama Saputra dan istrinya membawakan begitu banyak hadiah pernikahan untuk seluruh keluarga Hadi yang ada di kampung halaman.
Hadi begitu sungkan menerima hadiah yang begitu berlimpah. Tapi Mamih memaksa dengan segala cara agar hadiah yang sudah di persiapkan bisa diterima dengan baik.
Mamih sangat bahagia karena kedua orang tua Ayu membuka jalan yang begitu mulus untuk percintaan anaknya. Ditambah Mamih juga jatuh hati saat melihat Ayu yang begitu lembut dan baik budinya. Tidak hanya Malik yang menginginkan Ayu menjadi pendampingnya, Mamih sama jatuh cintanya pada Ayuna.
“Pak, jangan lupain Ayu yah. Aku tetap akan sering-sering kasih kabar sama Bapak.” Ayu masih memeluk tangan Bapak dengan mesra.
Bapak dan Ibu sudah duduk di kursi belakang penumpang. Rasa haru menyertai keberangkatan mereka. Pak Gun sudah mulai menjalankan mobil perlahan. Ayu dan Ibu saling melambaikan tangan. Bapak hanya menyuguhkan senyum hangat sebagai salam perpisahan dengan putri tercintanya.
Ciiiittt....
Bunyi gesekan ban karena pak Gunawan ngerem mendadak. Ferdinan menghadang mobil yang Lia dan Hadi tumpangi. Mereka sangat terkejut karena Ferdinan muncul saat Ayu masih berada di teras rumah.
Malik mencegah Ayu yang spontan ingin berlari ke arah mobil kedua orang tuanya. Ayu sedikit bingung dengan sikap Kak Malik.
“Kenapa? Ibu sama Bapak mungkin masih ingin memelukku.” Ayu memasang wajah lucunya di depan Malik. Malik menggendong tubuh Ayu ke dalam rumah tanpa aba-aba, membuat Ayu tidak mampu melakukan perlawanan.
“Diam saja di dalam kamar. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan pada Ibu dan Bapak” Malik langsung berlari menyisakan tanda tanya besar di benak Ayu.
Ayu memperhatikan Bapak, Ibu, Kak Malik dan kedua mertuanya yang sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang Ayu kenal sebagai kepala sekolahnya.
Ayu berlari ke arah pintu mencoba membuka pintu, tapi ternyata pintu di kunci dari luar oleh Kak Malik. Menambah kecurigaan dalam benak Ayuna. Sepertinya mereka semua sedang menyembunyikan sesuatu. Pikir Ayu.
__ADS_1
Ayu kembali berlari ke balkon kamar nya.
“Apalagi yang kamu inginkan Tuan? Aku sudah coba ikhlas dengan segala yang terjadi. Aku minta jangan ganggu putriku lagi.” Lia memohon pada Ferdinan.
“Aku selama ini juga merasa hidup dalam kubangan dosa Lia. Aku hancur, aku tidak bisa melakukan apapun sebelum kalian semua memaafkan aku.” Ferdinan kembali berlutut seperti sebelumnya.
Ayu sangat kaget karena melihat kepala sekolah berlutut di depan kedua orang tuanya. Ayu mencoba memanggil Bapak dan Ibu dari Balkon, tapi suaranya tidak terdengar oleh mereka.
Ayu hanya semakin penasaran dengan hubungan mereka semua. Kenapa kepala sekolah bisa kenal dengan kedua orang tuaku. Kenapa mereka tidak pernah menceritakan apapun padaku.
“Kami sudah memaafkan semua perbuatan anda Tuan. Tolong jangan buat putriku tau siapa dirinya sebenanrnya. Dia bisa saja hancur seperti yang anda rasakan sekarang.” Hadi mencoba mempertahankan Ayu sebagai putrinya.
“Setidaknya berikan aku kesempatan untuk menjaga dan merawat putriku Tuan.” Ferdinan menggengam erat tangan Hadi.
“Tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti Ayuna. Dia tanggung jawabku sekarang.”Malik geram karena Ayu pasti akan hancur.
“Tolong Malik. Kamu sudah seperti putraku sendiri. Tolong aku supaya bisa bertemu dengan putriku.”
“Tidak sekarang, tunggu sampai Ayu siap menerima keadaan ini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti perasaan Ayu.”
“Ada apa ini sebenarnya? Apa yang sedang kalian bicarakan?” Rama seperti sedang menyaksikan telenovela.
“Tuan Besar, tolong bantu aku. Tolong pertemukan aku dengan Ayu. Dia putri kandungku Tuan.” Rama memandang tidak percaya pada kedau orang tua Ayu dan Malik.
Selama ini Rama tidak pernah mendengar apapun tentang Ayu yang bukan anak kandung dari Hadi. Malik bahkan belum mengatakan apapun tentang Ayuna.
“Baiklah, Bapak dan Ibu bisa melanjutkan perjalanan kalian. Ferdinan biar saya yang urus.” Rama sepertinya sedikit tau arah pembicaraan mereka.
Setelah kedua orang tua Ayu pergi, Rama mengajak Ferdinan untuk mendengarkan cerita lengkap kisah menantunya yang belum dia ketahui dengan jelas. Rama mengajak Ferdinan berdiskusi empat mata dengannya, tanpa Malik dan tanpa istrinya.
“Kalian kembaliliah ke kamar. Biarkan Ayah bicara dengan kepala sekolah empat mata.” Rama menutup rapat ruang kerjanya.
Ferdinan duduk gelisah di hadapan Rama yang bersikap begitu tenang. Rama menyuguhkan teh hangat yang baru saja di antar salah seorang pelayannya.
“Tolong ceritakan bagaimana menantuku bisa jadi anak kandungmu Fer.”Rama meneguk teh dengan perlahan.
Ferdinan mulai menceritakan kisah kelamnya. Rama semakin paham kenapa kedua orang tua Ayu tidak memberi tahu kebenaran siapa putrinya. Mereka sedang melindungi Ayuna, jika Ferdinan mengakui siapa Ayu. Pasti perasaan Ayu akan sangat hancur.
“Tapi sepertinya kedua orang tua Ayu memang ingin melindungi Ayu. Seharusnya kamu tidak muncul di hadapan mereka dan meminta Ayu mengakui siapa dirimu.” Rama menghakimi Ferdinan yang tidak lain adalah sahabatnya. Rama bahkan terkejut mendegar kisah ini.
__ADS_1
“Tapi Tuan. Dia juga putriku. Aku ingin sekali memeluknya dan menebus semua kesalahanku.” Ferdinan bercucuran air mata.
Kali ini Rama harus memutar otak untuk menjauhkan Ayu dari jangkauan Ferdinan. Jika tidak Ayu bisa kapan saja bertemu dengan Ferdinan di sekolah.