Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 37 ( Ayu Baik-Baik Saja )


__ADS_3

Malik tidak menghiraukan Adam yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya dan Ayu. Malik duduk disebelah Ayu. Dia masih snagat khawatir karena Ayu masih saja tidur. Dia ingat jika Ayu belum makan apapun sejak tadi malam.


Ayu terlelap saat sampai ditempat Malik. Tidak tega rasanya membangunkan Ayu dan akhirnya Malik membiarkan Ayu tidur dengan perut kosong. Sekarang Malik menyesal, karena ulahnya Ayu jadi sakit dan lemah.


***


Sarah melihat Adam yang sudak keluar dari kamar Malik. Matanya penasaran akan apa yang terjadi didalam. Sarah memang orang yang sangat sopan, karena Malik tidak mengajaknya masuk. Dia memutuskan untuk menunggu Adam diruang tamu.


“ Dia baik-baik saja. Tapi kau tau kan, jika dia belum sadar, kita tidak akan dibiarkan meningalkan tempatnya” Adam memutuskan untuk duduk disamping istrinya.


“ Dia itu siapa? Apa Malik sekarang bersama seseorang?” Sarah semakin penasaran, dia masih menebak-nebak siapa orang yang Adam maksud.


“ Ayuna” Adam menekan pengucapannya, membuat mata istrinya membulat. Sarah reflek menutup mulut dengan kedua tangannya.


“ Apa yang terjadi disana?” Sarah tidak percaya dengan apa yang Adam katakan. Malik bukan type orang yang berbuat semaunya.


“ Pasti Malik sudah menggaulinya. Dia sangat lemah, Ayu kan masih sangat kecil” Adam menggeleng-gelengkan kepalanya tidka percaya.


“ Malik tidak akan berbuat hal mengerikan sayang” Sarah masih tidak percaya. “ Pasti kau hanya salah sangka padanya” Sarah mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika Malik tidak akan menodai gadis kecilnya.


Malik adalah laki-laki terhormat dimata Sarah. Tidak pernah sekalipun Sarah melihat Malik berbuat hal yang tidak baik.


Dam.....Adam.... Dam... ( Terdengar suara Malik berteriak )


“ Kau dengar, dia pasti meyesal sekarang karena telah berbuat hal yang mengerikan sayang” Adam menarik tangan Sarah dan membawanya turut serta kekamar Malik.


Adam ingin membuktikan bahwa ucapannya tidak mengada-ada. Sarah mencengkeram erat tangan Adam, dia kaget melihat Ayu yang baru saja siuman. Masih terlihat pucat wajah Ayu. Sarah memikirkan banyak hal yang terjadi. Dia jadi bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi.


“ Ayu sudah sadar, cepat periksa” Malik menarik Adam agar segera memeriksa Ayu. Adam dengan sigap dan profesional memeriksa Ayu sebagai pasiennya.

__ADS_1


“ Bagaimana rasanya?” Adam menekan perut Ayu dengan tanganya. Terlihat Ayu meringis menahan sakit.


“ Dia hanya masuk angin. Kekurangan cairan dan perlu asupan makanan Bapak Malik yang terhormat” Adam memasang wajah galak didepan Malik. Dia sangat tidak suka dengan apa yang Malik lakukan.


Malik menegrutkan dahinya, tidak biasanya Adam dan Sarah memandang Malik dengan tatapan sinis mereka. Apapun yang terjadi mereka akan selalu bersikap ramah pada Malik.


“ Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?” Malik membuang mukanya menghindar. Kedua sahabatnya sepertinya berpikir hal-hal yang tidak-tidak, dan Malik sudah menebaknya dari raut muka mereka.


***


Mamih berjalan tergesa-gesa setelah menemukan obat herbal yang biasa dia gunakan untuk menurunkan panas jika Malik atau Ayahnya sakit.


Bibirnya tersenyum sumringah karena akhirnya Malik terbukti masih normal. Selama ini Mamih khawatir Malik tidak menyukai perempuan. Setiap Mamih mengenalkannya dengan gadis cantik, Malik akan menolaknya dengan banyak alasan.


Dan terakhir kali Malik mengatakan pada Mamih bahwa dirinya tidak tertarik dengan gadis-gadis manapun. Mamih bergidik mengingat kata-kata anak semata wayangnya. Dia adalah pewaris kerajaan keluarganya. Apa jadinya jika Malik sampai meyukai sesama jenis.


Sarah dan Adam saling pandang, mereka tidak tau lagi apa yang akan terjadi. Sekarang keadaan semakin menegangkan. Adam dan Sarah bungkam dan memutuskan untuk tidak ikut campur dengan apa yang akan terjadi.


Meskipun tidak diucapkan, keduanya bisa saling memahami isi hati dengan tatapan Mata dan mimik muka. Cinta memang kadang diluar logika akal sehat.


“Ini” Dengan nafas tersenggal-senggal Mamih menyodorkan obat herbal pada Malik.


“ Loh ada Adam dan Sarah juga” Mamih duduk mengistirahat kakinya yang terasa sakit karena berjalan cukup jauh.


Sarah mengedarkan senyumnya pada Malik, Adam dan Mamih. Dia sangat lega karena ternyata apa yang mereka bayangkan tidaklah terjadi.


Sarah memeluk Mamih yang baru saja tiba. Dia berjongkok dan mencoba membantu Mamih mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan.


Hah....kalian pasti malu kerena sudah berpikir yang tidak-tidak. Mana mungkin aku menyakiti Ayu, dia lebih berharga dari apapun ( Suara hati Malik )

__ADS_1


Terukir senyum dibibir Malik, dia lega karena Ayu sudah baik-baik saja. Malik segera mengambil semangkuk sup ayam lengkap dengan nasi dan air putih.


Malik pelan-pelan dan telaten menyuapkan nasi pada Ayu. Tidak ada penolakan, Ayu harus menghargai orang-orang yang sangat menyayanginya.


“ Kau harus mengganti waktuku dan dokter Sarah yang kau ambil” Adam mengegrutu pada Malik dan mencoba memanfaatkan keadaan agar Malik berbaik hati seperti biasanya.


“ Bilang saja jika kalian ingin cuti” Malik sudah menebak isi kepala Adam, dia memang selalu mencari keuntungan. Tangannya masih sibuk menyuapkan sup pada Ayu.


“ Hari ini aku dan Sarah libur, dan lihatlah Mih. Malik selalu saja mengacaukan rencanaku dengan Sarah” Adam mengadu pada Mamih kelakuan anak semata wayangnya.


Mamih hanya tersenyum, tidak sekali dua kali mereka berdebat dan bertengkar. Mamih sudah hafal betul kelakuan kedua anaknya ini. Mamih memang sudah menganggap Adam sebagai bagian dari keluarga.


Adam sudah banyak membantu Mamih menjaga Malik saat kuliah di Jerman. Adam anak yang baik dan bisa sipercaya. Itu salah satu alasan Ayah Malik mengangkat Adam sebagai kepala rumah sakit.


“ Jangan merajuk. Pergilah, dan lakukan apa yang kalian pikirkan tadi. Buat hidup kalian bahagia dengan banyak anak” Malik berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari Ayu.


Muka Sarah bersemu merah, dia sangat malu karena ternyata Malik tau apa yang ada di otaknya dan otak Adam.


“ Benarkah? Berapa lama?” Adam berbalik dan memeluk Malik dari belakang. Tingkahnya mengundang senyum dibibir Ayu.


Karena Ayu terlihat menikmati kekonyolan Adam, Malik membiarkan pelukan Adam dan tidak menghindarinya. Tidak seperti biasanya, jika tidak ada Ayu. Adam akan apes mendapatkan bogem dari tangan Malik yang kekar.


“ Hanya 5 hari, setelah itu bekerjalan dengan baik” Malik masih saja tidak berkutik dengan Adam yang bergelayut dipelukannya.


“ Kak, aku sudah kenyang” Ayu hanya menghabiskan sedikit nasi dan Sup yang Malik buat. Malik segera menyudahi, dia tau rasanya tidak enak jika dipaksa makan padahal sudah merasa kenyang.


“ Apa sudah lebih baik?” Ayu merasa malu karena semua mata memandang pada dirinya.


“ Ayu baik-baik saja Kak” Ayu memaksakan senyum, dia tidak mau membuat orang lain khawatir dengan keadaannya.

__ADS_1


__ADS_2