Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 176 ( Paman )


__ADS_3

"Aku harus menghubungi Ibu nya Sandra. Dia pasti semakin menyalahkan Ayu atas pemberitaan yang ada." Malik meraih ponselnya.


Tut....tut....tut.....


Tut...tut...tut....


Telpon tidak di angkat, sepertinya mereka benar-benar marah. Aldo mencoba menghubungi dengan ponsel pribadinya dan di angkat. Mereka menghindari Malik, bisa dibaca dengan sangat jelas. Siapa yang tidak marah membawa-bawa putrinya dalam masalah pelik keluarga Rama Saputra.


"Tante, ini Malik. Tunggu tante....tante tolong dengarkan saya dulu." Aldo mencoba menguping pembicaraan, terdengar teriakan yang memekik di telinga. Suaranya sangat lantang bagaikan halilintar yang menggelegar membuat siapa saja takut.


"Tolong jangan salahkan Ayu. Saya mohon, cukup salahkan saya. Aku mohon jangan memisahkan persahabatan mereka." Masalahnya semakin serius sepertinya. Aldo mendengar dengan penuh penghayatan, Malik sedang membela Ayu di waktu yang salah. Yang ada orang tua Sandra akan semakin marah padanya.


"Bos jangan memaksa dalam keadaan seperti ini. Tolong mengalah kali ini." Aldo berbisik agar Malik tidak mengikuti ego nya.


"Baiklah, aku tidak akan memaksakan kehendakku. Tapi saya mohon jangan membuat dinding pemisah tante. Sandra dan Ayu sama-sama saling menyayangi dengan tulus." Aldo menggeleng, nadanya lembut memang, tapi masih dengan tujuan yang sama. Malik menyudahi panggilan telponnya.


Masalahnya cukup sulit, apalagi saat ini ada nama putri yang sangat berharga terbawa-bawa dalam masalah Malik. Semua tiba-tiba saja jadi semakin kacau saat Malik mencoba mengikuti saran semua orang untuk tidak bersama Ayu sementara waktu. Keadaan bukannya membaik malah semakin bertambah runyam.


Malik mengacak rambutnya frustasi, tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang. Ponselnya bahkan tidak berhenti bordering dihubungi orang dari berbagai media dan para sahabat yang ingin memastikan kebenaran berita yang menimpa Malik. Mata nya bahkan sayu karena tidak bisa tidur semalaman. Pikirannya kacau dipaksa jauh dari permata hatinya.


***


"Kenapa? Apa yang aku perbuat dengan keluargamu?" Rama melipat kedua tangannya. Menatap tajam dua bola mata Lolita yang berair. "Aku tidak akan memulai perkelahian, tapi jika ada yang coba menghancurkan kebahagiaan ku....aku tidak akan tinggal diam!" Bayangan Malik dan Ayu berkelebat memenuhi isi kepalanya. Tidak rela ada yang merusak kebahagiaan anak-anak nya.


Lolita membisu, dia hanya mencoba melakukan apa yang menurutnya benar. Tapi ternyata dampaknya sangat buruk bagi karir dan juga masa depannya di dunia pekerjaan. Dia salah memilih lawan main saat memutuskan akan menyerang Malik lewat berita yang dia buat. Tapi kebencian dan sakit hati memenuhi otaknya, tidak lagi bisa berpikir dengan jernih.


"Lolita, sebaiknya kau pergi dan jangan pernah lagi muncul di bumi ini, atau kau aku hancurkan seperti apa yang kamu lakukan sekarang." Rama bicara penuh penekanan.


Lolita lari dan membanting pintu cukup keras, sikapnya mengingatkan Rama pada Kaka kandungnya. Dia benar-benar gadis yang cukup kasar. Beruntung Rama mengenal siapa dia, jika tidak entah apa yang akan terjadi padanya.


"Kau mengenalnya!" Gusti curiga karena tidak ada hal berarti yang Rama lakukan. Dia bahkan melepaskannya begitu saja.


"Dia adik kandung sahabat kita, kau ini bagaimana. Dia kan kerja di perushaaanmu, masa kau tidak tau siapa dia." Gusti menggeleng, dia benar-benar tidak kenal siapa Lolita.


"Apa dia cukup dekat dengan kita?" Rama mengangguk, menujuk jari telunjuknya pada dirinya sendiri. "Ahhh....apa dia...." Rama mengangguk. "Pantas saja dia sangat membencimu." Gusti mulai paham dengan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Kau menyesal telah menamparnya?" Rama tersenyum mengejek Gusti yang tampak menyesali perbuatannya.


"Itu masa lalu, jangan kau buka lagi luka lama yang terkubur bersama hadirnya Palwita. Aku sudah tidak lagi memikirkannya." Rama tertawa mengejek, ingat betul bagaimana masa muda yang sampai saat ini masih jadi kenangan manis.


"Aku harus menemui......Tidak akan selesai masalah ini jika aku tidak benar-benar memberinya pelajaran." Gusti mengangguk. Rama tidak akan bisa dihentikan jika sudah punya keinginan. Tiba-tiba saja berbalik setelah berjalan cukup jauh.


"Gus...ingat dia hanya masa lalu. Jangan sampai Palwita jadi yang kedua seperti dulu." Rama berteriak sebelum meninggalkan Gusti yang terlihat sedih setelah tau siapa Lolita.


Rama bergegas menuju rumah orang tua Lissa. Keluarga ini yang ternyata jadi sumber masalah yang tidak ada habisnya. Mereka bahkan melakukan banyak usaha untuk menjatuhkan keluarganya. Rama masih mentoleransi karena tidak sampai melukai keluarganya, kali ini perbuatannya sudah sangat melampaui batas.


Putrinya masuk penjara remaja, tapi Ayah nya masih saja tidak tinggal diam dan memperbaiki perbuatannya. Mereka malah mencari gara-gara membuat Rama geram. Tidak akan Rama diamkan orang-orang yang mencoba membuat kekacauan.


Brug.....bruggg...brugg....


Gedoran pintu Rumah Nata yang sangat keras, Rama sudah tidak bisa lagi mengedalikan emosinya. Rasanya ingin sekali merobek dan mengoyak seluruh isi perut Zaldi agar jera dan tidak lagi mengganggu keluarganya.


“Rama....” Nata terlihat pucat saat membuka pintu. Tanpa menunggu aba-aba Rama langsung masuk rumah dan duduk dengan wajah berkobar kemarahan di ruang tamu.


“Suruh suami mu keluar menumui ku.” Nata tidak lantas memanggil suaminya, dia duduk di depan Rama. Masih ada senyum di bibir Nata. Rama selalu tidak bisa melihat Nata bersedih. Dia benar-benar tidak tega. “Jangan tersenyum seperti itu padaku. Aku tidak akan tingga diam lagi.” Nata terlihat membuang nafasnya yang terasa berat.


“Apa yang terjadi? Apa dia menyakitimu?” Nata menatap mata Rama yang saat ini bersimpuh di bawah kakinya. Nata wanita yang dulu sangat ceria dan selalu bahagia. Rama tidak rela melihatnya diperlakukan seperti ini.


“Semua memang karena aku, aku bahkan tidak bisa membesarkan anak-anakku dengan baik.” Rama tau saat ini dia sedang bersedih atas apa yang terjadi pada Lissa. Rama memeluk Nata yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. “Klara meninggalkan aku meski aku memohon. Aku kehilangan mereka semua.” Nata terisak di pelukkan Rama.


Nata merupakan anak kandung dari Kakak Ayahnya Rama, keluarga mereka tidak akur sampai akhir hayat hanya karena perbedaan pendapat saat membagi hak waris harta keluarganya. Nata dan Rama sama-sama tau mereka bersaudara tapi tidak bisa dekat satu sama lain. Rama bukanlah orang tuanya, dia tidak menaruh kebencian pada Nata atas kesalahan yang tidak mereka perbuat. Nata tidak pernah mau menerima bantuan Rama karena merasa malu dengan perbuatan kedua orang tuanya. Rama tidak bisa memaksa atau menyalahkannya, dia satu-satunya keluarga yang Rama miliki.


“Jangan khawatir, aku akan mengurus mu. Tenang yah!” Rama benar-benar sedih, Nata sangat mencintai kedua putrinya. Dia tidak bisa hidup tanpa anak-anaknya. “Aku akan membujuk Klara. Dia gadis yang sangat baik. Dia tidak mungkin meninggalkanmu seorang diri.” Nata menghapus air matanya.


Mendorong tubuh Rama dari pelukkanya. “ Jangan Lakukan apapun. Aku tidak mau mereka semakin membenciku.” Nata melekatkan kedua tangannya memohon. “Aku akan buktikan aku tidak ada di pihakmu.” Nata berdiri menghindari Rama.


“Tapi mereka sudah keterlaluan. Apa salah keluargaku!” Rama meraih tangan Nata. “Lihat mataku, apa aku salah melindungi yang sangat berharga bagiku?” Nata tidak bisa menatap mata Rama. Dia tau perbuatan keluarganya salah.


“Jangan melindungi orang yang bersalah hanya karena dia keluargamu.” Rama sangat kecewa.


“Aku tau mereka melakukan kesalahan, tapi tolong jangan menghukum mereka Ram. Beri mereka kesempatan.” Rama menahan amarahnya yang memuncak.

__ADS_1


“Tolong….tolong lepaskan Lissa, tolong jangan biarkan Zaldi juga dihukum. Ampuni mereka.” Nata terisak-isak memohon pada Rama.


“Aku selama ini merahasiakan siapa dirimu! Aku tidak membongkar identitasmu dan membiarkanmu hidup dengan pilihanmu, lihat…..apa yang kamu dapatkan!” Nata terduduk semakin terisak, memukul dada nya yang terasa sesak. “Aku mengorbankan orang yang sangat berharga demi laki-laki yang sekarang tidak menghargainya sedikitpun.” Rama menyesali keputusannya di masa lalu. Andai saja waktu bisa di putar kembali.


“Aku yang bersalah, aku memang serakah. Aku yang membuat semuanya hancur.” Rama teringat bagaimana kedua orang tua Nata menghina kedua orang tuanya. Rama memeluk Nata dengan erat.


Dua keluarga berselisih karena harta, kedua orang tua Rama mendapatkan hak waris penuh atas perusahaan yang saat ini berdiri atas nama Nata. Keluarganya memilih mengalah dan meninggalkan apa yang keluarga Nata inginkan agar perseteruan tidak lagi terjadi. Tapi niat baik mereka terkubur sampai liang kubur, kedua orang tua Nata membayar pembuhun bayaran untuk mencelakai kedua orang tua Rama. Rama harus berdiri di kakinya sendiri saat dia masih sangat muda karena kedua orang tuanya meninggal dengan cara yang mengenaskan.


Sejak saat itu Rama tidak lagi menyandang nama besar keluarganya, dia lahir menjadi orang baru dengan nama baru yang tidak memiliki keluarga. Dia hidup sebatang kara, tidak ada lagi keluarga yang mengasihinya. Dia harus berjuang sendiri dengan sisa tabungan yang kedua orang tuanya miliki.


Rama berhasil keluar dari depresinya dan menata hidupnya mulai dari nol. Berpegang teguh pada pendiriannya dan mengandalkan dirinya sendiri. Akhirnya Rama bisa dan menjadi pengusaha sukses saat dia masih sangat belia.


Perusahaannya bahkan berkembang pesat jauh di atas perusahaan yang kedua orang tua Nata kendalikan. Rama berdiri dengan penuh percaya diri saat kedua orang tua Nata memintanya menjadi penanam modal di perusahannya.


Rama tidak sudi, dia bahkan ingat saat dirinya di usir dan tidak lagi dianggap sebagai keluarganya. Tidak lama keduanya meninggal dalam kecelakaan mobil saat sedang dinas di luar kota. Rama merasa ini karma atas perbuatannya pada kedua orang tuanya. Meski membenci, Rama tidak bisa tidak perduli pada Nata.


Dia tidak bersalah atas apa yang kedua orang tuanya lakukan. Nata gadis yang sangat lembut, sama seperti Ayah kandung Rama. Mereka berdua sangat mirip. Dari situ Rama mulai mendukung Nata yang harus terbiasa memimpin perusahaan yang kedua orang tuanya kelola. Nata tidak banyak bicara, dia lebih banyak memendam seorang diri masalah dan kegelisahan yang menggangunya.


Rama bahkan harus bersusah payah menyembunyikan dirinya saat membantu perusahaan Nata. Dia pasti akan menolak jika Rama terang-terangan membantunya. Rama sedikit lega saat Nata menikah dengan Zaldi. Dia seorang pebisnis handal yang diperhitungkan. Rama mulai bisa melepaskan Nata perlahan, tentu saja mereka saling menutupi hubungan keduanya. Jika tau siapa Rama, tentu saja perusahaan yang Nata miliki akan jatuh pada pemilik sah nya.


Rama tidak melepaskan pelukkannya sampai Nata merasa lebih baik. Bagaimanapun dia berusaha keras menjadi wanita hebat yang tidak pernah mengeluhkan keadaannya.


“Apa hidupku hancur karena aku tidak melepaskan apa yang bukan milikku!” Nata menatap mata Rama dengan wajah yang masih basah berlinang air mata. “Aku akan serahkan semuanya, tapi jangan biarkan keluargaku hancur. Aku mohon kembalikan mereka padaku.” Rama sangat memahami perasaan Nata. Dia pasti hancur.


“Semua akan baik-baik saja.” Rama mendekap erat Nata, dia masih sangat baik meski semua orang tidak perduli padanya.


“Mah….” Suara Klara seperti angina sejuk yang mengisi jiwa Nata yang gelap. Klara menghambur kepelukan Nata. Dia dengar semua percakapan antara Nata dan Rama.


“Kau pulang Nak.” Nata memeluk Klara dengan segenap jiwa raganya. “Apa kau sudah makan! Aku masak makanan kesukaanmu.” Nata menarik tangan putrinya. Memintanya duduk bersama di meja makan.


Rama bahkan sudah tidak bisa lagi marah. Hanya ada perasaan sedih yang mengisi hatinya, dia membiarkan Nata hidup dengan laki-laki yang dipenuhi ambisi tidak berujung. Bahkan dia tidak memperhatikan pertumbuhan anak-anaknya dengan baik sampai Lissa jadi wanita yang sangat kejam tidak berperasaan.


Klara menatap Rama dan tersenyum. “Benar…”Rama menggengam tangan Klara. “Aku paman mu.” Rama membalas senyum Klara. Dahulu Rama ingin sekali Klara jadi menantunya agar dia bisa dekat dengan Nata tanpa menyakiti perasaannya. Klara gadis baik yang memiliki sifar-sifat ibunya.


“Maafkan adikku dan Papah.” Rama mengangguk. Rama masih belum bisa mengambil keputusan. Dia sangat ingin membantu Nata agar senyumya kembali, tapi dia berjanji akan melindungi keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2