Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 47 ( Kekecewaan )


__ADS_3

Langkah Murni terhenti dibangku taman, ada sedikit penyesalan atas apa yang sudah dia lakukan. Jika Buyut Ayu masih ada, sudah pasti aku akan dihukum dan bisa dikeluarkan dari ahli waris. Beruntung saat ini Buyut sudah tidak ada.


Tidak lama terlihat mobil Ali berhenti di taman karena sebelumnya Murni menghubunginya. Ali sebenarnya dalang mengapa Murni bisa melakukan hal mengerikan seperti ini.


“Kau tidak papa?” Ali meraih tubuh Murni dan mencoba memeluknya, tapi di tepis.


“Pasti setelah ini aku akan jadi bahan pembicaraan orang-orang dikampung, kalo aku pulang nanti bagaimana? Mau ditaro dimana mukaku ini?” Murni meledak-ledak, emosinya sudah tidak bisa di kontrol. Rasanya begitu sesak didada sampai sulit untuk bernapas.


“Tapi tindakan kamu menyelamatkan Ayu. Jika tidak.....” Kata-kata Ali menggantung. Sekarang dia melihat sorot mata yang sangat menakutkan dihadapannya.


“Kenapa kamu bisa punya pikiran kotor seperti itu, dan lihat demi Mas. Aku mengorbankan banyak hal” Murni mulai terisak, air mata yang ditahan akhirnya lolos dan berderai.


Ali memeluk Murni dengan hangat, dia tau perbuatannya membuat istrinya tersakiti. Membuat orang yang seharusnya dia sayangi menjadi menderita.


Flash Back


Malam ini hujan turun begitu lebat, Murni akirnya memutuskan untuk meneduh dan menunggu hujan reda. Setelah 30 menit ternyata hujan masih saja belum menunjukkan tanda-tanda kalo akan berhenti.


Akhirnya Murni memutuskan untuk pulang meskipun harus menembus hujan lebat. Sampai di rumah bajunya agak sedikit basah karena hujan teryata mampu menembus jas hujan yang sudah digunakan.


Ceklek....


Murni sudah membuka pintu dan segera masuk karena hawa dingin mulai menyeruak. Sesampainya dikamar, Murni tidak mendapati suaminya. Murni berkeliling dan mencari disetiap sudut rumah. Murni tidak berhasil menemukan Ali dimanapun.


Apa jangan-jangan mas Ali....


Murni berlari ke kamar Ayu yang ada di belakang


Brakkkkkk


Murni membuka pintu dengan paksa. Dan betapa terkejutnya saat Murni melihat Ali sedang berusaha melepaskan kancing baju Ayu yang sedang tertidur pulas. Murni menarik tubuh Ali yang sudah ada diatas kasur dengan kasar.


Bug....bug...bug....


Murni memukul Ali dengan pukulan yang cukup keras bertubi-tubi sampai Ali tersadar akan perbuatan bejadnya.

__ADS_1


“Kau sudah gila? Kenapa tidak kau tiduri gadis-gadis malam diluar sana seperti biasaya?” Murni berteriak sejadi-jadinya. Tubuhnya terduduk lemas menyaksikan apa yang Ali perbuat.


Ali hanya menunduk, dia akan jadi orang super baik saat Murni memergokinya berbuat mesum dan selingkuh. Dia tidak membantah sedikitpun. Sekarang Murni merasa aneh karena Ayu tidak terganggu sama sekali.


Murni berdiri, dia memeriksa setiap jengkah tubuh Ayu. Sepertinya keputusannya menerobos hujan sangat tepat. Jika tidak Ayu sudah menjadi makanan lezat suaminya sendiri.


“Apa yang kau lakukan?” Mata melotot dan tangannya menunjuk pada Ayu.


“Aku memberinya obat tidur yang ada dilaci kamar” Ali masih menunduk. Murni mengusap wajahnya kasar. Dia tidak percaya suaminya tega melakukan hal mengerikan pada keponakannya.


“Keluar....keluarrrr !!!!” Ali pergi tergopoh-gopoh meninggalkan Murni yang sedang menangis dan berteriak padanya.


Murni duduk dipinggir ranjang menggenggam tangan Ayu. Kesalahan besar Buyut Ayu membawamu kesini Yu, beliau tidak tau rumah tangga seperti apa yang Mbak Murni jalani.


Selama ini aku menutupinya karena tidak mau menyakiti siapapun. Aku mau kalian tetap melihatku bahagia tanpa beban. Aku tidak bisa berbuat apapun karena aku memang tidak bisa memberikan keturunan untuk Mas Ali.


Murni masih terisak, begitu pedih perjalan panjang hidupnya yang tidak dia bagikan pada siapapun. Biarlah hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang tau.


Murni keluar dari kamar Ayu setelah memeriksa denyut jantung Ayu. Masih normal dan tidak terganggu karena obat tidur. Sepertinya Ayu baik-baik saja.


Sekarang apa yang harus aku lakukan ya Tuhan. Jika membiarkan Ayu disini, itu sama saja memberikan singa kelaparan daging import. Aku pasti akan menyesal jika kejadian tadi terulang kembali.


Ali terlihat berjalan pelan menghampiri Murni yang terlihat sudah menguasai emosinya. Dia duduk disebelah Murni dan menggenggam tangan istrinya dengan lembut.


Begitu besar cinta kasih yang Murni miliki, beberapa kali memergoki suaminya berselingkuh dan masih memberikan maaf untuk memperbaiki kesalahan. Tapi berulang kali juga Murni harus kecewa. Suaminya tetap saja tidak berubah.


Dia masih tetap saja menyukai gadis-gadis cantik dan selalu berbuat semaunya. Beberapa kali terfikir untuk meninggalkan Ali, tapi rasa cintanya mengubur kesalahan Ali begitu saja. Kali ini Murni melakukan hal yang sama, dia memilih suaminya dan akan mengorbankan Ayu.


Flash Back Off


“Ibu maafkan Aku....Ibu....Ibu”Ayu duduk bersandar dipangkuan Ibu, beberapa kali mulutnya meminta maaf karena tidak memberitahu keadaan sebenarnya.


Ibu tidak membuka mulutnya, dia masih saja bungkam dan hanya meneteskan air mata. Ibu sangat kecewa karena Ayu tidak membagi kesulitannya. Ibu merasa bersalah karena satu tahun ini tidak datang dan menemui anak gadisnya lebih cepat.


“Ibu tolong jawab Bu, tolong maafkan aku Bu” Ayu menggoyangkan tangan Ibu berkali-kali, tetap tidak ada respon. Ibu masih membisu dan tidak menanggapi.

__ADS_1


Ayu semakin merasa bersalah, keputusannya menutupi semuanya ternyata salah. Ibu merasa terpukul karena tidak mampu menjaga Ayu dengan baik. Begitulah penafsiran Ayu dalam dirinya.


Saat ini Kak Ana mengajak Riyan meninggalkan Ayu dan Ibunya, kelihatnnya mereka harus menyelesaikan masalah ini berdua saja.


Ana memang orang yang bijaksana dan dewasa, dia sudah terbiasa menghadapi suasana seperti ini. Dia memiliki banyak pelanggan di galerinya yang cukup beraneka ragam. Jadi keahliannya menangani keadaan sudah terlatih.


Tiba-tiba Ibu berdiri, dia melangkah menuju kamar yang di tempati Ayu. Ayu mengikuti langkah Ibu, dia mengekor kemanapun Ibu melangkah. Ayu masih menggandeng erat tangan Ibunya. Tidak akan dilepaskan sebelum Ibu memaafkan.


Tangan kiri Ibu membuka satu persatu pintu lemari yang ada dikamar. Tidak dilihatnya satupun baju Ayu disana, Ibu kembali terisak. Ternyata Ibu Tina tidak berbohong, dia orang yang jujur disini. Mata Ibu kembali menyorotkan amarah.


Ayu beberapa kali melihat Ibu marah, tapi tidak pernah sebesar ini. Kekecewaan sudah membuat Ibu hilang akal. Anak gadisnya tidak lagi mengadu padanya, dia sudah merasa mampu mengambil keputusan sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Ayu menunduk melihat Ibu menatapnya dengan tajam. “Lepaskan!” Ibu menggoyangkan tangannya. Dan Ayu tetap menggenggam erat. Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil berderai air mata.


Isak tangis lolos dari mulut Ayu. Dia ketakutan Ibunya akan meninggalkannya tanpa maaf. Ayu khawatir Ibu akan membuangnya sama seperti yang Mbak Murni lakukan.


Sekarang Ayu terduduk lemas, tangannya memeluk erat kaki Ibu. Hanya isak tangis yang terdengar, Ayu sudah tidak mampu berkata-kata. Hanya ada ketakutan dalam dirinya. Beberapa Kali Ibu juga mengusap air mata yang tidak terbendung.


Ibu membiarkan Ayu menangis cukup lama, tangisan Ayu berangsur lirih. Sekarang Ibu sudah mampu menguasai diri. Dia berjongkok, lama memandang wajah anak gadis yang sangat dia sayangi.


Akhirnya Ibu memeluk Ayu dengan hangat. Mereka menangis kembali haru.


“Jangan merasa benar, kamu harus minta saran Bapak dan Ibu” Ibu mengusap puncak kepala anaknya dengan lembut. “Kamu ini bukan orang dewasa, semua harus dibicarakan dengan orang yang lebih mampu. Yang lebih paham dan lebih tau harus berbuat seperti apa” Ibu mengendurkan pelukannya.


Memandang wajah anaknya yang sekarang semakin tirus, perasaan bersalah kembali menyeruak.


Ibu kembali memeluk erat tubuh kecil yang sok mandiri. “Ayu tau apa yang Ibu rasakan saat ini?” Mata mereka bertemu, Ayu menggeleng.


“Ibu merasa gagal menjadi orang tua Ayu” Kali ini Ayu yang memeluk erat Ibu. Ayu yang bersalah, Ayu yang berdosa karena memilih jalan sendiri.


“Aku minta maaf” Hanya itu yang berulang kali Ayu katakan.


Ibu kali ini membalas pelukan Ayu. Mereka dua insan yang saling mencintai. Hanya kekecewaan sesaat membuat rasa sakit yang begitu besar dan melupakan cinta kasih yang sudah diberikan selama ini.


Ibu mengalah, dia harus tetap menjadi sosok Ibu yang menyayangi anak-anaknya. Menjadi tempat pulang saat anak-anaknya kehilangan tempat kembali. Menjadi penyejuk disaat anak-anaknya lelah mencari jati diri. Menjadi tiang saat anak-anaknya membutuhkan kekuatan dan dukungan.

__ADS_1


__ADS_2