
Malik menghilang semalaman. Aldo, Adam dan Rama tidak bisa menemukan nya di manapun.
Akhirnya Rama memutuskan membawa Ayu pulang tanpa kehadiran Malik. Aldo selalu setia menemani Ayu. Baginya Ayu sama pentingnya dengan Malik.
Dia melihat bagaimana Malik rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Ayu. Dia bahkan tidak pernah melihat cinta berkorban sebesar ini sebelumnya.
Malik bukan orang bodoh yang akan melepaskan Ayu begitu saja tanpa alasan. Pasti dia saat ini butuh ketenangan agar tidak salah mengambil langkah.
Ada kalanya Malik menghilang dari peredaran demi kebaikan bersama. Pasti dia dihantui rasa bersalah atas apa yang menimpa Ayu. Semua kejadian demi kejadian diluar batas kemapuan Malik menjaga Ayu.
Setelah perjalanan panjang, mereka akhirnya sampai di kediaman Rama. Terlihat mobil Malik yang terparkir di garasi.
Mamih merasa lega karena Malik tidak pergi ke tempat lain, melainkan pulang lebih awal dari yang lainnya. Biarkan saja Malik mengatur emosinya sesaat. Dia memang butuh udara segar agar pikirannya kembali jernih.
"Malik di rumah Bi?" Mamih bertanya pada bibi yang membukakan pintu.
"Iya nyonya, belum lama sampai." Mamih mengangguk. Kembali berjalan mengantarkan Ayu untuk istirahat di kamarnya.
Tok...tok...tok....
"Nak buka pintunya." Pintu terkunci rapat.
Ayu hanya mampu membisu, Kak Malik benar-benar menghindar darinya. Beberapa kali Mamih mengetuk pintu, tapi Malik tidak menjawabnya. Sepertinya hari ini Ayu harus mengalah menjadi lebih dewasa.
"Mih, mungkin Kak Malik tidur. Ayu istirahat di kamar depan saja." Lebih bijak menurut Ayu.
Dia tidak mau Mamih sedih melihat sikap Kak Malik padanya. Apalagi saat ini Kak Malik sedang dalam keadaan kurang baik. Memaksakan keadaan kembali seperti semula juga percuma, harus ada yang berkorban demi kedamaian bersama.
"Apa Ayu yakin, istirahat di kamar Mamih saja." Mamih menarik tangan Ayu.
Ayu tersenyum, mencium tangan Mamih dan menatap kedua matanya dengan rasa terimakasih. Wanita yang selalu berada di garis depan saat dirinya terluka.
"Mih, kalian sudah merawat ku seperti anak kalian sendiri. Aku sangat bersyukur. Sekarang ijinkan aku menjaga diriku. Aku akan kembalikan Kak Malik yang dulu." Mamih merangkul Ayu.
Dia memang gadis kecil yang selalu bisa menjadi kesejukan dalam dahaga. Kebaikan dalam diri Ayu mampu membuat suasana tenang seolah semua baik-baik saja.
"Terimakasih banyak anakku. Mamih mohon jangan tinggalkan Malik. Dia sangat membutuhkan kita semua." Ayu mengusap air mata Mamih. Mamih terlihat begitu terpukul dan kecewa.
Ayu masuk ke kamar lain di lantai 2. Dia harus istirahat untuk memulihkan tubuhnya. Sekarang giliran dia yang harus berjuang meraih kembali cinta Kak Malik.
Ayu membaringkan tubuhnya di atas kasur besar yang sangat nyaman. Berdzikir dalam hati agar terhindar dari pikiran buruk dan perbuatan jahat. Tidak lama matanya terpejam.
Ayu terbangun di tengah malam, rasanya hampa tidur di atas kasur besar sendirian. Biasanya lengan Kak Malik selalu ada menjadi sandaran kepalanya.
Ayu memutuskan untuk bangun, matanya sudah tidak bisa lagi di pejamkan. Ayu menyempatkan diri untuk shalat malam meminta pertolongan pada Tuhan yang maha esa agar dibukakan jalan keluar.
__ADS_1
Setelah selesai melaksanakan shalat, Ayu turun ke bawah karena perutnya terasa lapar.
Langkahnya yang semula ringan jadi terasa berat melihat Kak Malik duduk di meja dapur sedang memainkan ponsel di tangannya.
Ayu ragu melangkah mendekati Kak Malik, tapi apa salah nya mencoba. Lagian dia juga sudah terlanjut turun dan sampai di lantai bawah.
"Kak, apa Kak Malik juga tidak bisa tidur?" Ayu menunggu jawaban, tapi sepertinya Kak Malik masih malas bicara dengannya.
Ayu melangkah menjauh dari Malik, dia menuangkan susu ke dalam gelas untuk dia nikmati bersama roti tawar.
Bagaimana caranya yah agar Kak Malik tidak marah lagi padaku. Kenapa dia berubah seperti ini. Pikirannya kacau mencari jawaban. Tapi semua itu tidak akan bisa mengembalikan keadaan.
Ayu harus berusaha keras mendapatkan cinta Kak Malik. Dia pasti masih mencintaiku. Dia bahkan selalu melindungi ku selama ini. Aku melangkah mendekati Malik.
"Kak, mau aku buatkan teh? Atau kopi?" Masih tidak di hiraukan. Ayu mulai sedih, tidak ada satupun pertanyaan yang Kak Malik jawab.
Dia hanya sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya. Ayu merasa sedih, tapi semua ini pasti akan kembali normal. Mungkin butuh beberapa hari agar hati Kak Malik kembali menerima dirinya.
Ayu menyalakan kompor, membuatkan teh hijau kesukaan Malik. Entah di minum atau tidak Ayu tidak perduli. Dia tetap bersikap layaknya seorang istri.
"Kak ini teh nya. Aku tinggal ke atas ya Kak." Ayu buru-buru meninggalkan Malik.
Dia menahan sesak di dadanya yang semakin kuat. Tenggorokannya sudah mulai sakit karena menahan tangis. Langkahnya setengah berlari agar tidak ada yang melihatnya sesedih ini.
Ayu masuk kamar depan, menenggelamkan kepalanya ke bantal agar suara tangisannya tidak terdengar orang lain. Berteriak keras menuangkan semua emosi pada bantal yang tidak bersalah.
Ayu menikmati dirinya sendiri yang sedang tenggelam dalam kesedihan. Membiarkan air mata banjir agar dadanya tidak sesak.
Malik menatap sedih cangkir teh yang ada di depannya. Dia bahkan tidak memperhatikan Ayu saat dia bicara padanya.
Malik bingung, dia hanya akan membuat Ayu menderita jika terus mempertahankan hubungan ini. Malik tidak mau Ayu kembali dalam bahaya karena dirinya.
Lebih baik Malik melihat Ayu bahagia dengan orang lain dari pada harus kehilangan dirinya selamanya. Hanya itu yang ada di pikiran Malik saat ini. Semua demi keselamatan Ayu.
Suasana pagi dikediaman Rama tidak seperti biasanya. Pagi-pagi Mamih mengajak Ayu lari pagi bersama Rama. Mamih berusaha menjadi penengah hubungan antara Ayu dengan putranya yang saat ini tidak baik-baik saja.
Berjalan santai menikmati udara pagi yang sejuk. Kicau burung terdengar indah menemani langkah mereka. Perbincangan ringan dan canda tawa terselip menemani setiap langkah.
"Mih, di ujung sana ada tukang bubur langganan Ayu. Kita sarapan di sana yuk!" Ayu kangen masa-masa kost, dia sering makan bubur pinggir jalan di ujung komplek.
"Kita jadinya olahraga atau sarapan nih!" Ledek Rama karena mereka baru jalan sedikit sudah mampir untuk sarapan.
"Setelah itu kita bisa jalan lagi Ayah. Supaya bisa kuat menghadapi kenyataan. Hehehehe...." Ayu tertawa, membuat kedua orang tuanya tertawa.
Mamih berjalan bergandengan tangan dengan Ayu. Sesekali mereka mengayunkan tangan mereka seperti anak kecil yang sedang berjalan penuh kegembiraan.
__ADS_1
"Pak Dhe, apa kabar. Pesan 3 ya Pak Dhe." Ayu tampak akrab.
"Loh anakku toh, sudah lama tidak kelihatan. Pak Dhe kira Ayu pulang kampung." Mulutnya ngoceh kesana kemari, tapi tangannya tidak berhenti bekerja.
"Siapa Yu. Kamu terlihat dekat sekali." Rama tidak terlalu suka Ayu mudah dekat dengan orang tidak di kenal.
"Mereka dulu sering membantu Ayu. Kasbon jika uang Ayu habis di akhir bulan." Ayu tersenyum.
Bagaimana gadis ini tetap tersenyum padahal dia sedang menceritakan masa kelamnya. Aku merasa sangat beruntung punya menantu sepertinya. Dia anak yang sangat mandiri dan selalu bahagia. Tidak perduli apapun masalah yah sedang dia hadapi saat ini.
Setelah menikmati sarapan pagi sederhana, mereka kembali berjalan ke arah rumah. Dari jauh Malik terlihat sedang memasukkan koper besar ke dalam bagasi mobil. Rama mempercepat langkah karena merasa ada yang aneh. Ayu dan Mamih mengikuti dari belakang.
"Apa yang kau lakukan? Apa ada perjalanan bisnis?" Rama berdiri di depan Malik mempertanyakan apa yang sedang Malik lakukan.
"Tidak ada, aku akan kembali ke apartemen." Menjawab tanpa menatap mata Ayah nya.
"Kau masih sama saja. Setiap ada masalah pasti akan lari menghindar. Aku baru saja sebentar merasa bangga punya putra seperti yang aku inginkan." Rama marah, emosinya naik sampai membuat jantung nya berdetak kencang.
"Ayah, jangan emosi. Ingat kesehatanmu." Mamih membawa Rama masuk. Membiarkan mereka berdua berdebat tidak akan ada habisnya. Keduanya sama-sama keras kepala.
Mamih selalu menarik salah satu dari kedua laki-laki yang dia cinta untuk menghindari perdebatan yang hanya akan membuat suasana semakin memanas.
"Kak, tunggu aku sebentar. Aku akan mengemas barang-barang ku." Ayu merasa bingung. Tapi dia putuskan untuk mengikuti kemanapun Malik pergi.
"Tidak, aku ingin sendirian." Akhirnya Malik menjawab ucapannya setelah bungkam tidak bersuara.
"Tidak, aku kan istrimu. Mana boleh kamu meninggalkan ku disini." Ayu lari ke dalam tanpa memperdulikan Malik yang menolaknya untuk ikut.
Ayu memasukkan barang-barang yang penting ke dalam koper besarnya. Mengemas dengan cepat sampai koper sulit di tutup.
Ayu menenteng koper besar nya ke lantai bawah penuh perjuangan. Aldo yang baru saja sampai lari membantu Ayu menurunkan koper besarnya.
"Nona mau kemana bawa koper sebesar ini?" Penuh tanda tanya di kepala Aldo.
Apa mereka berdua memutuskan untuk berpisah? Kenapa kisah cinta yang manis berakhir begini saja. Aldo turut prihatin.
Ayu tidak langsung menjawab, mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Menatap Aldo sambil tersenyum seperti orang bodoh.
"Aku akan ikut Kak Malik. Dia mau kembali ke apartemen." Menyembunyikan kesedihan dibalik senyum palsu.
"Apa Bos yang menginginkan nya Nona?" Padahal saat ini tidak aman tinggal di apartemen.
Ayu mengangguk, senyum nya sirna. Matanya menatap nanar halaman rumah yang hanya berjejer mobil mewah Milik keluarga Rama Saputra. Tidak ada sosok yang Malik di sana.
"Nona, ada apa?" Aldo merasa sedih.
__ADS_1
Ayu tidak kuat menahan air matanya. Dia terisak menutup mulut dengan kedua tangannya.
Aldo yang bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.