Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 131 ( Pernikahan )


__ADS_3

Adam memeriksa Pras yang masih mendapatkan perawatan intensif karena lukanya terinfeksi. Adam mngurus Rey penuh dengan rasa terimakasih. Hans dan Pras sudah sangat baik mengorbankan keselamatannya untuk membantu dirinya menyelamatkan Sarah.


Rera dengan setia menemani Pras selama di rumah sakit. Malik memberikan kelonggaran pada Rera agar bisa mengurus Pras dengan leluasa tanpa di ganggu pekerjaan. Sementara pekerjaannya di alihkan pada Aldo.


Adam beberapa kali melihat Rera memangis di depan ruangan Pras. Tapi saat tau ada dirinya, Rera selalu berusaha menyembunyikan kesedihannya. Tidak terlihat sedikitpun ada kesedihan, dia selalu bersikap professional padahal tidak di ruang kerja.


“Rera” Rera segera mendekati Adam yang sedang memeriksa Pras. “Kau tau pesannya saat dia tertembak?” Rera menggeleng. Pras mengernyit kan dahi mencoba mengingat apa yang dia ucapkan.


“Apa aku mengatakan sesuatu?” Pras merasa dirinya tidak mengatakan apapun saat kejadian. Yang dia ingat hanya teriakkannya yang membuat semua orang terkejut.


“Dia bilang tidak ingin mati sebelum menikahi mu.” Adam merasa senang menggoda Pras yang kaku seperti kanebo kering. Dia harus memperlakukan wanita lebih baik lagi dengan sedikit bersikap romantis.


Rera tersenyum mendengar ucapan Dokter Adam, Rera tau itu hanya gurauan. Pras bukan tipe orang yang akan mengungkapkan isi hatinya pada orang lain. Yang ada di isi kepalanya hanya pekerjaan dan karir. Rera bahkan beberapa kali meminta Pras menikahinya, tapi Pras masih belum siap dan masih ingin fokus pada karirnya.


“Dokter.” Suara Rera yang lembut mengehentikan senyum Adam. “Dia bahkan sudah saya ajak menikah beberapa kali.” Adam menyesal bercanda dengan hubungan percintaan Pras dan Rera. “Tapi dia selalu menjawab belum siap. Menurut Dokter apa yang harus saya lakukan? Apa aku harus menyerah?” Mata Rera berkaca-kaca, suasana hatinya memang sedang tidak baik.


Tadi pagi tiba-tiba saja kedua orang tuanya mempertanyakan perihal kelanjutan hubungan nya dengan Pras. Usia Rera sudah tidak lagi muda, Pras bisa saja mencari wanita yang lebih muda dan cantik darinya. Tapi perempuan tidak bisa menunggu terlalu lama. Mereka punya masa untuk bisa melahirkan dan menyusui. Bagaimana seorang wanita harus mempertimbangkan usia saat memutuskan menunda pernikahnnya.


Adam bingung setengah mati saat menghadapi pertanyaan Rera, salah menjawab sama saja membuat masalah bertambah rumit. Adam menggaruk kepalanya, rasanya ada hawa panas padahal di dalam ruangan ber AC. Adam melihat Pras yang menatap Rera dengan penuh penyesalan.


“Dokter, apa aku bisa bicara berdua dengan kekasih ku?” Rera menghela nafas mendengar Pras bicara manis.


Selamat-selamat, untung saja Pras sangat tau isi hatiku. Bisa saja aku salah bicara dan Rera meradang. Adam bicara dalam hati.


“Tentu saja, maaf kan ucapanku ya Rera. Kau wanita yang sangat baik.” Rera masih tersenyum dan tidak terlihat kesal pada Adam. Padahal Adam tau Rera pasti marah padanya.


Bruggg…..


Pintu tertutup, tinggal Rera dan Pras yang ada di dalam ruangan. Rera berdiri memunggungi Pras, hatinya masih terluka karena kedua orang tuanya meminta nya menikah secepatnya. Suatu hal yang mustahil dia lakukan jika masih menjadi kekasih Pras.


Pras memeluk Rera dari belakang, Pras tau saat ini Rera sedang menahan air matanya. Dia selalu tampak baik-baik saja di depan Pras. Rera wanita yang selama ini Pras sia-siakan.

__ADS_1


“Apa kita bisa menikah secepatnya? Aku tidak ingin kehilangan wanita yang sudah seperti malaikat dalam hidupku.” Rera tersentak, matanya yang sudah berkaca-kaca tidak lagi bisa dia tahan.


Rera menangis di pelukkan Pras, emosinya yang sudah sejak lama dia tahan tumpah. Pertahanan sekuat apapun jika terlalu sering di serang tetap akan rapuh.


“Maafkan aku. Aku akan segera melamarmu dan menentukan tanggal pernikahan kita saat keluar dari rumah sakit.” Rera mengangguk. Kebagaiaan yang sangat luar biasa, akhir nya penantian yang cukup panjang berakhir manis.


Adam yang menguping pembicaraan Pras dan Rera dari balik pintu bersama dua orang suster tertawa tanpa suara. Adam ikut merasakan kebahagiaan yang Rera dan Pras rasakan. Adam meminta seorang suster memesankannya sebuket bunga untuk diberikannya pada Rera.


Adam beruntung mengenal orang-orang baik yang selama ini membantunya. Mereka bukan keluarga, tapi ikatan di antara mereka menyatu kuat begitu saja karena takdir Tuhan.


***


Jofan sangat bersyukur mendengar kabar bahagia dari Rey, akhirnya setelah sekian lama Rey memutuskan untuk meresmikan hubungannya dengan Ana. Wanita yang selama ini dengan sabar menunggu kepastian hubungannya dengan Rey.


Jofan masih tidak melepaskan pelukkannya dari Rey, laki-laki yang sudah seperti sahabat dalam hidup Jofan. Mereka selalu bisa saling mengisi meski terkadang sering berselisih dan tidak sependapat.


“Kau pasti akan sangat bahagia jika sudah menikah, jangan sibuk dan melupakanku ya Kak.” Ana terharu mendengar ucapan Jofan. Selama ini Jofan selalu ada diantara mereka berdua, tentu saja Ana tidak akan membiarkan Jofan merasa kesepian.


“Aku menyayangi kalian.” Jofan memeluk Ana dan rey. Jofan kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tapi tidak kasih sayang Rey dan Ana. Mereka selalu ada untuk Jofan dalam keadaan apapun.


“Mari kita rayakan dengan pesta makan besar. Undang teman-temanmu besok. Ah…aku juga mengajak Mamah untuk dating. Dan Papah juga akan dating besok. Kita berkumpul.” Rey sangat paham kebahagiaan Jofan. Melihat kedua orang tuanya duduk berdampingan saja sudah membuat Jofan menjadi anak yang sangat beruntung.


Ana bersiap belanja ditemani Jofan, setelah kejadian yang menimpa Ayu dan Sarah, Rey sedikit membatasi pergerakan Ana. Orang yang menculik mereka adalah kerabat dekat Oji, bisa saja sifatnya menurun pada Oji. Rey tidak mau sampai hal buruk menimpa orang-orang yang Rey sayangi.


“Kak Ana, kita belanja apa untuk acara besok?” Jofan bersemangat mendengar kedua orang tuanya akan datang. Mereka jarang sekali punya waktu senggang sekedar menghabiskan waktu bersama dengan Jofan.


“Sepertinya akan enak jika kita mengadakan pesta barbeque, bagaimana!” Mengikuti tren agar tidak tertingal jaman seperti anak-anak muda jaman sekarang.


“Ide bagus Kak, tapi aku ingin Kak Ana membuat sup iga kesukaan Mamah.” Jofan selalu ingat saat Mamah memasak sup iga dan makan bersama-sama. Keluarga yang sangat Jofan bangakan meskipun sekarang tidak lagi bersama.


Ana mengangguk, keinginan apapun asal bisa Ana kabulkan untuk membuat Jofan merasa bahagia. Rey dan dirinyalah sumber kekuatan yang Jofan miliki selama ini. Dia bisa kokoh karena Ana dan Rey selalu menopangnya dengan cinta dan kasih sayang yang besar.

__ADS_1


“Fan, bagaimana jika kita mampir menjenguk Ayu. Kak Rey sibuk sekali, aku sangat rindu Ayuna.” Merengek karena Jofan berjanji pada Rey akan menjaganya dan langsung pulang selesai belanja.


“Aku tidak bisa berkhianat. Kita mampir setelah menyelesaikan pekerjaan. Aku harus meminta ijin pada calon suami Kak Ana.” Jofan masih santai berjalan di depan Ana. Jofan berbalik saat sadar Ana masih mematung di belakangnya.


“Kak, ayo.” Jofan sedih melihat Ana yang belum bertemu dengan Ayu semenjak di rawat di rumah sakit. Mereka cukup dekat, pasti sakit rasanya merindukan seseorang tapi tidak bisa menemuinya.


Jofan kembali berjalan kea rah Ana. Wajah Ana yang manyun membuat Jofan tidak tega, sejkali-kali menghianati Kak Rey demi kebahagiaan Kak Ana tidak akan rugi. Jofan tersenyum mengangkat dagu Ana.


“Baiklah, kita mampir sebentar saja.” Ana tersenyum girang Jofan menuruti permintaannya. Ana bahkan melompat seperti anak kecil di depan Jofan.


“Kau memang yang terbaik.” Puji Ana mengangkat kedua ibu jarinya di depan wajah Jofan. Jurus andalan yang selalu berhasil membujuk para laki-laki yang keras kepala dan tidak mau mengalah.


Ana sudah menyiapkan kue kesukaan Ayu yang sering mereka buat bersama. Ana penasaran apakah Ayu mengingatnya, dia bahkan lupa pada Malik. Ana tidak berkecil hati jika memang Ayu lupa. Kenangan mereka tidak begitu banyak, dia bahkan jarang memperhatikan Ayu karena sibuk dengan lukisan dan karya-karyanya yang dikejar deadline.


Jofan memarkirkan mobil nya, Ana sudah tidak sabar bertemu Arumi versi hijab. Mereka sangat mirip sampai Ana sulit membedakannya. Jofan bahagia melihat Ana yang matanya tidak berhenti berbinar-binar akan bertemu dengan Ayuna.


“Aku tidak salah lihat? Itu Papah kan Kak?” Jofan merasa aneh meliat Papah nya ada di rumah sakit, wanita yang sedang bicara dengannya adalah Ibu dari Ayu. Mereka terlihat sangat akrab.


“Fan, Kak ana lupa. Ada yang belum Kak Ana beli.” Ana menarik Jofan, mengurungkan niatnya untuk menjenguk Ana.


Jofan menatap Ana dengan mata tajam dan menakutkan. Dari kejauhan Jofan bisa dengan percakapan Papah dan Ibu Ayu. Mereka sedang berdebat, perdebatan yang membuat Jofan penasaran. Apa maksud dari ucapan-ucapan yang Jofan dengar.


“Lia, tolong jangan halangi aku. Dia juga putriku, aku tidak akan memaksanya mengakuiku sebagai Papah nya.” Ferdinan memohon pada Lia yang tidak sudi melihatnya dekat dengan putrinya.


“Tolong Tuan, biarkan putriku tidak tau siapa Tuan. Aku tidak mau menghancurkan hidupnya untuk yang kesekian kali.” Lia merasa berdosa membohongi Ayu. Dia hanya tau jati dirinya sebagai putrinya.


“Fan, ayo kita pergi dari sini.” Ana yakin Jofan dengan pertengkaran keduanya. Matanya berkaca-kaca, tangannya terkepal membuat Ana takut.


Jofan tidak bergeming, Ana merasakan tangan Jofan berkeringat. Wajahnya merah padam, Ana memeluk Jofan agar tidak terlibat dan membawanya pergi. Dengan susah payah Ana menarik Jofan dan membawanya menjauh.


Ahhhh…..ahhhh….ahhhhh……

__ADS_1


Ana melepaskan Jofan dari pelukkannya, membiarkanya melampiaskan amarah yang memuncak didalam dirinya. Ana gemetar, seharusnya dia tidak membawa Jofan ke rumah sakit, seharusnya mereka langsung pulang dan tidak melihat kejadian yang akan membuat Jofan menderita


__ADS_2