
Ayu sudah diperbolehkan pulang, bahkan hari ini Ayu memaksa Malik mengantarnya untuk sekolah. Ayu sudah rindu dengan belajar dan sahabat-sahabatnya. Dia memohon sampai Malik tidak bisa menolak permintaan Ayu. Padahal Malik masih tidak bisa melepaskan Ayu seorang diri tanpa pengawasan langsung dirinya.
Selama Ayu sakit, Malik membawa pekerjaannya kemanapun dia pergi. Malik tidak sedikitpun meninggalkan Ayu. Aldo bahkan harus repot mondar-mandir jika ada berkas yang tertinggal. Rapat penting semua diadakan secara online, Malik benar-benar ingin menjaga dan memastikan Ayu baik-baik saja dalam pegawasannya.
Malik memutar lagu kesukaan Ayu dalam perjalanan ke sekolah yang sedikit tersendat. Ayu ingat pertama kali saat dirinya bertemu dengan Malik di rumah sakit. Lagu yang Ayu dengar beberapa kali karena merasa terpesona dengan paras Malik yang rupawan.
“Kenapa kau tersenyum sendiri? Apa ada yang membuatmu bahagia?” Malik bertanya sambil fokus dengan jalanan.
“Tidak ada Kak, aku hanya ingat masa lalu.” Malik menggenggam tangan Ayu. Dahulu Ayu sangat suka mendengar lagu ini karena ingat bagaimana kesan pertama bertemu dirinya.
Ternyata semua kenangan tentang Malik tidak semuanya hilang, hanya kenangan pahit saja yang tidak Ayu ingat tentang dirinya. Malik merasa sedikit terobati saat dengar Ayu ingat makna lagu yang mereka dengar.
“Sepulang sekolah ayo kita mampir ke restaurant Kak Rey. Dia mengajak kita untuk makan bersama, ada kabar gembira yang ingin Kak Rey sampaikan.” Malik ingat undangan yang Rey kirim lewat pesan singkat.
“Benarkah! Aku sangat rindu Kak Ana. Sudah lama sekali aku tidak memeluknya.” Pelukkan Ana selalu membuat Ayu merasa nyaman.
“Kau tidak rindu pelukkanku?” Malik menggelitik Ayu dengan tangan kirinya. Ayu tertawa merasa geli membuat Malik menghentikan jari-jari nakalnya.
“Kak, bagaimana kita bisa menikah?” Ayu mendekatkan duduknya dengan Malik, sudah hilang rasa malunya. Dia sudah merasa nyaman karena Malik memperlakukannya dengan sangat baik.
“Kata dokter aku tidak boleh mengatakan hal yang memicu ingatanmu, itu berbahaya. Apa kau mengerti?” Malik merangkul Ayu, mencium kening Ayu karena sekarang berada di lampu merah.
“Kenapa semua orang bicara hal yang sama. Apa yang sebenarnya aku lupakkan? Apa yang terjadi sampai aku tidak bisa ingat apapun!.” Ayu berharap ingatannya segera muncul. Raut wajahnya mendung, Malik sedih tapi tidak bisa berbuat apapun. Dia harus menjaga Ayu agar kondisinya tidak kembali memburuk.
“Aku harap saat kau ingat semuanya, kau sudah memaafkan segala kenagan buruk tetang kita. Kau harus tau, aku sangat mencintaimu.” Malik membuat Ayu merasa terbang mendengarnya begitu menekan ucapannya. Matanya terlihat berbinar dan begitu mendalami perasaannya saat ini.
“Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?” Ayu terbawa suasana, dia jadi sedikit berani padahal dadanya berdebar-debar.
“Kau ingin mendengarnya sekarang? Kenapa kau jadi nakal setelah sembuh, hah...!” Malik menajamkan matanya, membuat Ayu bergidik melihatnya.
“Kak lampu hijau.” Ayu melepaskan pelukkan Malik dan sedikit beringsut menjauhi jangkauan Malik. Kak Malik suka tiba-tiba agresif membuat Ayu malu. Dia masih belum terbiasa jika Malik mesra pada Ayu.
__ADS_1
Dasar gadis ini, dia yang memancing tapi dia yang menjauh. Kau akan aku miliki seutuhnya suatu hari nanti. Sebelum semuanya terjadi, aku akan menjaga mu dengan segenap jiwa dan ragaku. Malik bicara dalam hatinya yang sedang berbunga-bunga.
Tidak lama Malik dan Ayu sampai di halaman sekolah, Ayu tidak sabar ingin segera keluar dari mobil tapi Malik masih menahannya. Rasanya berat melepaskan Ayu. Malik bahkan punya ide agar Ayu belajar dari rumah, tapi Ayu tidak setuju termasuk semua orang yang ada di rumah.
Ide Malik berlebihan, Ayu bisa lebih stres jika tidak bersosialisasi dengan teman-temannya. Dia akan sama seperti Malik saat ini. Tidak punya teman dan kehidupannya tidak menarik.dia hanya punya sahabat Adam dan Sarah. Selebihnya hanya teman kenal saja.
“Kak tunggu apalagi, cepat buka Kak.” Ayu masih merengek karena Malik tidak mengijinkannya keluar dari mobil begitu saja dengan alasan masih merindukan Ayu.
“Kan aku mohon, aku ingin cepat masuk ke kelas Kak.” Ayu sedikit mengiba agar Malik luluh.
“Aku akan mengantarmu sampai ke kelas. Jangan menolak, atau aku akan membawamu kembali pulang.” Ayu tidak bisa membantah kali ini. Malik turun membukakan pintu untuk Ayu.
Ayu merasa risih saat Malik tidak melepaskan genggaman tangannya, semua mata serasa menatapnya aneh. Padahal sebelum Ayu hilang ingatan mereka sering jadi pusat perhatian di sekolah. Tapi tidak ada yang berani berkomentar karena tau siapa Malik.
“Kak kenapa tidak lepaskan saja tanganku, lihat mereka semua menatapku Kak.” Ayu berbisik membuat Malik sedikit menundukkan tubuhnya yang tinggi.
“Jangan hiraukan mereka, katakan saja kau adalah istriku.” Ayu mencubit tangan Malik, dia selalu saja bicara seenaknya. Padahal dia sendiri yang bilang pernikahan mereka masih di rahasiakan karena Ayu masih sekolah.
Setelah jaraknya cukup dekat, Malik baru melepaskan tangannya. Malik tidak membiarkan Ayu lari, Malik takut Ayu tiba-tiba pusing karena terlalu lelah. Malik sangat berlebihan semenjak Adam bilang Ayu tidak boleh kelelahan atau terlalu banyak beban pikiran.
“Kami sangat rindu.” Melani seperti paduan suara bicara serempak.
“Apa kalian menghafalkan kata-kata sambutan? Kalian kompak sekali.” Mereka bertiga berpelukkan, suara bising membuat siswa lain ikut bahagia saat melihat Ayu sudah kembali masuk.
“Aku juga sangat rindu.” Jofan memeluk Ayu di depan kelas, semua yang melihat tersenyum tipis takut Sandra atau Jofan tau. Mereka bisa mengamuk saat ada yang membicarakan mereka di belakang.
Sandra cemburu, di bahkan baru beberapa hari ini sedikit lebih dekat dengan Jofan semenjak Ayu tidak datang. Jofan lebih banyak waktu untuknya dan lebih perhatian dari sebelumnya. Tapi ini perasaan seorang sahabat, Jofan bahkan tau Ayu sudah resmi jadi istri Malik Saputra. Orang yang sangat hebat dibandingkan dengan siapapun pria di negeri ini.
“Mas, kita jadi pusat perhatian.” Jofan mengecup puncak kepala Ayu yang tertutup hijab sebelum melepaskan pelukkannya.
Malik mengepalkan tangannya melihat Ayu dipeluk pria lain meskipun Jofan Kakak kandungnya. Mereka satu Ayah, sehingga hubungan mereka sangat kuat. Golongan darah mereka bahkan sama.
__ADS_1
Malik menarik nafasnya panjang, menarik Ayu berdiri lebih dekat dengannya. Malik menatap Jofan dengan penuh amarah padahal Jofan tidak merespon bahkan acuh pada Malik. Jika tidak sekolah pasti Malik sudah berteriak memaki Jofan, untung saja mereka adadi sekolah. Malik menjaga harga dirinya dan harga diri Ayu serta teman-temannnya agar tetap baik.
“Ayo masuk.” Melani menggandeng Ayu tanpa rasa bersalah. Sandra sedikit peka karena hatinya sama sakitnya dengan Malik. Sadra tersneyum takut menatap Malik yang masih terlihat marah.
Malik menarik lengan Jofan sebelum Jofan masuk kelas mengikuti ketiga sahaatnya. “Jangan sekali-kali lagi kau memeluknya di depanku. Apa kau paham?” Malik berbisik di telinga Jofan agar Jofan tidak melakukannya lagi di depan Malik. Hatinya masih belum bisa terima kalau ada laki-laki lain yang mencintai Ayu melebihi cintanya.
“Kak, aku bahkan ingin membawanya pergi dan aku miliki seorang diri.” Jofan lari setelah membuat Malik merasa geram padanya. Malik tidak bisa berbuat apapun karena saat ini kelas sudah penuh dan banyak mata yang memandangnya.
Malik hari ini meluangkan waktu untuk Ayu, dia hanya mengecek beberapa pekerjaan yang masuk ke emailnya sambil menikmati jus mangga yang ada di depannya. Sudah cukup lama Malik tidak punya waktu santai seperti ini. Malik iseng melihat-lihat tempat liburan yang bisa dia datangi bersama Ayu di akhir pekan.
“Nak.” Terlihat Ferdinan yang sudah berdiri di depan Malik. Sibuk dengan ponselnya sampai Malik tidak sadar kepala sekolah berdiri di hadapannya.
“Pak, silahkan duduk.” Malik berdiri menarik kursi membantu Ferdinan duduk. Semenjak sakit Ferdinan terlihat sangat lemah, tubuhnya tidak segagah dulu, tapi semangat hidupnya membuat orang lain takjub.
“Bagaimana kabar Kepala sekolah? Apa sudah lebih baik saat ini?” Malik menyodorkan teh hangat yang sia pesan.
“Seharusnya kau memanggilku Papah.” Ferdinan tersenyum menatap hampa jiwaanya yang begitu menginginkan Ayu sebagai putrinya.
“Aku akan memanggil Papah saat Jofan dan Ayu tidak ada di dekat kita.” Malik mencoba menghibur.
“Jofan bahkan memelukku dengan bahagia saat tau Ayu adalah adik kandungnya.”
Uhukkkkk.....uhukkkk.....uhukkkk....
Malik tersedak jus mangga yang baru saja dia sruput, tenggorokanya sakit dan matanya berair merasa terkejut mendengar ucapa Ferdinan.
Jadi itu alasan Jofan bersikap begiu dekat dengan Ayu, rupanya dia sudah tau siapa Ayu sebenarnya. Tapi bagaimana dengan Ayu, kenapa dia tidak menolak saat Jofan memeluknya. Kenapa Ayu bersikap biasa saja dan tidak keberatan dengan sikap Jofan. Malik menggelengkan kepalanya merasa heran.
“Kau baik-baik saja?" Malik menganggukkan kepalanya. "Papah harap Ayu bisa menerima diriku, bukan kesalahan kami di masa lalu. Aku menyesal karena perbuatanku sangat jahat pada Lia, tapi aku tidak menyesal memiliki putri yang sangat cantik seperti Ayu.” Ferdinan melepas kacamatanya, menyeka air mata yang sudah meggenang di sudut mata.
“Jangan kembali ke masa lalu, sekarang tugas kita adalan menjaga dan memastikan Ayu bahagia dan baik-baik saja.” Malik memeluk Ferdinan yang terlihat sangat terpukul.
__ADS_1
Masa lalu tidak bisa kita rubah, yang bisa kita perbaiki adalah keadaan saat ini dengan tidak megulangi kesalahan yang sama. Bukan tugas manusia mengatur jalannya takdir Tuhan, tapi tugas manusia memperbaiki kesalahan masa lalu agar tidak tenggelam dengan perasaan bersalah.