
Duarrrr..... duarrrr.....duarrrr....
Suara petasan di tengah malam membuat Adam dan Sarah terbangun. Mereka terkejut dengan suara bising yang meletup di tengah malam.
"Suara apa itu? Ya Tuhan ini masih tengah malam. Aku periksa sebentar." Adam merasa geram, tidurnya terganggu oleh orang tidak bertanggung jawab.
"Jangan tinggalkan aku." Sarah mengekor di belakang Adam berselimut kain panjang.
Maghda Sudah berdiri di depan pintu masuk saat Austin dan yang lainnya keluar dari dalam kamar.
"Ibu, kenapa ibu ada di luar?" Sarah menyelimuti tubuh Maghda dengan kain yang dia bawa dari dalam kamar untuk menyelimuti tubuhnya.
"Aku tidak tau kalau Maghda tidak ada di dalam kamar." Austin sendiri terkejut melihat Maghda berada di sana.
Maghda sudah mengikuti terapi beberapa kali, belum ada perkembangan yang signifikan. Tapi kini sudah mulai bisa merespon sedikit pembicaraan orang-orang terdekatnya.
Dokter menyarankan agar Maghda lebih sering di ajak bicara dan bercerita. Supaya lebih banyak merespon dan lebih cepat untuk proses pemulihan.
Adam keluar memeriksa sekitar rumah mencari sumber kebisingan. Ternyata suara petasan ini mengganggu tidur semua orang, tidak hanya dirinya.
Ada beberapa tetangganya yang juga saat ini sudah berdiri di halaman rumah yang tidak di pagar. Mencari sumber masalah yang membuat mereka semua terjaga di tengah malam.
"Dokter juga terbangun yah?" Sapa seorang tetangga yang sudah mengenal Adam.
"Ah...iya Pak. Sepertinya ada orang iseng mengganggu istirahat kita. Hehehehe.....!" Adam membalas sapaan dengan sedikit candaan, mengurangi ketegangan.
Mereka semua kembali masuk ke dalam rumah setelah tidak menemukan apapun selain sampah bekas petasan yang berserakan.
"Tidak ada apapun, sepertinya hanya orang iseng saja." Adam menutup pintu rumah.
"Ibu ayo Sarah antar ke kamar ya Bu." Sarah merangkul tubuh Maghda yang masih mematung di depan jendela rumah, memperhatikan dengan kedua matanya ke arah luar halaman.
Sarah mencoba melihat arah yang sama, betapa terkejutnya saat Sarah mendapati Laka sedang berdiri di halaman rumahnya.
Dengan cepat Sarah menutup hordeng yang tersingkap. Menarik tubuh Maghda menjauhi jendela.
Sarah yakin kegaduhan malam ini Laka lah penyebabnya. Pasti dia sengaja melakukan semua ini untuk mengganggu keluargaku.
"Ada apa sayang, kamu kasar sekali." Adam memperhatikan perubahan raut wajah Sarah yang tidak biasa.
"Maaf..." Berlalu meninggalkan Adam mengantarkan Maghda ke kamarnya.
Adam hanya merasa cemas, tidak biasanya Sarah kasar dan terlihat panik. Seperti ada yang mengganggu nya.
"Tenang nak, wanita hamil biasanya suka mengalami perubahan sikap. Dia tetap Sarah yang kita cintai." Austin duduk di ruang tamu karena rasa kantuk nya lenyap.
Membaca koran yang tersusun rapih di bawah meja. Menyibukkan diri agar matanya kembali mengantuk.
Adam mencoba melihat dari balik jendela, tempat Sarah dan Ibu mertuanya tadi berdiri. Tidak ada apapun selain kesunyian.
Apa yah yang membuatnya terganggu, apa Sarah lihat penampakkan yah. Tapi mana mungkin, tidak ada apapun. Adam menyudahi rasa penasarannya. Matanya mulai lengket ingin kembali terpejam.
"Adam kembali ke kamar ya Yah. Adam ngantuk sekali." Menguap tidak tahan karena Adam belum lama terpejam dan harus terbangun kembali.
Austin sebenarnya juga melihat ketegangan di wajah putrinya tadi. Tapi Austin menutupi rasa khawatir nya. Mencoba membuat Adam tidak memikirkan banyak hal yang tidak baik.
Bagi Austin, Adam adalah laki-laki bertanggung jawab yang selama ini sudah banyak berkorban menjaga Sarah. Dia rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan putrinya.
"Ayah masuklah, Ibu sudah terlelap."Suara Sarah memecahkan lamunan.
__ADS_1
Sarah bergelayut manja di pundak Austin.
Austin menepuk lembut tangan putri kesayangannya. Merasa bahagia karena bisa berkumpul lagi sebagai keluarga.
"Apa akhir-akhir ini ada yang membuat kamu cemas Nak?" Bertanya dengan nada serendah mungkin agar Sarah nyaman.
"Tidak Yah, semuanya baik-baik Saja. Mungkin cucu Ayah membuatku sensitif." Merasa bersalah membuat semuanya khawatir.
"Ya sudah, ayo kita istirahat. Tidak baik membuatkan cucuku ini bergadang." Austin mengantarkan Sarah sampai di depan pintu kamar.
Tersenyum lembut membuat Sarah merasa tenang begitu di sayangi. Sarah sangat mencintai kedua orang tuanya nya.
"Selamat malam Ayah." Sarah mencium pipi Austin sebelum masuk ke dalam kamar.
Adam sudah terlelap di bawah selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Sarah ikut masuk ke dalam selimut hangat memeluk tubuh Adam.
Beberapa hari belakangan ini Sarah tidak bisa tidur jauh dari Adam. Dia sangat menyukai wangi tubuh suaminya yang membuat candu. Sarah bahkan sering mencium baju bekas Adam yang sudah di pakai.
Sepertinya anak dalam kandungan Sarah sangat mencintai Ayahnya. Sarah sering tersenyum sendiri saat tersadar dengan perbuatannya yang di luar nalar.
***
Malik terlelap setelah memikirkan banyak hal yang tidak ada ujungnya. Membuat kepalanya berdenyut terlalu memaksakan saat mencari jawab atas semua pikiran buruknya.
Tubuhnya masih memeluk erat tubuh Ayu.
Malam ini begitu membuat Malik frustasi. Tidak banyak yang bisa dia lakukan selain menenangkan Ayu agar merasa nyaman berada di sisinya.
Malik terbangun merasa tubuhnya panas tidak seperti biasanya. Malik menyentuh keningnya, tapi sepertinya dia baik-baik saja. Suhu tubuhnya normal.
Matanya sontak saja terbuka lebar, memeriksa kening Ayu yang saat ini ada di pelukannya.
Tangannya gemetar melihat Ayu yang sedikit menggigil karena suhu tubuhnya sangat panas. Bibirnya merah dan keringat mengucur sangat deras.
Mencoba menghubungi Adam dan tidak ada jawaban. Bahkan ponselnya dalam keadaan tidak aktif membuat Malik semakin panik.
Malik lari mencari pertolongan, baru kali ini dia menyentuh kening Ayu begitu panas membuatnya khawatir dan panik.
Dorrr.....dorr...dorrr...
"Mamih, tolong Mih. Ayah.... tolong." Malik menggedor pintu kamar kedua orang tuanya.
Kedua orang tua Malik terbangun, segera berlari membukakan pintu untuk putra nya.
"Ada apa Nak, kenapa?" Mamih ikut panik.
"Tolong, badan Ayu sangat panas dan Adam.....(Mengacak rambutnya frustasi), brengsek tidak mengangkat telponnya." Frustasi mengacak rambutnya berkali-kali.
Mamih segera berlari kecil menuju kamar Malik di lantai 2. Rama mengikuti dari belakang karena merasa khawatir.
"Benar, ini sangat panas. Kamu sudah cek berapa suhunya?" Malik menggeleng, dia kalut dan tidak bisa memikirkan apapun.
Mamih meraih termometer di laci nakas, menyuruh Malik membawa alat kompres untuk membantu Ayu menurunkan suhu tubuhnya.
Rama menelpon dokter langganan keluarganya selain Adam. Kalau di biarkan Rama takut panas tubuh Ayu akan membahayakan.
Tidak lama sang dokter sudah sampai di rumah Rama. Dokter memeriksa dengan telaten.
"Bagaimana dokter? Apa istri saya baik-baik saja? Kenapa tubuhnya sangat panas? Ini tidak berbahaya kan Dok?" Malik langsung memberondong pertanyaan setelah dokter selesia memeriksa keadaan Ayu.
__ADS_1
"Jangan khawatir, istri anda baik-baik saja Tuan. Sepertinya dia hanya kelahan saja." Dokter menyerahkan obat yang sudah dia sediakan.
Adam membaca satu persatu obat yang dokter berikan dengan raut mukanya yang sangat serius.
"Tolong jaga pola makannya, nona sepertinya punya gangguan pencernaan juga." Menepuk pundak Malik stelah nya berlalu meninggalkan kediaman Rama.
Malik mengambil air hangat, membantu Ayu meminum obatnya agar panas segera turun.
Mamih bangga anak laki-laki nya sekarang sangat hangat. Dia dulu sering bersikap cuek mengikuti sang Ayah. Tapi dia menunjukkan rasa cintanya dengan perhatian yang dia berikan.
"Kenapa menatapku seperti itu? Mamih ingin mengatakan sesuatu?" Malik merasa sedang di awasi.
"Ahhhh, tidak Nak. Mamih bangga menantu Mamih mampu merubah kamu jadi laki-laki yang lembut penuh perhatian." Malik tersipu malu.
"Benarkah? Apa selama ini aku tidak lembut pada Mamih?" Merasa bersalah.
"Kamu selalu membuat Mamih jantungan, setiap kesal kamu akan kabur meninggalkan Mamih sendiri." Mengenang kesedihannya.
"Maaf kan anakmu ini Mih." Malik mendekap wanita kesayangannya.
Dia tidak menyadari kalau sikap dan sifatnya selama ini membuat Mamih terluka. Dia akan selalu ada dalam keadaan apapun. Tapi Malik sering melarikan diri tidak perduli padanya.
"Mamih, aku berjanji tidak akan mengulanginya. Percayalah aku sangat mencintaimu." Malik tenggelam di pelukan Mamih yang hangat.
Tok...tok...tok....
"Permisi Bos, Tuan, Nyonya." Seorang satpam muncul di tengah malam.
Rama merasa ada yang tidak baik, sampai-sampai mereka datang malam-malam begini.
"Ada hal penting apa? Kamu sampai datang malam-malam begini." Rama mengambil alih, membawa sang Satpam turun dan bicara hanya dengannya.
"Tadi Nona terluka Tuan. Kami mencoba memeriksa CCTV dan melihat ada Laki-Laki yang masuk ke dalam kamar Nona." Rama terkejut. Baru kali ini ada orang yang masuk ke dalam rumahnya.
Dia terlena dan tidak memperhatikan dengan baik keamanan rumah yang dia rasa selama ini baik dan tidak kurang sedikit pun.
"Kamu menemukan siapa dia? Apa wajahnya tertangkap kamera?" Merasa takut karena pelaku terlihat sangat profesional.
"Dia tau letak CCTV Tuan. Dia menghindari semua CCTV dan kami tidak berhasil menemukan wajah nya." Merasa tidak enak hati.
"Ada apa ini Yah." Malik mendengar perbincangan dan semakin merasa khawatir.
Malik melihat rekaman CCTV yang satpam bawa. Tubuhnya terasa terbakar melihat seorang laki-laki masuk begitu saja dengan mudahnya ke dalam kamarnya.
"Ini tidak bisa di biarkan, kita harus minta Polisi mengungkap siapa orang brengsek ini!" Malik berteriak meluapkan emosi nya.
"Kita akan selidiki, kita harus perketat penjagaan, terutama Ayu. Sepertinya tidak ada apapun yang dia bawa." Rama menduga dia bukan pencuri.
"Benarkah? Apa tidak ada yang hilang?" Malik semakin kesal.
"Apa Ayu tidak menceritakan apapun?" Rama mencoba menggali sumber masalah.
"Tidak, aku menemukannya menangis.
Pelipisnya juga berdarah tapi Ayu tidak mau menceritakan yang sebenarnya." Ada yang Ayu sembunyikan.
Semua orang menduga ada hal-hal pelik yang tidak Ayu katakan. Entah apa yang membuatnya takut dan memilih bungkam.
Rekaman CCTV Sekolah yang Aldo cari bahkan tidak menemukan apapun. Ada beberapa jam hilang tepat saat Malik menemukan Ayu di halaman belakang.
__ADS_1