
Adam sangat bahagia karena hari ini Sarah dan putranya sudah bisa kembali pulang. Sarah sudah pulih sepenuhnya setelah dirawat dua hari di rumah sakit. Putranya diberi nama Mahesa Putra Adam. Anak laki-laki yang kelak akan Adam banggakan.
Matanya bulat mirip dengan mata Sarah, suara tangis nya seperti alarm bagi Sarah. Mengingatkan suara Adam yang nyaring bak penyanyi terkenal. Mahesa Bayi manja yang tidak bisa lepas dari pelukkan hangat sang ibu.
Malik sedikit iri melihat Adam yang sudah menggendong putra nya. Rasanya ingin sekali Malik memiliki putra yang akan bisa jadi sahabat nya kelak. Malik berjanji akan menjadikan putranya sahabat jika Tuhan memberinya kesempatan memiliki seorang putra.
Malik membayangkan dirinya yang sedang duduk santai di sore hari selepas pulang dari kantor melepas penat, semilir angin mendamaikan suasana ditemani suara putra nya yang asyik menceritakan kegiatan sekolah bersama para sahabatnya.
“Kenapa kau tidak berhenti tersenyum?” Sarah merasa senang senyum Malik sudah kembali. Sudah cukup lama tidak melihatnya tersenyum bahagia seperti saat ini.
Ah....bagaimana ini. Kenapa aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Aku bahkan tertangkap basah. Malik sedikit malu mengakui, tapi apa salahnya.
“Aku sedang membayangkan putramu adalah putraku.” Masih tersenyum menatap bayi tampan yang terlelap di gendongan Adam.
“Kau akan punya banyak putra. Ayu masih sangat muda dan sehat, kalian akan lebih beruntung dari kami.” Malik menatap sedih senyum pahit yang tertoreh di bibir Sarah.
Malik ingat bagaimana perjuangan Sarah mendapatkan anak. Dia harus menjalani berbagai program untuk mendapatkannya. Cukup lama Sarah berjuang, melewati berbagai percobaan yang bahkan sering menyakiti tubuhnya.
Malik memeluk Sarah, dia tau semua perjuangan Sarah selama ini. Dia wanita kuat yang tidak pernah memperlihatkan kesedihannya. Dia tidak pernah lelah mejadi wanita sabar menghadapi kenakalan Malik dan Adam sampai saat ini.
“Jangan terlalu lama memeluknya, nanti kau jatuh cinta.” Adam menarik baju Malik dengan susah payah.
“Kau ini.” Sarah menepuk pundak Adam yang iseng pada Malik.
“Aku juga punya malaikat penjaga hatiku. Malaikat ku sedang lupa siapa suaminya.” Malik merasa kesal karena Ayu lupa akan pernikahannya.
Tapi mengingat lagi kejadiannya membuat Malik merasa lebih berslaah. Seandainya saja waktu bisa di putar. Malik tidak akan membiarkan Ayu jauh dari dirinya. Malik akan membuatnya jadi wanita yang selalu Malik sayangi dengan segenap jiwa.
“Bagaimana jika kita adakan pesta, supaya Ayu bisa ingat lagi pernikahannya denganmu.” Malik tersenyum mendengar ide Sarah, Adam yang tidak setuju. Berbahaya jika memaksakan Ayu mengingat memorinya.
“Jangan terlalu memaksa, itu bisa saja berbahaya bagi Ayu. Biarkan dia mengingat dengan alami.” Adam masih tetap dengan pendiriannya. Ayu masih lemah, kelihatannya saja dia baik-baik saja.
“Baiklah Dokter, kami akan mengikuti arahan mu.” Sarah bicara sambil tersenyum. Akan sulit membujuk Adam jika sudah punya pendirian.
Malik dan Sarah tau Adam selalu melakukan yang terbaik untuk keselamatan pasiennya. Terlebih Ayu sangat berharga bagi Malik. Adam pasti akan melindungi nya dengan teliti. Tidak ada celah sedikitpun bisa mepengaruhi keputusan Adam.
__ADS_1
“Aku akan berusaha keras agar Ayu nyaman dan bisa kembali pulih.” Malik harus lebih banyak mengalah dan bersabar. Ayu mungkin terlihat baik-baik saja, tapi tidak demikian kenyataannya. Dia punya luka yang begitu besar sampai mengakibatkan trauma yang begitu berat.
“Aku akan kembali setelah mengantar Sarah, jaga Ayu sampai aku kembali. Ingat! Jangan bicara macam-macam.” Adam memberi peringatan keras.
“Iya, kau bawel sekali.” Malik membawakan tas menuju parkiran, bahagia melihat pasangan yang selalu menjadi inspirasi Malik. Mereka tidak pernah bertengkar, selalu ada yang mengalah dan mendamaikan suasana.
***
Ayu sedang menikmati pudding coklat buatan Mamih. Lidah nya seolah sedang dimanjakan rasa kesukaan nya. Matanya tidak berhenti berbinar merasakan kelezatan pudding colat. Mamih sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah Ayu yang membuatnya ikut tersenyum.
Malik masuk membawa sebuket bunga mawar putih besar ditangannya. Ayu sangat suka mawar putih, dia bahkan menanam bunga mawar putih di taman belakang rumah Malik. Dia sangat rajin merawat bunga nya yang sudah beberapa hari ini di rawat Mamih.
“Aku bawakan bunga mawar putih kesukaan mu.” Malik mengecup kening Ayu, dia sudah tidak malu lagi bersikap mesra di depan Mamih.
"Terimakasih banyak Kak." Ayu menghirup wangi bunga kesukaan nya. Malik akhir-akhir ini sering bersikap manis pada Ayu. Malik berusaha keras memperbaiki kesalahannya.
“Kau tumben sekali bersikap romantis.” Mamih berbisik ditelinga malik. Merasa sedang melihat Rama yang selalu bersikap lembut pada Mamih sampai mereka tua. Bahkan membuat Mamih merasa rindu.
“Aku akan berusaha keras mejadi laki-laki romatis seperti yang wanita suka.” Mamih tersenyum, putranya sedang berusaha keras agar Ayu kembali mencintainya dan mengingatnya.
Malik membantu Mamih mengupas buah mangga. Ayu harus mendapat banyak asupan buah dan sayur karena kondisi tubuhnya sangat lemah saat ditemukan. Bahkan Sarah menceritakan bagaimana Ayu memberikan jatah makannya untuk Sarah. Ayu tidak mau melihat Sarah dan anak yang ada dalam kandungannya kelaparan.
“Aku akan kembali, Mamih tolong jaga Ayu.” Malik lari terburu-buru meninggalkan Ayu dan Mamih.
“Nak…nak….dia ceroboh sekali. Handpone nya tertinggal.” Mamih melihat ponsel Malik yang tergeletak didekat Ayu.
“Apa aku boleh mengantarkannya? Pasti Kak Malik belum jauh.” Mamih menggeleng, tubuhnya masih lemah saat ini. Malik bisa marah jika Mamih membiarkan nya pergi.
"Malik bisa marah sayang, biar Mamih yang antarkan." Ayu menggengam tangan Mamih, meyakinkan jika dirinya sudah baik-baik saja.
“Apa kau bisa? Tubuh mu masih lemah Nak.” Mamih melarang Ayu karena merasa khawatir.
“Aku baik-baik saja.” Ayu segera berlari mengejar Malik. Benar saja dia belum jauh, masih ada di lorong dekat ruangan Ayu.
“Kak…Kak…” Malik tidak mendengar Ayu. Dia masuk ke ruangan perawatan dan Ayu mengikutinya.
__ADS_1
Awalnya Ayu ragu masuk ke dalam ruangan yang Ayu tidak tau siapa yang ada di dalam, tapi seperti ada yang mendorongnya untuk masuk. Ayu masuk perlahan, sedikit terkejut saat mendengar percakapan Malik dan wanita yang suaranya Ayu kenal.
Ayu ingin mengurungkan niatnya, tidak baik masuk ijin dan mencampuri urusan orang lain. Tapi suara yang sangat Ayu kenal membuatnya ingin sekali menghampirinya.
“Mbak Murni!” Ayu menitikan air mata melihat wajah Mbak Murni penuh luka. Ayu sedih karena perpisahannya terakhir kali penuh dengan kebencian. Ayu sendiri kecewa karena sikap Mbak Murni yang sesuka hati dengan keputusnnya.
"Kenapa kau keluar, kau belum boleh jalan-jalan sendiri seperti ini." Malik menarik Ayu agar keluar dari ruangan Murni, Ayu menatap Malik meminta nya untuk memberikan ijin menemui Murni.
Malik tidak bisa mengikuti keinginan nya, dia harus tau bagaimana perasaan Ayu. Dia pasti sangat terpukul melihat kondisi saudaranya, meskipun Murni bukan saudara yang baik bagi Ayu.
"Apa yang terjadi? Apa Ayu sakit?" Ayu tersenyum mendengar pertanyaan yang seharusnya keluar dari mulutnya.
"Aku yang ingin bertanya, kenapa malah Mbak duluan yang bertanya seperti itu." Ayu memeluk Murni erat. Ayu tidak bisa membenci Mbak Murni, dia hanya tidak
bisa melindungi nya lebih lama.
"Maafkan Mbak ya Yu. Maafkan perbuatan Mbak." Murni berlinang air mata, dia tega membiarkan Ayu terlantar seorang diri di kota yang Ayu tidak kenal siapapun.
"Mbak gak salah, jadi tidak ada yang perlu minta maaf. Kita saudara sampai kapan pun. "Mereka kembali saling memeluk berusaha mengikhlaskan masa lalu kelam diantara mereka.
Mali terharu setiap melihat kebaikan yang Ayu ajarkan padanya. Hatinya yang pemaaf sering kali membuat Malik geram karena terlalu sering di sakiti. Tapi itu obat paling mujarab menjaga diri Malik agar tidak membenci orang lain atas perbuatannya.
"Mbak, apa yang terjadi?" Murni ragu menceritakan nya pada Ayu. Menatap Malik yang berdiri di belakang Ayu. Malik memberikan ijin untuk Murni menjawab pertanyaan Ayu.
"Aku tidak bisa menceritakan semua nya, tapi ini kesalahan Mbak Yu. Mbak terlalu ikut campur urusan Mas Ali." Ayu mengeratkan genggaman tangannya.
Dahulu saat Ayu masih tinggal satu atap dengan Mbak Murni, Ayu sering kali mendengar suara teriakan mengaduh kesakitan. Ayu pura-pura tidak tau karena tidak mau Mbak Murni merasa tidak nyaman.
"Mas Ali masih sering memukul? Kenapa Mbak masih bertahan?" Ayu tau Mbak Murni selama ini tidak baik-baik saja."
Murni menggeleng, entah apa yang menahannya untuk tidak meninggalkan Ali. Murni merasa takut hidupnya akan hancur jika dia meninggalkan Ali begitu saja. Ketakutan membuat Murni bertahan selama ini.
Setelah di rasa cukup, Malik kembali membawa Ayu kekamarnya. Dia juga harus menjaga Ayu agar tidak kembali sakit. Tubuhnya sudah menunjukkan kemajuan pesat. Ayu bisa segera pulang dan melanjutkan perawatan di rumah.
Malik dengan telaten mengurus Ayu. Ada perasaan haru Ayu sudah tidak lagi memberontak saat Malik sentuh. Biasanya Ayu akan melayangkan pukulan saat Malik menyentuhnya.
__ADS_1
"Kak, tolong Mbak Murni." Malik baru menyadari Ayu sedang merasakan kesedihan, Malik tenggelam dalam perasaan bahagia sampai lupa perasaan Ayu saat ini.
"Tentu saja, aku Kan membantu Mbak Murni." Ayu memeluk Malik yang membuatnya punya harapan untuk melepaskan Mbak Murni dari Mas Ali meskipun itu tidak mudah.