Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 92 ( Tertangkap )


__ADS_3

Siang ini sedikit mendung, awan hitam menggumpal menghalangi cahaya matahari.


Ayu sedang gelisah menunggu Kak Malik yang tidak kunjung datang.


Dia sudah berjanji akan menjemputnya di sekolah.


"Ayu, kau tidak pulang?" Terlihat Jofan berjalan bersama Ferdinan.


Jofan lebih perhatian pada Ferdinan semenjak dia sakit.


Jofan tidak mau menyesal tenggelam jauh dalam kebencian dan melupakan orang-orang terkasih nya.


Mencoba membuka lembaran baru untuk memaafkan segala kesedihan di masa lalu.


"Ah...siang Pak. Aku masih menunggu Kak Malik, dia sebentar lagi datang." Ayu menyembunyikan kekesalannya menunggu terlalu lama.


Barangkali saat ini Kak Malik benar-benar sedang sibuk.


"Apa tidak mau kami antar saja Nak?" Rasanya Ferdinan ingin mendekap tubuh putrinya.


"Terimakasih banyak Pak, saya menunggu saja. Kak Malik mungkin sebentar lagi." Ayu tersenyum ramah.


"Baiklah, kita duluan yah. Kalau dia tidak datang juga telpon aku. Aku akan mengantarmu." Jofan berlalu bersama Ferdinan.


Ayu sedikit kesal, Kak Malik bahkan tidak memberikan kabar. Tidak ada seorangpun yang datang siang ini untuk menjemputnya.


Dia melupakan ku? Pasti banyak yang sangat penting harus dia kerjakan. Ayu berjalan menuju halte.


Siang ini sepertinya dia harus pulang sendiri.


Awan mendung semakin hitam, rintik hujan mulai turun membasahi bumi.


Wangi khas tanah kering yang tersiram air hujan menyeruak menembus hidung.


Ayu berteduh bersama banyak orang menghindari air hujan yang sudah mengalir deras.


Ada gadis kecil yang membuat Ayu sedikit tertarik mendekatinya.


"Hai" mengulurkan tangan.


Gadis kecil berusia 8 tahun itu menyambut tangan Ayu.


"Aku Ayu." Mata Ayu melihat detail bareng yang dia bawa.


"Aku Helga Kak." Dia cukup ramah.


"Apa kau berjualan?" Dia masih sangat kecil untuk menopang hidupnya sendiri.


"Iya Kak, aku pedagang asongan." Membuka plastik bening yang membungkus barang dagangannya agar tidak basah.


"Ini pasti sangat berat. Apa Helga sekolah?" Gadis itu hanya mengangguk.


"Kenapa kamu berjualan?" Ayu mulai merasa iba.


"Aku senang melakukannya, aku tidak apa-apa." Gadis ini mencoba menyembunyikan kesedihannya.


Hujan reda, Helga bergegas meninggalkan halte. Entah apa yang membuat Ayu mengikuti gadis ini.


"Kenapa Kaka mengikuti ku?" Helga berbalik saat mendapati Ayu masih mengikutinya.


"Apa aku boleh membantumu?" Meraih barang dagangan Helga.


"Jangan Kak, ini sangat berat." Ayu memaksa.


Dan benar saja, itu sangat berat. Bagaimana gadis kecil ini bisa membawa beban seberat ini.


"Kak....apa tidak merepotkan?" Helga akhirnya melepaskan barang yang dia bawa.


"Tidak Helga, aku senang bisa membantu." Mereka berjalan bergandengan.


Mengelilingi mobil dan motor yang berhenti saat lampu merah.


Ayu merasa sedikit lelah, tapi melihat Helga dengan semangat nya, membuat Ayu jadi kembali bersemangat.


Sudah 2 jam mereka berkeliling, beberapa barang jualan sudah di beli orang.


"Kak ayo kita istirahat. Aku sangat haus." Helga menggandeng tangan Ayu.


Mereka memasuki gang yang banyak sekali pedagang-pedagang seperti Helga sedang beristirahat.


Ayu da Helga sedang menikmati makanan mereka saat seseorang berlari dan berteriak ke arah mereka.


Lari.... lari....ada razia. Cepat lari.....


Semuanya termasuk Helga bergegas, Ayu yang tidak tau apapun mematung melihat mereka semua melarikan diri.


"Kak cepat, nanti kita tertangkap." Helga menarik tangan Ayu membawanya lari bersama.


Hujan yang sudah reda kembali mengguyur.


Helga dan Ayu berlari secepat mungkin agar tidak tertangkap.


Mereka berdua berhenti berlari, bersembunyi di balik dinding yang sepertinya aman untuk tempat persembunyian.


Tapi mereka salah, ada tangan yang memegang pundak Helga dan Ayu dari balik tembok.


"Mau lari kemana lagi kalian. Hehehehe...." Laki-laki berseragam berhasil menemukan mereka.


Ayu dan Helga hanya bisa pasrah mengikuti kaki-laki ini membawa mereka.


"Apa yang akan terjadi? Apa kita melakukan kesalahan?" Ayu berbisik di telinga Helga saat sudah duduk di mobil yang di penuhi pedagang asongan dan pengemis.

__ADS_1


"Kita akan di bawa ke kantor mereka, aku lupa namanya apa."


"Kau pernah di tangkap?"


"Ini sudah yang ke 5 kali Kak." Ayu terperangah.


Apa yang membuat mereka semua di tangkap. Ayu masih tidak menemukan alasan yang masuk akal.


***


Malik masih sangat sibuk memeriksa dokumen yang menumpuk di atas mejanya.


Dia bahkan lupa saat ini sudah pukul berapa.


Tanpa sengaja Malik menyenggol gelas yang ada di atas mejanya.


Pyarrrrrrr....


Pecahan gelas berserakan, tiba-tiba saja bayangan Ayu melintas.


"Al, apa ada yang aku lupakan?"


Aldo terlihat berpikir, apa maksud perkataannya.


"Aku tidak paham, apa ada yang tidak Boss mengerti?" Aldo menghampiri Malik dan mencoba melihat setiap laporan.


Tidak ada yang salah, apa maksudnya dengan ada yang dia lupa. Aldo bicara dengan dirinya sendiri.


"Hubungi Pak Dodo, apa Ayu sudah pulang?" Malik cemas.


Tut...Tut...Tut....


Terlihat Aldo sedang berbincang di telpon. Pandangan Aldo menyiratkan kabar yang tidak di harapkan.


"Apa katanya? Apa Ayuna ku sudah pulang?" Merasa makin khawatir melihat wajah Aldo yang gusar.


"Pak Dodo bilang, Bos hari ini yang akan menjemput Ayu. Apa Bos lupa?"


Ini pasti akan jadi hari yang panjang, kepala Aldo sudah pening memikirkannya.


"Lalu kau tidak mengingatkan ku? Kau berani menyalahkan ku?" Malik melotot.


"Tidak Bos, aku akan coba telpon Nona." Aldo kembali sibuk dengan ponselnya.


"Ponsel nya tidak aktif." Aldo pasrah kali ini.


Malik menarik nafasnya panjang, mencoba tidak memikirkan hal buruk.


"Mih, apa Ayu ada di rumah?" Menghubungi Mamih, Malik membuang kasar nafasnya. Mamih bahkan masih ada di luar.


"Aldo, aku tidak akan memaafkan kesalahan fatal ini. Pastikan dia baik-baik saja." Malik melanjutkan menghubungi sahabat Ayu satu persatu.


"Kamu keterlaluan Al, bisa-bisa nya kamu lupa." Malik marah besar.


Aldo selalu jadi pelampiasan, padahal Malik tidak mengatakan apapun tentang dirinya yang akan menjemput Ayu.


Tapi mendebatnya saat ini hanya akan membuat masalah semakin sulit. Aldo memilih untuk diam.


Aldo mencoba menghubungi Edward untuk mencari keberadaan Ayu.


"Kau harus bertanggung jawab Aldo, kabari aku saat sudah tau keberadaanya." Malik meraih jas nya.


"Bos mau kemana?" Bertanya dengan polos nya.


"Kau pikir aku bisa duduk di sini? Sementara Ayu di luar sana. Lihat, hujan sangat lebat Al." Menatap sedih hujan yang begitu deras dari kaca.


Aldo menunduk, ini bukan kesalahannya. Dia bahkan tidak mengatakan apapun. Jerit Aldo.


Sudah berkeliling selama 1 jam, tapi Malik tidak menemukan keberadaan Ayu. Malik memutuskan kembali ke kantor.


Ponsel Ayu mati membuat Edward tidak bisa melacak keberadaan Ayu saat ini.


Malik duduk dengan gusar menunggu kabar dari beberapa orang suruhannya untuk mencari Ayu.


Aldo kini merasa bersalah tidak memperhatikan Ayu dengan baik.


Mengabaikannya sama saja membuat Malik tidak berdaya.


Dia tidak bisa berpikir hal lain selain keselamatan Ayu.


Aldo berjanji dalam hatinya untuk lebih memperhatikan Ayu kedepannya. Dia separuh nyawa yang Malik miliki.


Drettt...dret... drettt...


Ponsel Malik bergetar, nomor tidak di ketahui.


Malik mengabaikan nya, malas meladeni orang-orang yang tidak dia kenal.


"Aku angkat Bos, siapa tau ini penting" Entah kenapa Aldo ingin menjawab panggilan ini.


Malik tidak menghiraukan, dia masih gelisah tidak menentu.


"Benar Pak, benar kah? Kami segera kesana Pak." Aldo tersenyum, membuat Malik berharap itu adalah kabar baik.


"Bos, Nona sudah di temukan."


"Benarkah! Ayo Al, kita harus bergegas." Mereka sedikit berlari.


"Ada dimana dia Al? Kenapa ponselnya mati?" Pertanyaan Malik membuat Aldo menggaruk kepalanya.


Bahkan dia tidak sadar, seharusnya aku yang bertanya padanya. Dia kan suaminya. Batin Aldo.

__ADS_1


"Aku tidak tau, tapi petugas ini mengatakan Nona tangkap di pasar pagi." Malik terhenti.


"Apa? Tertangkap? Apa yang dia lakukan?" Malik mencengkeram kerah baju Aldo.


"Mereka bilang akan jelaskan saat kita sampai." Aldo menarik tangan Malik agar bergegas.


Tidak butuh waktu lama, Malik dan Aldo ada di depan kantor satpol PP.


Entah apa yang membuat Malik merasa lucu. Tapi dia tertawa melihat kenyataan yang sedang dia hadapi.


"Hehhehe....aku seumur hidupku akan mengingat ini Al." Malik berjalan mendahului Aldo.


Lihatlah, dia bisa dengan cepat bahagia setelah kemarahan nya yang membabi buta.


Terlihat Ayu menggenggam tangan gadis kecil diantara kerumunan orang yang duduk di lantai bersamanya.


Melihat siapa yang datang, petugas berlari segera menghampiri.


"Tuan, apa yang membawa anda datang jauh-jauh kemari?" Nama Malik terkenal seantero negeri, siapa yang tidak mengenal nya.


"Kalian menangkap malaikat ku. Bagaimana aku tidak datang kemari." Petugas berpikir keras.


Melihat Malik datang, Ayu menjadi terbawa suasana. Dia menangis karena sangat takut Malik akan memarahinya.


"Kemarilah, jangan menangis. Malik membawa Ayu bersamanya" Menyuruh Aldo mengurus sisanya.


Malik sudah duduk di mobil memeluk erat Ayu. Bajunya ikut basah karena baju Ayu masih belum kering sepenuhnya.


"Maaf Kak, baju Kak Malik jadi basah." Mengusap air matanya.


Malik meraih jas di kursi depan, memakaikannya agar Ayu tidak kedinginan.


"Kak, apa aku boleh minta tolong? Aku ingin membantu temanku. Dia masih ada di dalam sana." Malik tersenyum.


Bisa-bisanya dia menghawatirkan orang lain dalam keadaan seperti ini.


"Siap namanya?" Malik meraih ponsel menghubungi Aldo.


Ayu tersenyum. "Namanya Helga Kak."


"Al, minta petugas bebaskan juga gadis kecil bernama Helga, bilang saja dia bersama kita." Menutup ponselnya.


Tidak lama terlihat Aldo berjalan menuju mobil bersama Helga.


Ayu mengecup pipi Malik sebagai ucapan terimakasih.


"Sudah selesai Bos."


Helga duduk di depan, di sebelah Aldo.


"Gadis kecil, kamu dalam masalah besar membawa Ayuna bersamamu." Helga menunduk. Dia ketakutan.


"Kak, dia tidak bersalah. Aku yang memaksa membantunya." Ayu menceritakan kejadian sebenarnya.


"Tetap saja dia tidak bisa lolos dengan mudah." Malik mengancam, dia membalas dendam karena Ayu selalu membuatnya khawatir.


"Aku minta maaf Tuan, aku tidak tau kalau Kak Ayu." Kembali menunduk melihat Aldo ikut melotot.


Ayu meraih tangan Helga yang duduk di depannya.


Mereka saat ini memang bersalah karena membuat kekacauan.


Rumah kecil di gang yang sangat sempit, Aldo mengantarkan Helga sampai ke rumah nya.


Malik tidak tega melihat Helga pulang sendiri dan memutuskan mengantarkannya.


"Terima kasih Kak, aku tau Kak Malik dan Kak Aldo tidak akan tega menyakitinya." Ayu lega karena Helga tidak di hukum karena ulahnya.


Udara dingin di dalam mobil membuat tubuh Ayu gemetar. Dia kehujanan dan pikirannya penuh tekanan sampai kepalanya terasa pusing.


Mereka sudah masuk ke rumah megah yang masih terang benderang.


"Kau baik-baik saja?" Mamih memeluk Ayu yang dikabarkan hilang.


Mamih memukul dada putranya dengan keras.


Awwww......


"Kenapa memukulku?" Malik mengusap dadanya.


"Kau yang salah, jangan membuat Ayu menderita lagi." Mamih tau putra nya yang melakukan kesalahan tidak menepati janjinya.


"Aku tidak akan mengulangi nya." Memeluk Ayu membawanya naik untuk beristirahat.


Malik menyiapkan air hangat agar Ayu segera membersihkan diri.


Malik turun ke bawah saat Ayu mandi. Menyiapkan makanan agar Ayu tidak masuk angin karena kehujanan dan perutnya kosong.


Menghangatkan makanan sebentar karena makanan sudah kembali dingin.


Malik menata makanan di dalam nampan, menyusunnya dengan rapih.


"Apa kamu sudah selesai?" Malik tersenyum.


Ayu sudah tertidur di bawah selimut tebal yang membungkus tubuhnya.


Malik meletakkan nampan berisi makanan yang sudah dia siapkan. Tidak tega membangunkan Ayu yang sudah terlelap.


"Kau pasti sangat lelah, tidur lah malaikat ku. Jangan menghilang lagi, aku begitu takut tidak bisa melihatmu lagi."


Malik mengecup puncak kepala Ayu. Mengusap pipinya yang merona. Malik ikut terlelap di sebelah Ayu. Memeluknya dari belakang menghangatkan tubuh Ayu yang kedinginan.

__ADS_1


__ADS_2