
“San, bangun San” Melani menggoyangkan tubuh Sandra cukup kuat. “Bangun San, aku mendengar Ayu berteriak histeris...a...menangis sepertinya dari kamar depan” Melani berwajah serius kali ini tidak seperti biasanya.
“Kau salah dengar mungkin” Sandra sudah setengah sadar, menggaruk kepalanya karena kaget saat Melani membangunkannya.
Mata nya membelalak saat mendengar tangisan Ayu yang cukup kuat kali ini. Terdengar suara pintu yang tertutup cukup kencang.
Semua orang sudah terbangun kali ini, mereka semua bingung dan saling memandang. Satu sama lain tidak mendapat jawaban atas apa yang sedang terjadi.
Bahkan Lissa berpura-pura panik dan menggengam erat tangan Kak Klara. Dengan tulus Klara mendekap adik kesayangannya dan memberikan sentuhan hangat.
“Coba tanyakan apa yang sedang terjadi di dalam” Jofan menarik tangan Sandra dan membawanya kedepan kamar yang tertutup rapat saat ini.
Tok...Tok...Tok...
“Kak, apa kalian baik-baik saja?” Suara Sandra bergetar.
Terdengar suara Malik dari balik pintu dan membuat Sandra dan Jofan kembali keruang tamu. Mereka memutuskan menunggu pintu terbuka dan tidak menambah kekacauan.
“Bagaimana?” Melani berlari ke arah kedua sahabatnya.
“Kita tunggu saja, Kak Malik bilang semuanya baik-baik saja!” Jofan merangkul kedua sahabatnya dan kembali duduk diruang TV.
Kali ini Klara sudah berpindah ke dapur, membuat teh hangat agar semua orang menjadi segar dan mencairkan sedikit ketegangan pagi ini.
Jofan terlihat mondar-mandir, dia sangat khawatir pada Ayu seperti biasanya. Sandra sedikit cemburu melihat Jofan yang begitu sayang pada Ayu.
Ini bukan waktu yang tepat untuk ceburu Sandra. Jangan membuat suasana menjadi lebih rumit. Jangan egois San. Batin Sandra berperang.
Beberapa kali Sandra menggelengkan kepalanya. Mencoba menyadarkan dirinya dari rasa cemburu. Tiba-tiba saja Jofan berjongkok didepan Sandra dan juga Melani. Menggenggam tangan kedua sahabatnya dengan lembut. Matanya memancarkan kasih sayang. Bibirnya tersenyum mencoba menyembunyikan kekhawatiran.
“Ayu pasti baik-baik saja, Kak Malik laki-laki yang baik dan terhormat” Netra nya menentramkan jiwa. Melani dan Sandra hanya mengangguk.
Mereka meneguk teh hangat dari Klara. Sedikit segar, tapi suasana masih mencekam menunggu jawaban apa yang sedang terjadi.
Jofan langsung berlari saat melihat pintu terbuka. Sandra dan Melani menangis histeris saat Melihat Ayu tidak sadarkan diri.
Jofan kembali masuk dan mencoba menenangkan kedua sahabatnya. “Tenang saja, Kak Malik akan memastikan semuanya baik-baik saja” Jofan memeluk Melani dan Sandra kali ini.
“Jofan, apa yang sebenarnya terjadi?” Klara mendekat dan merasa khawatir, Malik saat ini jauh dari jangkauannya. Bahkan semalam Malik menyampaikan isi hatinya pada Klara, dan memohon agar tidak melanjutkan perjodohan yang sedang Ayahnya rencanakan.
__ADS_1
Jofan menggeleng, wajahnya sama bingungnya dengan semua orang yang ada disini. Klara menggengam tangan Jofan dengan hangat. Menuntunnya kembali ke ruang TV bersama kedua sahabatnya dan menjadi Kaka bagi semua adiknya yang saat ini terlihat cemas.
“Kak Klara akan masak sarapan untuk kalian semua. Coba untuk tenang yah, Kak Malik laki-laki yang cukup bisa diandalkan” Klara tersenyum hangat. Melani dan Sandra sudah tidak menangis, mereka sudah lebih tenang sekarang.
***
“Dam, suruh rumah sakit Pelita yang ada di Puncak mempersiapkan ruangan dan jalan khusus. Aku sedang dalam keadaan genting sekarang” Malik menutup telpon dan menyisakan kebingungan dalam diri Adam.
“Laki-laki ini kenapa yah?” Adam menatap telponnya. Mencoba mencerna apa yang baru saja Malik minta padanya.
Tapi apapun yang terjadi, perintah Malik harus segera dia laksanakan. Adam segera mencari nama direktur Rumah Sakit Pelita.
Terlihat Sarah yang baru saja keluar dari kamar mandi. Sedikit bingung menatap suaminya yang membeku dengan tatapan kosong.
“Hai....semua baik-baik saja?” Sarah duduk disamping Kanan Adam.
“Kau tau apa yang baru saja terjadi?” Sarah menggeleng
“Malik memintaku menyiapkan ruangan khusus di Rumah Sakit Pelita, tapi bukan di Jakarta. Dia ada di puncak kali ini” Sarah mengangguk. Masih menunggu penjelasan selanjutnya.
“Dia mengatakan apa yang sedang terjadi?” Sarah sedikit bingung karena penjelasan Adam. Tapi Adam menggeleng.
Sarah meraih ponsel yang ada ditangan suaminya, mencoba menghubungi Malik beberapa kali tapi tidak ada jawaban.
Melemparkan pakaian Adam yang baru saja dia ambil dari lemari sekenanya. Dan tepat jatuh didepan Adam.
“Cepat kenakan pakaianmu. Kita harus menyusul Malik ke Rumah Sakit Pelita” Sarah berpakaian dengan cepat.
Adam berpakaian dengan cepat juga mendengar istrinya meminta agar menyusul Malik kali ini. Biasanya dokter akan sangat kewalahan menghadapi Malik yang emosinya suka meledak tiba-tiba.
***
Malik begitu pilu melihat gadis kesayangannya tidak sadarkan diri. Mencoba mengingat apa yang sedang terjadi kali ini. Tidak ada jawaban, semalam sepertinya semuana baik-baik saja. Mereka semua sedang asyik menonton film horor bersama.
Malik memukul kemudinya, sepertinya kali ini dia sedang dijebak. Pasti ada orang yang dengan sengaja melakukan hal gila seperti ini.
“Aldo, cepat cari tahu apa yang sedang terjadi padaku dan Ayu kali ini. Aku dijebakkkk!!!” Teriak Malik dengan emosi saat telponnya tersambung.
Tanpa menunggu balasan dari Aldo, Malik sudah menutup telponnya. Aldo langsung saja mencoba mencari tahu dan menghubungi orang suruhannya yang selama ini mengawasi Ayu. Dalam dering pertama telpon langsung diangkat.
__ADS_1
“Halo Pak, bagaimana kejadian sebenarnya? Bos menelponku dan mengatakan dirinya saat ini sedang dijebak?” Aldo kecewa karena kali ini kecolongan.
“Saya juga kurang tau pak, semalam Pak Malik menyuruhku untuk istirahat. Pak Malik sendiri yang akan menjaga Ayu” Dengan nada sedikit lirih karena merasa bersalah.
“Lain kali tetap harus waspada. Sekarang posisi ada dimana?” Aldo menyambar kunci mobilnya. Langsung menancap gas saat sudah tau lokasi Malik saat ini.
Aldo mencoba mencari akses CCTV ke sekitar daerah Villa yang ditempati Ayu dan teman-temannya. Aldo menggunakan jasa peretas profesional yang sudah bekerja sama lama dengannya untuk melindungi Keluarga Rama Saputra dan perusahaan. Segera Aldo memeriksa isi rekaman video yang masuk di handpone nya.
Tidak ada yang mencurigakan, hanya segerombolan anak-anak remaja yang berpesta barbeque. Mereka tampak senang dan menikmati pestanya.
Apa mungkin diantara mereka ada yang bisa berbuat nekat dan tidak tau diri menjebak Malik. Rasanya sulit dipercaya. Bahkan Klara sekalipun, dia gadis yang sangat baik dan penyayang.
Aldo harus berpikir keras dengan apa yang sebenarnya terjadi. Malik tidak memberitahukan detail peristiwa, hanya mengatakan dirinya di jebak bersama Ayu. Pusing memikirkannya, Aldo langsung saja menuju rumah sakit.
***
Saat melihat mobil Malik sampai di lobby utama, direktur Rumah Sakit langsung berlari mengarahkan Suster dan Dokter untuk segera menolong pasian yang ada di dalam mobil. Tidak ada protes, mereka semua mengikuti perintah sang Direktur Rumah Sakit tanpa banyak bicara.
Malik masih sangat khawatir, sampai di rumah sakit Ayu masih saja belum sadarkan diri. Malik mengusap wajahnya dengan kasar.
Para tenaga medis sudah memasang selang infus, menegcek tekanan darah, mengecek suhu tubuh dan memastikan Ayu dalam keadaan stabil organ vitalnya. Tidak ada yang serius, Ayu hanya pingsan dan butuh waktu untuknya sadar kembali.
Awalnya Dokter hanya akan menempelkan wewangian saja untuk menyadarkan Ayu. Tapi Malik begitu menentangnya dan menyuruh Dokter memasangkan selang infus pada Ayu.
Mereka semua menuruti kemanuan Malik. Daripada harus bersitegang. Setelah selang terpasang Dokter menempelkan minyak kayu putih ke hidung Ayu. Dan tidak lama Ayu sudah membuka matanya.
Ada senyum getir dibibir gadis cantik yang baru saja siuman. Dokter yang berdiri tidak jauh dari Ayu segera menghampiri Ayu dan mengecek denyut nadinya.
“Apa yang Adek rasakan sekarang?” Dokter berdiri menghadap Ayu yang terbaring lemah.
“Hanya sedikit pusing Dok.” Ayu kembali tersenyum.
“Baiklah, kalo begitu sudah bisa kami tinggal ya Dek. Segera makan sarapannya dan minum obat yang sudah disediakan yah!” Dokter segerakeluar dan menyampaikan keadaan Ayu pada Malik yang saat ini berdiri diluar ruangan.
Malik segera masuk dan menghampiri Ayu. Kali ini Ayu tidur menghadap jendela, memejamkan matanya yang tidak mengantuk. Rasanya tidak ingin melihat wajah Kak Malik saat ini.
Tapi entah kenapa Ayu tidak bisa membencinya, kebaikan Kak Malik selama ini menguasai hati Ayu. Tapi Ayu kehilangan kehormatan karena orang yang selama ini dia kagumi. Sesekali tangannya menyeka air mata yang tidak terbendung.
“Aku sangat menyesal ini harus terjadi. Aku berjanji akan memperbaiki semua ini” Malik mendudukan tubuhnya disamping Ayu.
__ADS_1
Air mata semakin menganak sungai, Ayu mulai sesenggukan karena menahan tangisnya. Malik merasakan kepedihan yang Ayu rasakan. Tapi tidak bisa berbuat apapun.
Ayu menguatkan diri untuk duduk, matanya sembab dan masih berlinang air mata. Mencoba mengatur napasnya agar kembali normal. Semua ini harus dihadapi. Tidak bisa hanya saling terdiam dan tidak melakukan apapun.