Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab ( Selamakan Putraku )


__ADS_3

Sarah memegangi perutnya yang sudah terasa melilit mencekik tubuhnya. Keringat dingin banjir membasahi sekujur tubuh Sarah. Melihat itu Kala panik dan tidak bisa berpikir dengan benar. Otaknya sedang mencari cara bagaimana dirinya bisa kabur membawa Sarah.


Sedangkan polisi saat ini mengepungnya dengan sangat ketat. Semua petugas yang mengepung bersenjata lengkap dan siaga. Kala semakin pusing melihat Sarah yang terkapar kesakitan.


“Hey, kenapa kau diam saja. Cepat bantu aku mencari jalan keluar!” Kala meneriaki Pras yang sama kalutnya.


Pras tersentak saat Kala memanggil nya. Pikirannya sedang kacau mencari cara agar bisa menyelamatkan Dokter Sarah. Pras mendekat, tidak bisa membaca karakter dan isi pikiran Kala membuatnya sedikit takut.


Apalagi saat ini Kala memegang pistol yang bisa menembak nya kapan saja. Pras tidak bisa bertindak semaunya, dia harus menjamin keselamatan dokter Sarah dan anak yang ada di dalam kandungan dokter Sarah. Jangan membuat keputusan yang akan membuat dirinya menyesal.


“Tuan kita harus membawa Dokter Sarah segera ke rumah sakit. Dia bisa dalam bahaya jika dibiarkan terlalu lama Tuan.” Pras mencoba membujuk kala yang terlihat gelisah.


"Apa Adam menyuruhmu mengacaukan rencanaku?" Kala heran karena usaha nya untuk lolos sangat sulit. Adam bukan siapa-siapa untuk bisa menghalau segala rencananya jadi berantakan seperti saat ini.


Bagaimana Kala tau aku bagian dari kekacauan yang saat ini terjadi, padahal dirinya dan Hans masuk secara diam-diam. Kala benar-benar bukan orang biasa seperti perkiraannya.


“Apa yang bisa membuat Adam menyerah. Apa yang dia inginkan!” Kala sibuk mencari dalang dibalik kekacauan yang terjadi.


"Dokter Adam meminta Tuan agar menyerah." Pras berkata penuh pertimbangan. Kala bisa saja panic dan menyerang karena ucapannya.


"Dia tidak bisa begitu saja merebutnya untuk kedua kalinya." Kala merasa Sarah miliknya yang Adam rebut. Jika tidak ada Adam, sudah pasti Sarah akan menjadi miliknya seutuhnhnya.


Ahhhhh...... tolong.....


Sarah benar-benar tidak bisa lagi menahan rasa sakit. Perutnya dan tubuhnya terasa dikoyak-koyak. Kesadarannya sudah mulai menurun karena rasa sakit yang tidak tertahankan.


"Sabar sayang, pelayan yang tadi keluar sedang mencari pertolongan." Kala membelai kepala Sarah penuh kasih sayang.


Tidak ada yang berani bergerak, semua menunggu Kala lengah agar bisa menyelamatkan diri. Semua ketakutan dan tidak berani melakukan perlawanan, salah-salah Kala bisa saja menembak mereka tanpa pertimbangan.


"Hey....!!! Kenapa kau hanya diam saja. Bantu aku. Minta bantuan.... cepat....!!!!" Teriak Kala pada Pras yang tidak bergeming.


Pras mengeluarkan alat komunikasi yang ada di saku celananya. Mencoba menghubungi Adam ataupun Rama.


“Dokter, apa yang harus saya lakukan?” Ucap Pras pada ponsel yang sedari tadi sudah dia nyalakan sebelum masuk ke ruangan.


“Tuan…..” Kala terlihat tersenyum penuh ejekkan. Dia tidak menyangka Pras sedari tadi menyambungkan panggilan agar semua yang terjadi terekam.

__ADS_1


“Kau berani-beraninya merekam semua yang terjadi disini!” Kala geram tapi tidak bisa melangkah melepaskan Sarah yang terkulai lemas.


“Aku akan membantu Dokter Sarah, dia butuh bantuan kita. Aku akan pastikan kita bisa keluar dengan aman.” Pras mengangkat tangan melangkah lebih dekat.


“Kala, tolong selamatkan putraku.” Sarah mencengkeram baju Kala. Keningnya penuh dengan peluh yang membuat Kala takut kehilangan Sarah.


“Aku tidak perduli padanya. Aku hanya perduli pada keselamatanmu.” Kala tidak memikirkan kandungan Sarah sedikitpun, hanya ada Sarah di benaknya.


“Kau harus menyelamatkannya, aku mohon!” Sarah sudah tidak kuasa lagi. Dia pingsan tidak sadarkan diri di pelukkan Kala.


“Sarah…..Bangun…..Sarah!” Kala menggendong Sarah. Pras bersiap mengikutinya dari belakang. Kali ini tawarannya di terima dengan baik oleh Kala.


Kala tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran dari Adam. Dia akan memikirkan jalan keluar setelah menyelamatkan Sarah.


“Hanya kau dan anak buahmu yang boleh membantuku.” Pras berjalan di depan Kala. Kepalanya di todong pistol menjadi sandera agar Kala tidak dihadang.


“Biarkan kami lewat dengan aman. Aku yang bertanggung jawab!” Perintah Pras pada anggota kepolisian yang sudah mengepung Kala dari luar.


Semua mundur mendengar perintah Pras, semua keputusan yang diambil semata-mata demi keselamatan semua orang. Kala mengancam akan menembak siapa saja yang menghalanginya. Bahkan dirinya sendiri beserta Sarahm orang yang coba mereka selamatkan.


Malik lari memasuki ruangan dengan tubuh gemetar, dari jauh sudah terlihat tubuh Ayu yang terkulai dilantai jeruji. Pintu jeruji terkunci, Malik mencoba mencari kunci agar bisa membuka pintu jeruji yang begitu kuat.


Malik mencari ke seluruh sudut ruangan dibantu petugas yang menyusulnya dari belakang. Kunci tidak ada dimanapun, Malik mengacak rambutnya frustasi. Dia tidak bisa meraih tubuh Ayu yang ada di depannya.


“Ayuna…..bangun Ayu. Aku sudah dating.” Teriak Malik dari balik pintu jeruji yang masih belum berhasil dibuka.


“Ayah tolong cepat cari cara, cepat selamatkan Ayu.” Rama tau bagaimana perasaan putranya saat ini. Dia tidak bisa berpikir dengan tenang. Dia hanya memikirkan kesalahan fatal yang membuat Ayu dalam bahaya.


“Aku tidak menemukan kuncinya.” Terlihat Oji yang baru saja dari lantai atas mencari keberadaan kunci di brangkas Kala.


“Kita gunakan cara kasar.” Rama memerintahkan petugas konstruksi untuk membongkar paksa jeruji besi yang mengurung tubuh Ayu.


Entah kekuatan apa yang saat ini merasuki tubuh Rama. Melihat putranya yang begitu hancur, dia seakan punya tanggung jawab besar untuk menjadi kekuatan untuk putranya. Dia harus mengembalikan kepercayaan diri Putra tercintanya. Malik bukan laki-laki pengecut seperti yang dia lihat saat ini. Dia laki-laki yang sangat tegas, bertanggung jawab dan sangat penyayang.


“Tenang Nak, kita pasti bisa menyelamatkanya.” Rama memeluk Malik yang tidak melepaskan pandangannya dari Ayu.


Malik mencengkeram erat tubuh Rama, hatinya hancur melihat Ayu tidak sadarkan diri. Ada sedikit darah yang terlihat menodai hijab Ayu. Malik gemetar melihat kondisi Ayuna. Berulang kali menarik nafasnya yang mulai berat, tubuhnya juga masih sangat lemas karena belum sepenuhnya pulih.

__ADS_1


Malik tidak bisa melihat wajah Ayu, dia sedih membayangkan betapa takutnya Ayu dengan apa yang dia hadapi. Dia pasti berharap Malik menyelamatkannya dengan cepat, tapi Malik terlambat sampai Kala berhasil menyakiti Ayu dan membuatnya tidak sadarkan diri.


Jeruji cukup sulit dibongkar paksa, Kala menggunakan bahan-bahan dengan kualitas bagus sehingga sulit dirobohkan.


Brugggg……


Malik langsung lari meraih tubuh Ayu yang terkulai di lantai, Malik kaget saat melihat wajah Ayu yang lebam dan banyak darah menodai wajah Ayu.


Kepala Ayu terbentur dan mengeluarkan cukup banyak darah, wajahnya lebam bekas pukulan tangan Kala yang telapak tangannya sebesar wajah Ayu.


Ambulance sudah siap siaga, dengan segera Ayu dibawa kerumah sakit miliknya agar segera mendapatkan pertolongan. Sepanjang perjalanan Ayu berada di pangkuan Malik. Dia sangat takut melepaskan Ayu kedua kalinya. Malik sangat meyesal dan takut Ayu benar-benar pergi darinya selamanya.


“Ayah, apa Ayu masih bernafas?” Malik memeriksa denyut nadi Ayu yang tidak dia rasakan. Malik kalut dan pandangannya berbayang.


“Apa yang kau katakana, tenanglah. Coba untuk tenang, Ayu masih bernafas. Kita harus percaya padanya. Dia pasti bisa bertahan.” Rama mencoba membujuk Malik agar membaringkan tubuhAyu agar petugas lebih leluasa memeriksanya.


Malik menolaknya berulang kali, dia tidak bisa melepaskan tangannya. Dia takut tidak bisa melihatnya lagi dan akan menyesal selamanya. Rama dengan gigih meyakinkan Malik agar percaya padanya. Ayu akan lebih aman jika tidur diatas kasur yang tersedia.


Malik akhirnya melepaskan dekapannya. Tidak lama mobil ambulance berhenti di dekat helikopter yang sudah menunggunya. Perjalanan dengan helicopter akan lebih cepat karena jarak rumah sakit cukup jaug dari kediaman Kala.


Tidak lama helikoter mendarat di atas atap rumah sakit yang memang Rama buat dengan helipad untuk keadaan darurat yang bisa terjadi kapan saja seperti saat ini. Rama lega karena keputusnanya membangun helipad sangat tepat.


Malik tidak membiarkan siapapun masuk ke ruangan perawatan, Malik tidak mau membuat Ayu dalam bahaya lagi. Malik tidak melepaskan tangan Ayu dari genggaman nya. Melihat Ayu saat ini Malik begitu terpukul, dia tidak akan seperti ini jika Malik tidak membiarkannya pergi sendirian.


Hanya ada penyesalan, Malik tidak bisa mengembalikan keadaan seperti sedia kala. Jika waktu bisa diputar kembali, Malik tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang dia lakukan saat ini.


“Nak…” Rama menyodorkan air mineral.


“Aku tidak akan bisa hidup tanpanya Yah.” Rama mendekap Malik.


“Semua akan baik-baik saja. Ayu tau bagaimana selama ini kau mencintainya. Dia bahkan meyakinkan Ayah akan membuatmu mencintainya lagi.” Rama ingat ucapan Ayu sebelum mereka pindah.


“Aku laki-laki pecundang. Aku sangat menyesal.” Rama tau Malik akan menyesali perbautannya, dia akan sadar cintanya begitu besar pada Ayu.


Rama menikmati momen dirinya begitu berharga bagi putra semata wayangnya, ada kebahagiaan saat Malik menyandarkan tubuhnya pada Rama. Dia merasa bangga punya kesempatan langka seperti ini. Selama ini hanya ada Mamih yang selalu menjaga dan mendekap malik.


Rama tidak punya kesempatan karena selama ini dia tidak menjaga dan merawat Malik dengan baik. Dia egois memikirkan pekerjaannya semata.

__ADS_1


__ADS_2