Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 150 ( Palig Tidak Aku Bisa Melihat Senyumnya Dari Jauh )


__ADS_3

Ana terlihat tergesa-gesa menuruni tangga sampai tidak sadar masih ada 1 tangga tersisa membuat tubuhnya jatuh terjuntai di lantai. Tangannya mencoba meraih apapun tapi tidak berhasil, hanya vas bunga yang terjatuh bersamaan dengan tubuh Ana. Pecahannya menyebar membuat lantai berserakan serpihan vas bunga.


Awwww.....


Semua yang melihat kejadia lari mencoba menolong Ana termasuk Malik dan juga Ayu. Untung saja tubuh Ana tidak terkena serpihan vas bunga. Hanya kakinya yang sedikit sakit karena cukup keras saat jatuh.


“Kenapa bisa jatuh!” Malik mengangkat tubuh Ana. Wajahnya terlihat gelisah, bibirnya sedikit pucat dan ujung matanya berair.


“Apa sangat sakit Kak.” Ana menggeleng. Ada senyum dan kesedihan yang bercampur di wajahnya. Ana memeluk Ayu, orang yang cukup lama Ana dan Rey tunggu kedatangannya.


“Aku harus segera ke rumah sakit. Kak Ferdinan masuk rumah sakit.” Ana bergegas. Ayu terpaku, dia takut apa yang menimpa Kepala Sekolah adalah kesalahannya.


Ana menggeleng. Ana kembali mendekap erat tubuh Ayu. “Bukan, kami semua sangat menantikan kedatanganmu. Kami menyayangimu.” Ana menghapus air mata dari pelupuk mata Ayu. Ana tau betul Ayu tidak bisa menahan sedikitpun kesedihannya. Dia tidak pandai menyembunyikannya dari orang lain.


“Aku antar.” Malik menggandeng tangan istrinya. Wajahnya yang sudah berseri kembali meredup, senyumnya kembali digantikan kesedihan.


Bagaimanapaun ini hal terberat jika Ayu menerima semua ini, Ayu harus mengakui laki-laki lain sebagai Ayah kandungnya. Menerima jika dirinya bukan anak dari orang yang selama ini mencintainya dengan tulus seperti putrinya sendiri.


Malik tidak berhenti tersenyum, mencoba menguatkan Ayu agar tidak kembali goyah. Ana yang duduk di kursi belakang mendepak tubuh Ayu menyemangatinya. Ini akan jadi hari berat untuk semua orang. Tapi akan berakhir bahagia karena semua kesedihan yang berakar sudah dilepaskan. Tidak apa jika prosesnya sedikit menyakitkan, tapi akan ada kebahagiaan di kemudian.


Malik menepi, sekali lagi Malik ingin meyakinkan perasaan Ayu. Dia tidak mau Ayu merasa terbebani dengan keputusannya.


“Apa benar kau sudah yakin? Aku tidak mau melihat lagi ada air mata. Kamu harus bisa bahagia dengan keputusan yang akna kamu ambil.” Ayu mengangguk meski air mata tidak berhenti berderai. Malik mengecup keningnya beberapa kali, dia bangga dengan pendirian Ayu.


Sepertinya memang sudah saat nya Malik membiarkan semua masalah yang Ayu punya bisa diselesikan secepatnya. Ayu harus bersiap dengan masa depannya setelah lulus SMA. Dia ingin sekali kuliah di Universitas yang bisa menghantarkannya menjadi seorang Dokter.


Mobil berhenti di lobby rumah sakit. Ana tidak menunggu Malik dan Ayu, dia segera keluar dari mobil meminta Malik dan Ayu segera menyusulnya. Ana harus memberikan kekuatan pada dua laki-laki yang selalu bersandar di pundaknya selama ini.


“Kak Rey, Jofan.” Keduanya memeluk Ana. Seperti mendapat kekuatan penuh saat melihat senyum Ana. “Bagaimana keadaan Kak Ferdinan?” Rey menggeleng, mereka masih belum tau bagaimana keadaannya saat ini. Dokter masih memeriksa untuk memastikan keadaannya saat ini.


Rama dan Pras juga ada disana. Mereka langsung meluncur ke rumah sakit saat tau Ferdinan tidak sadarkan diri. Mereka memang sudah seperti keluarga. Dan benar saja mereka dipersatukan lebih erat dengan hadirnya Ayu di tengah-tengah mereka.


Pintu perawatan terbuka. Dokter yang memeriksa meminta Rey dan Jofan mengikutinya untuk diberikan penjelasan.


“Bagaimana Dok, apa keadaannya baik-baik saja?” Rey mendekap Jofan di pelukannya. Dia selalu jadi adik kecil saat ada di dekat Rey, dan Rey tidak pernah keberatan saat dirinya harus memperlakukan Jofan seperti anak bayi.

__ADS_1


“Sepertinya Tuan Ferdinan akan segera siuman. Ini kali kedua serangan jantungnya tiba-tiba saja muncul. Aku sudah peringatkan agar ini tidak terjadi, karena akan berakibat fatal.” Dokter menghela nafas dalam.


“Kami sudah melarangnya agar tidak terlalu lelah dengan pekerjaannya. Tapi Kaka ku tetap memaksa ingin mengajar, dia ingin melihat putrinya meski dari jauh.” Rey ingat betul kata-kata Ferdinan.


Jika aku tidak datang ke sekolah, sama saja aku tidak melakukan kewajibanku sebagai seorang kepala sekolah dan sebagai seorang Ayah. Aku tidak bisa merawatnya, paling tidak aku bisa melihat senyumnya dari jauh. Ucapan Ferdinan masih melekat di ingatan Rey.


“Begitulah seorang Ayah, dia rela melakukan apa saja demi kebahagiaan Putra Putrinya.” Dokter tersenyum tanpa dosa. Dia bicara sekenanya karena tidak tau situasi yang sebenarnya sedang mereka hadapi.


Jofan dan Rey kembali ke kamar perawatan setelah selesai dengan Dokter. Jofan segera lari mendekap wanita cantik yang merentangkan tangannya. Tina datang saat mendengar Ferdinan ambruk. Perasaan cintanya masih sama meski mereka tidak lagi bersama.


Ada Malik dan Ayu juga di depan ruangan Ferdinan. Ayu sudah menyapa Tina karena sebelumnya mereka pernah bertemu beberapa kali. Situasinya berbeda saat ini, Ayu sangat tegang dan cemas. Dua manusia yang saling mencintai harus berpisah agar tidak lagi saling menyakiti.


“Mah, kau sudah kenal Ayu kan!” Tina mengangguk. Sebelum semua ini terungkap, Ferdinan sudah menceritakan bagaimana kedekatan Ayu dengan Jofan dan Rey. Tina bahagia karena rasa bersalahnya di masa lalu sedikit berkurang. Ayu tumbuh jadi gadis yang sangat membanggakan. Dia cantik sedikit ada kemiripan dengan Arumi kecilnya.


“Jangan bahas ini sekarang. Biarkan Ayu perlahan menerima kita.” Tina berbisik di telinga Jofan saat memeluknya. Tina tidak mau terlalu memaksakan Ayu, dia berhak memilih.


Mereka bergantian masuk melihat kondisi Ferdinan. Giliran Ayu masuk, Malik tidak membiarkan Ayu masuk seorang diri. Dia akan tidak mau Ayu ketakutan seorang diri melihat Ayah kandungnya tidak sadarkan diri saat dirinya mencoba menerima semua ini.


Ayu tidak berkata-kata. Tenggorokannya sakit menahan tangis, dia hanya mampu memandang wajah Ferdinan dengan lekat. Netranya bercaca-kaca seolah menggambarkan suasana hatinya saat ini.


“Tidak apa. Coba katakan padanya kalau Ayu baik-baik saja.” Ayu menuruti perkataan Malik. Perlahan tangannya meraih tangan Ferdinan. Tangis nya kembali pecah, dadanya terasa sakit. Sekali lagi Ayu harus melihat orang yang dia sayangi menderita.


“Jangan menangis Putriku.” Ayu berheti meraung mendengar ucapan Ferdinan. Kini matanya mereka saling menatap satu sama lain. Malik yang melihat suasana hangat pertemuan kedunya meninggalkan Ayu dan Ferdinan agar bisa bicara dari hati ke hati.


“Kepala sekolah sudah sadar.” Malik menahan tubuh Jofan yang ingin segera masuk ke dalam. Malik menggeleng dengan senyum bahagia di bibirnya. “Biarkan mereka bicara.” Jofan kembali duduk memeluk Tina. Suasana jadi sedikit tenang setelah ketegangan yang cukup menguras energi.


“Apa aku boleh mendapat pelukkanmu. Sepertinya aku akan segera sembuh jika dapat pelukkan dari gadis cantik.” Ferdinan membuat Ayu tersenyum. Ayu memeluk Ferdinan yang terbaring lemas.


“Jangan pernah menyesal menjadi gadis baik seperti dirimu saat ini. Aku sangat bersyukur punya kesempatan bertemu denganmu. Aku tidak akan menyia-yiakan kesempatan keduaku.” Ayu masih memeluk Ferdinan.


Laki-laki yang sudah cukup tua yang selalu memperlakukan Ayu dengan sangat baik. Dia selama ini mnedukung Ayu karena pretasinya, jauh sebelum tau siapa Ayu. Ayu bisa merasakan dia adalah laki-laki penyayang yang mecintai Ayu sebagai anak didinya dengan tulus. Ayu bahkan ragu saat Jofan mengatakan keburkanya karena marah padanya.


“Apa aku yang mebuat rumah tangga kepala sekolah jadi tidak utuh.” Ferdinan tersenyum, Ayu masih memanggilnya dengan sebutan kepala sekolah.


“Apa ini di sekolah? Apa Jofan dan Rey membawaku ke UKS?” Ferdinan berpura-pura polos agar Ayu mneyadari ucapannya. Ayu sedikit malu, dia taku apa maksud dari ucapannya.

__ADS_1


“Aku tidak bisa ter...” Ayu menggelang, alasan apapun rasanya tidak pantas Ayu ucapkan saat ini. Ferdian kembali tersenyum. Dia menggenggam erat tangan putrinya.


“Aku tidak akan memaksa. Apapun dan bagaimanapun kamu memanggilku, akan selalu siap.” Keduanya tertawa saling mengutarakan cinta dan kasihnya.


Ferdinan meminta Ayu agar segera pulang dan istirahat, dia tau apa yang sudah Ayu alami hari ini di sekolah. Banyak orang tua murid yang menghubungi dirinya meminta penjelasan tentang artikel tanapa nama yang dituliskan tentang skandalnya di masa lalu. Dia tidak merasa dirugikan, Ferdinan hanya takut Ayu akan kembali menjauh dari jangkauannya karena merasa malu.


“Kak Rey boleh memeluk Ayu!” Ayu mengangguk. Laki-laki kedua setelah Malik yang selalu ada untuknya selama ini.


“Ayah.” Ayu memeluk Rama yang sedari tadi hanya tersenyum menatapnya dari jauh.


“Ayah bangga punya putri sepertimu.” Rama membelai lembut kepala Ayu. Dia sangat bahagia masalah ini bisa segera teratasi. “Kau hebat sayang. Jangan pernah takut dengan keputusanmu. Kami semua mendukungmu.” Ayu menatap satu persatu orang-orang yang selama ini ada untuknya.


Malik membawa Ayu segera pulang. Tubuh kecilnya pasti lelah menghadapi begitu banyak ujian dalam hidup selama ini. Tidak lama matanya terpejam, dia bahkan batal makan enak dan perutnya pasti kelaparan saat ini.


Malik menggendong Ayu karena tidak tega membangunkanya. Di lift Malik berpapasan dengan Adam dan Aldo yang sama-sama sedang menunggu di depan pintu lift.


“Apa dia tidur?” Adam berbisik. Pemandangan sejuk setelah seharian berkutat dengan banyak pasien dirumah sakit. Malik mengangguk dengan senyum penuh di wajahnya.


Aldo dengan sigap meraih tas yang ada di tangan Malik membantunya. Bos nya terlihat keren seperti pangeran dalam negeri dongeng. Aldo senyum-senyum sendiri membayangkan dirinya dan Aleta melakukan adegan yang sama.


Bugggg.....


Pukulan mendarat di pundak Aldo.


“Kenapa kau tersenyum sendiri!” Adam merasa geli melihat senyum mencurigakan di wajah Aldo. Dia bahkan terlihat sangat bahagia, padahal baru saja mengeluhkan pekerjaannya yang menumpuk.


“Aku membayangkan Aleta di gendonganku. Hehehehehe....” Adam dan Malik menggelengkan kepala mereka sambil tersenyum. Aldo memang suka sekali membayangkan semua hal yang bisa membuatnya bahagia. Kebahagiannya tidak mahal ataupun sulit.


“Ada apa Al.” Malik segera menghampiri Aldo setelah memastikan Ayu tidur dengan nyaman.


“Sepertinya aku harus kembali mengundur jadwal keberangkatan kita ke Malaysia.” Malik merih proposal dari tangan Aldo.


“Beri aku waktu untuk memikirkannya. Aku tidak bisa meninggalkan Nona dalam situasi seperti ini.” Wajah malik terlihat tulus kali ini. Aldo sampai tidak tega.


“Tidak apa Bos. Apapun demi Nona akan aku usahakan. Semua ini tidak ada artinya jika kita tidak bisa menjaga Nona dengan baik.” Kali ini Malik terharu, sekertarisnya yang dulu sangat bodoh dan muda sudah menjadi pria dewasa.

__ADS_1


Dia hanya bersikap kekanak-kanakan saat bersama dengan Ayu dan teman-teman Ayu. Aldo akan terlihat seperti anak-anak SMA yang sangat trendi jika sudah bergaul dengan anak-anak muda dan modis. Aldo juga tidak dengan mudah meraih pekerjaannya seperti saat ini. Butuh perjuangan panjang dan pengorbanan besar bisa ada di posisi nya saat ini.


__ADS_2