
Nikita panik mondar mandir karena Ayu tidak juga kunjung sadar. Sepertinya obat bius yang Lissa berikan terlalu kuat. Nikita khawatir bagaimana jika Ayu tidak bangun lagi, Nikita berulang kali menempelkan jarinya dengan lubang hidung Ayu untuk memastikan Ayu masih bernafas.
“Lissa, kenapa Ayu belum juga sadar! Apa ini tidak berbahaya?” Nikita menghubungi Lissa lewat ponselnya.
“Tenang saja Kak, itu tidak berbahaya. Dia akan sadar sebentar lagi.” Lissa menutup panggilan dari Nikita. Saat ini Nikita menyesal mengikuti saran dari Lissa menculik Ayu agar bisa meyakinkan bahwa cintanya lebih besar. Padahal dirinya bisa saja bicara baik-baik agar bisa bicara empat mata dengan Ayu. Ini benar-benar di luar kendali.
Setelah 30 menit akhirnya Ayu sadar, Ayu meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku. Kepalanya sedikit berdenyut merasakan pusing.
“Kau sadar! Syukurlah, aku sangat takut kau tidak bangun lagi.” Tangan Nikita gemetar, Ayu merasakan Nikita saat ini sedang ketakutan.
“Kenapa aku bisa ada di sini?” Ayu mengingat runtutan kejadian yang menimpanya sampai dia tidak sadarkan diri. “Kak Nikita menculikku!” Ayu berdiri menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Nikita.
“Aku tidak sungguh-sungguh ingin melakukannya. Aku benar-benar lepas kendali melakukan semua ini.” Nikita benar-benar menyesal. Ayu masih belum bisa percaya begitu saja. “Aku hanya ingin meyakinkan bahwa perasaanku pada Malik sangat tulus. Aku tidak bermaksud jahat padamu.” Nikita benar-benar terlihat tulus, Ayu tidak bisa menuduh Nikita sembarangan meskipun sudah membawanya secara paksa.
“Kenapa Kak Nikita tidak bicara baik-baik, saat ini pasti Kak Malik sedang panik mencariku Kak.” Ayu merogoh saku celananya. Ternyata ponselnya mati, pasti baterainya habis.
“Ayu, apa kau benar-benar tidak bisa melepaskan Malik! Aku tidak bisa membiarkan Malik hidup bersama wanita lain. Aku bisa mati melihat kebahagiaannya dengan Ayu.” Nikita mulai menangis, Ayu yang berada jauh dari Nikita pun mendekat. Pasti sakit rasanya mencintai orang yang tidak mencintai kita. Ayu jadi ingat bagaimana Oji mencintainya tapi Ayu mencintai orang lain.
“Aku tidak pernah punya maksud merebut Kak Malik darimu Kak. Tapi aku dan Kak Malik tidak bisa di pisahkan, kami saling mencintai.” Ayu ikut terbawa suasana. Melihat Nikita sesedih itu pasti perasaannya saat ini sangat tersakiti, dia bahkan rela melakukan apa saja demi cinta.
“Tapi Yu, kau tau kan bagaimana rasanya mencintai. Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja. Aku harus memiliki Malik untuk cintaku.” Nikita masih bersikeras dengan keinginannya.
“Kak Nikita wanita yang sangat cantik, pasti banyak laki-laki yang lebih baik dari Kak Malik yang akan mencintai Kaka dengan tulus.” Nikita terharu mendengar Ayu punya pemikiran yang lebih dewasa dari dirinya. Cinta sudah membuatnya salah arah, dia melakukan banyak hal nekat yang pasti akan merugikan dirinya di kemudian hari.
“Kak kita harus kembali, aku takut Kak Malik dan Ayah akan membawa Kak Nikita ke kantor polisi. Aku tau Kak Nikita tidak mungkin punya niat jahat padaku.” Ayu membantu Nikita merapihkan pakaiannya yang berantakkan. Nikita akhirnya memutuskan untuk mengantar Ayu kembali ke apartemennya.
Ayu sepanjang perjalanan memperhatikan wajah Nikita. Dia terlihat panik dan terlihat sangat ketakutan. “Kak aku akan bicara pada Kak Malik. Dia pasti tidak akan menyalahkan Kak Nikita.” Ayu mencoba menghibur, padahal dirinya sendiri takut apa yang akan terjadi jika Malik tau dia membuka pintu untuk orang lain di tengah malam.
Nikita hanya memaksakan senyumnya, jiwanya saat ini tidak ada di dalam raganya. Isi kepalanya berantakkan, ada perasaan malu dan takut bercampur membuat dirinya merasa gugup dan ketakutan. Nikita benar-benar melakukan hal bodoh, Malik pasti akan sangat membencinya kali ini. Dia menyakiti wanita yang paling Malik cintai.
Di tengah perjakanan Nikita menghentikan mobilnya saat melintasi jembatan yang cukup tinggi. Ayu mengejar Nikita yang sudah lari keluar mobil tanpa menggunakan sepatu hills nya.
__ADS_1
Ayu semakin mempercepat larinya saat melihat Nikita memanjat pagar jembatan yang cukup tinggi. Ayu berhasil meraih kaki Nikita dan memeganginya dengan erat. Ayu pasti kalah beban jika Nikita benar-benar nekat melompat dari pagar pembatas yang sudah dia naiki.
“Lepaskan.....aku tidak bisa lagi hidup. Aku malu.” Nikita berteriak meminta Ayu melepaskan pergelangan kakinya.
“Aku tidak akan melepaskannya. Aku akan ikut jatuh jika Kak Nikita nekat melompat ke bawah.” Ayu berusaha mengancam, Nikita wanita yang cukup baik. Dia tidak mungkin membiarkan dirinya ikut terseret dalam bahaya.
“Aku mohon lepaskan aku! Jika aku mati, aku tidak akan lagi mengganggu hidup kalian.” Suaranya mulai terisak, Ayu benar-benar kehabisan akal. Apa yang harus dia lakukan. Jalanan juga sangat sepi karena hari sudah sangat larut malam.
“Kaka wanita yang sangat baik, percayalah akan ada cinta lain dalam hidup Kak Nikita.” Ayu merasa pergelangan kakinye tertusuk benda tajam. Tapi dia menahan diri tidak bergerak, jika Ayu bergerak bisa dipastikan Nikita akan melompat dari jembatan.
“Kalian sedang apa?” Terdengar suara renta yang menyapa ditengah kekalutan yang Ayu rasakan.
“Pak tolong, teman saya sedang sakit Pak.” Kakek tua yang mendengarnya pun langsung membantu Ayu menahan tubuh Nikita agar tidak terjun bebas. Nikita akhirnya luluh, dengan tubuhnya yangsudah sangat gemetar dia berhasil Ayu amankan turun dari atas jembatan.
Nikita mulai terisak, dia tidak bisa menahan perasaannya saat ini. Kakek tua yang merasa iba membawa Ayu dan Nikita ke rumahnya yang tidak jauh dari jembatan. Kakek tua itu merasa tidak tega meningalkan Ayu seorang diri dengan gadis yang sedang putus asa.
“Minumlah Nak. Ini teh hangat.” Rumah kecil yang cukup rapih, Nikita terlihat melamun tidak merespon apapun yang Ayu ucapkan. Pasti jiawanya sangat terguncang.
***
Pencarian sudah memakan waktu satu jam sampai Aldo membawa kabar baik. Malik sedikit lega mendengar Ed melihat Ayu keluar dari kamar hotel bersama Nikita dalam keadaan baik-baik saja. Tapi setelahnya Malik mendengar kabar buruk tentang GPS Nikita yang berhenti di jembatan.
Perasan was-was Malik mulai tidak terkendali. Segera mungkin Malik dan semua tim bergegas menuju jembatan yang Edward maksud. Beruntung lokasi tersebut tidak jauh dari tempat tinggalnya. Hanya saya jembatan itu sangat rawan dengan kejahatan di tengah malam seperti ini.
“Bos, Ed berhasil menemukan titik keberadaan Nikita. Tapi kita harus punya startegi Bos. Bisa saja ini jebakkan. Aku akan turun terlebih dahulu untuk memastikan keadaan aman.” Aldo tidak mau Malik juga terancam.
“Tidak Al, aku harus memastikan sendiri apa yang terjadi.” Aldo tidak bisa membantah jika Malik sudah punya keinginan.
Sampai dilokasi Malik langsung lari ke mobil yang di pastikan milik Nikita yang terparkir di pinggir jalan dengan pintu terbuka. Malik tidak mendapati siapapun di dalam mobil, matanya mulai berbayang. Kepalanya seperti dihantam batu besar memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi pada Ayu.
Malik menggeleng saat melihat Aldo mendekat. Aldo ikut bingung kenapa tidak ada siapaun di sana. Hanya ada kemungkinan-kemungkinan mengerikan yang Malik dan Aldo bayangkan. Aldo mencoba mencari tauapa yang terjadi pada siapa saja yang melintas. Tapi tidak satupun orang melihat dua wamita yang Aldo tanyakan.
__ADS_1
“Kita harus menyisir sungai Al. Bagaimana jika Nikita kabur setelah menjatuhkan Ayu dari atas jembatn ini.” Malik terlihat sangat frustasi. Dia tidak lagi bisa berpikir jernih.
“Aku sudha pernah bilang, Nikita itu tidak sebaik kelihatannya.” Aldo segera menugaskan beberapa orang untuk turun ke bawah jembatan.
“Ayu......Ayuna.......Kau dimana sayang.” Aldo turut sedih. Baru saja satu masalah selesai, kini masalah baru muncul dengan mudahnya.
“Tenang Bos. Kita pasti akan menemukan Nona.” Aldo menghubungi Ed. Aldo ingin memastikan sekali lagi lokasi keberadaan GPS yang Edward temukan.
Malik berulang kali mondar-mandir disisi jembatan, menunggu kabar baik yang tak juga kunjung dia dapatkan. Akhirnya tim yang di tugaskan menyisi lokasi pun naik kembali ke atas. Hasilnya nihil, mereka tidak menemukan apapun di bawa sana.
“Bos, kembalilah ke mobil. Aku akan melanjutkan pencarian.” Malik menggeleng. Dia tidak mau meninggalkan tempat itu sebelum menemukan keberadaan Ayu.
Aldo paham betul bagaimana perasaan Bosnya saat ini. Dia bahkan meninggalkan banyak proyek penting demi menemani Ayu. Aldo banyak belajar mencintai wanita dengan tulus lewat Malik yang sangat penyayang akhir-alhir ini.
“Al cepat hubungi Ed, tanyakan lagi lokasi ponsel Nikita.” Pertanyaan yang sudah berulang kali dirinya tanyakan pada Ed dan jawabannya masih sama. Gps tidak berpindah, masih ada di dekat jembatan.
Nikita sudah terlihat tenang saat ini, dia sudah kembali bisa tersenyum. Ayu tidak bisa membiarkan Nikita membawa kendaraan dalam keadaan hatinya yang masih belum baik malam-malam begini. Ayu meminta Kakek yang menolongnya untuk mengantar dirinya dan Nikita mencari taksi ke jalan raya. Ayu takut jika Nikita akan nekad lagi seperti tadi.
Ayu benar-benar tidak hafal nomor ponsel satu orang pun yang dia kenal. Ayu jadi bingung karena ponselnya mati dalam keadan genting seperti ini.
Ayu menuntun Nikita berjakan perlahan, tubuhnya masih sangat lemas. Dari kejauhan Ayu melihat banyak cahaya dari senter-senter yang ada di sekitar jembatan. Ayu berpikir itu pasti polisi yang mendapati mobil Nikita di pinggir jalan. Ayu senang akhirnya bisa meminta bantuan.
“Kek, sepertinya kita bisa minta bantuan polisi Kek.” Kakek yang mengikuti Ayu tersenyum, dia turut senang karena bisa memberikan pertolongan pada wanita muda yang baru saja ingin mengakhiri hidupnya.
“Kak Malik!” Ayu tidak percaya Malik berdiri di dekatnya. Dia sangat senang sekaligus takut. Kak Malik pasti marah besar pada dirinya.
Saat mendengar suara Ayu yang memanggilnya, seolah dunia berputar diatas kepalanya. Antara halusinasi dan terkejut yang berlebihan membuat perut Malik mual. Malik berjalan gontai mendekati Ayu yang mematung di dekatnya.
Malik meraba wajah Ayu perlahan, dia takut bayangan yang dia lihat di depan matannya akan kembali hilang. Malik tersenyum bahagia saat benar-benar bisa menyentuh wajah wanita yang sangat dia rindukan.
“Kau sungguh nyata? Kau membuatku sangat takut. Aku takut kamu....” Malik tidak melanjutkan kata-katanya. Dia sangat bahagia melihat Ayu baik-baik saja di depan matanya.
__ADS_1
Aldo segera membawa Nikita yang terlihat sangat pucat. Ayu berpesan pada dirinya agar tidak melukai Nikita. Semua yang terjadi hanya salah paham. Nikita tidak punya maksud jahat pada dirinya, dia hanya kebingungan.
Malik tidak perduli lagi asalkan Ayu baik-baik saja. Melihat ayu sehat, Malik bisa kembali tersenyum. Malik sampai tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah Ayu. Semua kejadian yang pernah menimpanya membuat Malik jadi sedikit trauma jika benar-benar kehilangan Ayu. Dia tidak bisa hidup tanpa Ayu dalam cinta kasihnya. Ayu begitu berarti dalam hidup Ayu.