Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 71 ( Lia Hamil )


__ADS_3

Lia mencoba menerima kesalahan yang sudah Ferdinan lakukan demi Tina. Lia berjanji tidak akan membocorkan perbuatan Ferdinan yang sudah membuatnya hancur, tapi Nyonya Tina begitu baik dan lembut.


Tidak sampai hati Lia menyakiti perasaan wanita yang sangat dia kagumi.


Selama Tina masih di Bandung, Lia jarang memasuki rumah saat masih ada Ferdinan.


Lia masih trauma dengan perbuatan Ferdinan pada dirinya. Hari ini Lia sangat lega karena Tina sudah kembali pulang setelah 1 bulan lebih lima hari dia berada di Bandung. Lia sampai menghitung hari demi hari karena merasa sangat tidak nyaman.


“Lia kenapa sangat kurus, apa Tuan tidak memberimu uang belanja?” Tina menggoda Lia yang terlihat lesu dan pipinya sedikit tirus.


“Tidak Nyonya, mungkin saya rindu sama Nyonya Tina. Heheheheh...” Lia mencoba menyembunyikan perasaan sakitnya.


“Aku sangat lelah, perutku juga sedikit perih.” Lia terlihat khawatir.


“Apa Nyonya baik-baik saja? Mau saya panggilkan dokter Bram?” Lia sudah bersiap mengangkat gagang telpon yang ada di ruang tamu.


“Kau mau menyuruh dokter Bram memasak? Aku ini lapar Lia. Wkwkwkwk.” Tina tertawa melihat tingkah Lia yang sering membuatnya tertawa geli.


“Nyonya membuat ku khawatir saja.” Lia beraksi memasak masakan kesukaan Tina. Sup Tom Yam dan udang goreng tepung.


Setelah menunggu sambil rebahan di sofa, akhirny makanan pun siap tersaji dengan apik di atas meja makan. Lia menghampiri Tina yang terlihat memejamkan mata.


“Nyonya, makanan sudah siap.” Lia berkata cukup lirih, tidak mau mengganggu Tina yang sedang terlihat lelah karena perjalanan panjang.


“Ok, aku sudah sangat merindukan masakan buatan mu Lia.” Tanpa menjawab pertanyaan Tina. Lia berlari sambil membekap mulut dengan kedua tangannya.


“Kau baik-baik saja?” Tina sekarang yang khawatir melihat Lia terlihat seperti orang yang ingin muntah.


Apa dia sakit, wajahnya juga sangat pucat.


Apa Ferdinan tidak pernah memperhatian Lia, dia selalu saja seenaknya sendiri. Tina sedikit mengomel dalam hati.


“Lia, apa kau baik-baik saja. Apa kita perlu ke dokter? Aku takut suami mu akan marah padaku.” Tina menyandarkan Badan di pintu masuk kamar mandi yang sedikit terbuka.


“Tidak Nyonya, sepertinya saya masuk angin saja. Minum ramuan jahe juga nanti hilang.” Lia merasa sungkan padahal perutnya kram sejak kemaren, seperti orang yang mau menstruasi. Jantungny juga sering berdebar-debar satu minggu belakangan ini. Lia tidak paham karena baru pertama merasakannya.


Pagi ini seperti biasa Lia sudah terlihat sibuk dengan pekerjaan rumahnya. Rasanya bahagia karena besok libur dan akan bertemu dengan suami tercinta. Lia sedang kebingungan dengan musibah yang menimpa dirinya, apakah perlu di ceritakan atau tidak pada suaminya.


Lia takut suatu saat Hadi akan tahu dari orang lain. Tidak terasa keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya, lia menyandarkan badannya untuk menetralkan kepalanya yang sedikit berputar. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.


Namun pusing tidak kunjung hilang, hanya keringat dingin yang sudah mereda.

__ADS_1


“Lia sudah sarapan? Kamu masih sangat pucat. Apa kita ke doter saja yah.” Bujuk Tina pada Lia yang selalu saja menolak ajakannya pergi ke dokter.


“Nanti saja sama suami saya. Saya sudah rindu sama Mas Hadi Nyonya.” Lia tersipu malu. Mereka memang sudah terbiasa membicarakan suami masing-masing, seperti layaknya sahabat.


“Aduh duh yang mau ketemu suami tercinta.” Tina ikut bahagia melihat Lia yang tersipu malu mengutarakan isi hatinya.


“Nyonya, kira-kira aku pakai baju yang mana yah? Baju yang Nyonya kasih semuanya bagus. Saya sampai bingung memilih yang cocok untuk pulang nanti sore.”Lia menghamiri Tina dan menunjukkan beberapa baju atasan yang Tina belikan kemaren.


“Yang ini bagus. Kamu pasti tambah cantik pakai baju ini.” Tina memilih baju berwarna biru langit dengan corak bunga.


“Aku sudah menduga, ini memang cocok untuk saya pakai.” Lia kembali berlari ke dalam kamar untuk kembali melatakkan baju-bajunya.


Bruggg....


Tina kaget saat mendengar suara keras dari arah kamar Lia. Tina sedikit berlari mencoba menghampiri Lia di kamar belakang. Betapa terkejutnya saat melihat Lia terbaring di lantai dengan beberapa barang yang ikut berserakan di sebelahnya.


“Lia, kamu kenapa? Lia bangun... Lia.” Tina menepuk pipi Lia pelan namun Lia tidak meresepon. Tina panik dan berlari keluar mencari bantuan. Kebetula Ferdinan baru saja keluar dari kamar dengan seragam kerjanya.


“Tolong Mas, Lia pingsan. Cepat!” Tina menarik tangan Ferdinan yang diam mematung mendengar Lia pingsan.


Ferdinan segera berlari mengikuti langkah kaki Tina. Lia masih tidak sadarkan diri tergeletak di lantai. Ferdinan mengangkat tubuh kurus itu dan membaringkannya di atas kasur.


“Cepat panggil Bram. Cepat!” Ferdinan membuat Tina sedikit terkejut karena berteriak. Dia biasanya akan bersikap kalem dalam segala suasana.


Tidak lama setelah Tina menghubungi, Bram sudah terlihat sampai di halaman rumah. Tina langsung saja menuntun dan berjalan dengan cepat ke kamar belakang.


“Loh siapa yang sakit Mer? Kenapa ke sini arahnya?” Tetap mengikuti meskipun masih belum mendapat jawaban.


“Lia pingsan dan tidak sadarkan diri. Tolong cepat!.” Tina berjalan dan sedikit berlari karena sangat khawatir pada Lia.


Saat Bram masuk, Lia sudah sadar dan sedang di bantu Ferdinan meminum air putih untuk membantunya agar lebih segar.


“Lia kau sudah sadar. Aku sudah bilang supaya kita pergi ke dokter.” Tina meraih tangan Lia dan menggenggamnya dengan erat.


“Saya periksa dulu sebentar yah.” Bram mulai memeriksa denyut nadi, menanyakan gejala dan apa saja yang di rasakan Lia saat ini.


Lia menjelaskan dengan detail. Dokter Bram sedikit tersenyum dan terlihat bahagia mendengar penuturan Lia. Bram meminta Tina untuk mengambilkan tes kehamilan yang masih dia miliki. Karena saat tahu dirinya hamil, Tina sampai memeriksanya berulang kali selama satu minggu.


Dokter Bram tau jika Tina memiliki alat yang Bram inginkan. Tina menurut saja dan memberikan alat tes kehamilan pada Bram.


Ferdinan sudah mulai tegang dan tidak tenang. Dia tau perbatannya terakhir kali yang bisa saja membuat Lia hamil.

__ADS_1


Lia menuruti Dr. Bram untuk menampung air seninya dalam wadah. Tidak berapa lama Bram kembali tersenyum melihat tanda yang ada di alat tersebut.


“Sudah ku duga, selamat ya Lia. Usia kandungan sudah memasuki minggu ke lima. Aku hitung sesuai tanggal terakhir menstruasi.” Lia mematung, dia ingat betul jika janin yang ada di dalam kandungannya bukanlah buah cintanya bersama Hadi.


Anak yang ada dalam rahimku ini pasti anak Ferdinan. Terakhir kali bertemu dengan Hadi, Lia sedang datang bulan. Dan orang yang berhubungan dengan dirinya adalah Ferdinan.


“Selamat Lia, sebentar lagi kita akan jadi seorang Ibu.” Dengan tulus Tina memberikan selamat pada Lia. Dia masih belum ingat percakapannya terakhir kali sebelum dia pergi ke Bandung.


Ferdinan merah padam, dia masih belum tau siapa anak yang ada dalam kandungannya. Tapi dia tau jika lia sudah satu bulan lebih tidak pulang menemui suaminya. Dan usia janin tidak lebih dari 5 minggu.


Ferdinan mengantarkan Dr. Bram keluar, memberinya ucapan terimakasih karena sudah siap siaga setiap keluarganya membutuhkan bantuan.


Ferdinan mengusap kasar wajahnya. Bingung dan syok bercampur menjadi sebuah beban besar yang tidak bisa dihindari. Ferdinan menyesal mabuk saat istrinya tidak ada di rumah. Sudah satu bulan ini Ferdinan tidak minum-minuman keras. Dia takut akan mengulangi perbuatannya pada orang lain yang akan merugikan dirinya sendiri.


“Kenapa kamu terlihat sedih? Apa semuanya baik-baik saja? Apa ini air mata bahagia?” Lia hanya mempu menangis. Rasanya sakit menghianati Hadi, laki-laki yang selama ini setia menemaninya dalam suka dan duka.


“Apa suami ku akan menerima dia? Apa yang harus aku lakukan?” Tina sedih mendengar Lia merasa frustasi dengan kehamilannya.


“Apa Hadi tidak menginginkan seorang anak? Kenapa kamu membuatku takut?” Tina semakin tidak mengerti dengan Lia. Tina memeluk Lia dengan erat menenagkannya agar tidak menangis lagi.


Tidak lama Lia terlelap, Tina lega karena Lia sudah bisa menguasai emosinya. Tina masih tidak habis pikir kenapa Lia begitu sedih, seharusnya ini adalah berita yang paling membahagiakan bagi pasangan suami istri.


Ferdinan duduk termenung di ruang tamu. Tina memilih duduk di dapur agar lebih dekat dengan kamar Lia. Tina mengingat keceriaan dan tawa candanya bersama Lia. Dia orang yang sangat lugu dan ceria. Selalu sopan dan tidak melebihi batas saat bergurau dengan dirinya.


Prankkkkk......


Tina menjatuhkan gelas yang ada di tangannya. Ingatannya terhenti pada saat Lia meminta ijin untuk berganti pembalut sebelum dirinya pergi ke Bandung. Apa ini bukan anak dari suaminya? Lalu siapa ayah dari anak yang ada di kandungan Lia. Dia wanita lugu yang tidak bergaul dengan dunia luar. Batin Tina


Tina berjalan mengampiri Ferdinan yang sorot matanya sudah menangkap kedatangannya. Air mata menetes tidak terbedung. Hanya laki-laki di depannya ini yang bertemu Lia selama satu bulan terakhir.


“Kenapa kau sangat takut? Apa kau tau maksud kemarahanku?.” Tina tersenyum sinis pada Ferdinan. Laki-laki yang berubah semenjak kepergiannya sebulan kemarin.


“Aku bisa jelaskan semuanya. Tolong dengarkan aku.” Tina menampar Ferdinan, tangannya tidak berhenti memukul dada dan tangan Ferdinan sekenanya.


“Apa yang mau kau jelaskan. Kau mau aku berpura-pura seperti tidak ada yang terjadi? Kau tidak memikirkan keluargaku? Keluarga kamu dan anak ini?” Tina memukul perutnya berulang kali. Ferdinan menahan sekuat tenaga agar Tina tidak menyakiti dirinya dan buah hatinya.


“Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Ini kecelakaan, kau bisa tanyakan sendiri pada Lia.” Ferdinan masih berusaha membela diri.


“Jangan membela diri. Apapun yang kalian lakukan sudah menyakitiku. Kenapa kamau tega? Kenapa!.” Tina terisak, sudah habis kesabarannya selama ini.


Kebiasaan Ferdinan yang suka mabuk terkadang membuat Tina frustasi. Namun saat melihat perutnya yang ada janin tidak bersalah, Tina selalu berusaha meredam amarahnya.

__ADS_1


Mencoba menerima apapun dan bagaimanapun suaminya demi anak yang sedang di kandungnya. Tina tidak mau anaknya kelak menjadi orang yang kekuranga kasih sayang.


Tina ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya, meskipun sering kali harus tersakiti dan terluka.


__ADS_2