Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 83 (Saldo ATM )


__ADS_3

Pekan raya dipadati berbagai kalangan, mereka menikmati setiap pameran yang di suguhkan.


Berbagai macam ragam keunikan negeri di padu padankan menjadi satu dalam pameran. Membuat siapa saja yang melihatnya terkagum akan indahnya pesona negeri yang kita miliki.


Pagi ini Jofan sudah menunggu dengan gelisah kedatangan Ayu. Melani dan Sandra ikut tegang karena Jofan tidak berhenti mondar mandir seperti setrika panas.


"Jofan, kau tidak bisa santai sebentar? Kita jadi panik kalo begini." Melani mengangguk, setuju dengan perkataan Sandra.


"Aku sangat khawatir, bagaimana cara bicara yang baik dengan orang sehebat dia."


"Ya Tuhan, bersikaplah seperti biasanya. Kita kan sudah lama kenal Kak Malik." Sandra heran dibuat nya.


"Kau tidak lihat siapa dia, bahkan tidak sembarang orang bisa menemuinya." Jofan masih saja mondar mandir.


Terlihat mobil sport hitam yang memasuki area parkir. Membuat Jofan semakin kalang kabut.


"Jofan, bisa tenang sedikit saja? Kau ini seperti anak kecil." Sandra naik darah.


"Apa. Anak kecil!" Biasanya Jofan akan bersikap paling dewasa di antara mereka semua.


Melani, Sandra dan Jofan berjalan menghampiri mobil Kak Malik.


Ayu ikut tegang saat ketiga sahabatnya mendekat.


Malik menatap tajam pada Ayu. Ayu mencoba tersenyum menyembunyikan rasa takutnya.


Tok...Tok....Tok...


Jofan mengetuk kaca mobil Kak Malik, Kak Malik curiga karena Ayu memundurkan duduknya agar sedikit jauh dari jangkauan Kak Malik.


Malik menurunkan kaca mobil perlahan.


"Kak." Suara Jofan sedikit bergetar.


"Hmmmm..." Malik hanya menjawab dengan pelitnya.


"Apa kami boleh ajak Ayu main?" Suara Sandra menyela Jofan yang terlalu lama bicara.


"Kalian anak-anak kecil mau main kemana?" Malik bersikap dingin.


Lihatlah, anak kecil itu istrimu. Teriak Sandra dalam hati.


"Kita mau main ke pekan raya Kak. Ayu bilang belum pernah kesana." Ayu melotot ke arah Sandra.


Kenapa kamu mengkambing hitamkan aku Sandra. Teriak sekuat tenaga dalam hati.


"Benarkah?" Malik menatap tajam netra Ayu yang terlihat sedikit takut.


"Benar." Teriak ketiga sahabatnya kompak.


"Siapa yang akan menjaga kalian? Dan siapa yang bertanggung jawab menjaga Ayu untukku?" Malik melipat kedua tangannya.


"Kami." Menjawab serempak lagi


"Kalian seperti paduan suara saja." Ayu hanya tersenyum memohon.


Ayu berharap senyumnya mampu meluluhkan hati Kak Malik.


Setelah menimang cukup lama, Malik akhirnya mengalah. Ayu pasti sedih jika tidak di ijinkan pergi bersama sahabatnya.


"Baiklah, jika kalian tidak bisa menjaga Ayu. Aku tidak akan memperbolehkan dia untuk pergi lagi bersama kalian."


Yeayyyyyy.... Teriak ketiga sahabatnya.


"Ingat, jika sudah selesai telpon aku. Aku akan jemput, beri tahu aku dimana tempatnya." Ayu sudah bersiap untuk turun.


"Baik komandan, aku akan kirim pesan. Terimaksih banyak." Ayu sudah berlari menyusul ketiga sahabatnya.


Hari ini berbeda dari biasnya. Mereka amat bahagia karena akan pergi ke pekan raya mencari hiburan.


Mereka berempat semakin bahagia karena Kak Malik memberikan ijin pada Ayu untuk ikut serta.


"Ayuna." Suara Kak Malik membuat mereka berempat berbalik dengan kompak.

__ADS_1


Benar-benar Sabahat. Mereka bahkan kompak menggerakkan badan mereka . Malik tersenyum sendiri.


"Yu, apa Kak Malik berubah pikiran? Jangan-jangan dia menyuruhmu langsung pulang." Suara sedih Melani.


"Yah, padahal aku sudah sangat bahagia bisa ikut." Ayu tidak kalah sedih.


Kak Malik menyodorkan kartu debit. Ayu bahkan spontan menerimanya.


"Kau tau cara menggunakan nya?" Malik yakin Ayu tidak paham.


"Aku tidak tau, kartu apa ini?" Ayu membolak balikkan kartu.


"Ini boleh kalian berempat gunakan. Tapi ingat, jangan berlebihan. Karena setiap apapun yang kalian beli akan masuk dalam laporan." Malik menggoyangkan ponsel di tangannya.


"Terimaksih Kak..." Kompak mereka berempat karena sangat bahagia.


"Pin nya" Malik menuliskannya di tangan Ayu dengan jarinya. "Ingat?" Malik mengulangnya sekali lagi.


"Ok." Senyum sumringah menghiasi wajah keempat remaja di depan Malik.


Malik memberikan ruang pada Ayu, membuat senyaman mungkin hubungan mereka agar Ayu tidak tertekan.


Ayu menyimpan degan hati-hati kartu pemberian Kak Malik.


Hari pertama pembukaan pekan raya begitu ramai. Semua tempat di padati pengunjung yang antusias dengan pameran berbagai brand terkenal.


Tapi ada hati lain yang bukan bahagia karena pameran yang sedang berlangsung.


Hati yang bahagia karena hari ini rasa rindunya akan segera bisa terobati.


Sepanjang perjalanan Jofan sangat antusias menceritakan Mama tercinta pada ketiga sahabatnya. Dia menggebu-gebu seolah sedang menceritakan film favorit nya.


Sandra tanpa sadar ikut larut dalam cerita Jofan. Sedangkan Melani da Ayu saling pandang heran.


Mereka berdua seperti tidak tampak, Jofan dan Sandra tidak peduli dengan mereka berdua yang duduk di bangku belakang.


Saat sampai di lokasi awalnya Melani dan Ayu ingin sekali mencoba jajanan yang menggoda iman. Tapi Jofan tidak bersedia untuk berhenti, dia sudah tidak sabar bertemu Mama.


Terlihat wanita paruh baya yang begitu menawan. Masih sangat cantik dan wajahnya sangat Ayu.


"Oh..." Tina merentangkan kedua tangannya menyambut Jofan.


"Anakku sayang, kenapa kamu baru datang!"


Tina memeluk erat tubuh putra tercintanya. Melepaskan semua kerinduan yang selama ini tidak bisa tersalurkan.


"Aku rindu." Jofan sangat mencintai wanita ini.


"Aku mau mati rasanya." Mama Mendekap kembali tubuh Jofan.


Jofan sadar ketiga sahabatnya sedang memandang aneh pada dirinya. Selama ini Jofan selalu bersikap dingin.


"Ternyata Jofan sangat manis." Bisik Sandra di telinga Ayu dan Melani.


"Kau ini tidak waras. Jofan baru saja menjatuhkan harga dirinya." Melani merasa aneh karena Sandra tidak melihat keanehan sikap Jofan.


"Aku jadi kangen Ibu." Ayu hanya biasa saja, hanya terharu.


"Siapa ketiga gadis cantik ini?" Tina melepas pelukannya saat sadar Jofan tidak datang sendiri.


"Ayu." Tina merasa tidak asing dengan paras Ayu.


"Aku Melani."


"Aku Sandra Tante." Sandra bersikap sok akrab.


"Ayu, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Wajahmu tidak asing." Seperti melihat Arumi kecil.


"Hehehhe, kenapa kalian semua berkata hal yang sama." Jofan dan Kak Rey juga sama.


Mereka semua merasa wajahnya mirip dengan Arumi.


"Masuklah. Kita makan sama-sama yah. Tante beli makanan banyakkkkkk sekali." Tina memang sangat memahami keinginan anak-anak.

__ADS_1


Mereka tidak ada yang malu-malu, duduk dengan santai menyantap setiap hidangan yang sudah di siapkan.


Setelah kenyang, mereka baru sadar dengan tujuan utama datang ke pekan raya.


"Ayu, ayo kita cek saldo di ATM Kak Malik." Sandra sangat penasaran.


"Ayo, aku juga sangat penasaran isi saldo nya." Melani ikut berdiri setuju saja dengan ajakan Sandra dan Ayu.


"Kalian gila, kita pakai saja. Untuk apa kita cek." Jofan sedikit tidak setuju, padahal sama penasaran nya.


"Sudah tidak apa." Sandra menarik tangan Ayu.


"Baiklah kalo kalian memaksa."


Huhuhuhu..... Ketiga sahabatnya menyoraki Jofan.


"Bilang saja kau penasaran, untuk apa kau jual maha." Jofan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mereka berempat berjalan menyusuri jalan yang dipadati pengunjung. Mengikuti petunjuk arah yang menunjukkan letak ATM berada.


"Cepat, mana keluarkan." Ayu merogoh isi tasnya, mencari keberadaan ATM.


Ayu memasukkan PIN ATM yang Kak Malik berikan. Memasukkan nya perlahan karena tangannya belum pernah menyentuh mesin ini sebelum nya.


Cek Saldo


Mereka berempat saling pandang tidak percaya.


Melani mengucek matanya berulang kali. Sandra menggaruk pipinya dan Ayu menghitung jumlah nol yang ada di layar.


"Apa aku tidak salah lihat? Lihat angka Nol yang ada di layar ini." Melani masih tidak percaya.


"Saldo ATM nya ada 100 jt." Sandra tertawa sendiri di buatnya.


"Saldo ATM ku bahkan tidak pernah lebih dari 10 jt." Jofan sudah merasa kecil melihat uang jajan yang Kak Malik berikan pada Ayu.


"Apa aku jahat. Aku sangat sungkan memakainya." Ayu takut menggunakan uang yang begitu banyak.


"Kan Kak Malik sudah memperbolehkannya. Asalkan tidak berlebihan." Sandra sudah tersenyum penuh ide-ide gila.


"Apa aku boleh beli baju di butik Mama Jofan. Baju dan sepatunya sangat menawan." Melani sedang menghayal.


"Boleh saja, tapi aku harus ijin pada Kak Malik. Apa boleh aku gunakan untuk beli pakaian!" Ayu masih tidak nyaman.


"Kau ini, kenapa semua harus ijin Kak Malik. Kan Kak Malik sudah ijinkan." Sandra mulai kehilangan kesabaran.


"Kau ini." Jofan menjitak kepala Sandra yang sok jagoan.


"Jagan gunakan kalo kamu merasa tidak nyaman." Jofan punya cara lain meluluhkan hati Ayu.


Ayu memandang sedih ketiga sahabatnya.


Kalo aku nol nya berkurang sedikit kan tidak masalah yah. Kak Malik pasti memaafkan. Ayu sedang berperang batin.


"Baiklah, ayo kita berbuat nakal sekali-kali." Ayu mencoba memantapkan hatinya.


Mereka berempat menyusuri setiap stand yang menarik perhatian. Mencoba apapun yang menarik minat mereka.


Tring....Tring... Tring


Laporan penggunaan saldo yang ada di ATM mulai bermunculan di pesan ponsel Malik.


Bibirnya tersenyum melihat angka yang mereka gunakan. Ternyata gadis kecilnya sudah mulai nakal.


Aldo menatap heran karena Malik tersenyum sendiri. Tidak berani mengganggu karena Malik sepertinya sedang tenggelam dalam kebahagiaan.


Aldo juga sedang bahagia karena Aleta sudah mulai kerja hari ini. Aldo menempatkannya di bagian administrasi agar Aleta belajar.


Hari-hari nya di kantor saat ini sungguh berwarna. Sudah ada pelangi yang siap mewarnai hari-hari Aldo yang sunyi.


Tanpa sadar Aldo dan Malik sama-sama tenggelam dalam pikiran asmara mereka masing-masing.


Sungguh indah masa-masa yang penuh cinta kasih. Semua terasa berwarna dan penuh kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2