Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 174 ( Hujan Mengobati Sedikit Kesedihan )


__ADS_3

Malik membiarkan permata hatinya pergi bersama Jofan dan juga Sandra, dia memutuskan keluar dari rumah Ferdinan beberapa saat setelah ketiganya cukup jauh. Sangat sulit mengendalikan keadaan sampai Malik harus menahan diri dan membiarkan Ayu jauh dari jangkauannya.


“Nak” Ferdinan menepuk sayang pundak menantunya yang terlihat sedih dengan tatapan kosong ke arah jendela. Malik tersenyum karena Ferdinan pasti tau rasanya. “Jangan terlalu di pikirkan, semua akan baik-baik saja. Percayalah pada kekuatan cinta.” Malik merasa sedikit terhibur.


“Apa dia merepotkan? Aku biasanya membuatkan susu sebelum dia tidur, tadi malam aku buat untuk diriku sendiri. Hahahaha” Tertawa getir. Perasaanya sedang di permainkan keadaan.


“Dia bahkan bisa tidur dimana saja. Hahahhaa….” Ferdinan sampai kager saat Rey harus mengangkat Ayu ke kamar tidurnya karena terlelap di atas sofa.


“Ah itu benar, dia memang sering membuatku khawatir karena mudah sekali tertidur. Apa dia melakukan hal yang sama di sini?” Ferdinan mengangguk dengan senyum di wajahnya. “Dia harus diberi peringatan karena tidak hati-hati.” Malik terlihat kesal.


“Tenang saja. Dia hanya tertidur di sofa, untuk Rey masih terjaga. Jika tidak aku tidak akan sanggup mengangkat tubuhnya meski dia kurus.”


“Apa!!!” Ferdinan mengelus dadanya yang berdegup kencang karena terkejut. “Di ada di gendongan Rey.” Malik menarik-narik kemeja Ferdinan seperti anak kecil. “Lalu apa lagi yang terjadi!” Kali ini Ferdinan paham, dia tidak mau membiarkan Malik yang sedang terbakar api asmara semakin menjadi-jadi.


“Kau cemburu pada Rey!” Malik menggelang. “Jadi kau juga cemburu pada Jofan!” Kembali menggeleng dengan wajahnya yang . Aldo menahan tawanya yang hampir meledak melihat tingkah Malik. “Ouhhhh…..kau ini.” Ferdinan menepuk keras pundak Malik sampai Malik bergeser dari tempatnya berdiri.


“Mereka itu bersaudara, wajar jika mereka terlihat romantis. Mereka sangat saling menyayangi.” Malik berpikir keras agar masalahnya dengan para wartawan segera selesai, andai saja pernikahannya boleh di resmikan dan diumumkan.


“Aku bukannya cemburu, tapi aku tidak rela dia di sentuh laki-laki lain.” Bibirnya manyun membayangkan Ayu dalam gendongan Rey.


“Kau ini, sama seperti Rama.” Ferdinan jadi ingat masa muda Rama. “Cepat berangkat, kau pasti sudah terlambat.” Malik meraih jasnya, Aldo berjalan di belakang Malik. Dengan segera mereka meluncur ke kantor yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Ferdinan.


Ferdinan merasa seperti punya bantak Putra, rumahnya ramai dengan anak-anak muda yang silih berganti datang dan pergi membuat hatinya bahagia melihat pertumbuhan mereka sampai saat ini. Semuanya membanggakan dan membuat hatinya tentram. Hanya keributa-keributan kecil yang kadang membuat telinganya sakit.


Drrrttt….drrtttt….drrttttt


Ponsel Aldo bergetar membuatnya menepi saat melihat siapa yang menghubunginya. Aldo terlihat tegang saat menjawab panggilan telponnya. Malik tidak bertanya hanya memperhatikan mimik wajah Aldo yang sangat kaku.


Selesai menerima panggilan Aldo membuka pesan yang masuk diponselnya. Malik sampai memajukan duduknya memeriksa apa yang Aldo cemaskan. Keduanya sama-sama tercengang membaca berita yang muncul dengan cepat padahal dirinya baru saja keluar dari rumah Ferdinan beberapa meter.


“Kita harus bagaimana Bos?” Aldo bingung. Padahal dia sudah peringatkan agar tidak mengunjungi rumah Ferdinan sementara waktu. Malik terlihat menghela nafasnya panjang. Dirinya tidak bisa berkata-kata, hanya ada kebingungan yang memenuhi isi kepalanya.

__ADS_1


“Cari jurnalis yang membuat berita sampah seperti itu. Aku akan beri dia pelajaran. Dia tidak bisa menuliskan berita seenaknya seperti itu.” Omelan panjang yang jarang sekali Aldo dengar. Aldo hanya mengangguk dan menghubungi Edward untuk mencari tau berita yang sudah heboh.


“Sepertinya kita tidak bisa datang ke kantor Bos. Disana sudah sangat ramai.” Malik menggeleng, mau sampai kapan menghindari masalah ini dan mengorbankan perasaan orang-orang yang dia sayangi.


“Tidak, aku akan tetap pergi kemana saja aku mau. Aku tidak mau lagi menghindari mereka. Siapa mereka berani mengatur hidupku!” Malik terlihat marah. Aldo mengikuti apa yang jadi keinginan Malik. Aldo menghubungi keamanan meminta penjagaan lebih ketat agar Malik bisa masuk dengan aman.


Aldo pasti akan kena semprot Rama kali ini, dia bahkan tidak berani membuka mulutnya saat melihat wajah Malik merah padam terbakar emosi. Apa jadinya jika dia melawan, bisa jadi bubur tulang-tulangnya.


Maling mengepalkan tangannya dengan kuat, rasanya ingin sekali berteriak di depan semua wartawan yang mengincar kehidupan pribadinya. Aldo mendorong tubuh Malik yang mematung, semua pengawal menghalau para wartawan agar tidak mendekat ke arah Malik. Aldo sampai harus mendorong Malik sekuat tenaga karena kakinya seolah menempel di lantai.


“Bos, tolong jangan menahan langkahmu. Kau sangat berat.” Malik masih melotot ke arah para wartawan tidak mendengar perkataan Aldo.


“Apa aku kena undang-undang berat jika menyiram mereka dengan air?” Bicara hal yang tidak mungkin. Dia benar-benar kekanakan.


“Jangan membuat masalahnya jadi rumit. Cepat masuk Bos!!” Aldo berhasil mendorong tubuh Malik masuk ke dalam gedung. Dia masih bersikeras ingin menyiram mereka semua dengan air. Aldo sampai berkeringat kelelahan. Tubuh Malik benar-benar membuatnya kewalahan.


Tiba-tiba saja langit mendung tanpa tanda, hujan deras turun seakan mendukung Malik yang ingin menyiram mereka dengan air. Semuanya lari terbirit-birit menyelamatkan peralatan yang mereka bawa. Malik tertawa puas melihat pembalasan atas perbuatan tidak menyenangkan yang merugikan dirinya.


Malik hanya sibuk mondar mandir memikirkan apa yang akan terjadi jika Ayu membaca berita yang sedang beredar tentang dirinya. Apa yang akan Ayu pikirkan, dia bisa saja cemburu, dan dia bisa saja malah tersakiti jika begini.


Malik tidak tau akibat ulahnya Aldo harus menghadapi kemarahan Ayahnya.


Aldo sedang di semptor Rama karena membawa Malik ke kantor, kehadirannya tidak akan memperbaiki keadaan. Dia malah menambah berita semakin heboh karena terkesan menutupi kebenaran. Bisa-bisanya dia muncul tanpa rasa bersalah setelah mengacaukan semua kerja keras Rama menutupi berita dengan apik.


"Ahhhh....ampun Tuan....awwww..." Rama menarik jambang Aldo sampai mengaduh kesakitan. Tidak ada ampun karena tidak menuruti kemauannya.


"Sekarang apa yang bisa dia lakukan di sini! Kau ini benar-benar memperburuk keadaan. Ckcckckkc.....Hanya berurusan dengan Malik saja kau tidak becus." Rama berdecak kesal.


Edward tidak lama datang membawa laporan tentang jurnalis yang menjadi paparazi mengikuti kemanapun Malik pergi. Namanya tidak asing ditelinga Rama, tapi, masih tidak yakin. Rama puas dengan hasil kerja keras Edward yang selalu bisa di andalkan.


"Al, awasi Malik. Jangan sampai dia bertindak gegabah. Aku akan menemui jurnalis yang sangat membuatku pusing." Aldo mengangguk, pelipisnya masih terasa perih karena ulah Rama.

__ADS_1


Tidak lama Rama sampai di gedung Pusat berita yang sebenarnya partner bisnisnya, entah apa yang membuat mereka mengeluarkan pemberitaan yang tidak ada untungnya bagi mereka. Tentu saja Rama tidak akan tinggal diam.


Rama duduk di ruang Direksi yang juga sahabat lamanya sewaktu di SMA. Gusti nama panggilannya, dia tersenyum seakan mengakui apa yang terjadi kesalahannya karena terlalu percaya pada karyawannya.


"Kau kenapa tidak menatapku! Apa kau merasa bersalah!" Gusti juga saat ini sedang merasa kesal pada jurnalis yang tidak hati-hati menulis berita.


"Semua benar-benar di luar kendaliku Ram. Aku akan memperbaiki berita dan menghapusnya." Gusti pasrah, sepertinya Rama benar-benar kecewa. Dia sudah lama menjadi rekan bisnis yang punya peran besar atas berkembangnya perusahaan yang saat ini dia pimpin.


"Apa dia tidak ijin padamu?" Gisti menggeleng, karyawanya ijin tapi naskah berita yang dia liput tidak di baca ulang. Dia percaya begitu saja.


"Aku benar-benar minta maaf, tolong jangan perbesar masalah ini Ram...kita kan." Gusti tercekat melihat raut wajah Rama yang tidak lagi bersahabat.


"Panggil jurnalis yang menulis beritanya, dia pasti punya nyali besar berani berurusan denganku." Gusti meminta Lolita untuk masuk ke ruangannya.


Rama seperti pernah melihat wajahnya, tidak asing. Namanya pun tidak asing, apa yang sebenarnya dia inginkan. Sudut bibirnya berdarah, sepertinya dia dapat tamparan.


"Kau memukulnya?" Rama tidak percaya Gusti melakukannya, tapi dia mengangguk membenarkan. Suasana perusahaannya sama panasnya dengan tempatnya.


"Aku tidak bisa menahan diri." Gusti bahkan tidak mau lagi melihat wajah Lolita. "Aku akan memecatnya." Gusti benar-benar geram.


"Apa aku mengenalmu?" Lolita menggeleng. "Apa kau mengenalku!" Kali ini dia mengangguk, sudut matanya berair, padahal dia yang bersalah, tapi dia yang bertingkah seperti korban. "Kau menyesal?" Rama berdiri tepat di depan Lolita. Lolita tidak berani menatap wajah Rama, kesalahannya fatal.


"Aku mohon ampun aku. Aku hanya menulis berita tanpa berpikir panjang." Gusti semakin kesal di buatanya.


"Kau pikir bisa memperbaiki keadaan. Jangan membela diri, kau terlihat sangat menyedihkan." Gusti memaki Lolita di depan Rama.


"Kalian akan melakukan apa untuk memperbaiki ini semua!" Gusti sedikit lega, semua bisa saja diperbaiki dengan membiarkan Lolita meminta maaf pada publik.


"Aku akan memintanya mengajukan permohonan maaf pada Tuan Malik. Bagaimana?"


"TIDAK!!!" Rama san Gusti sama-sama menatap Lolita heran. "Ini semua pembalasanku karena kau sudah menghancurkan hidup keluargaku." Rama baru tersadar siapa Lolita.

__ADS_1


__ADS_2