
Hari pertama anak-anak kembali ke sekolah. Mencari ilmu untuk memperluas wawasan. Menoreh berbagai prestasi untuk bekal kelak hidup di masyarakat.
Ayu sangat antusias dengan hari pertama sekolahnya. Dikelas dua ini dia harus berpisah dengan kedua sahabatnya. Hanya Jofan yang satu kelas dengan Ayu.
Pasti kelas akan sepi tanpa candaan Melani, dia selalu bisa membangun suasana menjadi ramai dan hidup.
"Kenapa kau tegang sekali? Mau berperang?" Malik menatap lucu gadis kecilnya.
"Tidak tegang Kak, hanya sedikit tidak percaya diri." Ditambah kedua sahabatnya tidak ada.
Selama ini banyak yang memandang aneh pada Ayu, dia berbeda dari anak-anak lainnya.Prestasinya yang begitu banyak kadang menimbulkan tanda tanya. Dia bahkan dapat beasiswa dengan sangat mudah.
Mereka tidak tau perjuangan Ayu meyakinkan pihak sekolah untuk memberinya beasiswa.
Ayu belajar siang malam, bekerja dan kadang lupa waktu untuk dirinya sendiri. Dia bahkan beberapa kali pingsan kerena kelelahan. Tubuh kecilnya memikul begitu banyak beban.
Tapi semua sahabat dan orang-orang terdekatnya bahkan lupa dengan apa yang Ayu alami. Mereke terlena karena Ayu selalu membawa kebahagiaan di manapun dia berada.
Malik pagi ini dengan senang hati mengantarkan Ayu ke sekolah. Sepanjang perjalanan dia ingat bagaimana pertemuan mereka pertama kali.
"Kak, kau baik-baik saja?"
"Ada apa memang nya?" Malik heran dengan pertanyaan Ayu.
"Kaka senyum-senyum sendiri." Berkata lirih, hanya bisa di dengar oleh Ayu sendiri.
"Ah...hehehhe, tidak Kak. Fokus Kak, bahaya kalo Kak Malik tidak fokus." Malik mengerutkan keningnya merasa curiga.
"Jangan sungkan meminta bantuan padaku. Sekarang kamu itu tanggung jawabku sepenuhnya." Kak Malik berkata tanpa menatap Ayu, masih fokus dengan jalanan yang mulai macet.
Lihatlah, tadi dia tersenyum sendiri. Dan sekarang berkata-katanya sangat bijaksana. Apa dia sakit yah? Ayu khawatir Kak Malik kerasukan.
"Kau dengar?" Kenapa anak ini malah menatapku seperti itu.
"I...iya Kak. Aku mengerti." Masih sedikit khawatir.
Perjalanan di iringi gelak tawa dari penyiar radio yang membahana, beberapa lagu ikut mewarnai perjalanan yang penuh kemacetan di pagi ini.
Malik tidak lekas pergi setelah mengantar Ayu. Dia mencari kepala sekolah yang saat ini sudah tau siapa Ayu.
Tok...tok...tok...
Kepala Malik muncul dari balik pintu.
Menghentikan percakapan kepala sekolah dengan seorang guru.
"Apa aku boleh masuk? Maaf sudah mengganggu." Malik masuk tanpa tau malu sebelum dipersilahkan.
"Tentu Malik, silahkan." Masih terlihat kesedihan di wajah kepala sekolah meski di sembunyikan dengan senyum.
"Saya tinggal Pak, saya kebetulan memimpin upacara penyambutan siswa baru hari ini."
"Iya, silahkan. Tolong sampaikan salam saya." Kepala sekolah masih belum mampu jika harus melihat buah hatinya berdiri diantara siswa lain dengan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
Dia memilih bersembunyi dan tidak menampakkan kehadirannya. Itu hanya akan membuatnya bertambah sakit. Apalagi selama ini Ayu selalu jadi kebanggan sekolah karena prestasinya.
"Apa Bapak sudah baikan? Maaf karena aku tidak menunggu sampai Bapak siuman."
Malik mengenal Kepala Sekolah sudah lama, dia laki-laki baik yang sedikit rapuh melewati perjalanan hidupnya.
"Tidak apa, aku sudah sehat. Lihatlah!" Mengangkat kedua tangannya, menunjukkan betapa dia saat ini dalam keadaan sehat.
"Aku tau ini semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. Tolong beri Ayu waktu lebih lama." Kepala sekolah menepuk tangan Malik.
Dia tau betul apa yang coba Malik sampaikan. Semua ingin melindungi seseorang yang berharga. Seperti yang dirinya lakukan.
"Jika ada orang yang bisa aku percaya untuk menjaga putriku. Itu sudah jelas anda orangnya. Kamu muda, pekerja keras, dan keluarga mu bisa menjaga putriku dengan baik." Terlihat sudut matanya mulai basah.
"Aku akan menjaga Ayu sebaik mungkin. Dia sangat berharga bagiku." Malik memeluk tubuh tua yang saat ini sedang rapuh menysali perbuatannya.
Tangannya gemetar meski senyum tidak pudar dari bibirnya.
Ayu mencari keberadaan ketiga sahabatnya. Celingukan tapi mereka tetap saja tidak tampak.
"Kau mencari seseorang? Mereka ada di barisan paling belakang seperti biasa." Jofan berbisik di telinga Ayu.
Jofan ternyata sudah berdiri di belakang Ayu.Ayu tersenyum, lega rasanya ada orang yang mengenalnya.
Setelah upacara selesai, semua siswa di persilahkan masuk ke kelas masing-masing. Jofan berjalan beriringan bersama Ayu.
Berjalan perlahan mengimbangi langkah kaki Ayu yang tidak selebar langkah kakinya.
“Jofan, duduk di sebelahku saja.” Ayu melirik Jofan sambil tersenyum.
Ternyata Jofan sangat populer tanpa sahabat-sahabatnya sadari. Jofan mulai sedikit risih karena gadis-gadis di kelas ini mencoba mencari perhatian.
Jofan mengangkat tanganya, menempatkannya di pundak Ayu sedikit erat. Ayu tau saat ini Jofan sedang mencari perlindungan dari para gadis-gadis ini.
“Pura-pura saja jadi pacarku.” Ayu melotot mendengar ucapan Jofan. Tidak bisa melawan, tapi Ayu ngeri melihat tatapan mata para gadis yang cemburu padanya.
“Kita hanya berdua di kelas ini. Coba ada Sandra, pasti mereka semua mudur menjauhi Kak Jofan.” Sandra memang yang terbaik.
“Besok ada pekan raya di Kemayoran. Kau, Sandra dan Melani bisa datang? Aku akan kenalkan pada Mamah ku.” Jofan bahagia saat pekan raya tiba, dia bisa bertemu Mama setiap hari.
Biasanya Mama akan sibuk dengan segala macam kegiatannya, tidak ada lagi waktu untuk putra semata wayangnya. Semenjak kepergian Arumi, keluarga Jofan benar-benar hancur. Mereka semua merasa bersalah dan larut menyalahkan diri masing-maising.
Mereka tidak sadar ada Jofan yang masih membutuhkan kasih sayang dari mereka berdua.
“Benarkah, dia pasti wanita yang sangat cantik.” Ayu antusias dengan ajakan Jofan.
“Tenang saja, aku akan ajak Melani dan Sandra.” Tiba-tiba wajah Ayu sedikit sendu.
“kenapa?”
“Aku lupa jika sekarang aku sudah menikah, aku harus meminta ijin pada Kak Malik.”
“Nanti aku yang akan bicara padanya.”
__ADS_1
Padahal nyalinya juga ciut di depan Kak Malik. Jofan sedikit segan saat tau siapa sebenarnya Malik Saputra.
Dia bukan orang sembarangan seperti yang ada di benak Jofan sebelumnya. Dia memiliki kekuasaan yang cukup besar di dunia bisnis dan perekonomian negeri ini.
Jofan bahkan terkagum-kagum saat membaca profil pribadi Malik Saputra. Dia pemuda berambisi yang mampu membangun kerajaan bisnisnya sampai maju seperti saat ini.
Bahkan perusahaan nya banyak membantu para usahawan awam yang baru memulai karirnya.
“Janji yah, aku tidak berani meminta ijin padanya. Mata nya seperti mau membunuhku kalo aku salah bicara.” Ayu masih belum terbiasa dengan tatapan tajam Mata Kak Malik.
“Iya tenang saja.” Jofan sedang memikirkan cara agar Ayu bisa pergi bersama nya. Jofan bangga karena saat ini memiliki sahabat yang sangat berarti dalam hidupnya.
***
Wanita cantik dengan senyum yang menawan sedang duduk memberikan arahan pada para pegawainya. Mejelaskan tugas para pegawainya saat pameran berlangsung.
Sudah lama Tina tidak menginjakkan kakinya di tanah air, banyak kenangan pahit yang membuatnya pergi jauh dan menghindari gejolak jiwanya yang selalu membuatnya merasa bersalah.
“Bu maaf, ini ada telpon dari Rey.” Seorang pegawai menyerahkan telpon Tina yang berdering. Tina bahagia karena adik iparnya masih menyayanginya meskipun dia sudah bercerai dengan kaka kandungnya.
“Iya Rey, Kak Tina rindu sekali.” Terlihat gurat bahagia di wajahnya.
“Nanti mampir Yah, ajak Ana ya Rey.” Tina sudah mengakhiri sambungan telponnya.
Anak-anak yang menjadi korban karena perceraian mereka. Tina sangt menyayangi Rey seperti darah dagingnya. Sejak kecil Rey banyak menghabiskan waktu bersama dirinya. Rey yang selama ini jadi madu dalam kepahitan yang Tina jalani.
Tidak bisa kembali lagi ke masa lalu untuk memperbaiki semuanya. Perpisahan mereka jalan terbaik agar tidak ada lagi kenangan yang mengoyak jiwa secara perlahan.
Memutuskan harapan untuk menjadi orang yang lebih baik.
Hubungan Tina dan Ferdinan masih mesra, bukan cinta mereka yang hilang. Tapi mereka berpisah karena dihantui rasa bersalah yang tidak mampu mereka pendam.
“Kau sudan datang. Masuk lah, aku ingin dengar bagaimana Jofan hidup bersamamu 1 tahun ini. Aku sangat merindukannya.” Ferdinan memeluk tubuh wanita yang sangat dia cintai.
Ferdinan orang yang paling berdosa, tapi penyesalannya tidak bisa mengembalikan keadaan seperti sedia kala. Hati yang terluka tidak semudah itu kembali meskipun sudah memaafkan.
“Kenapa kau sangat tertekan? Apa ada masalah di sekolah?” Tina memijat pergelangan tangan Ferdinan agar sedikit relax.
“Tidak ada, semua baik-baik saja.” Ferdinan masih menyembunyikan rasa sedihnya.
Tidak mau merusak suasana bahagia seorang Ibu yang akan bertemu putranya setelah sekian lama.
Tina hampir setiap hari meminta Ferdinan melaporkan kegiatan Jofan padanya. Meski kadang Ferdinan tidak memberikan kabar setiap saat karena kesibukannya.
“Dia tumbuh jadi laki-laki yang tampan dan kuat seperti dirimu.” Ferdinan memeluk Tina, melepaskan kerinduannya selama ini.
“Terimakasih banyak sudah menjaganya selama ini. Aku banyak berhutang budi padamu.” Tina tidak bisa membendung air matanya.
“Kau harus membayarnya.”
“Bagaimana caranya?”
“Kembali padaku.” Tina memukul lengan Ferdinan yang mencoba merayunya. Tidak bisa di pungkiri cinta Tina begitu besar pada Ferdinan.
__ADS_1
Tapi hati mereka tidak bisa terpaut karena kesalahan di masa lalu. Sudah bertahan cukup lama, mencoba menganggap semuanya baik-baik saja, tapi tidak berhasil.
Bayangan dosa begitu kuat membuat mereka berdua menyerah dan berjalan masing-masing. Demi kebahagiaan Jofan.