Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 53 ( Udara Segar Puncak )


__ADS_3

Suasana malam di Puncak begitu menenangkan. Udara dingin menyeruak menembus lapisan kulit, namun tidak menyurutkan kebahagiaan dan keseruan malam ini.


Sudah sampai di puncak Ayu dan teman-temannya. Mereka langsung saja mampir ke salah satu rumah makan yang menyediakan jagung bakar dan minuman hangat.


Mereka bertiga berjalan bergandengan tangan, seperti pasangan kekasih yang baru saja bertemu setelah sekian lama.


Jofan hanya geleng-geleng kepala melihat ketiga sahabatnya yang selalau kompak namun suka berlebihan jika sudah bersama-sama.


“Apa kalian bisa bersikap normal? Kita jadi pusat perhatian karena kelakuan kalian bertiga!” Jofan merasa risih jadi puat perhatian.


“Itu bukan karena kami bertiga, tapi karena kamu Fan. Lihat mata yang melihat, mereka semua perempuan kegatelan yang tidak pernah melihat laki-laki tampan” Sandra emosi saat menyadari banyak mata yang memperhatikan pujaan hatinya. Jofan tersenyum mendengar Sandra mengumpat.


“Kenapa kamu emosi San?” Melani dengan polosnya menimpali.


“Kan dia, e....Jofan kan sahabat kita, kita harus saling menjaga kan? Betul kan Yu?” Mencari pembelaan.


Ayu hanya tertawa, sudah biasa melihat Sandra cemburu saat Jofan menjadi bahan pembicaraan. Melani saja yang tidak peka, padahal dia tau jika Sandra memiliki rasa lebih pada Jofan.


“Ya sudah, pesan dan kembali ke mobil. Kita makan jagung dan Wedang Jahe di Villa saja” Jofan juga merasa risih.


Setelah selesai, mereka berempat segera masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju Villa. Karena tidak sabar, mereka bertiga makan dan minum didalam mobil.


Ditengah perjalanan tiba-tiba saja Pak Kosim ngerem mendadak, Ayu yang sedang memegang air jahe hilang keseimbangan dan air jahe tumpah mengenai bajunya sendiri.


Air jahe yang masih cukup panas mengenai tangan Ayu dan mengotori bajunya yang berwarna putih. Alhasil mereka menepi dan Ayu membersihkan diri ke toilet.


Setelah selesai bersih-bersih, Ayu segera melangkah menuju mobil. Ada tangan yang secara tiba-tiba menarik hijab Ayu sampe peniti yang digunakannya terlepas. Untung saja tangan Ayu reflek menahan kerudung agar tidak terlepas dari kepalanya.


“Oh maaf...maaf yah. Tidak sengaja, hehehehe” Mata Ayu membulat melihat pelakunya. Sudah lama Lissa dan teman-temannya tidak menampakkan diri. Mereka sibuk mempersiapkan diri untuk ujian akhir.


Entah kenapa mereka semua harus muncul disaat yang seharusnya menjadi hari-hari yang membahagiakan. Batin Ayu


“Lepaskan Kak Lissa. Aku anggap ini ketidaksengajaan” Ayu menarik ujung hijabnya yang ditarik Lissa. Mempercepat langkah dan segera menyusul teman-temannya yang menunggunya di dalam mobil.


“Pergi kau yang jauh. Jika aku melihatmu lagi, aku akan membuat mu merasa sial sudah bertemu denganku!” Lissa mencoba menakut-nakuti Ayu.


Ayu tidak menghiraukan, dia sudah memaafkan perbuatan Lissa yang sudah-sudah. Dia merasa gadis ini hanya kesepian dan kurang kerjaan.


“Lissa, kenapa bersikap tidak sopan pada orang lain?” Klara menegur adiknya yang bersikap kurang ajar pada orang lain.


“Biarkan saja, dia sudah membuatku kehilangan cinta sejatiku. Bahkan aku sangat dibenci olehnya” Lissa sangat tidak suka karena Ayu membuat Jofan membencinya. Padahal salah dia sendiri.


Jofan melihat raut muka Ayu yang berbeda dari sebelumnya. Terlihat kekhawatiran dan kemarahan, tapi Jofan mencoba berpura-pura tidak mengetahuinya.

__ADS_1


Setelah perjalanan yang berliku-liku akhirnya mereka semua sampai di Villa keluarga Sandra yang cukup besar. Disana ada 2 rumah yang sangat besar bersebelahan. Entah siapa pemilik villa yang ada disebelah Villa yang mereka tempati.


Akhir pekan seperti ini membuat perjalanan cukup tersendat. Rasa penat terganti dengan pemandangan indah dan kesejukan udara yang dirasakan.


Mereka membereskan pakaian kedalam lemari yang ada dikamar masing-masing sebelum berkumpul kembali dan menghabiskan waktu bersama.


Ayu sudah duduk di balkon lantai 2, pemandangan yang menyajikan gemerlap lampu memanjakan mata. Berulang kali Ayu menarik napas panjang merasakan kesejukan. Dan tidak sadar saat ini Jofan udah berdiri dibelakangnya.


“Astaga Mas Jofan” Ayu memegangi dadanya yang jantungan melihat kehadiran Jofan yang tiba-tiba. Jofan tertawa melihat wajah Ayu yang terkejut.


“Apa sangat mengagetkan?” Jofan masih tertawa. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu terkejut” Jofan duduk disebelah Ayu, ikut menikmati pemandangan yang disajikan alam.


Kedua sahabatnya tidak kunjung muncul. Padahal Jofan dan Ayu sudah cukup lama duduk berdua di balkon.


“Apa mereka tidur?” Ayu penasaran


“Mana mungkin, mereka akan tidur setelah membuat kekacauan” Jofan memejamkan matanya.


“Tapi kenapa lama sekali” Ayu beranjak, tapi tangan Jofan menahannya.


“Apa ada yang membuatmu khawatir?” Jofan akhirnya bertanya setelah menimang. Takut membuat Ayu tidak nyaman.


“Aku baik-baik saja. Apa aku terlihat sedang khawatir?” Jofan melepaskan tangan Ayu.


Ayu meninggalkan Jofan dan menyusul kedua sahabatnya yang tidak kunjung muncul. Ayu menuruni tangga dan masuk ke dalam kamar Melani setelah tidak menemukan Sandra di kamarnya.


“Mel, San. Apa kalian ada disana?” Tidak ada Sandra ataupun Melani. Kemana mereka berdua yah. Saat hendak berbalik, Ayu mendengar bunyi gedoran pintu yang cukup keras.


Dor....dor...dor...


Terdengar gedoran pintu. Ayu mencari sumber suara dan berhenti didepan pintu besar yang berwarna putih. Ayu menempelkan telinganya pada daun pintu.


“Apa kalian berdua didalam?” Ayu mencoba memastikan.


“Yu, tolong kita Yu. Kita kekunci disini Yu” Melani berteriak sekuat mungkin, karena hampir seluruh ruangan kebal suara.


“Kenapa bisa? Kuncinya ada dimana San?” Ayu berlari keluar kamar. Mencoba berteriak memanggil Jofan yang ada dilantai 2.


“Mas Jofan, tolong Mas. Mas Jofan!!!!!” Ayu berteriak, Jofan segera muncul mendengar sahabatnya yang berteriak.


“Ada apa?” Jofan setengah berlari. “Kenapa ribut sekali?” Langkah kakinya panjang, membuatnya dengan cepat sampai dilantai bawah.


“Sandra dan Melani terkunci dikamar mandi” Ayu menarik tangan Jofan agar tidak banyak tanya dan segera membantu kedua sahabatnya.

__ADS_1


“Kalian apakan pintu ini?” Jofan heran karena pintu sebagus ini bisa rusak.


“Aku tidak tau, cepatlah buka!” Ayu kesal melihat Jofan diam saja. Malah banyak bertanya dan tidak melakukan apapun.


“Tentu saja kau tidak tau. Kan mereka berdua yang terjebak didalam” Jofan tersenyum.


Ayu menggaruk kepalanya, apa sebenarnya yang dirasa sahabatnya ini. Kenapa tumben sekali dia tidak bersikap normal seperti biasanya. Ketularan penyakitnya Kak Rey sepertinya.


Setelah berpikir beberapa lama, Jofan mencoba membuka satu persatu laci yang ada didalam kamar. Mencari keberadaan kunci cadangan yang dibutuhkan saat ini.


Lelah mencari tapi Jofan tidak kunjung menemukan kunci yang dia cari, akhirnya dia duduk meluruskan kakinya sambil berpikir.


“Mas, kenapa malah duduk? Kasian mereka didalam!” Ayu kesal melihat Jofan yang terlihat santai-santai saja.


Tidak dijawab, sekarang Jofan malah menidurkan tibuhnya diatas kasur. Ayu yang kesal melempar Jofan dengan bantal yang ada di sofa.


Lemparan tepat mengenai kepala Jofan, karena tiba-tiba Jofan duduk. “Aw...” Jofan meringis. Padahal tidak sakit. Wajah Ayu langsung pias, takut Mas Jofan marah.


Dia berlalu pergi meninggalkan kamar yang menjadi huru-hara kedua sahabatnya. Dia mencoba mencari bantuan karena tidak kunjung menemukan kunci cadangan.


Akhirnya ada penjaga Villa yang datang membantu setelah Jofan kesana-kemari mencari keberadaannya.


Cukup lama mengotak-atik pintu akhirnya penjaga Villa berhasil membuka pintu kamar mandi. Sandra dan Melani langsung saja keluar terbirit-birit. Takut pintu tertutup kembali.


Jofan menyambutnya dengan tertawa terbahak-bahak, merasa kasian sekaligus konyol karena ulah kedua sahabatnya.


“Bagus kalian ditemukan oleh Ayu. Coba kalo tadi Ayu langsung tidur? Apa kalian tidak tidur didalam kamar mandi!” Jofan kembali meninggalkan ketiga sahabatnya.


“Apa kalian baik-baik saja?” Ayu ikut duduk bersama Melani dan Sandra yang masih terlihat syok karena ulah mereka sendiri.


“Laki-laki itu memang tidak punya perasaan, bagaimana bisa dia tertawa sementara kita menangis!” Melani mendramatisir keadaan.


“Jangan macam-macam, kalo tidak ada Jofan kita masih ada didalam kamar mandi” Sandra bergidik ngeri.


“Aku yang menemukan kalian, Mas Jofan tidak akan tau jika aku tidak masuk” Ayu merasa dikhianati, dia yang menolong tapi Jofan yang bela Sandra.


“San, kamu seharusnya berterimakasih pada Ayu!”


“Iya iya, terimakasih sahabatku yang telah membantuku keluar dari dalam kamar mandi.” Sandra sungkem pada Ayu. Membuat ketiga sahabat itu merasa geli dan tertawa bersama.


Melani masih memegangi kertas putih yang diinjaknya didalam kamar mandi. Dia dan Sandra kembali btertawa mengingat kejadian sebelum mereka terkunci didalam kamar mandi.


Kertas putih bersejarah yang akan mengingatkan Sandra dan Melani akan sembrononya mereka berdua bertliskan “MOHON TIDAK MENUTUP PINTU KAMAR MANDI, SEDANG DALAM PERBAIKAN”

__ADS_1


__ADS_2