Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 78 ( Ice Cream Vanilla )


__ADS_3

Sinar mentari membumbung tinggi menyambut hangatnya pagi yang cerah. Hilir mudik silih berganti berjalan menyusuri jalanan yang masih sunyi. Banyak anak-anak muda yang lari pagi untuk menyehatkan jasmani.


Pagi ini ada senyum bahagia dari gadis cantik yang harus menjadi istri pengusaha kaya dengan usia belia. Semangat pagi ini berbeda dari biasanya, bahkan matanya tidak bisa terpejam sedari jam 2 pagi karena sangat antusias saat Kak Malik mengajaknya liburan.


Ayu sudah repot di dapur, menyiapkan makanan yang biasanya di siapkan oleh Bibi Susi sebagai Koki handal keluarga Rama selama 10 tahun terakhir. Tentu saja semua bahan makanan sudah Cloe amati dengan teliti sebelum masuk ke dapur Rama Saputra.


Ayu tidak asing dengan bahan-bahan makanan yang ada di dalam kulkas, dia terbiasa mengolah bahan-bahan makanan mewah saat bekerja di restaurant Kak Rey.


Matanya tidak bisa terpejam dan Ayu memutuskan untuk memasak menu sarapan untuk semua orang. Susi yang baru saja bangun terkaget saat melihat Ayu sedang asik dengan adonan bakwan jagung yang sedang dia aduk.


“Ya ampun nona muda, kenapa repot-repot menyiapkan makanan. Sini nona...” Susi mencoba mengambil alih adonan di tangan Ayu tapi di tepis lembut oleh Ayu.


“Tidak apa Bi, aku sudah biasa memasak kok. Lihat makanan nya sudah siap Bi. Tinggal adonan bakwan saja.” Ayu melirik meja yang sudah dipenuhi makanan hasil karyanya.


“Wah, Nona bangun jam berapa yah? Kok semua sudah rapih seperti ini.” Susi merasa bersalah karena Ayu mengerjakan tugasnya pagi ini.


Ayu tersenyum, Bi Susi mulai menyusun piring dan peralatan lain di atas meja. Sedikit kagum karena Ayu selalu ramah pada siapa pun yang ada di rumah besar ini.


Kehadiran Ayu seperti angin segar bagi mereka semua para pekerja rumah. Ayu sering kali membagikan makanan enak secara diam-diam pada para pelayan yang sudah bekerja keras seharian.


Awalnya mereka iri karena Ayu gadis dari kalangan biasa yang mendapat bintang jatuh dari sang pencipta karena bisa menikahi pemuda dari keluarga kaya raya. Tapi melihat kebaikan hatinya, membuat semua paham kenapa Tuhan begitu menyayangi gadis baik hati ini.


Malik terbangun dan tidak mendapati Ayu di sebelahnya. Malik mencoba mengetuk pintu kamar mandi, namun tidak ada siapapun di dalam sana. Malik memutuskan untuk turun ke bawah. Mencari sosok gadis yang dirindukannya setiap saat.


Tidak ada di manapun di sudut rumah yang biasa Ayu datangi, langkah Malik terhenti saat mendengar suara tawa Ayuna dari arah dapur. Malik melangkah perlahan memastikan lagi suara tawa yang dia dengar.


Kali ini Malik tersenyum, Ayu sedang asyik mengobrol dengan Bi Susi yang sudah cukup tua seusia Mamih. Bi Susi beringsut mundur saat melihat sosok laki-laki yang terdiam memperhatikan dirinya dan Ayu.


“Tuan Muda, sudah bangun Tuan.” Ayu membalikkan tubuhnya. Mendapati Malik yang saat ini sedang tersenyum dengan manisnya.


“Kak Malik mencariku? Lihat...” Ayu menghampiri Malik, menarik tangan Malik dan membawanya duduk di meja makan.


“Wah terlihat sangat berbeda, biasanya Bibi tidak kreatif saat masak.” Malik menyindir Bibi yang suka mengulang menu masakkan sering kali.


Duh, duh, perasaan masakkan Nona Muda sama aja. Tapi orang memang kalo jatuh cinta beda, apa saja terasa jadi luar biasa istimewa. Jerit Bi Susi dalam hati.


Malik mendapat cubitan kecil di jari kelingkingnya. Sedikit meringis tapi tidak berani mengaduh melihat tatapan Ayu yang begitu mengancam.


“Bibi juga sangat handal. Masakkannya selalu enak di lidahku. Aku coco Bi.” Malik meralat perkataannya demi Ayu.


“Terimakasih Tuan Muda.” Susi menyunggingkan senyum nya yang terpaksa.

__ADS_1


Paling juga terpaksa ini si Tuan Muda. Dia ya sudah lama tidak makan di rumah ini.


Sukanya minggat bikin orang satu rumah jantungan. Susi mengingat kelakuan Malik yang sering membuatnya kerepotan.


Malik menikmati makanan yang Ayu siapkan. Bukan karena Ayu yang membuatnya, tapi rasa makanan yang Ayu sajikan benar-benar berkelas. Rasanya Malik seperti sedang makan di restaurant bintang lima, kecuali bakwan jagungnya yah.


Mamih dan Ayah sudah memasuki ruang makan, sedikit kaget saat melihat Ayu dan Malik ada di ruang makan pagi ini. Terlebih lagi Malik yang terlihat lahap menikmati makanannya.


“Mamih, Ayah. Ayo kita makan bersama.” Ayu menyambut dengan hangat kedau orang tuanya.


“Tumben sekali anak ini makan di rumah, biasanya dia sudah pergi entah kemana.” Mamih mencubit paha suaminya yang terbalut celana piyama.


“Kau ini, kenapa mulutnya selalu saja memancing keributan.” Mamih mengalihkan pandangan pada kedua anaknya setelah puas mengancam Rama. “Kalian mesra sekali, aku iri melihat kalian berdua” Mamih menggenggam erat tangan Ayu yang dekat dengan jangkauan tangannya.


Ayu dengan telaten mengisi piring Ayah dan Mamih, menyendokkan menu demi menu ke dalam piring untuk mereka nikmati.


“Wah, ini berbeda sekali dengan masakkan Bi Susi. Siapa yang memasak sarapan ini?” Lidah Rama sudah hafal rasa masakkan Susi yang sudah menemaninya 10 tahun terakhir.


Sepertinya aku akan segera tergeser dari dapur tercinta ini. Suara hati Susi


“Jangan begitu Ayah, aku juga masih belajar.” Ayu memiringkan kepalanya tersenyum pada Susi yang masih berdiri di samping kompor membersihkan dapur. Susi pun tersenyum meskipun sedikit malu ketahuan merengut.


“Bakwan isi jagung ini belum pernah Ayah makan seumur hidup Ayah.” Rama tidak pernah makan makanan yang biasa di olah dapur rumahan.


Setelah menikah dengan Rama, Mamih tidak pernah lagi menjumpai bakwan jagung di meja makannya. Bahkan Mamih lupa dengan makanan enak ini.


“Ya, tolong buatkan Ayah lagi besok Ya Nak!.” Ayu bahagia karena makanan yang dia sajikan diterima dengan baik. Setelah ini aku harus meminta maaf pada Bi Susi karena merebut tempatnya.


“Enak saja, suruh saja Bi Susi membuat bakwan jagung. Nanti tangan istriku terluka.” Malik meraih tangan Ayu.


“Kau ini, memang Ayah menyuruhnya berperang, Ayah hanya menyuruhnya membuat bakwan jagung.” Ayah sendikit terseulut melihat Malik yang bersikap berlebihan.


“Kalian ini, tidak bisakah sehari saja kalian berdamai?” Mamih selalu pusing mendengar perdebatan mereka.


“Tenang saja Kak, aku wanita perkasa yang bisa mengerjakan apa saja.” Ayu mencoba menenangkan keadaan yang mulai memanas.


“Tidak, kamu tidak boleh menjadi wanita perkasa. Aku akan menjagamu.” Malik menyandarkan kepalanya di bahu Ayu dan memeluk pinggangnya dengan erat.


“Kau ini tidak malu. Banyak yang melihat, Malik. Seperti tidak ada waktu lain saja.” Ayah masih saja belum berdamai. Ayu berusaha menyingkirkan kepala Malik karena merasa tidak nyaman jadi tontonan.


“Kau seperti tidak pernah muda. Kamu bahkan dulu selalu menciumku di depan kedua orang tuamu.” Mamih menyeringai, membuat Rama malu mengingat kembali masa lalunya.

__ADS_1


“Mana pernah aku seperti itu.” Rama tersipu malu.


“Kau ini, tidak pernah mengakui perbuatanmu. Sadarlah, sifatnya sebagian ada dalam dirimu.” Mamih tetap bangga pada putranya.


Perdebatan tidak mereda begitu saja. Mereka masih saja tidak ada yang mau mengalah, mempertahankan argumen masing-masing tanpa ada yang mau di salahkan. Ayu sudah tidak asing lagi dengan pemandangan ini, dia sudah mulai bisa menyesuaikan dirinya dengan keunikan keluarga Kak Malik.


Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Ayu sudah siap 2 jam sebelum keberangkatan menuju Dufan.


Rasanya ingin segera meluncur, namun Kak Malik harus mengurus pekerjaannya yang tertunda beberapa hari karena mengurus pernikahan.


Aldo mendampingi Malik dan Ayu pergi ke Dufan. Malik tidak pernah mengurus hal remeh seperti ini. Bahkan Malik membooking Dufan hanya untuk dirinya dan Ayu, ditemani Aldo tentunya.


Akhirnya mereka sampai di tujuan dengan selamat.


“Apa tempat ini tutup? Kenapa tidak ada orang?” Ayu sudah membayangkan mengantri panjang seperti yang dia lihat di iklan.


“Untuk apa bersusah payah mengantri panjang.” Malik sedikit sombong.


“Tapi aku menginginkannya. Aku ingin sekali berdesakkan dengan orang lain menunggu giliran.” Malik mendelik ke arah Aldo, ini semua ide Aldo.


“Biasanya di drama-drama korea akan seperti itu Boss.” Aldo berbisik pada di telinga Malik yang meminta penjelasan. Aldo kebanyakan nonton drakor jadi kebanyakkan menghayal.


“Memang kamu pikir aku ini opa-opa korea yang kamu idolakan?” Malik berteriak pelan di telinga Aldo. “Lihat Ayu mulai sedih, cepat suruh orang-orang masuk dan menikmati wahana dengan gratis. Termasuk makanan juga gratis.” Malik meninggalkan Aldo yang mematung.


Mau mencari kemana orang sebanyak itu Boss. Aku bisa tidak kembali jika tidak membawa orang sebanyak yang Ayu mau.


Malik mengajak Ayu untuk menunggu beberapa saat dengan alasan tempat itu belum buka sepenuhnya, padahal waktu sudah menunjukkan puluk 11.30 WIB. Malik mengajak Ayu menikmati ice cream yang menggoda mata Ayu.


Hanya dengan lirikkan mata, Malik paham dan langsung menarik tangan Ayu menghampiri penjual ice cream yang sudah tersenyum ramah.


“Aku mau rasa coklat 1 ya Kak. Kak Malik mau rasa apa?” Ayu masih mengamati ice cream yang tersusun rapih di dalam wadah.


“Samakan saja” Ayu mendongak tidak percaya, laki-laki ini selalu mengikuti apa yang Ayu makan.


Sepertinya vanilla sangat enak, tapi aku malu jika harus meminta Kak Malik membelikanku lagi. Tapi lidahku sangat tergoda. Apa aku beli sendiri saja yah, aku bawa uang sedikit. Ayu merogoh isi tasnya.


“Kamu mencari sesuatu?” Malik melihat Ayu yang sedikit gusar.


“Tidak Kak, aku ingin membeli ice cream rasa Vanilla.” Memamerkan uang pecahan Rp.20.000,- yang ada di tangannya.


Malik tertawa, betapa lucu gadis kecil yang saat ini sudah menjadi istrinya. Bahkan dia tidak berani meminta 1 cup Ice Cream yang dia inginkan. Malik tidak bisa berhenti tertawa sampai Ayu merasa malu merasa terintimidasi.

__ADS_1


Tapi tetap saja setelahnya Kak Malik membawa Ayu memilih kembali Ice Cream yang dia inginkan.


__ADS_2