
Tengah malam Ayu terbangun, seluruh badannya mati rasa karena dingin yang menyeruak menusuk tubuhnya.
“Hzhzhzhz.....Dingin sekali rasanya” Ayu mendekap kedua tangannya. “ Mel, San. Ayo kita pindah, aku kedinginan” Ayu menarik tangan Sandar dan Melani agar bangun dan pindah kekamar.
Sandra menggaruk kepalanya, matanya masih lengket dan sulit dibuka. Setengah sadar dia berdiri dan berjalan kedalam kamar.
Ayu masih berusaha membangunkan Melani. Namun melani tidak kunjung bergerak, sepertinya dia memang tipe yang sulit dibangunkan.
Ayu menyerah dan memasuki kamar Sandra. Tidak berani tidur sendirian, akhirnya Ayu dan Sandra tidur dikamar yang sama setelah tidak berhasil membangunkan Melani.
Malam berganti pagi, sang surya sudah menyapa penghuni bumi agar segera bangun dan lekas beraktifitas.
Malam ini Malik sangat sulit memejamkan matanya. Masih teringat senyum Ayu terakhir kali yang sangat manis padanya.
Masih ingat betul Malik isi pembicaraannya dengan Rey. Awalnya Malik enggan bertemu dengan Rey, dia tidak mau bersahabat dengan orang yang Ayu sayangi. Dia pasti akan cemburu dan akan makin membenci orang itu tanpa alasan.
“Silahkan masuk. Kau pasti tidak pernah tau kalo kita dulu satu kampus dan satu kelas saat kuliah di Jerman” Rey membuka pembicaraan saat Malik dan dirinya sudah duduk didalam ruangan VVIP restaurant.
Malik mengernyit, dia mencoba mengingat wajah Rey yang sama sekali tidak pernah dia jumpai dimasa lalunya.
“Aku sepertinya tidak banyak bergaul, sampe tidak mengenalmu padahal kita satu kampus dan satu kelas” Malik datar saja, jelas saja mereka mengenalnya. Selain anak konglomerat, Malik terkenal berprestasi dan tampan.
“Kau bisa saja, aku mengundangmu karena ingin meminta bantuan” Sudah mulai tegang. Malik mengubah posisi duduknya menjadi tegap.
Tok...Tok...Tok
Moana memasukkan kepalanya dari balik pintu. “Apa aku bisa masuk? Aku membawakan beberapa hidangan” Masih diambang pintu menunggu ijin.
“Masuklah sayang” Rey mempersilahkan kekasihnya untuk masuk. Ana gadis yang tidak banyak bicara, dan pasti dia hanya akan menjadi pendengar setia saja.
Selesai menghidangkan makanan, Ana bermaksud keluar dan meninggalkan mereka berdua. Tapi Rey mencegahnya dan membawanya duduk disampingnya.
Tidak melepaskan tangan Ana yang digenggamnya di bawah meja, Rey melanjutkan percakapannya dengan Malik.
“Ini kekasihku, dan kami akan segera menikah” Rey memperkenalkan Moana. Malik mengangguk sopan sambil tersenyum dan Ana membalas dengan anggukan kepala dan senyum yang tidak kalah manis dari senyum Malik.
“Aku mengenalnya, beberapa lukisan yang ada di rumah dan kantorku adalah hasil karyanya” Mata Ana berbinar, seolah mendapat penghargaan orang sekelas Malik mengenali dirinya.
Baru saja ingin memamerkan beberapa hasil karyanya, tangan Rey yang menggengamnya menarik tangannya. Matanya melotot seolah tidak suka dengan senyum yang dia sunggingkan pada Malik.
Ana mengurungkan niatnya untuk pamer beberapa lukisan yang baru saja selesai dia garap. Dan hanya ucapan terimaksih yang keluar dari bibirnya yang merah jambu.
“Terimakasih sudah mau mengenal dan menggunkan karyaku Kak” Sekarang ada raut kecewa dimuka Ana. Rey merasa bersalah melihatnya, tapi Rey lebih tidak siap melihat kekasihnya akrab dengan pria lain.
“Jadi bagaimana, apa sebenarnya yang membuatmu mengundangku kemari?” Malik mengalihkan suasana agar tidak kaku karena kalakuan Rey yang kekanakan menurutnya.
__ADS_1
“Apa kau kenal laki-laki ini?” Rey menyodorkan sebuah foto.
“Siapa mereka? Gadis ini sedikit mirip dangan Ayuna” Malik semakin penasaran.
“Ini adalah Oji dan Arumi” Rey menghela napas, terlihat beban besar yang masih menggangunya beberapa hari ini.
“Apa hubungan mereka denganku?” Malik bersandar, menerka-nerka maksud dari ucapan Rey yang tidak ada jawaban dalam benaknya.
“Sepertinya wajah ini yang membuat Oji sangat terobsesi dengan Ayu. Dia mendekati Ayu karena merasa Ayu ada kemiripan dengan Arumi” Malik masih mencerna ucapan Rey.
“Mereka sepasang kekasih?” Rey berputar-putar, membuat Malik berspekulasi karena tidak sabar menunggu penjelasan dari Rey.
“Benar, tapi hubungan mereka tidak sehat. Aku dan Kakaku kehilangan Arumi saat usianya masih sangat belia. Banyak hal terjadi diluar kendali kami” Pandangan Mata Rey sendu.
“Mereka berpacaran, berhubungan layaknya suami istri. Oji mengajarkan Arumi cara menggunakan obat-obatan terlarang untuk menghilangkan rasa sakit yang dideritanya.
Sampe Arumi harus kehilangan nyawanya” Nafas Rey mulai berat. Bibirnya kelu mengingat kepahitan yang menimpa keponakannya yang masih belia.
“Apa mereka tida diawasi? Kenapa kalian tidak merawat Arumi dengan benar?” Malik merasa geram mendegar Arumi diperlakukan dengan keji dan tidak diperhatikan.
“Kami semua lalai, sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing dan membiarkan Arumi dan Jofan tumbuh seorang diri. Kami memang bersalah dalam hal ini. Tapi bukan itu yang ingin aku sampaikan dari cerita keponakanku”
“Apa kalian khawatir dengan Ayu?” Malik sudah mulai paham arah pembicaraan.
“Benar, Oji bukan pemuda biasa yang bisa kita biarkan berada disekitar Ayu. Dia bisa saja menjerumuskan Ayu dengan caranya” Terlihat jelas kekhawatiran dalam wajah Rey.
“Siapa dia? Apa punya pengaruh besar?” Malik tidak terlalu menegenal Oji. Karena satu tahun ini keberadaannya tidak nampak olehnya.
“Ayahnya mafia besar dan terkenal di Jakarta ini. Kami saja tidak berhasil menjurumuskannya kedalam penjara” Sekarang raut muka Rey berubah memancarkan kebencian yang dalam.
“Aku tidak pernah berurusan dengan mereka semua. Aku akan mencari tau kelemahan mereka dan mejauhkan Oji dari Ayunya” Malik berdiri. Sepertinya pembicaraannya sudah cukup jelas dan sudah menemukan titik terang untuk keselamatan Ayu.
Malik tersadar dari lamunannya. Dia bergegas mengambil handpone dan menghubungi Aldo, padahal ini adalah akhir pekan.
Tut...Tut...Tut...
“Iya Bos, ada yang bisa saya bantu Bos?” Aldo sedang ditoilet saat menerima telpon dari Malik. Dimanapun kapanpun harus dibawa.
Dan benar saja Malik menghubunginya pada waktu yang kurang tepat.
“Apa kau bisa mencari tau tentang foto yang ku kirim barusan ke handponemu?” Aldo segera membuka pesan di HP nya.
“Aku akan segera mencari tau Bos. Beri waktu 1x24 jam” Aldo merasa yakin karena memiliki koneksi yang luas. Secara Aldo adalah sekertaris Malik yang sudah bekerja cukup lama.
“Terlalu lama, aku beri waktu 4 jam kedepan. Segera laporkan hasilnya”
__ADS_1
Plung..... (Terdengar suara aneh dari balik telpon)
“Kau sedang berada ditoilet?” Malik merasa jijik mendengarnya.
“Maaf Bos, aku tidak bisa menahannya” Aldo merasa frustasi dengan perutnya yang tidak bisa berkompromi.
“Kau sangat menjijikan Al, cepat selesaikan dan kerjakan perintahku” Malik menutup telponnya. Malik geleng-geleng kepala dengan kelakuan Aldo yang menjijikan.
***
Terdengar suara ribut ketiga sahabat yang membuat Jofan terbangun dari tidurnya.
Mereka pagi-pagi sudah sangat ramai mengotori dapur dengan berbagai macam bahan makanan.
“Apa kalian bisa berdamai sedikit denganku? Aku sangat mengantuk dan masih ingin tidur sebentar lagi” Jofan frustasi karena sangat berisik. Berteriak pun percuma, mereka hanya diam sebentar dan kembali berisik seperti pasar.
“Mas Jofan, coba cicipi ini” Ayu menyuapkan sup, Jofan merasa tersudut dan membuka mulutnya dengan terpaksa.
Ayu menunggu komentar dari Jofan tentang masakannya. Tidak ada tanggapan, Jofan hanya sibuk mengunyah potongan daging yang masuk kedalam mulutnya.
“Apa tidak ada penilaian?” Ayu mamasang wajah kecewanya.
Jofan mendengus kesal melihatnya. “Kenapa tampangmu selalu membuatku ingin tertawa!” Jofan menyentil Ayu.
“Aw.... Berikan saja nilai dari 1 sampai 10. Sup ini ada diangka berapa?” Masih tidak menyerah dengan Jofan.
“Hmmmm..... (Lama berpikir membuat Ayu sedikit kesal ) Aku beri angka 7” Ayu berlari meninggalkan Jofan yang membuatnya menunggu.
“Apa enak katanya?” Sandra penasaran
“Kata Mas Jofan nilainya 7”
Yeayyyy.... Mereka bertiga lompat-lompat kegirangan mendengar penilaian Jofan. Sandra berhasil memasak sup sesuai dengan selera lidah Jofan.
Tok....tok...tok...
“Mel, tolong bukakan pintu. Aku masih belum selesai dengan makananku” Sandra sibuk mencicipi hidangan yang akan mereka makan bersama.
Melani bergegas membuka pintu yang diketuk sedari tadi. Jofan yang mendegarnya tidak merespon, dia masih sibuk menenggelamkan wajahnya pada bantal.
Krek.... (Suara pintu terbuka)
“Selamat pagi. Aku membawakan makanan sebagai salam kenal” Melani tekejut saat melihat gadis yang berdiri didepannya.
“Bagaimana bisa?”
__ADS_1
“Aku tinggal disebelah kalian. Jadi kita akan party bersama nanti malam yah. aku sudah siapkan banyak makanan lezat” Lissa meninggalkan Melani yang masih mematung didepan pintu.