
Ferdinan termenung di ruang kerja, teringat akan perbuatan bejadnya pada gadis muda yang saat itu bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Kebiasaan buruknya menenggak minuman keras membuatnya tidak bisa membedakan istri dan perempuan lain yang ada di hadapannya.
Flash Back
Lia masih berusia 19 tahun saat bekerja menjadi Pembantu Rumah Tangga di Jakarta. Niatnya bekerja untuk membantu suaminya yang saat itu juga tinggal di Jakarta bersamanya sebagai supir pribadi dari keluarga kaya raya.
Lia dan Hadi terpaksa berpisah dan hanya bertemu pada akhir pekan saat libur kerja. Sehari-hari Lia banyak menghabiskan waktu menemani istri dari Ferdinan yang sedang hamil muda, usia kandungannya baru memasuki 3 bulan.
Seminggu bekerja Lia bahagia karena mendapatkan majikan yang sangat baik dan menganggapnya seperti keluarganya.
Ferdinan tidak banyak berinteraksi dengan Lia karena sibuk dengan pekerjaannya.
Sedangkan Mariam Martina yang Lia panggil Nyonya Tina saat itu lebih banyak waktu karena sengaja mengurangi pekerjaan demi kesehatan buah hati yang ada dalam kandungannya.
Lia adalah wanita yang rajin, gesit dan jujur di mata Tina. Dia sering membicarakan kekagumannya terhadap Lia pada suaminya.
Pasangan pengantin yang langsung di beri momongan setelah menikah itu terlihat baik-baik saja dan bahagia di mata Lia.
Lia tidur di kamar belakang dan tidak terbiasa memasuki rumah utama setelah jam 7 malam. Biasanya Lia hanya di panggil saat ada keperluan yang mendesak dan tidak bisa diselesaikan sendiri oleh Nyonya Tina.
Akhir pekan ini Nyonya Tina memberikan libur 2 hari kerja, karena 1 bulan ke depan Tina akan ada fashion show yang mengharuskannya tinggal di luar kota. Karena tidak ingin terlalu lelah jika harus mondar mandir Jakarta Bandung.
Mariam Martina adalah wanita cantik yang menikah saat usianya sudah memasuki 35 tahun. Karir yang dia kejar sebagai Designer Internastional membuatnya lupa akan kebutuhannya sebagai manusia untuk berkeluarga dan meneruskan garis keturunan.
Kedua orang tua Tina akhirnya menjodohkan Tina dengan laki-laki yang lebih tua darinya 5 tahun. Mereka takut jika tidak di jodohkan, Tina akan selamanya sendiri menjadi perawan tua.
“Mas, aku hari ini pamit untuk tidak pulang 1 bulan ke depan ya Mas!” Lia bersandar di dada Hadi yang kurus.
“Iya, mana kamu lagi halangan ya Dek. Mas libur nih satu bulan?” Hadi mengacak rambut Lia yang hitam panjang tergerai.
“Iya, kita libur kaya anak sekolah ya Mas, heheheheh.” Lia tertawa dengan percakapan yang tidak jelas ini.
Kadang kebahagiaan tidak dapat di ukur dengan materi dan harta benda. Saling menyayangi, memiliki dan memahami terkadang menjadi kebagaiaan tersendiri bagi pasangan suami istri. Melihat satu sama lain bahagia dan nyaman ada di samping kita sebagai pasangan membuat batin tentram.
Hari ini Tina dibantu Lia menyiapkan segala macam keperluan yang akan di butuhkan saat berada di Bandung. Mempersiapkan segala sesuatu dan memberi tau Lia apa saja yang biasanya dia siapkan saat suaminya berangkat dan pulang kerja.
Selama Tina di Bandung, Lia akan membantu menyiapkan segala sesuatu yang di butuhkan Ferdinan. Lia tidak keberatan karena Ferdinan orang yang pendiam dan tidak banyak berinteraksi dengan dirinya.
Saat sedang mempersiapkan makanan di dapur, Lia meminta ijin pada Tina untuk berganti pembalut karen merasa sudah tidak nyaman.
__ADS_1
“Nyonya boleh saya ijin sebentar, saya mau ganti pembalut. Sudah tidak nyaman sekali rasanya.” Tina menggoyang-goyangkan kakinya yang terasa gatal di bagian intimnya.
“Tentu saja, pergilah.” Tina tersenyum melihat tingkah Lia yang seperti sedang menahan buang air kecil. Seperti kebiasaannya selama hamil muda.
Setelah semua selesai dan siap, Ferdinan mengantarkan Tina ke Bandung. Cuti kerja sudah dia ambil selama 2 hari. Lia sebenarnya takut berada di rumah besar sendirian, namun karena pekerjaan mau tidak mau Lia harus menerima segala resikonya.
Setelah 2 hari berlalu, Ferdinan terlihat sudah pulang dan duduk di ruang tamu sambil membaca koran. Lia tidak mengetahui Tuan nya yang sudah pulang karena tidak membangunkannya.
“Tuan sudah pulang? Sudah sarapan Tuan?” Lia berdiri di belakang Ferdinan.
“Lia, tolong buatkan saya kopi saja. Saya tidak terbiasa sarapan pagi.” Dengan sigap Lia berlari ke dapur membuatkan kopi.
Kemaren Nyonya bilang Kopinya 1 sendok makan dan gulanya satu sedok makan lebih sedikit. Lia berbicara sendiri mengingat pesan-pesan Tina.
“Silahkan Tuan. Saya tinggal ya Tuan. Mau beres-beres di lantai atas.” Lia sedikit menunduk.
“Hmmmm....”Hanya terdengar gumaman di telinga Lia. Lia berjalan sambil mendengus sedikit kesal karena tidak di hiraukan.
Tuan ini memang susah sekali berbicara, suaranya sangat mahal untuk di keluarkan.
Semenjak saya kerja di sini, hanya mendengarnya berkata Hmmmm, Iya, berangkat dan apa yah. Lia menggeleng, rasanya tidak ada perkataan lain yang pernah Lia dengar. Oh iya, tadi Tuan berkata cukup panjang pada saya. Hehehehe, tertawa sendiri.
Rumah masih sangat rapih, Lia membersihkannya setiap hari meskipun tidak ada penghuninya. Lia terbiasa mengerjakan semua pekerjaannya dengan gesit. Tidak membiarkan rasa malas menggangunya sehingga penghuni rumah nyaman dan aman.
Seperti biasa Ferdinan berangkat kerja tanpa berpamitan. Lia sudah terbiasa dengan Tuan nya yang bersikap seolah Lia tidak ada. Saat sedang membereskan meja, Lia mendapati kunci rumah yang biasa Ferdinan bawa tertinggal di atas meja.
Wah, ini Tuan pasti lupa bawa kunci. Mana kalo pulang selalu malam, alamat ini mah harus bergadang. Padahal kata Bang Roma bergadang itu tidak baik. Hehehe....melucu sendiri, tertawa sendiri.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB, mata Lia rasanya sudah tidak bisa berkompromi. Berkali-kali Lia menguap dan memukul pipinya pelan untuk menghilangkan rasa kantuk, tapi tetap saja matanya tidak bisa di ajak kerja sama. Akhirnya setelah pertempuran sengit melawan kantuk, Lia pun tertidur di sofa ruang tamu.
Hujan deras membuat suasana adem dan nyaman untuk tarik selimut dan memasuki alam mimpi. Lia tidak mendengar saat ada langkah kaki yang menghampirinya. Lia tertidur lelap dan tidak terbangun dengan suara Ferdinan yang bising khas orang mabuk.
Di mata Ferdinan, dia seperti sedang mendapati istinya yang selalu menunggunya pulang tertidur di sofa. Selangkah demi selangkah Ferdinan maju mendekati sofa tempat Lia berbaring. Matanya samar karena sedikit oleng oleh minuman keras.
Berkali-kali menggelengkan kepala untuk meyakinkan diri siapa yang sedang ada di hadapannya. Senyum menyeringai, hanya ada bayangan istri tercinta di matanya.
“Kau sudah pulang? Apa kau rindu padaku?” Ferdinan menjatuhkan tubuhnya di samping Lia. Mengelus pipi Lia yang mulus tanpa jerawat.
Lia sedikit terganggu karena ada tangan yang menggerayangi wajahnya. Lia memaksakan matanya untuk terbuka, melihat sosok Ferdinan yang duduk begitu dekat dengan tubuhnya, Lia sontak duduk dan mencoba menyingkirkan tangan Ferdinan yang memeluk erat pinggul nya.
__ADS_1
“Tuan maaf. Saya ketiduran, saya permisi Tuan.” Lia mencoba berdiri menghindari Ferdinan. Namun Ferdinan menarik tangan Lia dan menjatuhkannya kembali ke sofa.
“Jangan ber akting. Aku sangat merindukan mu sayang.” Ferdinan mencium Lia dengan penuh napsu. Lia sampai-sampai susah bernafas kerena ciuman Ferdinan begitu lama.
“Tuan, aku Lia. Bukan Nyonya Tina!.” Lia berteriak di telinga Ferdinan setelah melepaskan diri dari ciuman Ferdinan.
Entah apa yang merasuki Ferdinan. Kata-kata Lia seolah tidak terdengar di telinganya. Isak tangis wnanita cantik yang masih sangat muda tidak di hiraukan. Ferdinan sudah terbakar oleh nafsu setan yang membara dalam dirinya.
Lia mencoba melarikan diri berkali kali namun Ferdinan mengekangnya dengan kuat.
Tenaga nya berkali-kali lebih kuat dari tubuh kecil Lia yang ada di bawah kungkungannya. Ferdinan sudah kehilangan kewarasannya.
Dia mengira Lia adalah istri tercintanya yang saat ini sedang ada di Bandung. Padahal dari postur tubuh dan segalanya Lia dan Tina sangatlah jauh berbeda.
Lia hanya mampu menangis, pertahanannya sudah di jebol paksa dan tidak mampu menghindar lagi. Entah apa yang akan dia lakukan setelah semua ini. Lia yang begitu terpukul pingsan tidak sadarkan diri. Tuan yang salam ini dia hormati telah menodainya dengan kejam.
Setelah selesai melampiaskan nafsunya pada Lia, Ferdinan sedikit terkejut dan sadar dengan perbuatannya. Dia berlari ke kamar mandi yang ada di ruang tamu dan membasuh mukanya. Menyegarkan otak kotor nya yang sudah melukai Lia.
Apa yang telah saya lakukan. Saat kembali ke ruang tamu, Lia sudah tidak ada di sana. Ferdinan berlari ke kamar Lia yang ada di belakang namun pintu kamar terkunci dari dalam.
“Lia, tolong dengarkan. Aku tidak bermaksud melakukannya. Tolong percaya padaku Lia.” Ferdinan menggedor pintu kamar dengan sangat keras namun Lia tetap tidak membukakan pintu.
Lia hanya terisak di dalam lamar. Tidak tau harus bagaimana dan berbuat apa. Lia bingung mendapati dirinya dalam suasana yang sangat dia benci.
Dua hari Lia tidak keluar dari dalam kamar, Ferdinan bolak-balik mengecek kamar Lia dan mencoba membujuknya dengan segala cara. Tapi Lia tetap tidak merespon Ferdinan.
Ferdinan tidak habis akal, sudah dua hari dan dia tidak makan apapun sejak itu. Jika dibiarkan Lia bisa mati karena dehidrasi pikir Ferdinan. Padahal Lia keluar mencari makan saat malam hari menghindari Ferdinan.
Akhirnya Ferdinan membuka paksa pintu kamar dengan cara merusak pintu dengan palu dan perkakas lain yang mampu membantunya membobol pintu. Lia yang ada di dalam kamar sudah gemetar hebat. Takut jiak Tuan akan membunuhnya karena selama 2 hari tidak menghiraukannya.
Brakkkk....
Pintu berhasil di buka paksa, terlihat Lia yang sedang duduk di pojok dekat lemari memeluk kedua lututnya dengan mata sembab dan lingkaran hitam di matanya.
“Lia dengarkan aku. Kemaren itu aku benar-benar tidak bermaksud berbuat hal yang tidak senonoh. Aku benar-benar mengira jika itu adalah Tina.” Ferdinan berjongkok mendekati Tina.
Tina hanya meneteskan air mata. Tidak sanggup berkata-kata karena masih sangat terguncang dengan perbuatan Ferdinan.
“Tolong jangan katakan apapun pada Tina. Aku sangat meyayanginya, jika kamu memberitahunya, Sudah bisa di pastikan dia akan meninggalkan ku dan membeciku. Tolong Lia, jika tidak mau berbelas kasihan padaku, tolong berbelas kasihn pada calon anak kami Lia.” Lia sedikit tersentuh, selama ini Nyonya Tina sangat mencintai anak yang ada di dalam kandungannya.
__ADS_1
Dia selalu menjaga apapaun yang dia makan demi anaknya. Dia harus sehat agar punya anak yang sehat dan kuat. Tidak mau menggunakan make up apapun selama hamil, dia takut akan berdampak buruk pada anak yang ada di dalam rahimnya.
Lia sangat paham karena hampir setiap hari menghabiskan waktu bersama dengan Nyonya Tina. Terlebih Tina sangat menyayanginya seperti saudara. Tidak menganggapnya orang lain.