Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 194 (Jangan Berhenti)


__ADS_3

Hari ini semua sudah kembali normal, semua orang sudah kembali dengan rutinitasnya yang sempat beberapa hari ini tidak berjalan karena harus bersembunyi dan berjuang melawan kejahatan. Malik pagi-pagi sekali sudah mengantarkan Ayu ke sekolah untuk mengikuti ujian akhir di hari terakhir ujian.


Jalanan sedikit tersendat, Malik menyempatkan mampir ke toko roti untuk membelikan Ayu dan teman-temannya sarapan. Ayu menolak sarapan karena takut sakit perut saat sedang mengerjakan soal.


Ayu sempat complain karena Malik akan membuang waktunya jika mampir untuk membeli sarapan. Tentu saja tidak mudah mencegahnya, Malik tetap bersikeras dan tidak mau mendengarkan permintaan Ayu. Dia harus tetap memastikan Ayu mengisi perutnya sebelum memulai harinya.


“Kenapa beli banyak sekali Kak!” Ayu membantu Malik membukakan pintu mobil. “Apa Kaka sedang suka makan roti?” Malik tersenyum mendengar ocehan Ayu yang membuat dirinya bahagia. Meski bising, tetap saja dia terlihat sangat manis.


“Kenapa kau sangat cerewet sayang. Masuk lah, kita bisa terlambat kalau kau tidak berhenti bicara.” Ayu mengikuti Malik yang menarik tangannya.


Malik kembali melajukan mobil menuju sekolah, untung saja jalanan yang macet sudah lebih lancer. Ayu bisa sampai sebelum bell berbunyi. Malik membuka kaca mobil dan menyerahkan tentengan pada satpam yang menjaga gerbang sekolah. Senyum penuh rasa terimakasih terpancar dari wajah Satpam yang menerima makanan dari Malik. Ayu jadi ikut senyum-senyum melihat Malik yang jadi dermawan pagi ini.


Pembicaraan tentang sedekah yang Ayu sampaikan pada Malik ternyata sangat bermanfaat, Malik mengikuti kemauan Ayu agar dirinya lebih perhatian dan lebih dermawan pada orang lain. Ayu mencium tangan Malik gemas, Malik sampai kaget Ayu tersenyum sangat manis padanya. Malik hanya merasakan perasaan aneh saat melihat dan mendengar orang lain berterimaksih padanya.


“Apa Kak Malik melakukan ini karena aku?” Malik memarkirkan mobilnya, segera turun dan membuka pintu belakang untuk menurunkan roti yang dia beli. “Jawab Kak, kenapa kau dari tadi hanya tersenyum, aku penasaran!!!” Ayu bergelayut di tangan Malik yang sibuk dengan roti-roti yang tersusun rapih di dalam dus besar.


“Tentu saja tidak, tapi aku ingin merasakan apa yang kamu ceritakan dengan berbagi dengan sesama.” Mata Ayu berbinar menunggu kalimat selanjutnya. “Benar! Ada kebahagiaan yang tidak bisa kita ungkapkan dengan kata-kata.” Ayu memeluk gemas Malik.


“Hmmmm….Hmmmmm…” Ternyata ada Sandra dan Melani yang memperhatikan mereka berdua. Ayu langsung melepaskan pelukannya saat melihat dua sahabatnya. Malik melepas kardus roti dari tangannya.


Malik balik memeluk Ayu di depan Sandra dan Melani, Ayu meronta berusaha melepaskan pelukkan Malik tapi tidak berhasil. Malik menyeringai puas, Sandra dan Melani kabur karena Malik melotot mengerikan.


“Tunggu….!!!!!” Teriak Ayu pada kedua sahabatnya. “Kak lepaskan Kak! Aku malu.” Malik masih tidak melepaskan Ayu. “Kak aku bisa terlambat.” Suara Ayu memelas agar Malik melepaskannya. Senyum Malik bertambah iseng melihat wajah Ayu yang bertingkah sedih.


“Kau malu aku peluk di depan banyak orang!” Ayu mengangguk dengan mata sendu. “Tapi aku suka melakukannya.” Malik berbisik di telinga Ayu. Bibir Malik menyeringai, akhirnya Malik melepaskan Ayu karena tidak tega melihat wajahnya yang sudah merah.


“Kenapa Kakak suka sekali mengerjai aku.” Ayu manyun karena Malik membuatnya kesal. Ayu merapihkan jilbabnya yang berantakan karena ulah Malik.


“Jangan kesal padaku, aku sedang bahagia hari ini.” Malik menggandeng tangan Ayu. “Selesai ujian aku akan mengajak mu menjenguk Mbak Murni.” Ayu kembali antusias mendengar kata-kata Kak Malik yang sangat membahagiakan. Ayu sudah merengek beberapa hari ini meminta Malik mengijinkannya bertemu dengan Mbak Murni

__ADS_1


“Jangan telat ya Kak. Aku selesai jam 2 siang.” Malik hanya tersenyum.


“Jofan!” Teriak Malik saat melihat Jofan yang duduk di teras kelas sambil membaca buku. Malik mendekat karena Jofan hanya mengangkat kepalanya dan tidak bergerak sedikit pun. “Tolong bagikan pada teman-teman mu yang hari ini ikut ujian.” Jofan tersenyum dan berlalu begitu saja meninggalkan Malik tanpa sedikitpun kata-kata. Malik menggeleng heran dengan sikap Jofan yang sangat dingin.


“Semoga ujian mu lancar hari ini, ingat saat kau tidak tau jawaban yang harus kau tulis di lembar jawaban.” Ayu mengernyit, penasaran dengan apa yang sedang Kak Malik pikirkan di kepalanya.


“Apa yang harus aku ingat?” Menanggapi meski tau jawabanya pasti konyol.


“Wajah suami mu yang tampan, yang akan memberikan semua jawaban yang kamu butuhkan.” Ayu tidak bisa menahan tawanya. Malik merasa senang dengan suasana pagi yang penuh kebahagiaan seperti hari ini.


“Cepat!” Tawa Ayu terhenti seketika kerena terkejut dengan kemunculan Jofan yang tiba-tiba di depan wajahnya. “Kau tidak malu memadu kasih di depan anak-anak bau kencur seperti kami!.” Jofan menggeleng merasa geli. “Kami semua masih di bawah umur!” Jofan menarik tangan Ayu masuk ke dalam kelas. Malik tidak menanggapi kemarahan Jofan, dia hanya cemburu karena Ayu miliknya seutuhnya.


Malik melambaikan tangan pada Ayu yang masih tersenyum padanya. Dia sangat manis membuat Malik enggan meninggalkan kelas. Jofan yang geram dengan cepat bertindak, menutup tirai agar Malik tidak bisa melihat ke dalam kelas. Malik senang bisa membuat Jofan kesal padanya.


Malik segera meninggalkan sekolah setelah puas menjahili Jofan dan selesai berkeliling menyapa beberapa guru yang hari ini hadir mengawasi ujian akhir. Untung saja kantornya tidak jauh dari sekolah, dia bisa dengan leluasa datang dan pergi tanpa terjebak macet yang panjang.


Aldo tentu saja sudah menunggu Malik di depan lobby dengan wajah sumringahnya. Malik sampai malu saat karyawan lain lewat dan memperhatikan senyum Aldo yang sangat konyol pada Malik. Dia meresahkan membuat Malik bergidik ngeri.


Untung saja lift yang Malik gunakan khusus, jadi dia tidak perlu lagi menahan malu atas sikap Aldo padanya. Dia bisa dengan leluasa memaki Aldo, meski yang di caci maki tidak mau mendengarkan. Telinganya hanya berfungsi untuk tugas yang Malik sampaikan, tapi tidak dengan permintaan pribadinya agar tidak tersenyum dengan wajah menyebalkan.


Rera yang melihat Malik datang langsung memasuki ruangan Malik untuk menyerahkan materi meeting pagi ini. Rera hanya tersenyum mendengar cacian Malik dan Aldo yang tidak di tanggapi. Baginya pemandangan seperti ini sudah tidak asing lagi.


Rera berjongkok di lantai, tiba-tiba saja kepalanya berputar dan pandangan matanya jadi gelap. Aldo memapah Rera agar duduk di sofa yang ada di ruangan Malik.


“Kau baik-baik saja? Apa kau tidak enak badan?” Malik membuat Aldo heran.


“Jangan banyak bertanya Tuan. Biarkan Rera menenangkan dulu tubuhnya yang lemah.” Malik menatap Aldo heran, sejak kapan dia jadi orang yang sangat bijaksana.


Aldo lari mengambil gelas berisi air putih yang ada di meja Malik. Dia bahkan tanpa permisi memberikan air minum Malik pada Rera.

__ADS_1


“Jangan, itu milik Tuan Malik.” Aldo duduk di sebelah Rera yang awalnya berjongkok di depan Rera.


“Jangan khawatir, Tuan Malik punya hati seperti malaikat ternyata. Kau tidak akan tau karena tidak melihatnya sendiri.” Rera menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Malik tersanjung sampai senyum-senyum sendiri. “Boleh Tuan?” Menatap Malik dengan tajam.


“Hahaha...Boleh, minum Rera, jangan sungkan.” Malik tertawa tanpa alasan. Aldo membuatnya terlihat bodoh di depan Rera.


“Maaf Tuan.” Rera meneguk habis air putih tanpa sisa. Sakit di kepalanya sudah sedikit berkurang, perutnya benar-benar bergejolak seakan ingin memuntahkan isi sarapan yang dia makan pagi ini.


Rera lari tanpa bicara apapun, Aldo yang panik mengikuti Rera agar dia tidak terluka. Malik yang juga ikut khawatir segera menghubungi Pras. Malik meminta Pras membawa Rera ke dokter agar mendapat perawatan. Setelah mengurus masalah yang datang tanpa terduga, Malik kembali dengan rutinitasnya dengan pekerjaannya yang menumpuk dan meeting di beberapa tempat.


Hari yang melelahkan berhasil Ayu dan teman-temannya lewati, ini hari terakhir ujian. Setelah ini mereka akan menyandang status sebagai Mahasiswa. Semua tidak sabar menikmati hari-harinya sebagai pria dan wanita dewasa. Setelah pengumuman kelulusan, pasti suasana kelas seperti sekarang ini akan sangat di rindukan. Canda tawa dan saling mengganggu satu sama lain yang membuat kelas terasa hidup akan sangat anak-anak rindukan juga pastinya.


“Kau benar-benar akan meninggalkan kami semua untuk menjadi seorang Dokter?” Tanya Sandra pada Jofan yang memutuskan kuliah di luar negeri. Jofan mengangguk. “Kau tega sekali padaku.” Jofan hanya tersenyum. Sandra tidak bisa mengikuti jejaknya karena nilai-nilainya tidak masuk ke Universitas yang Jofan inginkan. Wajahnya cemberut menandakan kekecewaannya pada Jofan.


“Dia pasti akan menelpon mu siang dan malam!” Ledek Melani pada Jofan. “Sayang…..sayang, aku rindu!” Melani menirukan gaya bicara Sandra. Ayu hanya tertawa melihat tingkah konyol kedua sahabatnya yang tidak berhenti saling mengejek satu sama lain.


“Kau!” Jofan menatap tajam mata Ayu. “Apa Kak Malik mengijinkan kamu kuliah?” Ayu diam saja. “Kau belum membahasnya?” Ayu mengangguk dengan senyum hambar.


“Aku takut akan merepotkan. Aku hanya tidak ingin membebaninya lagi.” Ayu mencari alasan agar Jofan mengerti kondisinya.


“Kenapa merepotkan, katakan pada ku jika dia tidak mau lagi kamu repotkan, aku yang akan mengurus mu!” Wajah Jofan merah karena menahan amarahnya.


“Kenapa Mas Jofan marah, ini bukan salah Kak Malik. Aku yang tidak mau saja merepotkannya.” Ayu tersenyum meminta Jofan tidak berkeras hati pada Malik.


“Bicarakan, atau aku yang akan membahasnya. Jangan berhenti hanya menjadi seorang istri, kau pernah bilang padaku ingin sekali jadi wanita karir yang sukses, wujudkan!.” Saat ini Ayu sedang tersanjung dengan sikap Jofan padanya. “Kak Malik orang yang bertanggung jawab, dia pasti akan punya sikap yang sama dengan ku. Kita akan mendukung apapun yang jadi langkah hidup mu selanjutnya.”


“Aku beruntung punya kalian.” ayu terlihat sangat bahagia. “Jangan pernah lelah menyayangi aku.” Jofan membalas senyum Ayuna. Wajahnya yang tampan jadi semakin tampan saat dia tersenyum. Sandra merasa cemburu karena selama ini Jofan tidak bisa bersikap manis pada dirinya.


“Kau!” Jofan menarik bangku Sandra mendekat padanya. “Kau satu-satunya yang aku cintai setelah sebagai seorang wanita.” Ayu dan Melani menahan senyum melihat sikap Jofan yang tidak biasa. “Dimanapun aku berada, tidak akan ada yang bisa merebut cintaku.” Sandra tersipu malu, untung saja kelas sudah sepi. “Aku akan cepat menyelesaikan kuliahku dan kembali.”

__ADS_1


“Kau janji!” Jofan mengangguk dan mengacak gemas rambut Sandra yang tergerai panjang. “Aku akan setia menunggu.” Ayu dan Melani ikut bahagia melihat kemesraan dua sejoli yang sudah saling menyukai sejak lama namun gengsi untuk mengakui perasaannya.


__ADS_2