Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 46 ( Kedatangan Ibu )


__ADS_3

Hari ini cukup cerah, selesai sudah ujian akhir semester. Dan libur panjang sudah menanti didepan mata.


“Kalian sudah putuskan pilih berlibur kemana? Aku sudah berikan beberapa pilihan” Sandra berdiri meghadap ketiga sahabatnya yang duduk.


“Aku pilih ke puncak, kita menginap di Villa kamu saja San” Melani memutuskan ingin pergi ke puncak dan menikmati kesejukan Alam.


“Aku ikut saja” Celetuk Jofan. Kini semua mata tertuju pada Ayu yang masih membisu. Ayu sengaja ingin membuat ketiga sahabatnya penasaran.


Melani menaik turunkan alisnya. Dia mencoba mencari jawaban lewat gerakkan alisnya. Ayu tersenyum dan berdiri. Mata ketiga sahabatnya mengekor mengikuti langkah Ayu.


Setelah beberapa langkah Ayu berbalik “Aku juga ikut” Ayu berteriak, dan teriakan ditimpali kedua sahabat perempuannya. Mereka bersorak sorai bahagia karena akan berlibur bersama.


Jofan ikut tersenym kecil, dia jarang sekali tertawa keras seperti ketiga sahabatnya. Seolah-olah tidak peduli, padahal Jofan merengek pada Kak Rey agar mengijinkan Ayu pergi berlibur bersama dengannya.


“Ok, besok kita berangkat bersama. Nanti aku ajak pak Kosim supaya menemani kita kesana” Ayu dan Melani terdiam memandang Sandra. “Pak Kosim itu anak buah Papah ku”.


“Ohhhh....” Mereka bertiga kembali tertawa.


“Ya sudah aku harus berangkat kerja, jemput aku besok yah, daahhh...” Seperti biasa Ayu pulang duluan, tidak memiliki waktu luang seperti anak-anak seusianya.


***


“Selamat siang semuanya” Ayu baru saja sampai direstaurant. Tampak wanita cantik yang sedang ikut breefing bersama karyawan lain. Dan ternyata breefing sudah berakhir


“Ayu nanti bisa tanya yang lain hasil breefing hari ini” Kak Rey meninggalkan semua karyawan dan menggandeng tangan wanita cantik yang membuat Ayu penasaran.


“Nai, wanita cantik itu siapa?” Ayu berjalan menuju ruang belakang bersama Naila.


“Dia pacar Pak Rey” Ayu menganggukan kepalanya. Mereka berlalu dan tidak mau terlalu ikut campur yang bukan urusannya.


Ayu berganti seragam, dia sudah mulai membersihkan beberapa piring, dan peralatan masak lain yang kotor.


“Yu” Suara Kak Rey, Ayu menoleh dan membilas tangannya dengan cepat. “Hari ini tolong temani Kak Ana berbelanja, dia mau membeli beberapa alat lukis dan Kak Rey pesan beberapa bahan makanan yang sudah habis.


“Baik Kak” Hanya Ayu yang memanggil Rey Kaka. Karyawan lain memanggil Rey dengan sebutan Pak. Tapi itu memang permintaan Rey. Jadi tidak ada yang berani menolak atau pun protes.

__ADS_1


Moana berjalan menghampiri Ayu yang sudah menunggunya di depan pintu keluar restaurant. Ayu menyambut dengan ramah kedatangan wanita cantik yang ditunggunya.


“Ayu kan?” Ana menyapa dengan ramah.


“Betul Kak” Ayu membalas tidak kalah ramah. Ana menggandeng tangan Ayu dan mengajaknya ke mobil.


Setelah perjalanan yang cukup jauh, mereka sampai di pasar tradisional yang di dominasi pedagang yang wajahnya seperti orang Cina. Ayu mengedarkan matanya, terkagum-kagum dengan banyaknya pernak-pernik yang berjajar.


Banyak toko-toko yang menjual barang-barang sama, namun tetap saja semua toko terlihat ramai dan sibuk.


Mereka naik ke lantai 2, disitu terlihat banyak sekali toko-toko yang menjual peralatan lukis. Ayu tidak tau barang-barang apa yang di butuhkan Kak Ana. Dia hanya mengekor mengikuti langkah Ana.


“Kak, harganya mahal sekali” Ayu terheran-heran melihat bandrol yang tergantung disetiap barang-barang yang Ana ambil.Ana hanya tersenyum melihat Ayu yang masih asing dengan barang-barang yang dibawa Ana.


“Aku bantu Kak” Ayu mengambil sebagian barang yang sudah dibayar.


Setelah selesai mereka berjalan ke bagian belakang pasar dilantai dasar yang menyediakan berbagai macam aneka seafood segar.


Air liur Ayu mengalir deras mengingat seafood yang dia makan bersama Kak Malik. Ana dengan cekatan memilih beberapa seafood yang sudah masuk dalam list belanja.


Tut...Tut...Tut...Tut..


Ayu melirik handpone nya yang bergetar sedari tadi, Ayu kaget saat melihat nama Mbak Murni yang menelpon. Ayu segera meminta ijin pada Ana untuk menjawab panggilannya dan mencari tempat yang sepi agar tidak terlalu berisik.


“Iya Mbak, maaf Ayu tadi lagi kerja Mbak. Jadi gak kedengeran Mbak” Ayu mencoba menekan handpone ke telinga agar jelas terdengar, karena suasana pasar cukup ramai.


“Yu, Ibumu datang sama Adek Riyan” Mbak Murni bercerita panjang lebar, dan meminta Ayu agar tidak buka mulut kalo selama ini dia tidak lagi tinggal di rumah Mbak Murni.


Setelah mengakhiri panggilannya Ayu kembali menemui Kak Ana. Ayu ragu meminta ijin untuk pulang, karena Kak Rey memintanya untuk menemani dan mengawasi Kak Ana.


Tapi saat ini Ibu pasti sedang menungguku. Ayu juga sangat bahagia karena sudah lama sekali tidak melihat wajah Ibu dan Adiknya. Matanya berkaca-kaca, tanpa sadar sedari tadi Ana memperhatikan Ayu. Melihat jelas perubahan mimin wajah Ayu yang terlihat bahagia namun terlihat netranya mulai berkaca-kaca.


“Kau baik-baik saja?” Ayu terkejut karena tidak melihat kedatangan Kak Ana. Air matanya lolos begitu saja. Ana melihatnya dengan jelas.


“I...iya Kak. Aku baik-baik saja” Ayu mencoba tersenyum. Tapi masih saja terlihat kesedihan dimata Ayu.

__ADS_1


“Katakan saja, siapa tau aku bisa bantu” Ana meraih tangan Ayu. Ana yakin ada yang Ayu sembunyikan.


“Apa tidak papa jika aku meninggalkan Kak Ana sendirian?” Ayu meremas jari-jari tangan kirinya. Ragu, tapi Ayu tidak punya pilihan.


“Pergilah, aku sudah biasa jalan-jalan di pasar ini” Ana sudah menduga kalau Ayu tidak baik-baik saja. “Tapi, apa Ayu keberatan jika aku mengantar Ayu?” Ana menatap Ayu. Mencoba meluluhkan hati Ayu dengan kedipan matanya beberapa kali, mencoba mencairkan suasana Agar Ayu bisa tersenyum.


Dan berhasil, Ayu kembali tersenyum dengan normal. Sudah memudar sedikit kekhawatiran dari wajah yang Ayu tampilkan.


Mereka bergegas dan menuju ke alamat yang Ayu sebutkan. Untungnya Alamat rumah Mbak Murni tidak terlalu jauh.


Sudah sampai didepan rumah Mbak Murni. Tampak Ibu Tina sedang menggendong Alsya didepan rumah Mbak Murni dan mengobrol dengan Ibu. Ayu berlari kegirangan melihat wajah Ibu yang dirindukannya.


“Ibu.....Ibu...!!” Ayu berlari dan membuka kedua tangannya. Dia sangat rindu aroma tubuh yang selama ini selalu mendekapnya.


“Anakku....!!” Ibu tidak kalah senang saat melihat anak gadis yang dirindukannya. Mereka saling berpelukan lama. Air mata kebahagiaan berderai, kebahagiaan yang Ayu rasakan tidak dapat digambarkan.


“Sudah lama tidak kelihatan Mbak Ayu, sekarang tinggal dimana?” Pelukan Ibu mengendur. Dia kaget mendengar pertanyaan yang Ibu Tina lontarkan.


“Makudnya Bu. Kan Ayu tinggal disini Bu” Ayu mencoba menarik tangan Ibu dan mengajaknya masuk, tapi ditepis oleh Ibu.


“Mbak Ayu ini sudah lama pindah. Waktu pindah juga saya bantu, kasian katanya pengen mandiri” Ibu Tina bercerita dengan polosnya. Ayu mencoba mengedipkan mata namun Ibu Tina tidak paham dengan kode yang Ayu sampaikan.


Ibu beralih memandang Ayu dengan tajam. Kata-kata Bu Tina sangat membuat Ibu syok, selama ini Ibu tidak tau jika anak gadis nya ini dalam kesulitan.


“Ibu kenalkan ini Kak Ana” Ayu menarik tangan Kak Ana yang sedari tadi hanya mendengarkan. Ibu mencoba tersenyum dan menyambut Ana. Mereka bertiga masuk dan Ibu langsung saja mengetuk pintu kamar Mbak Murni.


“Kenapa kamu membohongi Bude?” Ibu meradang membentak Mbak Murni. Sudah tidak terbendung lagi kemarahan yang memuncak dan membuat kepala Ibu mendidih.


“Bohong bagaimana?” Mbak Murni menutup pintu kamar dan bergabung bersama Ayu dan Ana.


“Kamu bilang Ayu pergi sekolah, tapi ibu Tina bilang Ayu sudah tidak tinggal disini” Ibu tiba-tiba saja menangis kencang.


Ayu memeluk Ibu dengan erat. Tidak tega rasanya melihat Ibu menangis karena dirinya, selama ini Ayu menyembunyikan kesulitannya. Ayu tidak mau membebani Ibu dan Bapak karena memikirkan dirinya.


Mbak Murni meninggalkan Ibu, Ayu dan Ana. Dia tidak menggubris orang-orang yang saat ini sedang sedih karena tindakannya.

__ADS_1


Riyan yang sedang tidur pun terbangun dan ikut menangis melihat Ibu dan Kak Ayu menangis. Anak berumur 13 tahun ini menangis tanpa tau apa yang sedang mereka tangisi.


__ADS_2