
Malik menutup pintu kamar setelah memastikan Ayu benar-benar tertidur. Pasti dia sangat lelah menangis cukup lama karena merasa bersalah tidak bisa menyelamatkan Mbak Murni. Malik tidak akan tinggal diam, tapi dia harus bergerak dengan perlahan karena Ali bukan orang biasa yang bisa dia jerat dengan mudah. Dia punya ribuan trik untuk menghilangkan jejak kejahatannya.
Malik menyudahi ketegangan dalam dirinya setelah meminta Aldo untuk menyelidiki perbuatan Ali pada Murni. Malik mulai menyiapkan bahan makanan, mengeluarkan daging sapi segar untuk dibuat steak dan beberapa sayuran untuk salad sebagai pelengkap makanan utama yang dia buat.
Aldo sudah datang dengan tentengan besar di tangannya yang berisi berbagai macam cemilan dan beberapa minuman dingin kesukaan anak muda jaman sekarang, tidak lupa puding coklat kesukaan istri tercinta dari Bos kesayangannya.
“Letakkan di meja Al, teman-teman Ayuna pasti sangat senang dengan makanan yang kamu beli.” Aldo merasa bangga, tidak sia-sia dia lari terbirit-birit demi misi dadakan yang Malik berikan padanya.
Kini dua pria tampan sedang berkutat di dapur menyiapkan makanan lezat. Tidak lama bel apartemen Malik berbunti, mereka berdua tersenyum karena tau keadaan akan sangat berisik setelah mereka datang.
“Buka Al, ini pasti kedua sahabat Ayu.” Aldo bergegas mencuci tangannya dan segera lari ke pintu masuk. Aldo juga senang saat berkumpul dengan teman-teman Ayu yang tidak membosankan.
“Selamat data.....” Aldo tersenyum kecut saat melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. “Untuk apa datang ke sini?” Aldo berkacak pinggang tidak suka melihat siapa yang ada depannya.
“Aku datang hanya ingin mengucapkan salam saja. Apa aku tidak diterima?” Oji tersenyum ramah. Dia ingin mencoba menjadi sahabat yang baik.
“Kak Al, maaf aku datang tanpa memberi tahu. Kami lewat dan sekalian saja mampir sebentar untuk bertemu dengan Nona dan Bos Malik.” Ada Hans juga ternyata yang datang bersama Oji. Hans naik lebih lambat karena mengambil ponselnya yang tertinggal di mobil.
“Tunggu sebentar, aku harus tanya apakah kalian bisa masuk atau tidak.” Aldo kembali menutup pintu dengan cukup keras.
Hans merangkul Oji agar tetap bersikap tenang. Tidak mudah untuk berubah menjadi orang baik, tapi semua akan mendukung jika memang niatnya sungguh-sungguh dan nyata. Hans juga masih belajar menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Hans berjanji akan membantu Oji sampai dia benar-benar keluar dari masa lalu yang terus membayanginya. Tidak mudah, tapi harus bekerja keras agar bisa berhasil.
“Kenapa wajahmu seperti bertekuk-tekuk Al. Siapa yang datanag memangnya?” Bicara sambil memotong sayur yang sudah di cuci bersih.
Aldo menggelengkan kepala merasa kesal tidak percaya orang seperti dia masih berani muncul di depan wajahnya. “Kau akan terkejut Bos jika kau tau siapa yang ada di depan pintumu.” Malik membersihkan tangannya yang masih basah. Melangkah bersama Aldo untuk menemui orang yang membuatnya geram.
Ceklek....
Suara pintu terbuka membuat jantung Aldo terpacu cukup kencang. Malik mengerjapkan matanya tidak percaya siapa yang dia lihat. Tersenyum tapi hatinya tidak terima dia berani datang menemuinya.
“Untuk apa datang?” Malik bicara ketus.
“Aku sudah bilang padamu, mereka tidak mungkin menerimaku. Dia bahkan akan megusirku sebelum tau tujuan kita datang.” Oji segera berbalik merasa kesal tidak diterima. Hans menahan Oji agar tidak putus harapan.
“Kami datang untuk menjalin persahabatan. Kami tidak ada niat jahat Bos.” Malik menyipitkan matanya. Merasa heran.
__ADS_1
"Apa maksud dari ucapanmu." Hans menarik Oji agar kembali bicara baik-baik dengan Malik.
"Aku ingin berubah, aku sudah merelakan Ayuna." Malik cemburu mendengar Oji memanggil nama Ayu dengan lengkap. "Aku tidak mau lagi ada perselisihan dan permusuhan di antara kita. Beri saya kesempatan untuk jadi sahabat yang baik." Sepertinya dia tulus.
"Apa aku bisa pegang kata-kata mu!" Oji mengangguk. Ternyata benar, mereka punya hati yang lembut.
"Jangan mengecewakan ku." Aldo yang tidak senang Malik memaafkan Oji begitu saja.
"Kak....." Suara Melani yang has membahana di koridor apartemen Malik. Beruntung lantai 5 hanya di isi dirinya seorang. Bisa marah jika ada keributan seperti ini.
Malik menyambut nya dengan hangat. Memeluk keduanya bergantian sebagai salam penyambutan. "Kalian sudah datang. Ayo masuk. Hans dan Oji juga boleh bergabung." Hans bangga usahanya meyakinkan Oji selama ini tidak sia-sia. Malik menerima dengan baik maksud dan ketulusan hati Oji.
"Jangan sungkan, ambil saja apa yang kalian mau." Malik bergegas ke kamar membangunkan Ayu. Dia pasti senang teman-temannya datang.
Melani langsung membuka snack kesukaannya. "Jangan membuatku malu. Kau seperti tidak pernah makan saja." Meletakkan kembali padahal sudah berhasil dia buka.
"Jangan begitu, Bos memang mempersiapkan semuanya untuk kalian. Makanlah!" Mata Melani berbinar, tidak lagi menghiraukan Sandra yang melotot pada dirinya.
Sandra menatap heran kedatangan Oji. Untuk apa pria tampan tapi sedikit gila ini ada di sini. Apa Kak Malik mengijinkan nya masuk begitu saja.Bagaimana jika dia punya niat jahat. Hans kan dulu pernah jahat pada Ayu. Sandra sibuk dengan isi kepalanya yang bercampur aduk.
"San..." Melani menyodorkan snack ke mulut Sandra. "Jagan melamun, kita nikmati hari Ini penuh kebahagiaan." Sandra membuka mulutnya menerima saja apa yang Melani suapkan ke mulutnya.
Ayu memukul pelan tangan Malik sekenanya. Merasa terkejut dan malu karena Malik menciumnya tanpa aba-aba. "Kaka ini suka sekali mencuri-curi kesempatan." Malik membawanya segera keluar menemui teman-temannya setelah membantu Ayu mengenakan hijabnya.
Ayu menurut saja mengikuti kemana Malik membawanya. Bibirnya tersenyum lebar saat melihat Sandra dan Melani melambai padanya. Ayu segera mempercepat langkah kakinya.
"Pelan-pelan, kamu bisa jatuh sayang." Malik memamerkan kemesraan di depan khalayak ramai. Langkah Ayu melambat saat melihat ada orang lain di sana.
"Apa kabar semuanya." Ayu merasa canggung.
"Ayuna." Suara Oji sangat lembut sperti biasanya, Malik sampai tidak rela mendengarnya mengucapkan nama Ayu.
"Kau bisa memanggilnya Ayu saja." Menakan nada bicaranya.
Oji tersenyum karena tau Malik cemburu. "Maksudku Ayu, maaf karena aku datang tanpa membuat janji." Ayu bingung harus bicara apa. Dia hanya tersenyum penuh kepalsuan.
__ADS_1
"Sudah tidak apa, sekarang mari kita makan. Untung saja aku masak lebih, jadi kita bis berbagi bersama." Malik melayani Ayu bak permaisuri. Tidak ada yang bisa menyamai rasa cintanya pada Ayu.
Melani menikmati setiap gigitan daging yang masuk ke mulutnya. Membayangkan jika kelak dia akan punya pasangan hidup setampan dan sesempurna Malik. Sandra sampai menggeleng tidak percaya, dia tau betul isi kepala Melani saat ini.
Dreettt......drrttttt....drttttt.....
Aldo meninggalkan ruangan untuk menerima panggilan masuk. Malik memperhatikannya dari kejauhan karena Aldo tampak sangat serius dan terkejut dengan panggilan yang masuk.
"Bos....bisa ikut saya sebentar. Ada hal penting yang harus saya sampaikan. " Malik segera mengikuti Aldo.
"Serius sekali Al, ada apa." Malik berusaha tenang dan tidak memikirkan kemungkinan buruk yang bisa saja memperkeruh suasana hatinya.
"Orang kita sudah dapat bukti penganiayaan yang Ali lakukan. Tapi saat ini Murni dalam keadaan kritis di rumah sakit." Malik merasa ini bisa membuat Ayu kembali drop. Dia baru saja sedikit tenang setelah apa yang terjadi siang tadi.
"Setelah ini kita bisa pergi ke sana Al. Tapi aku harus meminta seseorang menjaga Ayu." Berpikir siapa yang bisa dia percaya. Pulang ke rumah besar terlalu jauh.
"Apa Nona tidak kita beri tau Bos!" Pasti Ayu akan marah nanti, Aldo tidak mau ikut campur jika itu benar terjadi. Malik menggeleng. "Nona bisa marah Bos."
"Tenang saja, itu tanggung jawab ku." Malik segera masuk. Aldo mengikutinya seperti anak kucing yang mengikuti kemanapun pemiliknya melangkah.
Dugggg.....
Tubuh Aldo menabrak tubuh Malik yang berhenti mendadak. Kepalanya terasa sakit karena benturan nya cukup kuat. Aldo hanya bisa mengelus kepalanya yang untung saja masih utuh. Malik juga merasa terkejut tapi tidak mood memarahi Aldo saat ini.
"Sandra dan Melani apa bisa menemani Ayu sampai aku kembali?" Ayu merasa bingung. Apa yang membuatnya pergi mendadak. "Kau bisa aku percaya?" Malik menyentuh pundak Oji yang saat ini sedang memeperhatikan.
"Mungkin Ayu tidak akan nyaman jika aku tetap tinggal." Oji tau Ayu tidak bisa memaafkanya begitu saja, butuh proses.
"Tidak, kau dan Hans aku andalkan sekarang. Kalian bisa nonton atau lakukan apapun yang kalian suka tapi jangan keluar dari apartemen." Hans mengangguk, ini kesempatan Oji membuktikan jika niatnya tulus.
"Bos, percaya pada kami. Bos bisa memegang kata-kata ku. " Kini Malik benar-benar bisa pergi dengan perasaan lega. Banyak orang-orang yang menjaga Ayu.
"San, jika kalian lapar buka saja isi kulkas. Makan yang kalian mau. Ok Mel...." Melani hanya tersenyum terpesona. Malik sudah tidak asing lagi dengan suasana seperti ini.
"Jangan pulang terlalu lama." Mendengar permintaan Ayu, kaki Malik jadi kaku. "Ada tugas yang ingin aku tanyakan karena aku tidak mengerti." Kecewa, ternyata hanya karena tugas sekolah yang sulit.
__ADS_1
"Aku akan pulang segera setelah semuanya selesai. Jika ada yang tidak beres segera kunci dirimu di kamar dan telpon aku atau Aldo. Kau mengerti!" Ayu mengangguk.
Rasanya ada yang Kak Malik sembunyikan, biasanya kemanapun dia pergi Ayu selalu dia bawa, meski harus menunggu di mobil atau ditempat lain saat Malik menyesuaikan urusannya. Hatinya juga gusar tidak tenang. Berat rasanya melepaskan Malik pergi.