
Hari ini Malik berangkat lebih pagi dari biasanya. Banyak perkejaan tertunda karena mengurus masalah pribadinya.
Aldo sudah siap siaga dengan setumpuk dokumen yang ada di tangannya yang dia pindahkan dari ruangannya.
Rera sampai tertawa karena melihat Aldo kesulitan membuka pintu dengan siku tangannya. Berusaha keras tapi masih tidak berhasil.
"Kau tidak minta bantuan?" Rera tidak langsung membukakan pintu ruangan, dia menggoda Aldo yang sedang susah payah menjaga keseimbangan agar dokumen tidak jatuh dari tangannya.
"Peka lah Rera, aku kesulitan." Teriak Aldo yang wajahnya tertutup tumpukan dokumen.
"Mau minta bantuan tapi tidak ada manis-manis nya kau ini." Gerutu Rera.
"Tolong bukakan pintu untuk laki-laki tampan yang sedang kesulitan ini Ibu Rera!" Suara Aldo melengking memenuhi udara.
Rera tidak tega juga melihatnya, akhirnya Rera membuka kan pintu untuk Aldo.
"Terimaksih teman seperjuangan ku." Menggoyangkan pantatnya sebelum masuk ke ruangan Malik. Tingkah konyol Aldo mengundang tawa. Membuat Rera terhibur pagi ini.
Rera dan Pras pagi ini sedang bertengkar. Pras egois karena sampai sekarang tidak mau meresmikan hubungan mereka. Hanya pekerjaan yang dia pikirkan.
Rera frustasi tapi tidak bisa meninggalkan Pras, cintanya sudah terpaut dalam di hatinya. Sulit melepaskan Pras dan mencari orang lain sebagai gantinya.
Rera memasuki ruangan Malik tidak lama Aldo masuk. Banyak jadwal meeting yang harus Rera diskusikan.
Aldo dan Malik saat ini sedang membicarakan hal penting berkaitan dengan perusahaan yang harus Aldo dan Rera perhatikan. Aldo menyimak dengan sungguh-sungguh seperti biasanya. Berbeda dengan Rera yang pandangan matanya kosong.
Dia tidak biasanya bersikap tidak profesional di depan Malik. Sikapnya mengundang rasa khawatir.
"Al, dia kenapa?" Malik sedikit penasaran.
"Paling juga putus cinta Pak." Jawab Aldo sekenanya.
"Jangan sembarangan, dia kan pacarnya sekertaris Ayahku." Malik tidak percaya mereka putus.
"Rera...Rera..." Malik mencoba menyadarkan Rera dari lamunannya.
"Dia tidak mau menikahi ku. Huahuahua....." Tangis Rera pecah begitu saja.
Dia sudah tidak bisa menahan diri, pikirannya kacau balau tidak karuan. Malik yang berdiri di depan nya spontan memeluk Rera agar tenang.
Rera tersadar saat ini sedang ada dimana, Rera mundur dari pelukan Malik. Dia sendiri terkejut bisa menangis di ruangan Bos nya dan Malik menenagkannya.
"Maaf Bos...aku minta maaf." Rera menyeka air mata yang banjir tidak berhenti. Malik tersenyum. Malik tau Rera menyesali perbuatannya.
Dahulu saat belum tau bagaimana merasakan cinta, mungkin Malik akan mengamuk karena Rera tidak profesional. Tapi saat ini dirinya tau bagaimana cinta bisa menyakitkan tanpa tau sebabnya.
"Tidak masalah, kau juga manusia. Aku senang jika bisa membantu." Malik duduk di sofa, tangannya menyuruh Aldo dan Rera bergabung dengannya duduk di Sofa.
__ADS_1
Kedua anak buahnya menurut, mereka kini duduk bersama Malik. Rera masih sesenggukan menahan tangisnya. Rasa sakitnya tidak bisa dikendalikan oleh Rera.
"Tapi ini masalah pribadi Bos, aku tidak bisa membicarakannya." Rera merasa malu.
"Tidak apa, aku kenal baik dengan Pras." Padahal jarang ngobrol. Tapi sok akrab saja, siapa tau bisa meringankan beban yang Rera Rasakan.
"Sebenarnya aku yah salah, aku menuntutnya supaya kita segera menikah. Aku takut karena usiaku sebentar lagi kepala 3." Sumber masalahnya dirinya sendiri menurut Rera.
"Tidak, itu benar. Perempuan memang harus minta kepastian. Jangan mau terlalu lama menunggu." Rera kembali bersedih mendengar nasehat Malik.
"Tapi dia tidak bersedia. Banyak mimpi yang belum dia capai. Dia bilang takut membuatku kecewa." Malik merasa Pras tidak berperasaan. Bagaimana bisa dia membiarkan Rera menanggung perasaanya sendiri.
"Tinggalkan saja dia. Cari laki-laki yang serius." Malik bicara tanpa mempertimbangkan perasaan Rera.
Rera terisak, dadanya semakin sakit menahan agar tangisnya tidak pecah berlebihan. Tapi tidak berhasil.
Aldo tidak tega melihatnya, dia memikirkan Aleta saat ini. Bagaimana jika ini semua terjadi pada Aleta. Pasti Aldo akan sangat tersiksa.
Aldo menepuk punggung Rera agar tenang. Biasanya dia selalu terlihat bahagia di depan semua orang. Dia selalu menceritakan sosok Pras yang begitu hebat pada teman-teman nya. Dia tidak pernah memperlihatkan titik lemah dirinya seperti saat ini.
"Aku sangat mencintainya. Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpanya." Bicara sambil terisak.
Aldo dan Malik hanya diam saja. Mereka bingung harus berbuat apalagi sekarang. Lagi-lagi cinta membuat perih yang menyayat jiwa.
Tanpa sepengetahuan Rera dan Aldo, Malik merekam pembicaraan mereka. Pras harus tau bagaimana wanita nya tersakiti dan begitu menderita sampai tidak bisa menahannya.
Rera dan Aldo sudah kembali ke ruangan mereka masing-masing. Malik mencari kontak Pras, tapi ternyata tidak ada.
Malik akhirnya mengirimkan rekaman tersebut pada Ayahnya.
Tolong sampaikan pada Pras, jangan Ayah dengarkan. Ini untuk Pras.
Isi pesan Malik malah membuat Rama penasaran ingin mendengarkan apa isi rekaman tersebut.
Ada Pras di sebelahnya. Rama mencolokkan headset agar Pras tidak ikut mendengarkan isi rekaman pesan yang Malik kirimkan. Mencuri kesempatan agar dia tau sebelum Pras tau isi pesannya.
Rama bingung karena rekeman suara tidak jelas di telinganya. Malah suara terdengar jelas dari speaker phone nya.
Ya Tuhan, ternyata kabel tidak terpasang dengan baik. Wajah Pras merah menahan malu di depan Rama. Rama juga sama malunya karena melakukan hal bodoh di depan Pras. Seharusnya ini tidak terjadi.
Rama menyesal melakukan kesalahan ini.
Rama mendengarkan sampai selesai isi rekaman di hadapan Pras. Dia bingung merangkai kata yang tepat untuk memulai kalimat yang baik.
Pras bukan tipe orang yang suka membawa masalah pribadi dalam lingkungan pekerjaan. Rama selama mengenalnya tidak pernah melihat dia absen untuk alasan pribadi.
"Pras....maaf karena aku harus tau masalah ini. Tapi Pras, sepertinya Rera sangat terpukul." Rama berbicara lirih, sedikit segan karena Pras tidak mengucapkan apapun selain ekspresi wajahnya yang berubah.
__ADS_1
"Maaf Tuan, saya akan membereskan nya." Menunduk, Pras merasa tidak punya muka berdiri di depan Rama.
"Jangan marah pada Rera Pras. Ini Malik yang memberikannya secara diam-diam." Pras semakin malu mendengar ucapan Rama.
Bagaimana bisa Rera bertindak seperti ini. Perbuatannya membuat Pras kehilangan harga diri di depan kedua orang yang sangat Pras hormati.
"Maaf Tuan, saya berjanji tidak akan membawa masalah pribadi di sini." Hanya ada permintaan maaf dalam benak Pras.
"Pras, kenapa kamu hanya meminta maaf. Lihat gadis ini. Dia begitu sakit mendapatkan penolak kan mu Pras. Apalagi yang kamu belum punya? Kamu sudah cukup mapan untuk membina rumah tangga." Rama duduk di sofa, menyuruh Pras duduk di depannya. Pras duduk mengikuti instruksi Rama.
"Pras, kamu memang tidak di ragukan dalam pekerjaan. Tapi Pras, orang tua ini sudah melewati apa yang belum kalian lewati. Cobalah untuk berbagi. Siapa tau ada nasehat yang bisa saya sampaikan Pras." Rama merasa lalai dan tidak memperhatikan kehidupan Pras yang selalu setiap padanya.
"Saya tidak berarti apapun Tuan, tolong abaikan masalah pribadi saya Tuan." Pras merasa sungkan mendapat perhatian Rama.
"Kau ini seperti putraku. Kau bahkan lebih mengenalku dari pada Malik." Pras sangat perhatian pada Rama selama ini. Rama lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Pras daripada bersama Malik.
"Tapi Tuan...." Pras sedikit melunak, dia juga sedih mendengar tangisan Rera yang penuh penderitaan.
Dia tidak pernah menangis di depannya. Dia hanya diam saat marah padanya. Bahkan Rera tidak bicara apapun dengan keputusannya terakhir mereka bertemu pagi ini. Tapi ternyata Rera begitu menderita akibat perbuatannya.
Pras menyesal, ini semua harus diperbaiki. Pras sendiri sangat mencintai Rera. Dia tidak mungkin membiarkan Rera menderita karena menunggunya yang tidak kunjung siap membina rumah tangga dengan alasan yang sama.
"Jika kamu menunggu semua cita-cita tercapai mau sampai kapan Pras! Kamu bicarakan dengan Rera apa yang ingin kamu capai. Kerjakan bersama." Perkataan Rama menghujam jantung Pras.
Selama ini Pras tidak pernah mendengar kan keinginan Rera, hanya ada keinginannya sendiri. Rera lebih banyak diam untuk mempertahankan hubungan mereka.
"Sebenarnya saya takut menyakiti dia Tuan. Saya takut tidak bisa menjadi seperti yang Rera harapkan." Pras mulai membuka hati untuk bercerita.
"Kalian pikir aku dan istriku selalu baik-baik saja? Kami juga sama. Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak memiliki kekurangan Pras. Kita semua sama. Jadilah diri sendiri, perbaiki jika memang perlu. Tapi jangan membuat ketakutan dan kemunduran." Rasanya Rama sendiri tidak pernah menasehati Malik seperti ini.
"Tuan, apa menurut Tuan saya sudah pantas jadi seorang suami? Saya memiliki begitu banyak kekurangan yang akan membuat Rera kesulitan." Pras merasa bimbang.
"Bicarakan semua dengan pasanganmu Pras, cari solusi terbaik untuk kebaikan kalian berdua. Komunikasi yang baik Pras, seperti Pras selalu berkomunikasi dengan pekerjaan selama ini." Rama merasa bangga Pras mau mendengar kan nya.
"Pulanglah Pras, ajak Rera bicara agar dia tenang." Rama merasa terdorong menjadi jembatan hubungan mereka yang sedang merenggang.
Tidak lama Pras sudah berdiri dihadapan Rera yang tidak melihat kedatangannya. Rera fokus dengan kertas-kertas di depannya. Sesekali dia mengusap air mata yang masih bercucuran tidak mau berhenti.
"Rera...maafkan aku." Rera tertegun, dia tidak berani menoleh, Rera masih menunduk.
Rera semakin lemah mendengar suara yang sangat dia kenal berdiri di depannya. Rera menangkup wajah nya dengan kedua tangannya menyembunyikan air mata
"Pergi Kak...." Rera mengusir Pras agar tidak melihatnya menangis
Pras mendekat memeluknya dengan erat. Merasa jadi orang paling bodoh karena membiarkan Rera menyembunyikan kesedihannya sendiri selama ini.
Malik mengintip dari jendela ruangannya, merasa bahagia karena drama hari ini berakhir bahagia.
__ADS_1