Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 121 ( Aksi Penyelamatan )


__ADS_3

Malam begitu sunyi, suara deru dari kipas angin yang sudah usang memecah kesunyian. Hans saat ini sedang memikirkan bagaimana caranya menemukan Ayu. Rasanya belum cukup apa yang dia lakukan selama ini untuk perusahaan Rama Saputra. Kesempatan yang dia dapatkan begitu besar, tidak akan pernah bisa Hans balas belas kasih yang sudah dia dapatkan.


Hans beruntung punya kesempatan langka bisa menjadi orang kepercayaan Rama. Banyak pelajaran yang bisa dia ambil agar kelak bisa menjadi pengusaha sukses seperti Rama.


“Kak Hans.” Seorang anak perempuan duduk disamping Hans memeluknya erat.


“Kau belum tidur?” Hans membelai kepala Amelia dengan penuh kasih sayang. Gadis kecil yang selalu menjadi semangat hidupnya selama ini.


Amelia adalah adik Hans yang memiliki penyakit jantung bawaan. Dia begitu berarti dalam hidup Hans, apapun Hans lakukan demi pengobatan Amelia yang sangat dia cintai. Melihat senyum Amelia adalah kebahagiaan bagi Hans.


“Kak Hans. Apa aku menyusahkanmu?” Amelia sangat tau bagaimana perjuangan Hans selama ini.


Amelia selalu merasa bersalah saat Hans menyendiri dan melamun. Pasti beban Kak Hans begitu besar karena dirinya.


Hans tersenyum menatap lekat netra Amelia yang berkaca-kaca, adiknya memang selalu merasa sedih karena menjadi beban hidup Hans. Padahal Hans sangat mencintainya, hadirnya membuat Hans sadar betapa penting arti hidupnya.


Betapa besar karunia hadirnya seorang saudara kandung dalam kehidupan kita. Mereka bisa menjadi obat yang mujarab untuk menumbuhkan semangat hidup.


“Kau adalah malaikatku, aku sangat bahagia Tuhan menitipkan mu dalam hidupku. Kita sama-sama saling membutuhkan. Kamu bukan beban, kamu kekuatanku!” Hans mencium kening Amelia. Meyakinkan agar tidak pernah berpikir tentang kesulitan yang Hans hadapi selama ini.


“Kak, aku ingin bertemu dengan pacar Kak Hans. Aku tidak rela jika pacar Kak Hans tidak sebaik Kaka.” Amelia protes karena sampai saat ini Hans tidak pernah mengenalkan teman baiknya.


Hans hanya tersenyum, dia mencintai wanita yang jauh dari kata baik sifat dan prilakunya. Entah apa yang membuat hatinya dimiliki Lissa sepenuhnya. Dia tetap mencintai Lissa meskipun perbuatannya sudah tidak wajar sebagai seorang remaja.


Hans menghindari Lissa agar rasa cintanya sedikit demi sedikit sirna. Tapi usahanya belumk membuahkan hasil. Hatinya masih terpaut pada Lissa seorang.


“Jangan bicara yang tidak-tidak, ayo tidur. Sudah malam, kamu tidak boleh kedinginan.” Amelia menatap kipas usang yang tidak berhenti berderit.


Hans paham betul maksud dari tatapan adiknya. Kipas yang begitu banyak kenangan sampai Hans enggan membuangnya. Beberapa kali rusak dan selalu Hans pertahankan agar tidak berakhir di tong sampah. Hans selalu memperbaikinya agar bisa berfungsi kembali.


“Jangan menatapnya begitu, dia bisa saja lari mengejarmu.” Hans menarik Amelia agar segera masuk kekamarnya.


Hans selalu memberikan perhatian nya pada Amelia. Hans memastikan apapun yang Amelia kerjakan tidak menganggu kesehatannya nya. Hans selalu menjaganya seperti permata.


Setelah memastikan adiknya tidur, Hans memutuskan untuk meneruskan pencariannya. Dia masih penasaran dengan Oji. Entah kenapa perasaannya tidak bisa begitu saja percaya dia tidak terlibat dengan penculikan yang terjadi.


Hans melacak lewat ponsel keberadaan Oji saat ini. Hans memasang pelacak pada Hoodie Oji saat mereka bertemu sore tadi. Dia masih ada di lokasi alat pelacaknya terakhir kali.


Hans mencari tau hubungan Oji dengan pemilik rumah besar yang ada di petunjuk alat pendeteksinya. Hans berharap ini bisa membantunya menemukan Ayu.


Hans memang lihai dengan segala yang berhubungan dengan IT, dia pandai melacak dan meretas data milik orang lain. Rama sangat bangga dengan hasil kerja Hans selama menjadi Tim IT di perusahaan yang dia kendalikan.

__ADS_1


Perusahaan yang saat ini sedang Rama bangun meskipun tidak sebesar perusahaan raksasanya yang saat ini dikendalikan oleh Malik.


Tertera nama Kala sebagai pemilik rumah besar yang berada jauh dari pusat kota. Rumah dengan lahan luas yang mengelilinginya bak istana. Hans mencoba meretas sistem keamanan rumah milik Kala, agak sulit karena sistem diadopsi dari luar negri. Hans menyerah dan memutuskan untuk mendatangi kediaman Kala.


Dari luar tampak rumah mewah dengan penjagaan yang cukup ketat. Seperti rumah-rumah mewah pada umumnya. Hans mengamati dari jarak cukup jauh dengan teropong. Berharap ada keajaiban yang membawanya menemukan Ayu.


Hans menunggu dengan sabar sampai tertidur didalam mobil. Matanya juga sudah mulai ngantuk karena sudah lewat tengah malam.


Hans memutuskan membiarkan mata nya yang sudah lengket terpejam, membiarkan jiwa dan raga nya untuk beristirahat walau sejenak.


***


Oji mengendap-endap memasuki kamar Kala yang tidak terkunci, dia harus mengambil kunci dan membebaskan Ayu dari cengkraman Kala. Oji tidak bodoh melakukan aksinya begitu saja. Sebelumnya dia memberikan minuman pada semua penjaga yang sudah di campur dengan obat tidur agar semua penjaga tidak mengetahui aksinya.


Oji memasuki kamar Kala, mengibaskan tangannya di wajah Kala memastikan Kala terlelap.


Setelah dirasa aman, Oji meraih kunci yang Kala simpan di laci brankasnya. Oji sudah menebak PIN yang kala gunakan adalah tanggal lahir Sarah. Dan benar saja, dengan mudahnya Oji bisa membuka brangkas tanpa suara.


Oji memastikan kembali Kala tidak mengetahui dan masih terlelap, setelah aman Oji melanjutkan misinya membebaskan Ayu.


Dengan cepat Oji melangkah kan kakinya keruangan dimana Ayu di sekap.


Semua penjaga terlihat sudah tidak sadarkan diri karena ulahnya. Oji sedikit menaikkan bibirnya tersenyum bahagia.


"Apa yang kamu lak....." Sarah merasa heran.


"Hussshhhh....jangan berisik." Oji segera membawa Ayu dan Sarah keluar sebelum Kala menyadari perbuatannya.


Sarah dan Ayu segera bangkit, mereka berdua tersenyum bahagia karena Oji berniat baik membebaskan nya dari ruang penyekapan yang sudah dua hari ini membelenggu mereka.


"Cepat, kita tidak punya banyak waktu." Oji meraih pergelangan tangan Ayu.


Ayu tidak menolak karena merasa panik sekaligus merasa bahagia. Mereka bertiga berjalan setengah berlari.


"Kau demam?" Oji memeriksa kening Ayu. "Kau sakit?" Ayu menggeleng. Ayu merasa baik-baik saja, Oji yang bersikap berlebihan menurut Ayu.


Oji terlihat panik, dia tau orang seperti apa Pamannya ini. Kala orang yang tidak pandai meredam emosinya. Dia bisa saja menyakiti siapa saja yang melawannya.


Mereka sudah sampai di luar halaman saat suara tembakan meletup.


Duarrrrr.....

__ADS_1


Suara tembakkan merobohkan keberanian Oji. Langkahnya terhenti dengan mengangkat kedua tangannya sebagai tanda tidak ada perlawanan.


Kala tidak terlelap, dia sengaja membiarkan Oji masuk dan membiarkannya dengan leluasa mengambil kunci dari brangkas miliknya. Kala ingin memastikan prasangka nya yang sudah tidak enak sejak sore tadi.


"Jangan melangkah lebih jauh atau aku akan menembak salah satu dari kalian bertiga." Kala berdiri di belakang mereka dengan senapan laras panjang.


Ayu dan Sarah menangis saling berpelukan, Oji berdiri di depan mereka berdua menghalangi Kala menyakiti kedua wanita yang coba dia selamatkan.


Hans yang masih berada di sana merasa terkejut mendengar suara tembakan. Hans berlari mendekati gerbang dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Jangan sakiti mereka, aku mohon lepaskan Ayu." Ayu terduduk saat ini, kakinya lemas tidak lagi sanggup menopang berat tubuhnya.


Mata nya sedikit berkunang-kunang, pandangan matanya kabur dan keringat dingin mulai bercucuran. Ayu gemetar hebat.


"Aku sudah menduga ada yang tidak beres. Kau bahkan meracuni semua anak buahku." Kala tersenyum ketus. Dia tidak percaya saat melihat semua penjaganya tidur dan tidak bisa dibangunkan.


"Kembali kedalam sendiri atau aku seret kalian berdua!" Sarah menarik Ayu agar menuruti perkataan Kala.


Sarah memegang perutnya yang terasa sakit, dia tidak boleh kalah, harus bertahan demi keselamatannya dan putranya. Kala akan semakin menjadi-jadi jika tau dirinya menderita.


Kala menarik pasmina Ayu saat mereka melewatinya, tatapan matanya seolah ingin membunuh Ayu. Sarah memukul tangan Malik agar melepaskan pasmina Ayu.


"Jangan berbuat bodoh, atau aku tidak akan segan menembaknya." Kala berbisik di telinga Sarah.


Sarah marah pada dirinya sendiri, masa lalu yang terus saja menghantui dan sekarang membawa Ayu terperosok di dalam nya. Rasanya ingin mendorong Ayu agar pergi meninggalkannya sendiri melawan Kala.


Hans tidak terkejut melihat Ayu dan Sarah ada di sana, Han bingung saat melihat Oji di todong senjata laras panjang karena mencoba menyelamatkan Sarah dan Ayu.


Hans harus segera melaporkan kejadian yang baru saja dia lihat. Ayu dan Sarah harus segera di selamatkan.


Tapi dia juga harus melakukan pembelaan pada Oji, ternyata bukan Oji pelakunya. Dia bahkan mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Ayu dan Sarah.


Hans mengendap-endap meninggalkan rumah Kala, dia beruntung karena semua penjaga teller dan tidak dalam keadaan siaga.


"Kau jangan sok jagoan, mau melawanku! Hah....." Kala memukul pelan pipi Oji yang masih mematung ditempatnya.


Melawan Kala saat ini sama saja dengan bunuh diri. Dia tidak pandang bulu, Kala akan menyakiti siapa saja yang melawan keinginannya.


"Aku sudah menduga kamu punya perasaan dengan gadis itu. Kenapa kita tidak bekerja sama. Kenapa malah membuatku sulit!" Kala berteriak di telinga Oji.


Oji tidak menjawab pertanyaan Kala. Perasannya pada Ayu tulus. Dia hanya ingin Ayu mencintainya tanpa paksaan. Perasaan yang selama ini tidak pernah terbalaskan meski dirinya sudah bekerja keras.

__ADS_1


Kala memukul tengkuk Oji sampai Oji tidak sadarkan diri. Baginya saat ini Oji adalah ancaman. Dia harus berada dalam genggamannya agar tidak merusak rencana yang sudah Kala susun.


__ADS_2