
Aldo sudah menyiapkan beberapa mobil mewah untuk menjemput tamu yang sudah mendapatkan undangan. Memperlakukan setiap undangan dengan penuh penghormatan seperti bagaimana Rama Saputra memperlakukan setiap tamu dengan penuh hormat.
Satu persatu tamu undangan sudah memenuhi halaman. Tidak banyak tamu undangan, hanya keluarga dan kerabat dekat serta para sahabat yang dekat dengan keluarga.
Sandra dan Melani langsung mencari kamar dimana Ayu berada. Merasa begitu bersalah karena mereka tidak bisa menjaga sahabatnya dengan baik. Kejadian yang begitu singkat namun begitu besar dampak yang Ayu harus terima.
Krek....
Terlihat Ayu yang sedang duduk di tepi tempat tidur dengan dandanan sederhana namun memancarkan kecantikan dan aura penuh kedewasaan. Terpancar kecantikan yang masih belum tersentuh dunia luar.
Begitu lugu gadis yang ada di hadapan mereka. Masih terlihat kecil untuk jadi pengantin sebenarnya.
“Hai...(Sandar dan Melani melangkah masuk). Kamu sangat cantik.” Sandra dan Melani memeluk Ayu bergantian.
“Apa kalian akan tetap jadi sahabat ku?” Ayu berusaha menahan air mata agar tidak merusak riasan yang sudah susah payah di buat oleh perias pengantin.
“Jangan menangis, kalo kamu menangis nanti bisa merusak wajah cantik ini.” Melani merasa gemas melihat Ayu yang begitu cantik.
Tidak lama Bapak datang siap menjemput Ayu untuk di nikahkan. Bapak tersenyum lega melihat keluarga Malik adalah orang yang begitu baik. Memperlakukan keluarga Ayu yang tidak punya apa-apa dengan penuh kasih sayang yang tulus.
“Kenalkan Pak, ini sahabat Ayu.”
“Melani” Mengulurkan tangan untuk salim.
“Sandra Om.”
“Saya Hadi.” Hadi menyambut hangat uluran tangan kedua gadis cantik yang Ayu perkenalkan sebagai sahabat.
“Kamu sudah siap?” Hadi meraih tangan Ayu.
Ayu hanya mengangguk. Tersenyum semanis mungkin agar tidak ada lagi ketegangan di hati kedua orang tua dan semua orang yang mencintainya.
Ayu keluar dari kamar lantai dua, berjalan bergandengan dengan Bapak di temani kedua sahabatnya yang berjalan mengikuti dari belakang.
Semua mata terhipnotis melihat mempelai wanita yang masih begitu muda dan cantik. Ayu sampai menundukkan kepala tidak mampu menatp satu persatu mata yang saat ini sedang mengawasinya.
Suasana begitu tenang dan hikmat saat kedua mempelai sudah duduk di hadapan Penghulu dan seorang Wali Hakim. Entah apa yang membuat Bapak tidak mau menikahkan putrinya sendiri. Ayu tidak mampu menolak, ini semua adalah hukuman yang harus dia jalani.
“Apa kau tegang?” Malik berbisik di telinga Ayu. Hanya ada senyum yang menghiasi bibir Ayu yang merah merona di poles lipstik.
Sepertinya yang saat ini sedang tegang adalah Kak Malik. Tangannya tidak berhenti dia remas-remas dan dia berkeringat seperti orang yang sedang dikejar kucing. Batin Ayu
Setelah proses dilakukan satu persatu.
__ADS_1
Akhirnya Malik mampu mengucapkan Ijab Kabul dengan lancar. Sudah resmi Ayu dan Malik menjadi pasangan suami dan istri. Air mata kebahagiaan membanjiri ruangan. Ada kepedihan dan ada kebahagiaan yang menghiasi secara bersamaan.
Tapi entah perasaan apa yang saat ini ada di dalam diri Ayu. Sudah tidak mampu lagi menangis saat ini. Ayu lebih merasa menjadi wanita yang beruntung mendapatkan laki-laki seperti Kak Malik.
“Maaf kan aku. Aku datang terlambat.” Jofan mencoba mengatur nafasnya saat sudah berada di depan Ayu yang masih mematung melihat kedatangan Jofan.
“Kau ini telat sekali. Acaranya sudah selesai, mereka sudah resmi jadi sepasang pengantin.” Melani mendengus kesal.
“Rencana kita gagal. Kepala sekolah bahkan ikut denganku.” Jofan tidak bisa mencegah Ayah nya untuk ikut karena undangan yang sudah dia dapatkan secara resmi dari Rama Saputra.
“Kepala sekolah itu Ayahmu.” Kepala Jofan di jitak dari belakang oleh Kak Rey yang datang dengan Moana.
Jofan sedikit meringis sambil mengusap kepalanya. Tapi senyum kembali merekah saat melihat Kak Ana yang ada di samping Kak Rey.
“Aku merindukan mu.” Jofan memeluk Ana yang di balas pelukan hangat oleh Ana. Bagi Ana, Jofan dan Rey adalah satu paket. Mereka tidak akan terpisahkan.
“Selamat adik kecil ku. Kamu bahkan mendahului Aku.” Ana memeluk Ayu dengan penuh rasa haru. Gadis kecil setegar karang yang saat ini harus sedikit melunak demi kebahagiaan setiap orang.
Selama acara berlangsung, Ayu belum melihat Ibu datang menghampirinya. Hanya ada Bapak yang saat ini sedang berbincang bersama Tuan Rama. Mata Ayu mencoba berkeliling mencari sosok wanita kesayangannya.
“Ayu mencari sesuatu? Biar aku panggil Aldo untuk membantu mencari.” Malik tau keresahan hati Ayu. Dia memperhatikan setiap gerakkan tubuh Ayu.
Ayu hanya menggeleng dan tersenyum, dia takut saat ini Ibu memang sengaja tidak mau menemuinya. Ayu mencoba melupakan rasa penasarannya dengan bergabung bercanda bersama ketiga sahabatnya, Kak Rey dan juga Kak Ana.
“Kenapa aku tidak melihat Ayah ya Fan. Kau bilang Ayah datang bersama mu.” Rey mengedarkan pandangan, namun tetap tidak di temukan.
Jofan hanya mengangkat bahunya, tidak mau tau urusan Ayahnya seperti biasa. Akhirnya Rey memutuskan untuk mencari Ayah Jofan yang adalah Kaka kandung Rey.
Rey berkeliling di halaman rumah yang cukup luas. Setelah pencariannya yang cukup teliti di setiap sudut, Rey mendengar suara dua orang yang sedang berdebat. Rey mencoba mencari sumber suara dan melangkah dengan hati-hati agar tidak terdengar oleh siapa pun yang ada di balik pohon besar yang ada di halaman belakang rumah.
Semakin lama suara laki-laki yang ada di sana sangat Rey kenal. Suara Ferdinan yang sangat khas di telinga Rey.
Isi percakapan mereka begitu mengejutkan Rey, saat ini Rey tidak mampu melihat dari balik pohon siapa wanita yang sedang berbicara dengan Ferdinan. Rey lebih memilih pergi dan tidak ikut campur dengan urusan Kaka kandungnya.
“Kau baik-baik saja?” Ana menyodorkan air putih. Membantu membersihkan keringat yang banjir dengan tissue yang ada di tangannya.
Ana sangat khawatir melihat tangan Rey yang gemetar, muka nya sedikit pucat dan pandangan matanya tidak fokus. Persis sama seperti saat dirinya kehilangan Arumi.
“Jangan membuatku takut. Katakan ada apa?”Ana masih penasaran.
“Maaf...maaf kan aku. Aku baik-baik saja.” Mencoba menyembunyikan apa yang membuatnya terkejut.
“Ibu.” Semua mata memperhatikan wanita yang Ayu sebut Ibu.
__ADS_1
Sedari tadi mereka semua menunggu Ibu yang Ayu cari. Ingin memperkenalkan Ibu pada semua orang-orang terdekatnya.
Rey semakin terkejut saat melihat laki-laki yang berjalan tidak jauh dari belakang wanita yang Ayu sebut Ibu.
Ibu langsung menemui putrinya yang sedari tadi sudah menunggunya dengan rasa khawatir. Mengurai senyum mencoba menjadi pelipur agar anak gadisnya tidak terlalu terbebani.
“Ibu kemana saja?” Ayu berdiri memeluk Ibu.
“Selamat anak ku sayang.” Ibu mencium setiap bagian wajah putri cantik nya.
Semua orang tersenyum kecuali Rey yang masih diam mematung. Mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa hubungan antara Ibu dari Ayu dengan Kaka kandungnya.
Rey mengikuti langkah Kaki Ferdinan dengan sorot mata yang begitu tajam. Mencoba mencari jawaban yang tidak terbayang sama sekali di benak Rey. Hanya ada kebingungan yang Rey rasa ini semua harus di luruskan.
Saat ini Ferdinan sudah berdiri di depan Ayu dan Malik yang duduk satu meja bersama ketiga sahabatnya, Rey dan juga Ana.
Rey melihat mata Kak Ferdinan yang mulai berkaca-kaca. Dia laki-laki yang selalu tidak bisa menahan air matanya. Berwibawa tentu saja, laki-laki ini selalu terlihat seperti laki-laki yang begitu bersahaja.
Selama ini Rey tidak pernah tau akan penyebab hancurnya rumah tangga Kak Ferdinan dengan Kak Tina. Mereka selalu terlihat harmonis dan membuat semua mata iri melihat kemesraan mereka.
Keputusan Ferdinan dan Tina untuk berpisah sangat menyakitkan. Terlebih untuk Jofan yang saat itu sudah mengerti arti sebuah perpisahan.
Arumi masih Bayi dan tentu saja masih sangat membutuhkan kedua orang tuanya menjaga dan memberinya kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.
Hanya ada ucapan selamat yang keluar dari bibir Ferdinan. Tapi tidak untuk air mata yang begitu pilu. Tidak mungkin laki-laki ini akan menagis hanya karena ucapan selamat.
Pikiran Rey sudah kalut, dia benar-benar seperti sedang di sayat sedikit demi sedikit.
Setelah acara panjang, akhirnya semua tamu berpamitan untuk pulang. Acara cukup sederhana dan semua tamu yang datang paham jika pernihakan ini tidak untuk di publikasikan. Mereka semua menutup rapat mulut mereka agar tidak terlibat masalah dengan keluarga Rama Saputra.
Ana bingung dengan perubahan sikap Rey. Sepanjang perjalan Rey hanya membisu dan tidak merespon apapun ucapan Ana.
Pandangan matanya kosong dan tidak fokus.
“Kak, tolong berhenti. Kalo Kak Rey masih seperti ini kita dalam bahaya Kak. Kak Rey mau kita berdua kecelakaan!” Ana mengeraskan suara nya.
Rey menuruti permintaan Ana. Bingung dan kalut dengan apa yang dia dengar. Rey begitu khawatir dengan Jofan. Bagaimna jika sampai Jofan tau semua yang Rey dengar. Itu pasti akan sangat membuatnya hancur.
Rey butuh bertahun-tahun menyadarkan Jofan dari keterpurukan nya kehilangan Arumi. Kali ini Jofan tidak akan mudah menerima perbuatan Ayah nya yang sudah menghancurkan kehidupan nya dan Arumi.
Rey hanya memeluk Ana, mencoba menepis kekalutan yang ada dalam dirinya. Mencoba menenagkan diri dan berpikir lebih positif. Ana semakin khawatir melihat Rey yang tidak bisa mengendalikan emsosinya.
Laki-laki yang biasanya akan selalu membuatnya bahagia dan perkasa kini jadi sosok laki-laki yang begitu penuh kepedihan. Sama seperti saat Arumi pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
__ADS_1