Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 110 ( Camping Part 3 )


__ADS_3

Malik menghabiskan banyak waktunya untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang mendesak. Ternyata banyak yang Rera dan Aldo tangani sendiri selama ini. Mereka bekerja keras tanpa dirinya.


"Bos, sore ini kita meeting di restaurant Jepang di Mall kota Casablanca. Ada yang harus kita bahas dengan pemilik Dragon yang meminta kita untuk berinvestasi." Malik meragukan profil Kala saat membacanya.


"Entah Al, aku tidak bisa percaya dengan orang ini. Dia tidak sebaik kelihatannya." Aldo akan mundur jika Malik merasa tidak Yakin.


"Apa Bos melihat dia tidak bisa dipercaya?" Malik mengangkat bahunya, dia sendiri bingung kenapa ada perasaan seperti ini tiba-tiba.


"Baiklah, aku akan batalkan pertemuan ini." Aldo mencoret jadwal yang sudah ada di list nya.


Maaf Tuan Kala, saat ini proposal anda belum bisa kami setujui, mohon maaf kami belum bisa menyetujui kerja sama yang Tuan ajukan. Pesan terkirim dari ponsel Aldo.


Tring....


Kala meraih ponselnya yang ada di saku celananya. Geram membaca pesan yang dia terima, Kala membanting ponsel nya sampai hancur berserakan.


"Lihat saja Malik, kau akan menyesal!!!!" Tangan nya terkepal penuh amarah.


Malik memandang foto Ayu yang ada di meja kerjanya, baru saja sehari di tinggal, rasanya rindu sudah mendarah daging ingin segera berjumpa.


"Al, apa pekerjaan ku masih banyak? Tidak bisakah aku libur untuk besok?" Malik bertingkah seperti anak kecil. Hatinya sedang dipenuhi awan mendung karena menahan rindu.


"Bos bisa menentukannya sendiri." Merasa aneh dengan sikap Malik.


Dia biasanya akan datang dan pergi sesuka hatinya, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu. Aldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ayo kita selesaikan hari ini semua Al." Aldo menurut saja. Bos nya sedang galau karena Nona tidak di sampingnya.


Malik bekerja sampai larut malam, mencoba mengalihkan perhatian agar tidak terus mengkhawatirkan Ayu.


"Bos, ini sudah sangat malam. Kita lanjutkan besok ya Bos. Nanti Bos bisa sakit." Aldo sudah lelah sekali.


"Kau pulang lah dulu, aku masih mau melanjutkan perkejaan ku." Aldo merasa salah bicara, bukan itu maksudnya.


"Bos, Nona pasti akan sangat sedih jika Bos sampai sakit." Malik terhenti, ada benarnya apa yang Aldo ucapkan.


Setelah memikirkan ucapan Aldo, Malik akhirnya memutuskan untuk menyudahi perkejaan nya yang tidak berkesudahan.


"Baiklah, ayo kita pulang. Aku juga sudah sangat lelah." Malik meregangkan otot-otot tubuhnya yang menegang.


Nona memang kelemahannya, dia akan melakukan apa saja demi Nona. Aldo tersenyum merasa menang kali ini.


Malik mencoba beberapa kali menghubungi ponsel Hans, Jofan dan yang lainya kecuali Ayu, tapi tampaknya tempat mereka camping tidak ada signal. Malik jadi tidak bisa tidur malam ini memikirkan keadaan Ayu saat ini.


Dia turun ke bawah untuk membuat susu hangat kesukaan Ayu. Biasanya Malik membuat kan untuk Ayu sebelum tidur.


Tangannya perlahan menuangkan susu ke dalam gelas, mengaduknya dengan air hangat agar bisa segera dinikmati. Malik menatap nanar gelas kesukaan Ayu yang selalu dia gunakan setiap saat.


"Nak, kamu belum tidur?" Rama merasakan hal yang sama dengan Malik. Seharian ini pikirannya dipenuhi rasa khawatir karena Ayu camping di tengah hutan bersama siswa lain.


"Aku tidak bisa memejamkan mata. Aku tidak bisa berpura-pura semua baik-baik saja Yah." Malik terlihat begitu sedih.


"Kenapa tidak menyusulnya kalau khawatir." Rama mendukung agar Malik pergi menemani Ayu.


"Bagaimana dengan perkejaan ku yang menumpuk." Itu juga sama pentingnya.


"Serahkan saja padaku, aku masih cukup kuat menandatangani berkas-berkas yang menumpuk di atas mejamu." Malik tersenyum sumringah.


"Benarkah?" Malik lari memeluk tubuh Rama dengan erat. Mencium pipinya kiri dan kanan karena merasa begitu bahagia.


"Terimakasih, aku menyayangimu!" Malik meraih kunci mobilnya dan segera melaju menuju tempat camping di temani Aldo yang selalu siaga kapanpun Malik membutuhkannya.

__ADS_1


"Bos, kenapa mendadak sekali ingin pergi ke tempat camping?" Malik mendengus mendengar pertanyaan Aldo.


"Kau tidak pernah jatuh cinta?" Malik menatap tajam mata Al.


"Pe...pe....tentu saja pernah." Biar begini banyak yang naksir.


"Tapi kamu belum merasakan cinta seperti ini Al, ini sangat berbeda." Malik membayangkan wajah Ayu yang yang tersenyum padanya.


"Aku tidak paham." Al bingung apa maksud dari ucapan Malik.


"Tentu saja, kau tidak akan pernah tau kalau belum merasakannya sendiri." Malik melajukan mobilnya menembus jalanan yang lengang. Kegelapan jalanan menemani sepanjang perjalanan mereka.


Aldo memutar music mengusir kesunyian. Mendengarkan bait demi bait lagu yang dinyanyikan dengan suara merdu yang menambah perih hati Malik.


"Kau bisa putar lagu lain?" Malik kesal Aldo membuatnya semakin rindu.


Tangannya sigap memutar lagu lain yang tidak menyinggung perasaan Malik. Memutar perlahan tapi tidak menemukan satu lagu pun yang tidak mengandung cinta. Semua lagu sama saja, akhirnya Aldo mematikan music demi kesejahteraan bersama.


***


Bruggggg....


"Jangan menggangguku San, aku masih meng....." Mata Ayu terbuka lebar. Ketiga sahabatnya tidak ada di dalam tenda. Hanya ada karung bergerak di depan matanya.


Ayu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya kecuali matanya. Takut tapi penasaran dengan apa yang ada di dalam karung.


Seekor ular besar keluar dari dalam karung. Ayu bingung harus berbuat apa. Jika lari, sudah pasti ular akan mematuknya. Jika diam saja, bisa saja ular itu tau Ayu ada di balik selimut yang menutupi tubuhnya.


"Ayo, kita harus cepat. Kita akan tamat riwayatnya jika ketahuan meninggalkan Ayu sendirian." Mereka bertiga berjalan tergopoh-gopoh menuju tenda.


Sandra menyibak pintu tenda, Sandra terkejut setengah mati sampai langkahnya goyah dan jatuh terduduk di luar tenda.


"Ada apa San!" Melani terkejut melihat Sandra terjatuh. Membantu Sandra berdiri.


"Aku akan bangunkan Jofan, kamu Martha, tolong bangunkan Kak Hans." Mereka berdua segera berlari meminta bantuan.


Sandra mengawasi dari balik tenda tanpa suara, ular bergerak lambat karena suasana sangat tenang dan tidak mengganggunya.


"Sandra!" Suara Jofan membuat Sandra terkejut, Sandra melihat bagaimana ular bergerak mencari celah agar bisa keluar dari dalam tenda.


"Hushhh....kau membuat ular itu terganggu." Merasa frustasi dan kesal.


Hans membangunkan semua panitia meminta bantuan. Semua orang berkumpul di luar tenda, mencoba berdiskusi bagaimana cara mengeluarkan ular tanpa melukai siapa pun. Terutama Ayu yang bersembunyi di balik selimut tebal yang Kak Malik bawakan.


Ayu menahan tangisnya, dia tidak boleh bersuara agar ular tidak mendekatinya.


Semua orang merasa kecolongan karena bisa-bisa nya ada ular sebesar itu masuk ke dalam tenda.


"Apa kalian bekerja dengan benar? Lihat, bagaimana mungkin bisa ada kejadian memalukan seperti ini. Kalian tidak memastikan keselamatan kami!" Jofan sudah tidak bisa menahan diri.


"Kami sudah menyisir semua wilayah Fan, dan ini belum pernah terjadi. Wilayah ini aman." Jawab seorang panitia yang tidak terima disalahkan begitu saja.


"Kau bilang aman. Lihat.....lihat....!!!!" Jofan berteriak, ular yang semula tenang mulai gelisah karena suasana sangat ramai.


Ayu bisa merasakan pergerakan ular yang menyentuh tubuhnya yang terbalut selimut tebal. Ayu berdo'a dalam hati. Memohon agar bisa selamat dan tidak ada yang terluka. Air matanya banjir di balik selimut, Ayu mencoba untuk tenang dan tetap berpikiran positif.


Tubuhnya sudah bergetar hebat menahan takut yang begitu besar.


"Apa ini waktu yang tepat untuk bertengkar. Tolong pikirkan jalan keluar nya." Sandra semakin frustasi melihat semua orang seperti anak kecil.


"Kami juga menjaga nya Gan, sama seperti kamu dan sahabatnya. Tapi ini semua diluar kendali kita." Hans mencoba menjadi penengah agar tidak ada keributan.

__ADS_1


"Kalau sampai terjadi hal yang tidak di inginkan. Aku pastikan kalian akan menyesal." Jofan kesal karena semua orang tidak bekerja dengan baik.


"Ada apa ini." Samuel datang dengan rambut kriting nya yang berantakan.


"Sam, Ayu terjebak di dalam. Ada ular besar di dalam tenda kita Sam." Melani berteman baik dengan Samuel si anak Papua yang pernah mereka kira adalah Oji.


"Ular, Ayu ada di dalam? Kenapa kalian semua diam saja!" Samuel melangkah mendekati tenda.


"Apa yang akan kau lakukan, ini bisa membahayakannya." Hans menarik Samuel mundur.


"Tenang Kak, aku bisa menjinakkan ularnya. Kasian Ayu di dalam sana." Samuel kembali maju, Hans kali ini tidak menahannya.


Mencoba percaya pada ucapan Samuel.


Samuel terbiasa hidup keras di kampung halamannya. Setiap hari dia harus berjalan melewati hutan lebat untuk bisa sampai ke sekolahnya. Baginya ular seperti mainan yang tidak berbahaya.


Dengan mudahnya Samuel menangkap kepala ular dan membawanya untuk di amankan. Semua orang akhirnya bisa bernafas lega ular sudah berhasil Samuel jinakkan.


Jofan lari memeluk tubuh Ayu yang masih tegang. Kini Ayu bisa menangis sepuasnya tanpa menahannya lagi.


"Menangis lah, tidak apa. Maaf kan kami semua." Tidak ada yang bersuara. Semuanya merasa menyesal dengan kejadian ini.


Kejadian bertubi-tubi yang menurut panitia diluar akal sehat. Sebelumya tidak pernah terjadi, ada babi hutan ataupun ular yang memasuki perkemahan. Karena sebelum camping mereka semua sudah memastikan semua tempat aman.


"Aku rasa ada yang sengaja melakukan ini." Seorang panitia merasa tidak beres.


"Benar, kita tidak bisa tinggal diam dan harus mengawasi setiap gerak-gerik mencurigakan."


Setelah mencapai kesepakatan, semua panitia kembali istirahat untuk kegiatan esok hari.


Hans mendatangi tenda Ayu yang masih terang. Mereka pasti akan sangat takut jika harus tidur di tenda yang sama.


Ayu masih ada dalam dekapan Jofan saat Hans masuk. Ketiga sahabat lainnya hanya membisu karena mereka meninggalkan Ayu seorang diri.


Jofan memarahi ketiganya karena tidak bisa dipercaya menjaga satu sama lain. Jofan sudah merasa tidak tenang saat memutuskan untuk tidur. Tapi matanya lelah dan butuh istirahat.


"Fan, mereka harus istirahat. Kita bisa bicara lagi besok." Ada benarnya ucapan Hans.


"Biarkan Ayu tidur di tenda panitia, aku akan menjaganya." Jofan tidak percaya begitu saja.


"Tidak, biarkan mereka di sini, aku yang akan menjaganya." Jofan tidak melepaskan Ayu.


"Fan, panitia banyak yang bergadang. Kami berpatroli. Jika di sini kita bisa saja kecolongan seperti tadi." Hans bersikeras.


"Kalau begitu biarkan mereka tidur dalam satu tenda. Suruh panitia yang lain bertukar tempat." Jofan tidak mau Ayu merasa sendirian.


"Baiklah Fan, bawa perlengkapan tidur kalian yah. Kak Hans akan menjaga kalian." Hans tersenyum hangat. Merasa iba karena mereka semua terlihat sangat ketakutan.


Ayu berjalan bergandengan tangan dengan ketiga sahabatnya. Tubuh nya masih lemas dan matanya sembab. Tiba-tiba saja ada tangan yang memeluknya dari belakang.


"Apa kau tidak merindukanku?" Ayu sangat mengenal suara kaki-laki yang ada di belakang nya.


Ayu terisak, air matanya tidak bisa dibendung lagi. Rasa bahagia bercampur sedih karena merasa tenang Kak Malik datang di saat yang tepat.


"Ada apa? Tenang...Aku ada di sini. Jangan takut lagi." Malik memeluk erat tubuh Ayu yang begitu lemah.


Hans akhirnya tidak bisa membawa semua sahabat Ayu dalam tenda yang sama. Mereka kembali ke tenda semula dan Hanya Malik yah menemani Ayu di tenda yang sudah Hans sediakan.


Malik tidak banyak bertanya, dia memeluk Ayu sampai terlelap di pelukannya. Pantas saja hatinya tidak tenang. Malik bersyukur karena memutuskan datang malam ini juga.


Lagi-lagi Malik harus melihat Ayu sedih dan ketakutan. Malik merasa ini bukan perbuatan Oji. Mata-mata nya mengawasi Oji dan dia berada di apartemen nya.

__ADS_1


Lalu perbuatan siapa lagi ini. Kenapa mereka menyerang Ayu. Kenapa bukan dirinya saja yang mereka jadikan target. Malik merasa berdosa atas apa yang membuat Ayu menderita.


__ADS_2