Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 116 ( Kelas 3 SMA )


__ADS_3

Hari pertama Ayu masuk sekolah dan sekarang sudah kelas 3 SMA. Kali ini Ayu, Sandra, Melani dan Jofan berada di kelas yang sama seperti saat kelas 1 SMA. Betapa bahagianya mereka bisa berkumpul kembali.


Tidak hanya Ayu yang bahagia dapat kelas yang sama, ketiga sahabatnya tidak kalah bahagia saat tau Mereka bisa berkumpul kembali layaknya keluarga.


Sudah satu Minggu Malik dinas di luar kota, Malik menitipkan Ayu di rumah Rama karena tidak mungkin meninggalkan Ayu sendirian di apartemen.


Malik masih bersikap cuek pada Ayu terakhir kali, tapi Ayu tau hati mereka terpaut satu sama lain. Ayu bahkan pernah merayu Malik dengan menggunakan pakaian ketat, membuat Malik tersenyum tapi tidak merubah sikap dinginnya.


Ayu seperti biasanya diantar Pak Dodo, dia jadi teman Ayu selama Malik bersikap cuek padanya. Pak Dodo sering kali menghibur Ayu agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.


"Mel, kita duduk satu bangku lagi yah. Kita harus membuat mereka berdua jadian." Bisik Ayu di telinga Melani.


"Iya, mereka sama-sama malu seperti anak TK" Melani terkikik mengingat sikap Sandra saat cemburu pada Martha.


"Yu, kami sempat datang ke rumah Kak Malik. Dan Mamih bilang kalian tidak ada di rumah. Kenapa ponselmu juga tidak bisa di hubungi!" Teriak Jofan karena suasana ramai dipenuhi kegembiraan.


"Ponselku hilang, aku tidak bisa menghubungi kalian karena aku tidak tau ponselku ada dimana." Jofan mengernyit kan dahinya.


Membalikkan tubuh nya kebelakang menatap Ayu tajam penuh pertanyaan.


"Kenapa tidak bilang. Apa kau sudah ada nomor yang baru?" Jofan mengeluarkan ponsel dari saku celana nya. Bermaksud mencatat nomor ponsel Ayu yang baru.


"Belum Ada Mas. Aku belum punya uang untuk beli ponsel baru." Ayu tersenyum, ada kesedihan di wajahnya, Jofan bisa melihatnya dengan jelas.


"Apa Kak Malik tau ponselmu hilang?" Jofan merasa ada yang tidak beres.


"Jangan!" Ayu spontan ketakutan jika sampai Kak Malik tau. " Hehehhe....maaf. Tolong jangan katakan pada Kak Malik. Aku akan segera membeli yang baru." Ayu merasa sedih karena ponsel pemberian Kak Malik adalah ponsel mahal. Teman-teman nya bahkan iri saat tau Kak Malik memberikan ponsel yang begitu mewah pada Ayu.


"Kamu sengaja menghilangkan nya?" Ayu terlihat bingung di mata Jofan. Dia menyembunyikan sesuatu.


Ayu menggeleng, Pertanyaan Jofan mengingatkan Ayu bagaimana sikap Kak Malik belakangan ini yang tidak memperhatikan nya.


Jofan menyentuh lembut puncak kepala Ayu. Mengisyaratkan agar Ayu tidak khawatir.


Kedua sahabatnya terharu dan cemburu melihat Jofan yang begitu menyayangi Ayu.


Melani menggenggam erat tangan kanan Ayu. Mereka kini fokus mendengarkan wejangan dari kepala sekolah dan sambutan dari para guru dan anggota OSIS yang bertugas.


Hari pertama hanya pengenalan kelas dan tidak ada pelajaran, kedepannya mereka akan sibuk dengan berbagai pelatihan dan ujian agar siap saat waktunya tiba masuk ke universitas impian.


Jam 12 siang kelas sudah bubar, Jofan ijin pada Pak Dodo yang mengawasi Ayu untuk mengajaknya jalan bersama dengan sahabat lainnya ke Mall sebentar saja.


Pak Dodo meminta ijin sebelum mengambil keputusan pada Mamih, dan Mamih dengan senang hati mengijinkan Ayu untuk pergi. Mamih bahagia jika Ayu bisa menikmati masa mudanya tanpa terbebani dengan status nya saat ini.


Ayu berada di mobil Jofan bersama Sandra dan Melani. Sudah lama tidak jalan ke Mall hanya untuk bersenang-senang seperti saat ini. Rasa rindu nya kini bisa terobati.


"Mas Jofan, dalam rangka apa mengajak kita semua jalan? Kamu mau nembak seseorang yah?" Ayu menggoda Sandra yang sedari tadi tersipu malu duduk di sebelah Jofan.

__ADS_1


"Apa tidak mati jika aku tembak!" Jofan merasa terhibur melihat Sandra yang tidak berani menatap wajahnya. Dia membuang pandangannya keluar jendela.


"Kan nembak nya pakai cinta Fan, cie....cie..." Melani mencubit lengan Sandra yang duduk di depannya.


Sandra hanya membisu, meladeni kedua sahabatnya sama saja membuat dirinya malu.


Bagi Sandra hal seperti ini sudah biasa terjadi, Ayu dan Melani memang sering kali menggodanya.


Jofan sadar Sandra begitu berharap cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Jofan menjaga perasaan agar bisa di ungkapkan saat waktunya tepat.Tidak hanya mengandalkan nafsu belaka. Tapi harus dengan hati yang mantap dan penuh keyakinan.


Mall hari ini lebih penuh dari biasanya. Banyak anak-anak berseragam berkeliaran di jam ini karena sekolah belum aktif belajar.


Jofan mengajak ketiga sahabatnya mampir ke cafe miliknya. Cafe warisan nenek tercinta yang kini Jofan kendalikan bersama Kak Rey. Semua karyawan memberi hormat saat Jofan masuk ke dalam cafe.


Sandra tersenyum membayangkan dirinya berdiri di sebelah Jofan menggenggam erat tangan Jofan. Berjalan bergandengan tangan bak putri dan pangeran.


Plakkkkk...


"Jangan banyak berkhayal, nanti kau bisa gila." Sandra mendengus kesal, khayalannya diganggu Melani.


Jofan sudah menyiapkan ruangan VIP untuk ketiga sahabatnya. Dekorasi ruangan sangat indah membuat penghuninya ingin berfoto ria.


Melani dan Sandra auto menyala kan kamera mengabadikan kebersamaan mereka berempat. Jofan sendiri sudah terbiasa berfoto bersama ketiga sahabat ajaibnya.


Jofan memberikan servis terbaik untuk ketiga sahabat kesayangannya. Ketiga sahabatnya tidak ada rasa malu menerima semua yang Jofan berikan. Mereka menikmati saja tanpa rasa segan. Hal itu membuat Jofan merasa nyaman. Tidak ada yang di sembunyikan, persahabatan yang tulus.


Sandra berharap dirinya yang ada di posisi Ayu. Tapi perasaan Jofan tidak lebih seperti seorang Kakak. Sandra paham ada di posisi mana Ayu di hati Jofan.


Ayu menurut saja mengikuti langkah Kaki Jofan, berjalan sedikit berlari mengimbangi langkah Jofan yang panjang.


Mereka berhenti di depan toko ponsel. Di sana berjejer handphone-handphone canggih keluaran terbaru. Harganya pun sudah tercatat rapi di setiap sudut.


"Ambil yang Ayu suka." Mata Ayu membulat, dia tidak percaya Jofan menawarkan ponsel dengan harga jutaan rupiah.


"Tidak Mas, aku akan mencari ponsel lama ku." Ayu berbalik, Jofan menahan Ayu. Mendorong tubuh Ayu agar mau memiliki salah satu ponsel yang ada di gerai.


"Ini hadiah, aku akan marah jika kamu tidak mau menerimanya." Gayanya seperti Kak Rey. Mukanya mengancam membuat Ayu tidak bisa menolak.


Ayu melihat satu persatu handphone dengan berbagai merk. Mencari handphone dengan harga termurah. Ini harganya Rp.1.500.0000,-


Aku rasa ini paling murah diantara yang lainnya. Ayu memutuskan untuk mengambil nya.


"Mas aku pilih yang ini saja." Ponsel yang paling murah di gerai tersebut.


Jofan mengernyit kan dahinya, tangannya menyambar ponsel yang lebih bagus dan lebih mahal dari pilihan Ayu. Dia sudah menebak Ayu akan menolak jika dan memilih barang murahan.


"Ini saja. Yang itu terlalu jelek." Ayu merasa tidak enak hati. Ponsel yang Jofan pilih harganya lumayan mahal.

__ADS_1


Tanpa ragu Jofan membayar ponsel pintar pilihannya. Ayu masih mematung di belakang Jofan. Menunggu Jofan yang dibantu pemilik toko mengaktifkan ponsel agar bisa segera di gunakan.


Tidak butuh waktu lama ponsel sudah terpasang dengan baik. Jofan menyerahkan nya pada Ayu agar mudah dihubungi. Jofan merasa khawatir saat Ayu sulit di hubungi.


"Terimakasih Mas. Aku akan menggantinya saat aku punya." Ayu tidak melanjutkan kata-katanya, mata Jofan setajam pedang menatap matanya.


"Jangan bicara seperti itu lagi, aku tidak suka." Jofan menarik tangan Ayu meninggalkan toko.


Ayu baru sadar, banyak gadis remaja yang mencari- cari perhatian Jofan. Mereka tersenyum dan melambaikan tangan, mereka belum tau Jofan di sukai gadis paling galak sedunia.


Jofan tidak menggubris, dia bahkan tidak melirik sedikitpun gadis-gadis keganjenan itu.


Sudah larut, Jofan mengantarkan satu persatu sahabatnya. Ayu orang paling dekat dengan Mall dan Jofan antar paling awal. Ayu menatap nanar rumah besar yang ada di depan matanya.


Ayu masuk setelah melambaikan tangan pada ketiga sahabatnya. Pak Dodo memarkirkan mobil karena seharian mengikuti Ayu.


Ayu tersenyum saat Mobil Pak Dodo melewatinya. Mobil Kak Malik juga ada, dia sudah pulang. Ayu tidak antusias, dia tidak lagi mengenal siapa Malik saat ini. Dia seperti orang asing bagi Ayu.


Ayu masuk menyapa semua orang, matanya beredar mencari keberadaan seseorang. Tapi tidak terlihat.


"Mih, aku istirahat yah. Aku juga sudah makan." Ayu tau apa yang Mamih akan ucapkan.


"Baiklah anakku sayang. Jangan lupa bersih-bersih." Teriak Mamih pada Ayu yang sudah tidak terlihat.


Ingin rasanya masuk ke kamar utama, tapi Kak Malik pasti tidak mau tidur satu kamar dengannya. Dia pasti belum kembali seperti dulu.


Ayu hanya memandang pintu besar berwarna putih yang tertutup rapat.


Setelah bersih-bersih Ayu berbaring di ranjang nya memainkan ponsel barunya. Dia memotret wajahnya sendiri dengan berbagai gaya.


Kreeekkkkkk.....


"Mami belum......." Ayu kira Mamih yang masuk ke kamarnya. Ternyata Kak Malik.


Ayu terkejut sampai tidak bisa berkata-kata. Kak Malik masuk kamarnya memeriksa sekeliling.


"Ponsel siapa itu?" Malik tidak ingat Ayu punya ponsel lain.


"Ini dari Mas Jofan." Malik mendekat merebut paksa ponsel dari tangan Ayu.


"Untuk apa dia memberikan ponsel ini?" ayu menunduk. Dia takut jika bicara jujur.


"katakan, jangan memancing amarah ku." Malik merasa terhina Ayu menggunakan barang pemberian orang lain.


"Maaf Kak, sebenarnya ponsel ku hilang." Ayu takut kemarahan Malik padanya semakin menjadi-jadi karena kecerobohan Ayu.


Malik tidak berkata apa pun pada Ayu. Dia keluar begitu saja menyita ponsel baru Ayu.

__ADS_1


__ADS_2