Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 50 ( Rey Part 1 )


__ADS_3

Malam ini berlalu dengan damai, tidak ada kemarahan ataupun pertengkaran karena ulah dua gadis yang sangat Rey cintai. Tapi entah apa yang membuat hatinya gundah saat ini.


Bisanya saat melihat Ana tertidur dengan lelap, akan ada perasaan damai dihati Rey.


Tapi malam ini Rey sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Perasaan was-wasnya yang sudah hilang tiba-tiba saja muncul kembali. Terlintas sekilas wajah Arumi. Dia ingat betul bagaimana penyesalan yang begitu dalam saat tidak bisa menjaga adik sepupunya dengan baik.


Dia harus kehilangan satu lentera hidup yag selama ini menyinari kegelapan dan kehampaan hidup yang dijalani.


Rey terduduk, mata sama sekali tidak bisa diajak kompromi. Rey melirik jam yang berdenting, sudah jam 1 malam.


Tapi entahlah perasaan apa yang menyelimuti hatinya saat ini, kenapa aku sangat khawatir dengan mereka. Padahal sudah aku lihat mereka baik-baik saja. Bahkan Ana ada didepan mataku.


Rey akhirnya turun ke dapur, menyibukkan diri dengan membuat kue untuk menu dessert restaurant besok. Dapur tempat Rey melepas segala kegundahan hatinya.


Setelah selesai dengan segala hidangan dessert yang menggoda mata dan lidah. Rey akhirnya bisa memejamkan matanya. Dia tertidur disofa ruang VVIP restaurant.


***


“Ibu, Riyan, ayo kita Sholat Subuh berjamaah. Selesai Sholat aku akan mengajak kalian jalan-jalan ke pasar!” Ayu sudah menarik lengan adiknya yang masih bemalas-malasan diatas kasur.


Setelah aksi tarik menarik yang melelahkan, akhirnya Riyan masuk juga ke kamar mandi.


Sangat sulit membangunkan Riyan, dan itu tidak berubah. Anak itu memang sedari dulu selalu saja susah dibangunkan.


Selesai Shalat, Ayu, Ibu dan Riyan berjalan kaki menuju pasar yang Ayu janjikan. Tidak jauh letak pasar dari kosan Ayu. Mereka berjalan bergandengan tangan seperti tiga serangkai.


Akhirnya sampai juga dipasar, disana sudah berjajar para pedagang. Mulai dari sayuran, ikan, ayam, kue traditional bahkan makanan-makanan kaki lima lain yang menggoda selera.


Riyan sudah kalap berlari kesana-kemari, dia memperhatikan satu persatu makanan yang dijajakan para pedagang. Matanya tertuju pada abang-abang penjual kerak telor.


Sepertinya enak, baunya juga sangat harum.


“Mbak Ayu, itu abangnya jualan apa?”


“Aku tidak tau juga, aku sering dengar pasar ini. Tapi baru kali ini bisa mampir Bu. Ayu sibuk, heheheh” Ibu ikut tersenyum. Mereka bertiga menghampiri pedagang, Ayu memesan satu kerak telor.


“Kita coba dulu yah, kalo suka boleh nambah.” Ibu tidak mau membuang-buang makanan.


Setelah jadi mereka mencari tempat duduk untuk makan. Ibu tidak mau makan sambil berdiri, seperti kuda. Harus duduk, supaya tetap kenyang dan makanan yang dimakan menjadi manfaat bagi tubuh kita, begitu penjelasan Ibu pada anak-anaknya.


“Kau coba duluan Mbak” Riyan menyodorkan pada Ayu


“Kan kamu yang pertama mau” Ayu menolak, takut jika tidak sesuai dengan selera.


“Udah-udah” Ibu menggelengkan kepala melihat anak-anaknya yang selalu saja ribut jika sudah berdekatan. Padahal Riyan merengek ingin ikut karena rindu dengan Mbak Ayu.


Ibu mencongkel sedikit kerak telor, mulai menggigit dan mengunyah. Tidak ada ekspresi yang aneh pikir Riyan. Akhirnya dengan segenap jiwa dia mengigit kerak telor dengan gigitan yang cukup besar.

__ADS_1


Dikunyah dengan seksama sampai tiba-tiba Riyan terlihat menahan mulutnya dengan kedua tangannya.


“Kenapa?” Ibu kaget melihat ekpsresi Riyan.


Riyan meraih kantong plastik yang ada di tangan Ibu. Dia memuntahkan isi mulutnya kedalam plastik.


“Baunya amis, aku kurang suka Bu” Riyan mengusap mulut dengan kedua tangannya. Bau amis masih menyeruak dihidung Riyan.


“Untung tadi tidak beli 2, kan kalo sudah begini pasti Ibu yang meghabiskan” Ibu terlihat menikmati kerak telor. Ayu tidak mau mencoba sama sekali setelah melihat adiknya tidak suka. Riyan hanya bergidik mengingat bau amis yang sangat menyengat.


Setelah puas jajan ini dan itu, mereka bertiga pun memutuskan untuk kembali ke kosan. Sebelum masuk gang, Ayu melihat mobil Kak Malik disebrang jalan. Apa benar mobil Kak Malik yah.


“Ibu, apa boleh pulang duluan? Aku ada pelu sebentar.” Ibu mengangguk dan berlalu meninggalkan Ayu.


Setelah Ibu dan Riyan sudah masuk gang, Ayu segera menyeberangi jalan. Memastikan apakah benar itu mobil Kak Malik atau bukan.


Tok...tok...tok...


“Kak Malik, kau kah itu?” Ayu berteriak. Sekarang masih sangat pagi, apa Kak Malik tidur disini yah. Tapi tidak mungkin, untuk apa dia tidur di jalanan. Rumahnya saja dilantai berapa itu sangat besar. Pikir Ayu.


Setelah cukup lama, Malik mengerjap. Dia mendengar sayup-sayup suara Ayu. Dia kaget saat melihat Ayu ada didepan mobilnya. Dia bahkan lupa kenapa bisa tertidur disitu semalam.


Malik menurunkan kaca mobilnya, muka bantalnya masih lekat. Ayu tersenyum melihat rambut Kak Malik yang acak-acakan.


Biasanya dia akan jadi laki-laki super keren dan rapih jika dalam keadaan normal.


“Kenapa kamu disini?” Malik bingung harus berkata apa


Tidak mungkin bilang jika semalam aku menunggu Ayu disini dan tertidur tanpa sengaja. Mau ditaro dimana mukaku ini. Batin Malik


“Kak Malik mau mampir? Ada Ibu dan Adikku di rumah. Mereka baru datang kemaren Kak” Ayu tersenyum, berharap Malik mau mampir dan berkenalan dengan Ibunya.


“Tidak sekarang, aku ada kerjaan yang harus diselesaikan” Malik segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobil dengan kecepatan penuh.


“Kak...Kak...” Ayu berteriak, merasa aneh dengan sikap Kak Malik. Ya sudahlah, mungkin dia sedang ada pekerjaan yang mendesak.


***


Huh...untung saja aku berhasil lolos. Jika tidak mau ditaro dimana mukaku ini.


Bagaimana mungkin bertemu dengan Ibu mertuaku dalam keadaan kucel dan... (Malik mencium ketiaknya), masih wangi ternyata.


Aku harus bertanya pada Aldo, kado apa yang harus aku bawa untuk berkunjung. Tapi Aldo saja tidak punya pacar, darimana dia tau kalo hadiah itu cocok untuk calon mertua.


Akhirnya Malik memutuskan untuk menghubungi Kak Sarah. Dia sumbernya yang paling tepat saat ini.


“Kak, apa aku mengganggu?” Sok bijaksana, padahal kalopun mengganggu tetap akan dia lakukan demi Ayuna.

__ADS_1


“Pertanyaan yang menggelitik. Langsung saja Al, apa yang ingin kamu tanyakan?” Sarah sudah tau, jika sudah menghubungi pasti ada maksud terselubung.


“Hadiah apa yang cocok untuk Ibu mertuaku?” Mereka pasti akan menertawakanku, biarkan saja.


Uhuk..uhuk..uhuk


Sarah sampai tersedak mendengar pertanyaan dari Malik. Padahal dia tidak sedang makan ataupun minum. Sarah tersedak air liurnya sendiri mendengar pertanyaan aneh dari Malik.


“Kau Baik-baik saja?” Malik penasaran, tapi Kak Sarah masih terbatuk-batuk dan tidak kujung menjawab pertanyaannya.


“Kau membuatku berhenti bernapas sampai tersedak” Sarah masih merasakan panas dilehernya karena tersedak.


“Maaf Kak, tapi ini mendesak”


Mendesak apanya pikir Sarah, dia menikah saja belum. Tapi mau mempersiapkan hadiah untuk mertuanya, mertua yang mana coba.


“Tanyakan pada istrimu, mertuamu suka dengan makanan apa?” Sarah berbalik menyerang Malik yang membuatnya terkejut dipagi hari.


“Apakah seperti itu?” Malik berpikir sejenak, apa Ayu akan memberi tau pada Ibunya. Jika dirinya saat ini sedang mengejar cinta anaknya?. “Baiklah, aku akan coba tanyakan pada Ayu.”Malik memutuskan panggilan.


Masih menyisakan senyum dibibir Sarah, seorang Malik yang biasanya berwibawa. Menjadi sosok yang sangat lugu dalam percintaan.


***


Ana dan Ayu saat ini sudah duduk diruangan Kak Rey, mereka berdua saling bergandengan tangan. Ada perasaan khawatir dan pasrah.


“Kak Ana? Apa Kak Rey akan memecatku?” Ayu yang khawatir


“Tidak mungkin, dia sangat meyayangimu seperti Jofan” Ana dn Ayu saling berbisik. Ayu hanya mengangguk, lantas apa yang sedang Kak Rey rencanakan.


Hem...hem...


Terlihat Kak Rey masuk membawa kertas dengan berbagai gambar menu makanan.


Diletakkannya kertas-kertas itu diatas meja. Ana dan Ayu saling memandang, penasaran dengan apa yang sedang Kak Rey lakukan.


“Kalian pengacau hidupku, coba kalian lihat dengan seksama gambar-gambar itu. Pilih satu yang paling enak” Rey melipat kedua tangannya.


Ada rasa curiga dalam hati Ana, tapi tetap saja harus diikuti, jika tidak dia akan menghukum kami berdua dengan hukuman yang lebih tidak masuk akal.


Setelah memilah dan memilih, mereka bedua menetukan satu dessert yang terlihat cukup enak. Ayu menyodorkannya pada Kak Rey.


“Ok” Kak Rey berteriak, membuat Ana dan Ayu terperanjak.


“Sekarang aku akan siapkan bahan-bahannya dan kalian yang harus membuat dessert itu” Apa hanya itu hukumannya, Ana tersenyum.


“Kak Ana, kenapa kamu tersenyum?”

__ADS_1


“Hukumannya tidak seberat yang aku bayangkan” Ayu merasa bingung dengan apa yang Kak Ana maksud.


Mereka berdua bersiap membuat dessert sesuai gambar yang sudah mereka tunjuk. Ayu cukup mahir karena selama ini sering membantu Kak Rey membuat berbagai menu dessert.


__ADS_2