
Melani kaget bukan kepalang melihat Lissa yang baru saja muncul didepan matanya. Darimana wanita itu tau kalo kami semua ada disini, kenapa gadis itu selalu saja membuat kami semua tidak bisa menghirup udara bebas. Batin Melani
“Kamu kenapa Mel” Sandra menyentuh pundak Melani yang masih mematung di depan pintu.
“Kau tau San, siapa orang yang baru saja datang memberikanku makanan ini?” Melani berbicara dengan nada sedikit gemetar.
“Kenapa kau ketakutan begitu? Siapa yang datang memangnya?” Sandra merangkul Melani dan mengajaknya masuk setelah menutup rapat pintu.
“Lissa” Keduanya berhenti karena merasa terkejut dengan nama ynag disebutkan oleh Melani barusan. Jofan yang mendengar percakapan keduanya pun mendongak, ikut terkejut dengan nama yang baru saja Melani ucapkan.
Melani terduduk lemas, sementara Sandra masih mematung dan memandangi Melani yang duduk dibawahnya.
Kini mata mereka sama-sama memandang kearah gadis cantik berhijab yang sedang asyik membuat adonan donat kentang.
Merasa suasana hening, Ayu berbalik badan dan melihat ketiga sahabatnya yang saat ini sedang menatapnya dengan penuh kesedihan.
Ayu mengangkat bahunya, mencoba mencari jawaban dari tatapan sendu ketiga sahabatnya. Tapi tidak ada yang bersuara. Mereka semua diam tanpa kata-kata.
***
“Akhirnya kita sampai juga di Villa setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan” Mata Lissa memandang sinis pada Hans.
“Sudah-sudah, itu kan kecelakaan Lis. Hans juga tidak sengaja lupa dengan barang bawaannya sehingga kita harus putar balik melewati macet untuk yang kedua kalinya” Klara mencoba mendamaikan suasana yang memanas sedari tadi.
Karla, Lissa,Barbie dan Louisa menunjukkan tinjunya pada Hans yang tertawa menang karena dibela oleh Kak Klara. Merekapun masuk dan semua berlomba mencari kamar ternyaman yang ada di dalam Villa. Kecuali Klara dan Lissa yang punya kuasa akan kamar utama.
Barbie senang karena mendapatkan kamar yang memiliki balkon dan ukuran kamar yang cukup luas dari kamar-kamar lain. Segera dia berlari membuka pintu balkon yang membuat matanya terpesona saat melihat pemandangan yang memukau mata.
Beberapa kali Barbie menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Terasa sejuk dan menyegarkan. Rasanya seperti dunia baru dengan udara yang masih sangat alami.
Kini matanya tertuju pada dua sosok yang saat ini sedang duduk bersantai dibalkon dari rumah sebelah yang ukurannya hampir sama dengan Villa yang dia tempati saat ini.
Barbie mengucek kedua matanya, memastikan jika saat ini dia tidak sedang berhalusinasi. Setelah memastikan pandangan matanya tidak berubah, Barbie lari terbirit-birit menuruni anak tangga.
Hans yang melihat Barbie hilang keseimbangan dan hampir terjatuh dari satu anak tangga terakhir menagkapnya dengan siggap.
“Cie....main tangkap-tangkapan nih” Karla meledek kedua temannya.
Barbie mendengus, merasa kesal karena Hans mencuri kesempatan dan kesempitan. Bukannya berterimaksih.
“Lepaskan, bisa-bisanya kau mencari kesempatan dalam kesempitan” Hans hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Selalu saja salah dimata perempuan.
__ADS_1
“Lissa....Lis. Kau pasti akan sangat terkejut siapa yang baru saja aku lihat diatas balkon” Lissa dan Klara tidak menggubris Barbie yang sudah berdiri dibelakang mereka.
Biasanya Barbie hanya berkhayal dan mengatakan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sehingga sahabat-sahabatnya sulit mempercayai perkatannya.
“Kau melihat hantu?” Kata Lissa. Mereka semua terbahak.
“Bukan, ini lebih menyeramkan dari hantu” Masih tidak ada yang menanggapi dan sibuk dengan kegiatan masing-masing yang sedang merapihkan bahan-bahan makanan kedalam kulkas dan lemari dapur. Mereka hanya menggelengkan kepala.
“Aku melihat Jofan dan Ayu sedang duduk berduaan diatas balkon” Karla, Lissa dan Louisa terkejut. Mereka berbalik dengan serempak dan menatap mata Barbie dengan tajam.
Barbie sudah bahagia karena ketiga sahabatnya percaya kali ini dengan ucapannya. Tapi ternyata tidak. Mereka bertiga saling pandang dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Merasa aneh dengan ucapan Barbie.
“Jangan mengada-ada, dunia tidak sekecil itu Bie. Puncak ini kan luas, mana mungkin bisa-bisanya mereka tinggal di Villa sebelah Villa kita” Lissa masih tidak percaya dan masih tertawa dengan kekonyolan sahabatnya.
“Cepatlah lihat sendiri jika kalian tidak percaya” Barbie sudah mulai kesal karena tawa tidak juga reda.
“Sudah jangan membuat keributan, lebih baik kau tidur cepat sana. Sepertinya isi kepalamu sudah tidak ada yang beres” Ejek Louisa.
Terdengar suara orang berlari dari atas tangga, semua mata tertuju pada asal suara. Mereka semua kaget saat melihat Hans juga melakukan hal yang sama dengan Barbie.
“Barbie tidak sedang berbohong kali ini” Berbicara dengan tersenggal-senggal.
“Kau Yakin?” Dua orang berbiacar hal yang sama. Dan Hans bukan orang yang suka membual. Dia selalu jujur dan bisa diandalkan dalam hal-hal seperti ini.
Lissa dan geng nya mengintip Ayu dan ketiga sahabatnya yang sedang asyik bernyanyi dan bercanda tawa. Ada sedikit kecemburuan di hati Lissa. Saat ini dikepalanya hanya memikirkan bagaimana membuat perhitungan dengan Ayu.
Entah apa yang membuat Lissa sangat membenci Ayu dari sahabat Jofan yang lain. Perhatian Jofan yang berlebihan pada Ayu membuat luka dan kecemburuan yang dalam bagi Lissa.
***
Siang sudah berganti malam, Jofan saat ini sedang asyik menikmati kopi dan donat buatan Ayu. Sesekali Jofan tertawa menyaksikan aksi pelawak dilayar kaca.
Melani yang sudah selesai mandi ikut bergabung dan mengambil sepotong donat. Menaburinya dengan gula halus dan mulai melahapnya.
Tidak lama Sandra dan Ayu juga muncul, malam ini agendanya adalah barbeque. Bahan-bahan sudah siap sedia. Tinggal menunggu waktu sedikit gelap agar suasana mendukung.
Sepertinya cuaca hari ini sangat mendukung, udara tidak terlalu dingin dan bertabur bintang dilangit malam. Rasanya menambah kebahagiaan, mereka memutuskan untuk melupakan kehadiran Lissa dan teman-temannya. Jofan berjanji akan waspada dan menjaga ketiga sahabatnya dari Lissa.
“Bagaimana jika kita mulai berbeque sekarang aja yuk! Aku sudah tidak sabar” Rengek Melani pada ketiga sahabatnya yang masih asyik menonton TV.
Akhirnya mereka semua mengeluarkan semua alat-alat dan bahan-bahan yang akan digunakan kehalaman depan. Halaman yang cukup luas dan indah.
__ADS_1
Mereka kaget saat melihat Lissa dan geng nya sudah mulai barbeque dan telihat bercanda tawa bahagia. Jofan sebenarnya sangat malas berhadapan dengan mereka semua. Tapi demi sahabatnya, hati dan mulutnya berbicara hal yang bertolak belakang.
“Jangan khawatir. Kita abaikan saja mereka semua” Jofan mencoba menjadi penguat bagi ketiga sahabatnya.
Merekapun akhirnya memulai barbeque, ada tawa diantara Ayu dan teman-temannya. Tapi tidak selepas biasanya. Jofan merasakan kekhawatiran, tapi Jofan mencoba bersikap senetral mungkin agar tetap kondusif.
Selesai memanggang daging dan bahan-bahan lain. Ayu, Melani dan Sandra menghidangkannya diatas meja yang ada di ruang makan. Awalnya mereka ingin sekali makan dihalaman. Namun rasanya tidak nyaman dengan kehadiran Lissa dan teman-temannya.
Jofan masih dihalaman memadamkan api dari bara yang mereka gunakan untuk memanggang. Tiba-tiba Klara datang neghampiri Jofan.
“Hai Jofan” Klara tersenyum manis pada Jofan. Jofan datar dan merasa ada yang tidak beres.
Awalnya Klara enggan untuk membantu adiknya meminta mereka bergabung dan makan bersama. Namun karena ini adalah perayaan kelulusan sang adik tercinta, Klara sebisa mungkin mengabulkan setiap keinginan dari Lissa.
“Ada yang bisa dibantu Kak?” Jofan mencoba bersikap sopan
“Apa kami semua boleh bergabung? Pasti akan sangat seru jika kita semua bisa berkumpul bersama. Dan satu hal lagi, Lissa merasa menyesal dan ingin memperbaiki hubungan diantara kalian semua” Klara sangat berbeda dengan Lissa. Dia wanita yang sangat cantik dan lemah lembut.
“Ya, silahkan saja. Tapi jika Lissa membuat kekacauan, aku tidak segan-segan memisahkan tangan dari tubuhnya” Mata Jofan menyorotkan kebencian yang dalam.
“Baiklah, dia sudah berjanji. Dan aku akan mengawasinya” Lissa paham betul kenapa Jofan begitu kasar. Dia menyaksikan sendiri cctv yang memperlihatkan Lissa membuang tas Ayu kedalam toilet.
Keluarga Lissa cukup berpengaruh sehingga mampu membungkam kejadian disekolah dan menyelamatkan anak gadisnya dari jeratan hukum.
Akhirnya mereka semua bergabung bersama, semua fokus dengan makanan mereka masing-masing. Klara merasa berdosa telah merusak suasana dengan mengajak adik dan teman-temannya bergabung, sepertinya mereka memang tidak bisa berdamai begitu saja.
“Apa setelah ini kita bisa bermain game?” Tidak satupun menjawab pertanyaan dari Klara.
“Selamat malam semuanya” Semua mata tertuju pada sosok laki-laki yang tiba-tiba saja muncul. Tersenyum sangat manis dan berjalan masuk begitu saja tanpa dipersilahkan sang pemilik rumah.
“Malik!” Klara merasa tersanjung Malik datang ke puncak untuk menemuinya.
“Klara ada disini juga?” Wajah Klara berubah menjadi sendu. Ternyata bukan karena dirinya Malik berada disini.
“Kau tidak senang melihatku disini?” Malik mencubit hidung Ayu. Membuat iri siapa pun yang melihatnya.
“Aduh...Aku pamit ke toilet sebentar yah. Perutku tiba-tiba saja melilit” Louisa berlari keluar Villa dengan cepat.
Tolong....Tolong....Tolong....
Tiba-tiba saja terdengar suara Louisa yang meminta tolong, spontan semua orang berlari keluar meninggalkan makanan yang sedang mereka nikmati saat ini. Hanya ada Hans dan Lissa yang tidak bergerak meninggalkan meja makan.
__ADS_1
“Cepat tuangkan, selain piringku dan piringmu” Lissa meracuni semua makanan dengan obat tidur. Kali ini dia merencanakan kejahatan bersama Hans.