
Laskar berhasil membawa Murni dan Sarah keluar dari area pengepungan. Dengan cepat Laskar mengemudikan mobil membawa Murni menuju rumah sakit terdekat. Tubuhnya lemah karena dehidrasi akibat kekurangan cairan selama perawatan yang dilakukan tanpa alat memadai. Wajahnya pucat meski senyum terukir di wajahnya yang masih penuh bekas luka yang belum sepenuhnya sembuh.
“Laskar tolong cepat sedikit. Murni harus segera mendapat pertolongan.” Laskar sekali lagi menambah kecepatan laju mobilnya.
“Aku sudah baik-baik saja, terumakasih karena kalian sudah selamat dan baik-baik saja.” Sarah memeluk Murni penuh haru.
“Kenapa kau hanya memikirkan keselamatan kita.” Sarah sedih.
“Hidup ku sudah aku serahkan sepenuhnya pada orang yang ternyata tidak memiliki cinta sedikit pun untukku. Aku bahkan membuang amanah Ibu yang seharusnya aku jaga.” Murni terisak.
“Apa maksud mu Ayu?” Murni mengangguk.
“Tapi Ayu sudah menceritakan pada kita. Kau melakukannya demi keselamatan Ayu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri.” Murni masih memegangi dadanya yang terasa sesak.
“Tolong sampaikan permintaan maaf ku pada Ayu, pada Paman dan Bibi ku. Aku benar-benar menyesal sudah menjadi beban kalian semua.” Murni terlihat kesakitan.
“Jangan banyak bicara, kau akan baik-baik saja.” Sarah memeluk erat tubuh Murni. “Laskar tolong cepat. Murni, jangan pejamkan mata mu. Tetap bersama ku.” Murni hanya tersenyum mencoba menahan matanya yang terasa berat.
Ciiiiiitttttt.........
Suara decitan ban mobil memekik telinga, Sarah dan Murni sampai terjungkal menabrak tempat duduk di depan mereka.
“Kau tidak apa-apa?” Murni sudah tidak sadarkan diri di pelukkan Sarah. Sarah memeriksa denyut nadi Murni. Jantungnya melemah, dia harus segera mendapat bantuan oksigen dan alat-alat medis lain agar bisa stabil.
Sarah yang panik tidak sadar saat Adam berdiri di depan pintu mobil yang kacanya transparan. Adam lega melihat wajah Sarah meski terlihat kucel dan penuh rasa khawatir.
“Laskar, kenapa kau berhenti. Kita harus segera membawa Murni ke rumah sakit.” Sarah memaki maki Laskar yang tidak bertindak sesuai keinginannya.
“Ada yang mencegat mobil kita. Lihat lah siapa yang ada di sana.” Sarah tersenyum melihat wajah-wajah yang sangat dia rindukan.
“Kau baik-baik saja.” Tanya Adam dengan penuh kelegaan, Sarah mengangguk.
“Sekarang kita harus menyelamatkan nyawanya. Setelah ini aku akan segera menemuimu.” Sarah bahkan mengabaikan tangan Adam yang terbuka lebar ingin memeluknya. “Laskar, cepat. Kita tidak boleh terlambat.” Laskar segera melaju menuju rumah sakit yang sudah tidak jauh lagi dari tempatnya berada saat ini.
“Kau kesal?” Malik tertawa melihat Adam merasa diabaikan. “Awas Sarah jatuh hati pada Laskar.” Malik lari sebelum bogem Adam mendarat di tubuhnya.
“Hahahaha.... awas jangan sampai lolos!” Adam hanya melotot ke arah Malik yang sudah masuk ke mobil.
“Sekarang kita bisa kembali Tuan.” Pras dengan setia menemani Malik selama Aldo di rawat.
__ADS_1
“Apa kita bisa pergi begitu saja? Kita bahkan belum sampai, malah kita diminta putar balik.” Pras tersenyum. Akan berbahaya membiarkan Malik dan Adam mendekati tempat penggerebekan yang penuh dengan baku tembak.
“Tuan tenang saja, Kapten yang meminta kita kembali.” Pras melaju kan mobilnya segera setelah Adam masuk.
Drrrtttt.....Drttttt..Drrtttt....
Adam langsung mengangkat ponselnya yang bergetar. “Kau salah besar.” Memamerkan nama pemanggil di ponselnya dengan bangga. “Kau merindukan ku.”
“Tentu saja, tapi bukan itu yang ingin aku bicarakan. Aku ingin meminta mu dan Malik mencari file yang Murni berikan pada Ayu.”
“File.....File apa yang kau maksud?” Adam sedih istrinya benar-benar tidak basa basi dengannya. Dia langsung membicarakan hal serius yang beberapa hari ini membebani kepala Adam.
“Aku tidak tau apa isi dari file itu, tapi itu yang Murni sembunyikan sampai rela mengorbankan hidup nya.” Sarah sangat kesal.
“Apa yang Sarah katakan!” Wajah Adam membuat Malik penasaran. “Apa dia benar-benar akan memilih Laskar!. Hahahhaaha....” Malik tertawa puas saat Adam melotot padanya.
“Kau jangan bicara yang bukan-bukan. Malik....apa kau pernah tau Ayu menyimpan File penting yang diberikan oleh Murni!” Malik mengernyit. “Sarah meminta kita mencari file tersebut. Tapi apa Ayu tau isi file yang Murni berikan padanya?” Adam memikirkan keselamatan Ayu yang pasti saat ini terancam.
“Ayu tidak pernah membicarakan apapun tentang file yang Murni berikan. Dam....tapi aku pernah tau Murni menyerahkan wasiat pada Ayu, tapi itu hanya tabungan dan beberapa harta kekayaan yang Murni miliki. Di dalam sebuah amplop, aku tidak memeriksa lagi isinya.”
“Mungkin itu, dimana dokumen itu?” Adam semakin penasaran.
Memerlukan waktu 4 jam untuk sampai ke rumah besar, Malik sampai meminta Pras istirahat dan menggantikannya menyetir agar tidak berbahaya. Pras pasti kelelahan dengan perjalanan jauh yang harus dia tembuh tanpa mengeluh.
“Saya merasa tidak enak hati duduk di sebelah Tuan.” Malik tersenyum mendengar ucapan Pras, berbeda sekali dengan Aldo. Jika anak itu ada di posisinya, dia hanya akan tersenyum bahagia tanpa tau terimakasih.
“Aldo sering meminta ku menggantikannya menyetir, Ayah sangat beruntung punya sekertaris sebaik kamu Pak.” Pras tersenyum mendengar Malik bicara.
Ada-ada tingkah Aldo memang, sekarang tubuh lincahnya sedang terbaring lemah. Aldo mencoba bergerak tidak mengikuti tubuhnya yang butuh waktu untuk pemulihan, akhirnya dia benar-benar tumbang dan Malik sangat marah karena dia tidak mau memikirkan keselamatan dirinya sendiri sebelum bertindak.
Tidak lama mereka sudah sampai di rumah besar, terdengar tawa Mahesa yang sedang bermain bersama semua orang yang saat ini berkumpul di rumah Rama. Saat Malik membuka pintu, semua orang menatapnya penuh harap.
“Kenapa kalian sangat menakutkan.” Malik merasa canggung. “Tenang saja, saat ini Sarah dan Murni sedang di tangani di rumah sakit terdekat dari tempat kejadian.” Malik melihat senyum di wajah Ayu. Dia pasti sangat lega mendengar keduanya selamat.
Semua orang mengucap syukur atas keberhasilan tim kepolisian yang dibantu pasukan terlatih dari keluarga Rama yang berhasil mengamankan keadaan.
Malik tidak langsung bicara pada Ayu, dia berharap Ayu benar-benar tidak mengetahui keberadaan file yang bisa membahayakan nyawanya.
“Kau tidak ingin memeluk ku!” Malik cemberut karena Ayu hanya tersenyum padanya. Biasanya dia akan lari memeluk Malik bersikap manja, sepertinya dia malu karena banyak sekali orang.
__ADS_1
“Jangan bercanda, hehehhee.” Benar saja, wajahnya merah. Ternyata dia benar-benar malu. “Cepat sana pergi.” Ayu mengusir Malik yang bergelayut manja di pundaknya. “Kau sangat berat Kak.” Malik melotot.
“Kau jahat sekali. Aku bahkan tidak makan seharian.” Ayu menatap mata Malik. Dia sering mengerjai Ayu.
“Ayo kita makan. Aku sudah menyiapkan makanan banyak untuk Kak Malik dan Kak Adam. Oh Pak Pras juga.” Ayu tersenyum menatap wajah Pras yang berdiri di belakangnya memberikan laporan pada Rama.
Malik menatap wajah Ayu yang meski tersenyum tapi ada kesedihan yang mendalam. “Makan yang banyak Kak.” Tangannya sedikit gemetar. Senyumnya hambar, dia sepertinya sedang menahan air matanya. Malik menarik tangan Ayu membawanya ke lantai atas. Malik tidak tahan melihat wajah Ayu yang pura-pura baik-baik saja.
“Kau mau kemana?” Adam pura-pura polos. Padahal dia tau Malik ingin menghibur Ayu.
“Kau jangan cerewet.” Malik mengabaikan Adam yang berteriak padahal mulutnya penuh makanan.
Malik duduk di sofa memandang wajah Ayu yang menunduk di depannya. Masih memaksakan senyum. Malik memeluk Ayu dengan lembut. “Kenapa kau menahannya. Aku sudah bilang, saat kau sedih jangan tersenyum padaku.”
Ayu menenggelamnya wajahnya di pelukkan Malik. Dia sangat bersyukur semua orang kembali dalam keadaan selamat. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan rasa syukurnya. Malik membiarkan Ayu menangis di pelukkannya tanpa banyak bicara. Dia pasti sangat ketakutan.
“Kak Malik pasti lapar, ayo cepat makan.” Malik tersenyum menatap wajah Ayu yang bengkak karena menangis cukup lama. “Ayo.” Ayu menarik tangan Malik. Malik tidak mengikuti Ayu, dia malah membawa Ayu ke kamar mandi.
Malik membasuh wajah Ayu agar terlihat lebih segar. Mengelap sisa-sisa air dengan penuh kasih sayang. “Aku tidak mau orang lain melihat wajah mu yang penuh air mata. Nanti apa yang orang pikirkan.” Malik menggeleng membuat Ayu tersenyum.
“Terimakasih, terimakasih karena kau kembali dengan selamat. Aku sangat takut jika Kak Malik terluka.” Ayu kembali menitikkan air mata bahagianya.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun memiliki mu.” Malik malah menggoda Ayu membuatnya tersipu malu. “Jika ada yang berani mendekati mu. Dia tidak akan selamat.”
Malik membawa Ayu turun menemui semua orang yang pasti menunggunya. Semua orang tidak ada di ruang tamu. Mereka sedang berkumpul di halaman bercanda gurau penuh kebahagiaan.
“Sini Yu.” Ajak Sandra saat melihat Ayu muncul.
“Kita sedang membicarakan untuk liburan bersama di Villa Ayah yang ada di Puncak.” Ayu terlihat tidak bahagia. Dia ingat kejadian yang membuatnya kehilangan harga dirinya.
“Kita harus ikut, pasti sangat seru!!!.” Sandra dan Melani sangat antusias.
“Aku makan dulu. Perut ku keroncongan.” Malik menarik tangan Ayu. “Kau harus di samping ku.” Malik tidak mau merelakan Ayu pergi sebentar saja.
Pras masuk ke ruang makan saat Malik dan Ayu sedang menikmati makanan mereka. Pras berbisik di telinga Malik. Malik hanya mengangguk.
“Apa semua baik-baik saja?” Ayu selalu deg-degan saat ada kabar yang di sampaikan tidak transparan.
“Kenapa kau selalu khawatir, semua sudah baik-baik saja sayang.” Malik menyuapkan kentang goreng ke mulut Ayu.
__ADS_1
Selesai makan Malik mengantar Ayu ke halaman rumah berkumpul bersama keluraga besar. Malik, Adam dan Pras mencari file yang saat ini di tunggu oleh pihak kepolisian tanpa menimbulkan kecurigaan . Malik hanya ingin menjaga keluarganya tetap aman ,mereka lebih baik tidak tau apa yang Ali dan komplotannya sembunyikan.