Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 51 ( Rey Part 2 )


__ADS_3

Ayu dengan telaten mengaduk adonan, Ana hanya membantu Ayu mempersiapkan bahan-bahan dan memasukkannya kedalam adonan.


Keringat membanjiri kening Ayu, suhu panas oven semakin menambah panas yang menyengat kulit. Setelah berperang dengan adonan yang cukup rumit.


Kini Ayu dan Ana sedang menunggu maha karyanya matang. Semoga sesuai dengan ekspektasi dan tidak mengecewakan.


Ting....


Segera Ayu mengambil celemek untuk menahan panas agar tidak menembus kulit tangannya. Dikeluarkan kue Red Velfet yang warnanya menggoda. Ayu meletakkannya diatas meja. Ana sudah bersiap menghias kue agar terilihat semakin sempurna.


“Stop” Mendengar itu Ayu dan Ana sama-sama berhenti. Mereka mengangkat kedua tangannya dan tidak melanjutkan menghias kue.


Ayu dan Ana saling pandang. Apalagi ini Kak Rey, padahal sedikit lagi pekerjaan selesai.


Kak Rey mulai memotong kue dengan potongan-potingan kecil, dia menempatkannya dalam nampan yang sudah berisi piring-piring kertas untuk satu porsi kue berukuran sekali suap.


“Bawa ini keluar” Intruksi Kak Rey pada Ayu dan Ana. Mereka menurut dan membawa semua kue yang sudah di potong kedepan.


Ayu dan Ana kaget, ternyata Kak Rey sudah menyiapkan meja untuk menjajakan kue sebagai sample. Entah apalagi tujuan Kak Rey ini.


Ayu dan Ana menyusun kue-kue agar terlihat rapih. Sementara itu Rey berlari kedalam entah apa yang membuatnya terburu-buru.


Sudah datang 3 orang yang mau mencoba kue yang baru saja disusun. Mereka mencicipi dan sedikit manggut-manggut. Biasanya itu pertanda makanan yang mereka makan enak dan layak dikonsumsi. Setelah mencoba ketiga orang itu masuk kedalam restaurant.


Kak Rey sudah kembali, dia tersenggal-senggal karena berlari. Mataya mengamati piring-piring yang ada diatas meja. Dia melihat ada 3 piring yang sudah kosong dan dipinggirkan di sisi kiri meja.


“Apa sudah ada yang mencoba kue kalian?” Kak Rey mengangkat piring.


“Benar Kak, dan kelihatannya mereka sangat suka Kak” Pandangan Mata Kak Rey menajam. Tiba-tiba menjadi menakutkan.


“Panggil orang yang tadi mencoba kue-kue ini” Ayu bergidik, dia segera masuk dan menemui ketiga wanita tadi.


“Maafkan Aku, apa boleh mengganggu waktu Kakak-Kakak sebentar?” Ayu merasa tidak enak hati mengganggu mereka yang sedang asik mengobrol.


“Ada yang salah dengan kami, apa kami terlalu berisik?” Salah seorang dari mereka mencoba membantu Ayu.


Ayu mengangkat kedua tangannya. “Bukan Kak, sepertinya pemilik restaurant ingin menanyakan pendapat kalian semua tentang kue yang tadi dicicipi. Tapi apa kalian bersedia keluar sebentar?” Ayu memasang wajah memelasnya.


Akhirnya mereka bertiga mengikuti Ayu dari belakang.


Huh, mereka masih saling diam. Kenapa semua jadi begini yah, padahal Kak Ana tidak berbuat salah sama sekali. Ini semua karena aku yang merepotkannya. Ayu berbicara dalam hati.

__ADS_1


“Selamat datang, apa kalian tadi yang mencicipi kue-kue ini?” Rey bicara langsung pada intinya, tidak perlu basa-basi pikirnya.


“Benar Kak, dan kuenya sangat enak” Salah seorang mejawab dan diangguki dua orang lainnya yang datang bersamaan.


“Tapi bukan begitu peratura permainannya. Jika kalian menyukai kue-kue ini, maka wanita ini harus mencium pipiku. Setiap 1 orang menyukai, dia harus menciumku 1 kali. Terserah dia mau menciumku dibagian mana” Wajah Ana langsung merona, dia sangat malu dengan kelakuan Kak Rey kali ini.


Mereka bertiga tersenyum, seolah tau jika saat ini ada orang yang sedang teraniaya disini. Ana tidak bisa membantah, Rey memang selalu unik saat memberi hukuman.


“Eits, belum selesai. Dan gadis kecil ini. Satu kali Like, dia harus berteriak sekeras mungkin. AKU MENYAYANGIMU KAK REY” Rey tersenyum, dia merasa idenya cukup cemerlang membuat kedua orang ini jera.


Ana dan Ayu merasa sangat malu, mereka menghitung kue yang ada diatas meja sangat banyak. Ada 56 potong. Itu artinya Kak Ana akan mencium Kak Rey didepan 56 orang lagi dan Ayu akan beteriak sebanyak 56 kali dengan lantang. Mereka berdua sudah lemas duluan dibuatnya, Kak Rey sangat merepotkan.


“Ingat yah, jika tidak habis. Kalian harus mengulangnya besok, jika besok tidak habis juga. Ulang lagi, ulang sampai semuanya habis dalam 1 hari” Rey tersenyum licik. Dia tau saat ini mereka berdua sudah merasa terintimidasi dengan hukuman yang dia berikan.


Ayu dan Ana berteriak memanggil setiap orang yang lewat, rata-rata dari mereka menyukai kue buatan Ayu. Rey memang tidak salah pilih dengan hukumannya, Ayu sudah pandai menyaingi makanannya sekarang.


Ada rasa bangga dalam diri Rey, dia berhasil mendidik Ayu dan membuatnya terampil dalam banyak hal. Tapi ini bukan saat yang tepat untuk memuji, dia masih menikmati setia ciuman Ana dan teriakan lantang dari mulut Ayu.


Senyum terukir indah tidak pudar dari bibir Rey sepanjang hari ini. Dia menikmati setiap senyuman dari orang lain meskipun membuat kekasihnya malu.


Restaurat Kak Rey hari ini sangat ramai, mereka akan setia datang setiap akhir pekan. Hari keberuntungan bagi Ana dan Ayu. Jika tidak, mereka harus mengulang kembali apa yang sekarang sedang mereka lakukan.


Masih tersisa 5 potong, rasanya mulut Ayu berbusa tidak berhenti berbicara sedari tadi. Begitu juga dengan Ana. Bibirnya sepertinya menipis tersangkut di pipi Kak Rey.


“Apa kabar Ayu?”


Ayu mencubit pipinya, apa ini mimpiyah. Apa ini benar-benar kak Oji?


“Apa ini benar Kak Oji?” Ayu masih tidak menyangka akan bertemu Kak Oji hari ini. Dia sudah lama sekali mencari keberadaan Kak Oji. Namun tidak pernah ada hasil.


Oji memakan semua kue yang tersisa diatas meja. Setelah itu dia meminta ijin pada Rey yang masih tidak percaya dengan orang yang muncul dihadapannya saat ini.


“Apa aku boleh membawanya pergi sebentar saja?” Kak Rey memandang dengan tatapan yang penuh kebencian.


Tapi Kak Oji tampak santai saja melihat reaksi Kak Rey. Ayu jadi bingung harus ikut dengannya atau tidak. Karena sekarang masih jam kerja.


“Makan dan bicaralah didalam. Jika tidak bersedia, silahkan tinggalkan tempat ini” Rey berlalu meninggalkan Oji. Tangan Kanannya merangkul Ana dan tangan kirinya menggandeng Ayu masuk kedalam restaurant.


Oji terpaksa mengikuti mereka bertiga, sudah lama rasanya tidak melihat dan merasakan kenikmatan makanan direstaurant ini.


Oji sudah duduk, matanya masih mengikuti Ayu yang dibawa paksa Kak Rey masuk kedalam ruangannya.

__ADS_1


Kak Rey mengunci pintu ruangannya. Ternyata kegundahannya semalaman terjawab sudah. Ada sosok laki-laki yang sangat dia benci tiba-tiba muncul dan begitu dekat dengan Ayu.


Ayu masih duduk diruangan Kak Rey, bingung rasanya melihat Kak Rey dan Jofan begitu membenci Kak Oji. Entah apa yang sudah terjadi diantara mereka bertiga.


Tapi dimata Ayu, Kak Oji selama ini sudah banyak membantunya. Sudah begitu banyak pengorbanan yang Kak Oji lakukan untuknya.


Setelah mampu menguasai emosinya, Kak Rey duduk dihadapan Ayu. Dia tidak percaya jika Oji juga mendekati Ayu.


“Sejauh apa hubunganmu dengan laki-laki itu?” bahkan Kak Rey tidak mau menyebut namanya.


“Kami hanya berteman Kak” Ayu meremas jemarinya, dia khawatir akan melukai perasaan Kak Rey yang sudah sangat baik padanya selama ini.


“Aku hanya tidak mau ada orang yang menyakiti Ayu. Kau tau kan, Kak Rey meyayangimu?” Ayu mengangguk, selama ini Kak Rey banyak membantu Ayu.


Dia selalu memberikan kebebasan agar Ayu bisa leluasa belajar dan mendahulukan sekolahnya.


“Baiklah, temui dia. Tapi tidak Kak Rey ijinkan Ayu keluar berdua bersama dia” Akhirnya Kak Rey membiarkan Ayu menemui Oji.


Oji tersenyum melihay Ayu yang berjalan ke arahnya.


“Kak Oji tau darimana aku ada disini Kak ?” Ayu duduk berhadapan dengan Oji. Dia bahagia melihat Kak Oji baik-baik saja saat ini.


“Aku selalu mengawasimu, kamu saja yang tidak pernah sadar kalo aku selalu ada disetiap langkah Ayu” Mulai lagi Kak Oji kumat


“Jangan menakutiku, aku mencari Kak Oji dan tidak pernah menemukan keberadaan Kak Oji” Ayu bahkan nekat bertanya pada Jofan.


“Ok ok, sebenarnya aku kuliah di Jerman. Sekarang sedang libur semeter jadi aku memutuskan untuk pulang” Oji sangat bahagia bertemu dengan sosok gadis pujaan hatinya.


Dia masih sama, tidak berubah. Masih saja lugu, penyayang dan murah senyum. Tapi sekarang bertambah 1 orang penghalang hubungan kami.


Ternyata dunia begitu sempit, aku bahkan belum melangkah jauh. Tapi sudah banyak sekali halangan yang membuatku harus menunda langkah-langkah kecilku. Batin Oji


“Apa pulang nanti kita bisa jalan berdua?” Netra Oji memelas, Ayu bahkan tidak tega melihat Kak Oji melakukannya. Dia selama ini baik dan tidak pernah menyakitiku. Meskipun suka sekali menarik paksa tanganku.


“Kenapa tidak datang saja ke kosanku. Ada Ibu dan Adikku yang sedang berkunjung. Mereka datang dari kampung halaman Kak” Ayu membantu menghidangkan makanan dimeja.


“Benarkah? Apa aku boleh datang?” Oji mulai menyuapkan makanan, dulu dia hampir setiap hari datang dan menikmati hidangan ditempat ini.


“Tentu saja Kak, kita ini kan sahabat. Lagi pula aku mau membayar hutangku yang dulu Kak” Oji terlihat berpikir, hutang apa yang Ayu maksudkan.


“Kak Oji lupa? Dulu aku pernah hutang 12 juta saat kak Oji membayar tagihan rumah sakitku” Oji ingat kejadian itu.

__ADS_1


“Tidak perlu, uangku tidak terpotong. Biayanya sudah ada yang membayar” Ayu termenung, siapa kira-kira orang yang sudah berbaik hati membayar biaya rumah sakitnya. Selama ini Ayu mengira biaya rumah sakit dibayarkan oleh Kak Oji.


__ADS_2