
Rama pamit undur diri saat Jofan dan Rey sudah datang untuk menemani Ferdinan.
Keadaan Ferdinan juga sudah lebih stabil dari sebelumnya. Rama percaya kedua pemuda yang ada di hadapannya akan menjaga Ferdinan dengan baik.
Saat ini Rama harus mempersiapkan dirinya menemui keluarga dari gadis dan pemuda yang membuat Malik dalam skandal besar jika tidak ditindak cepat.
Rama memijat pelipisnya, kepalanya sedikit pusing karena seharian ini mengurus masalah yang menimpa keluarganya tiada henti.
“Tuan, apa tidak sebaiknya kita bicarakan nanti saja dengan keluarga pelaku? Tuan sepertinya sudah lelah.” Pras tidak tega melihat kondisi Rama yang sudah kelelahan.
“Tidak Pras, kita harus segera menyelesaikan masalah kita ini.” Rama menyandarkan kepalanya, memejamkan mata menghilangkan penat sejenak.
Setelah perjalanan beberapa menit, mereka sudah sampai di halaman rumah. Rama melihat sang istri yang sedang melamun duduk di salah satu gazebo dekat kolam ikan.
Rama melangkahkan kaki menghampiri sang istri. Merangkul pundak nya dari belakang dan memberinya ciuman lembut di kening sang istri.
“Kenapa melamun di sini.” Rama sudah duduk di sebelah Mamih.
“Apa aku melakukan kesalahan? Tapi sepertinya tidak salah. Apa masalahnya dengan anak itu.” Mamih meracau sendiri. Membuat Rama sedikit bingung tapi tetap tersenyum.
Mamih terlihat menggemaskan jika dalam keadaan bingung dan bimbang. Membuat hati Rama berdebar-debar dan jatuh cinta dengan istrinya setiap saat.
“Kenapa kamu tersenyum Yah, kamu pikir aku sedang melawak? Aku ini sedang marah Yah!.” Mamih menyandarkan kepalanya di pundak Rama. Meminta pembelaan.
“Apa yang kamu lakukan, apa Malik menyakitimu? Dia memang anak yang tidak tau diri!.” Rama menaikkan nada bicaranya, memancing respon Mamih.
“Bukan begitu Yah, aku hanya menanyakan apakah mereka siap punya anak? Aku tidak salah kan?” Mamih menatap netra Rama dengan muka polosnya.
“Kau menanyakan pertanyaan yang aneh. Kenapa bertanya hal mengerikan seperti itu? Jelas saja Malik marah. Dia pasti akan minggat seperti biasanya.” Rama menggoda Mamih dengan membuatnya takut.
“Kau ini. Mana mungkin putra ku meninggalkan aku sendiri. Dia itu sangat menyayangiku.” Mamih tau putranya dengan baik.
“Aku saja sering kali di tinggalkan olehnya. Apa kamu tidak ingat?” Rama berdiri menahan tawanya.
“Kamu itu tidak menyayangi putramu, makanya dia suka pergi dan tidak mau tinggal satu rumah dengan Ayahnya” Mamih merasa khawatir. Karena sekarang Malik sudah menikah.
“Tapi sekarang Malik punya perempuan yang sudah sah sebagai istrinya. Apa Malik masih mencintaimu?” Rama sedikit berjongkok menatap wajah ngeri istrinya.
Ya Tuhan kenapa isi pikirannya sama dengan apa yang aku pikirkan. Laki-laki ini memang sangat mengerikan. Mamih bergidik ngeri.
“Dia tetap putraku, bagaimanapun dia pasti tidak akan meninggalkan aku.”Mamih memilih pergi meninggalkan suaminya karena merasa kesal.
Tingkah Mamih yang sangat polos membuat Rama terhibur, tubuhnya yang lelah kini mendapat energi dari tingkah sang istri.
Rama masih betah duduk di Gazebo. Masih ingat dengan sahabatnya Ferdinan yang saat ini sedang Tuhan uji akibat perbuatannya dulu. Tapi yang jadi masalah adalah anak yang Ferdinan cari adalah wanita yang sangat putranya cintai.
__ADS_1
Rama tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Ayu saat mengetahui siapa Ayah kandungnya. Dia pasti akan sangat menderita karena Hadi melimpahkan kasih sayang layaknya Ayah kandung.
Membayangkan nya saja membuat Rama sedikit pedih. Putranya akan ikut menderita karena wanita yang dicintainya menderita. Seperti perasaannya saat melihat sang istri sedih dan terluka.
“A...Tuan.”Ayu menyodorkan teh hijau kesukaan Rama. “Aku buatkan Tuan teh, silahkan di nikmati.” Ayu berbalik, jantungnya berdebar dengan cepat.
“Ayuna.” Ayu berbalik kembali. Rama menepuk kursi di sebelahnya, mempersilahkan Ayu untuk duduk bersamanya menikmati semilir angin sore.
“Kenapa masih memanggilku Tuan? Apa aku tidak layak jika di panggil Ayah?” Rama menyunggingkan senyum.
“Tidak Tu...eh, maksud ku Ayah.” Ayu masih merasa canggung dengan panggilan Ayah pada mertuanya. Rama tertawa mencairkan sedikit kecanggungan yang di rasakan Ayu.
Suasana hening beberapa saat. Rasanya ingin sekali beranjak dari duduk dan menghindari suasana seperti ini. Batin Ayu
Batin Rama sedang berperang, ingin sekali menceritakan keadaan Ferdinan yang saat ini lemah tidak berdaya karena tidak bisa menggapai anak kandung yang selama ini dia cari.
“Ayu, aku punya sahabat yang mencari anak kandungnya. Dia melakukan dosa di masa lalu dan menyebabkan wanita yang bukan istrinya hamil. Dia saat ini sudah tau siapa putrinya.” Ayu menyimak dengan antusias.
Ternyata Ayah Kak Malik tidak seseram yang Ayu bayangkan. “Apa anaknya mengakuinya?” Ayu sedikit penasaran.
“Apa menurutmu dia akan mengakuinya? Apa kesalahan seperti itu bisa di ampuni?” Rama mulai merasa khawatir dengan jawaban yang akan dia dengar.
“Aku tidak tau, aku tidak ingin dalam keadaan seperti itu. Pasti sangat menyakitkan.” Ayu tersenyum tanpa dosa.
Rama merasa bersalah menanyakan hal yang tidak seharusnya pada Ayu. Rama mengulurkan tangannya dan Ayu menyambutnya penuh rasa haru. Ternyata dirinya diterima dengan baik di keluarga Kak Malik.
***
“Mah, ayo cepat bawa anak-anak. Jangan membuat Tuan Rama menunggu terlalu lama.” Zaldi sangat antusias mendapat undangan makan malam resmi dari Rama.
Sementar itu, Klara sedang khawatir karena undangan ini bisa saja karena Tuan Rama sudah tau perbuatan Lissa yang merekam adegan mesum putranya.
“Kak bagaimana ini? Aku tidak mau pergi. Aku takut Kak.” Lissa memeluk erat tubuh Klara.
“Apa kamu bisa diam? Aku tidak bisa berpikir dengan benar sekarang. Kenapa kamu sangat ceroboh sekali Lissa! Bagaimana jika Papa tau semua ini?” Klara kesal krena Lissa sangat tidak manusiawi.
Ceklek....
Pintu terbuka, tampak Mama datang dengan senyum penuh kebahagiaan. Selama ini selalu keluarganya yang mengundang Rama dan putranya untuk makan malam, tapi sekarang keluarganya yang mendapat undangan istimewa ini.
“Kalian sudah siap sayang? Mama sangat bahagia, semoa saja sekarang Malik membuka hatinya untuk Klara.”Mamih mencium kening kedua putrinya bergantian.
Sepanjang perjalanan Lissa tidak melepaskan genggaman tangannya. Klara membiarkannya karena tau saat ini Lissa sedang kebingungan dan frustasi. Setelah perjalanan yang diwarnai dengan kemacetan, akhirnya mereka sampai di sebuah restaurant yang begitu megah.
Raymoon Resto adalah tempat favorit Rama, selain makanannya yang enak. Tempatnya juga sangat nyaman dan pelayananya sangat memuaskan.
__ADS_1
“Mbak, meja atas nama Tuan Rama.” Seorang pelayan segera memeriksa dengan sigap.
“Mari saya antar.” Mereka mengikuti arah pelayan berjalan. Di dalam ruangan sudah tampak Rama yang sedang menunggu mereka di temani sekertarisnya.
“Maaf Tuan, perjalanan kami sedikit tersendat.” Rama berdiri menyambut tamunya.
Degg.....
Lissa menangkap bayangan laki-laki yang membuatnya sembunyi di balik punggung Klara. Jatung nya semakin terpacu dengan cepat dan tubuhnya mulai berkeringat.
Klara menarik tangan Lissa agar tetap bersikap normal di hadapan semua orang.
“Jangan bersikap seperti ini. Mereka bisa curiga!.” Klara menekan suaranya agar tidak di dengar orang lain.
“Loh ada Hans juga? Apa kabar Nak?” Mama Nata memeluk Hans tanpa menaruh curiga sedikitpun. Hans memeang kerap kali datang kerumah, jadi Nata sudah kenal siapa Hans.
“Silahkan, silahkan.” Rama mempersilahkan semuanya untuk duduk dan menikmati makanan yang sudah tersusun rapi di atas meja.
Semua orang fokus dengan makanan masing-masing. Klara mencoba bersikap normal, lembut dan penuh pesona. Lain halnya dengan Lissa, tangannya gemetar. Mulutnya kelu dan pikirannya sudah tidak bisa di ajak berpikir jernih.
“Lissa.” Rama mengangetkan Lissa, membuat gadis itu menjatuhkan sendok yang ada di tangannya. Klara begitu sedih melihat adiknya sangat tertekan.
“Ma...maaf. I...iya Tuan.” Lissa gagap dan menahan air matanya.
“Kenapa? Kamu terlihat sangat tegang sekali. Ada yang ingin kamu sampaikan pada laki-laki tua ini?” Rama tersenyum, sepertinya Lissa sudah mulai curiga. Ditambah Hans saat ini ada di sana.
Hans tidak mengajak orang tuanya, Hans pasrah pada apa yang akan terjadi pada dirinya. Tapi Hans memohon pada Rama agar kedua orang tuanya tidak dilibatkan. Semua ini tanggung jawabnya.
Rama sedikit tersentuh melihat laki-laki yang sangat gagah berani meskipun masih sangat muda. Rama bahkan berjanji pada dirinya sendiri akan mengawasi Hans dan menjadikannya orang yang sukses kelak.
“Tenang saja Nak, Tuan Rama orang yang sangat baik dan hangat.” Nata kenal siapa Rama, mereka dulu pernah satu jurusan saat kuliah. Itu mengapa Rama mencoba menjodohkan Malik dengan Klara.
Kali ini Lissa sudah tidak bisa lagi menahan gejolak dalam dirinya. Lissa mengumpulkan kekuatan, melangkah berjalan mendekati Rama.
Air mata kini sudah lolos membasahi wajah cantiknya.
Klara berlutut di hadapan Rama, langkah Kaki Lissa tercekat dengan apa yang dia saksikan saat ini.
Lissa semakin sedih dan merasa bersalah.
Nata dan Zaldi sangat terkejut. Nata bangkit dan mencoba membantu Klara berdiri, namun ditepis oleh Klara.
“Tuan, tolong maaf kan perbuatan adik saya. Mereka masih sangat kecil dan tidak bijaksana.” Klara terisak.
“Ada apa ini? Rama tolong jelaskan apa yang sedang terjadi?” Nata menyentuh dadanya yang sedikit sesak.
__ADS_1
“Duduk Nata, jantungmu bisa saja kambuh.” Rama tau betul jantung Nata yang lemah sejak dia kecil. Rama tidak ingin membuat sahabatnya terkejut. Tapi kedua putri Nata bertindak diluar dugaan.
“Tolong Rama jelaskan. Kenapa kedua putriku bersikap aneh seperti ini? Mereka melakukan kesalahan?” Zaldi hanya mematung.