Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 87 ( Dia Mengagumimu )


__ADS_3

Malik membayangkan tangan Ayu memeluk pinggang Aldo dengan erat saat mengendarai motor. Membuat Malik semakin naik pitam di buatnya.


“Kenapa kamu tidak menolak Aldo yang membawamu naik motor? Kenapa tidak menelponku?” Malik mengacak rambutnya frustasi. Bucin


“Aku tidak tau, aku pikir Kak Malik sudah tau.” Malik berdiri membuat Ayu kaget dan memundurkan jarak duduknya menjauhi Malik.


“Mana mungkin aku menyuruhnya membawa Motor. Itu berbahaya.” Marah-marah tidak jelas membuat Ayu bingung.


Mamih hanya tersenyum tidak perduli. Dia masih sibuk mewarnai kukunya dengan cat kuku berwarna merah tua.


Mamih tolong aku. Aku bisa di makan hidup-hidup oleh anakmu. Jerit Ayu dalam hati yang tidak di dengar oleh siapapun.


“Aldo cepat keruanganku. Sekarang!” Malik berteriak pada ponsel yang tidak bersalah.


Tidak lama Aldo sudah memasuki ruangan.


Aldo selalu menomor satukan perintah yang Malik berikan padanya secara langsung.


“Iya Boss, ada yang bisa saya bantu.” Malik menjentikkan jarinya, meyuruh Aldo berdiri lebih dekat dengannya.


“Kau tau apa kesalahan yang sudah kamu perbuat?” Malik memainkan pulpen diatas meja menahan amarahnya.


“Apa aku melakukan kesalahan?” Bertanya dengan polosnya.


“Kau tidak tau? Kamu melakukan kesalahan besar Al !.” Malik sudah berdiri kesal menatap Aldo.


Aku melakukan kesalahan apa sebenarnya. Aldo berteriak dalam hati mencari jawaban lewat sorot matanya menatap Ayu. Ayu hanya terdiam, dia sudah lemas melihat kemarahan Kak Malik yang suka meledak setiap saat.


“Kamu berani-beraninya membawa Ayu naik motor. Bagaiman kalau Ayu terluka?” Malik membuat Aldo lemas.


Dia bahkan sehat wal afiat duduk di depanmu Boss. Kenapa kamu sangat keterlaluan khawatirnya. Jerit Aldo dalam batinnya.


“Maaf Boss. Aku tidak akan mengulangi kesalalahan yang sama.” Aldo hanya boleh pasrah, melawan Malik sama saja mempersuit hidupnya.


"Tentu saja, tamat riwayatmu kalo berani membawa nya naik motor lagi."


Lihatlah laki-laki ini, kenapa dia jadi sangat sensitif belakangan ini. Apa begitu yah rasanya jatuh cinta.


"Kau menertawakan ku?" Malik melihat jelas senyum di bibir Aldo.


"Tidak boss, tadi rera kentut di ruang meeting. Aku tiba-tiba saja teringat." Aldo sedang berkelit.


"Rera jorok sekali. Mana boleh dia begitu di ruang meeting." Mamih tertawa tapi tetap terlihat bersahaja.


Maaf Rera, aku hanya sedang menyelamatkan hidupku. Batin Aldo.


Aldo turun ke lantai bawah kembali ke ruang meeting setelah menghadapi Malik yang saat ini sedang bucin pada Ayu.


Aldo harus lebih hati-hati jika menyangkut masalah Ayu. Malik sangat berlebihan menyikapi semua yang berhubungan dengan Ayu.


Hari sudah petang, kini Malik meyiapkan mukena di ruang kerjanya. Dia tau Ayu wanita yang tidak pernah meninggalkan shalat di manapun dia berada.


Selesia Ayu shalat, Malik membawa Mamih dan Ayu menemui Rama di ruangannya.


Rama sedang berbincang satai bersama Pras. Membahas kelangsungan perusahaan yang semakin tahun semakin baik pertumbuhannya.


Dia bangga sudah membuat Malik menjadi laki-laki yang lebih hebat dari dirinya.


"Apa Ayah masih ada pekerjaan? Tinggalkan saja, biar aku urus besok." Malik memang lebih handal sekarang.


"Tidak, hanya berbincang dengan Pras." Rama berdiri, meninggalkan sisa dokumen yang belum dia periksa di atas meja.


Bukan tangan Mamih yang dia gandeng, tapi tangan Ayu yang Rama raih di genggamannya.


Malik tersenyum, begitu juga Mamih. Rama tidak biasanya bersikap lembut pada siapapun selain Mamih.


Malik merangkul pundak Mamih yang masih mematung dengan senyumnya.


Mengajaknya untuk berjalan bersama Malik menyusul Ayah dan Ayu.


Restauran Kak Rey selalu menjadi favorit keluarga Kak Malik. Ayu juga sangat senang karena sudah lama tidak mampir.

__ADS_1


"Malam Tuan, Nyonya. Silahkan." Rey mengantar mereka ke ruang VVIP seperti biasanya.


"Kak Rey." Ayu tersenyum ramah seperti biasanya. Tapi Kak Rey tidak mendengar Ayu memanggil.


Malik melihat wajah Ayu yang berubah sendu karena sikap Rey yang acuh padanya.


Apa Kak Rey tidak melihatku yah. Dia biasanya akan memelukku jika bertemu. Ayu bersedih.


Malik seolah merasakan apa yang Ayu rasakan.


Melihat makanan yang begitu banyak di depan mata, membuat Ayu lupa dengan rasa sedihnya.


Dengan telaten Ayu menyiapkan makanan di piring Rama. Malik menunggu gilirannya dengan sabar. Ayu selalu menomor dua kan Kak Malik saat ada Rama.


Ayu menikmati setiap hidangan yang ada. Rasanya masih sama seperti dulu. Sudah lama Ayu tidak menyapa teman-teman nya.


Ada rasa rindu, tapi Ayu tidak berani meminta ijin untuk bertemu dengan mereka.


Karena tidak fokus Ayu menjatuhkan gelas yang ada di sisi kanannya. Gelas jatuh mengenai paha nya yang lebam karena tertabrak motor beberapa hari yang lalu.


Awww...


Ayu merintih memegang paha nya yang terbalut rok.


"Kenapa? Apa sangat sakit?" Malik mencoba menjatuhkan gelas ke paha nya. Dan tidak terasa apapun.


"Ah tidak kak, aku hanya kaget." Tapi wajah Ayu sangat merah, membuat Malik khawatir.


Malik tidak melanjutkan pertanyaannya. Sepertinya Ayu tidak mau membahasnya. Mereka kembali fokus degan hidangan yang ada di piring masing-masing.


Tangan Ayu sedikit gemetar, rasa sakitnya masih mengganggu, dia menahan takut Kak Malik marah pada dirinya atau orang yang menabraknya.


"Aku keluar sebentar, ada yang harus aku sampaikan pada Rey." Malik meninggalkan meja makan.


Tok...tok...tok....


Malik mengetuk pintu ruangan Rey setelah mencari tau keberadaannya.


"Apa mengganggu? Aku bisa datang lain waktu jika...."


"Ah tidak, tidak. Tenang saja, aku bisa lanjutkan nanti." Kini mereka duduk berhadapan.


Malik merasakan ada yang berbeda dengan sikap Rey.


"Rey, apa kamu sudah tau siapa Ayu?" Menatap tajam mata Rey yang selalu menghindari nya.


Rey tersenyum dengan wajah yang di paksakan. Ada kebencian di sana.


"Kau sangat menyayangi Ayu, sampai kau pernah memintaku untuk menjaganya."


"Aku tidak bisa seperti dulu, dia sudah menghancurkan keluargaku." Rey ingat bagaimana keluarga Kak Ferdinan porak poranda.


"Kau menyalahkannya? Dia bahkan tidak tau apapun. Dia tidak boleh disalahkan atas dosa yang tidak dia perbuat." Malik sangat kesal dengan sikap Rey.


"Tapi nyatanya, kehadiran Ayu membuat semuanya berantakan. Keluar lah, maaf aku sedang tidak dalam keadaan yang baik." Rey berdiri berusaha membuat Malik keluar dari ruangan kerjanya.


"Rey ingat, Ayu juga bisa terluka jika kalian menyalahkannya. Tapi aku bersikap egois kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti perasaan nya."


"Kau pikir ini mudah untukku? Aku bahkan sangat mencintai dia, anak yang seharusnya aku benci karena sudah merusak hidup keluargaku." Rey mendorong Malik dengan paksa.


"Ingat Rey, dia juga sangat menyayangimu. Dia sangat mengagumi semua yang ada pada dirimu Rey." Malik berteriak dari balik pintu.


Setelah makan malam selesai, Malik dan keluarganya langsung pulang. Mereka sudah cukup lelah hari ini. Ayu bahkan terlelap dan membuat Malik harus menggendongnya.


"Kita sudah sampai?" Ayu terbangun saat Malik membawanya naik ke lantai atas.


"Iya, kamu sangat cantik saat tidur." Wajah Ayu bersemu mendengar ucapan Malik.


Malik menurunkan tubuh Ayu di atas kasur, menyiapkan air hangat dan piyama tidur dengan telaten.


Ayu sudah terbiasa dengan perhatian Kak Malik. Dia hidup seperti seorang putri.

__ADS_1


"Air nya sudah siap. Mandilah." Malik melihat Piyama yang di siapkan nya sudah berubah.


"Kau menggantinya? Apa pilihan ku tidak sesuai dengan selera mu?" Malik mengunci Ayu di pelukannya.


"Bu...bukan begitu Kak, aku hanya kedinginan jika pakai celana piyama yang pendek." Ayu berkelit.


"Kau masih tidak mau cerita? Apa yang kamu sembunyikan." Malik menarik kaki kanan Ayu perlahan.


"Tidak ada Kak." Ayu berusaha keras melepaskan tangan Kak Malik dari kakinya.


Perlahan Malik menggulung celana Leging Ayu.


"Tidak ada apapun, tapi gelas itu tidak jatuh di kaki. Dia jatuh di paha....lepaskan." Menunjuk Leging yang Ayu kenakan.


"Kak Malik apa-apa an, katanya mau menunggu sampai aku siap." Ayu menutup pahanya dengan kedua tangan Ayu.


"Dasar gadis mesum, kau pikir aku akan melakukan Apa?" Malik mengecup pipi Ayu.


Ayu spontan mundur sampai tubuhnya membentur tembok.


"Kau mau lepaskan sendiri atau aku yang lepaskan!." Nada nya sudah mengancam.


"Tapi Kak, tolong jangan marah. Aku tidak kesakitan, ini hanya sedikit lebam." Ayu masih khawatir Malik akan marah.


"Lihatlah, banyak sekali alasan. Aku mau melihatnya sendiri, baru akan aku putuskan marah atau tidak." Semakin penasaran.


Ayu membuka Leging nya di kamar mandi. berdoa agar Kak Malik tidak menyalahkan siapa pun.


Perlahan Ayu menaikkan rok yang dia gunakan. Jantung Ayu terpacu sangat cepat.


Membuat tangannya sedikit bergetar.


"Astaga Ayunan." Mata Malik membulat, ini bukan hanya lebam.


"Aku tidak..." Mencoba menurunkan kembali rok nya.


"Diam!" Aku terkejut karena Kak Malik membentaknya dengan keras.


"Kau selama ini, kau menutupi semua ini? Kau pikir ini baik-baik saja?" Malik benar-benar marah kali ini.


"Ma...maaf Kak." Ayu terisak, takut dan merasa bersalah.


"Ini tidak main-main Ayuna. Kamu selalu saja membuatku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."


"Maaf Kak, aku yang salah. Maafkan aku, aku mohon jangan marah pada orang itu." Ayu menarik lengan baju Malik memohon.


"Kau hanya memikirkan orang lain? Kamu tidak memikirkan perasaanku?" Malik berteriak.


Ayu hanya terisak, dia sangat ketakutan karena Kak Malik begitu marah padanya.


Tok... tok...tok....


"Nak ada apa? Apa semuanya baik-baik saja?" Mamih muncul setelah mengetuk pintu. Khawatir karena mendengar kemarahan Malik.


Rama mengikuti langkah istrinya yang juga ikut khawatir.


"Lihatlah, Ayu masih tidak percaya denganku. Dia bahkan terluka, tapi dia tidak mengatakannya padaku." Malik marah pada dirinya sendiri.


"Tapi jangan berteriak nak, kamu membuatnya takut." Rama mengembalikan kesadaran Malik. Dia sering kali hilang kendali.


Malik hanya menatap Ayu yang sedang menangis di pelukan Mamih.


Menarik nafas nya panjang dan kemudian melangkahkan kakinya mendekati kembali Ayu yang masih terisak.


Malik berjongkok memandang wajah Ayu. Masih deras air mata membanjiri wajah cantik Ayu.


"Berjanjilah tidak mengulangi nya lagi." Ayu mengangguk. Tangannya sibuk menghapus air mata yang tidak mau berhenti.


"Ayah juga marah kalau Ayu bersikap seperti ini. Harus lebih terbuka, jangan sampai membuat siapa pun merasa bersalah. Kau mengerti!." Rama menarik tangan Mamih meninggalkan Ayu dan Malik.


"Maafkan aku, aku tidak marah pada Ayu." Malik tersenyum, lagi-lagi dia membuat Ayu ketakutan.

__ADS_1


Pelukannya sangat erat, membuat Ayu perlahan merasa nyaman dan berhenti menangis. Dia bahkan tertidur di pelukan hangat Kak Malik.


__ADS_2