Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 12 (Salah Sangka)


__ADS_3

Hari ini sangat bersejarah, aku bahagia sekali miliki kesempatan bersekolah di sekolah yang cukup elit. Tidak ada dalam hayalanku sekalipun, aku hanya berharap bisa sekolah dan bisa meraih gelar sarjana kelak.


Kali ini aku tidak boleh lupa, karena Kak Oji sangat kecewa aku tidak menepati janjiku semalam.


Melani, Sandra dan aku melangkah bersamaan menuju tempat parkir. Mereka semua membawa kendaraan sendiri ke sekolah. Kenapa bisa yah, padahal usia mereka belum cukup umur untuk membawa kendaraan.


Entahlah, tak sampai otakku memikirkan kenapa bisa terjadi. Kami berjalan dengan riang gembira. Hari ini kami hanya berkenalan dengan para Guru, jadi masih belum mendapat pelajaran .


" Mel, kamu bawa kendaraan sendiri atau sama supir?" pertanyaan Sandra.


Melani : Aku bawa sendiri, tapi pake motor biar cepet.


Sandra : Kalo kamu Yu?


Ayu : Ayu sebenernya naik angkot sih Mbak, tapi.....


" Sudah aku peringatkan, jangan berhubungan dengan orang itu. Kamu tidak bisa dengar?" tangan Jofan mencengkeram bahuku cukup kuat dari arah samping kananku.


" Jofan, kamu kan laki laki, Bahu Ayu pasti sakit kamu pegang terlalu kuat" Tangan Sandra mencoba melepaskan cengkraman Jofan dari bahuku.


Melani : Kenapa sih? Emang kamu sama Jofan ada apa Yu ?


Mataku menatap Melani dan Sandra bergantian. Akupun bingung ada apa dengan Jofan, dia tampak tidak suka kedekatanku dengan Kak Oji.


Aku sebenar nya tidak suka jika berhubungan dengan laki laki yang maunya menang sendiri begini.


" Kak Jofan, sebenarnya Ayu hanya mau berterima kasih pada Kak Oji, kemaren Kak Oji udah bantu aku Kak ". Aku mencoba memberikan penjelasan agar Jofan mau mengerti.

__ADS_1


"Kamu akan menyesal jika terlalu jauh. Lebih baik hentikan". Jofan pergi begitu saja meninggalkan kami bertiga.


Sebenernya banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku, ada apa dengan sikap Jofan yang sangat membenci Kak Oji. Apa mereka saling mengenal?


"Yu. woy.....kok malah ngelamun. Udah gak usah di pikirin". Sandra dan Melani adalah sahabat yang baik.


Mereka adalah teman-teman yang tidak banyak mencari tau apa yang sedang terjadi. Menurutku yah.


" Jadi kamu pulang bareng sama Kak Oji?" ternyata tebakanku salah. Sandra akhirnya memberanikan diri bertanya.


Ayu : Sebenarnya aku berhutang budi pada Kak Oji, semalam aku terserempet motor saat pulang dari sekolah.


Melani : Kok bisa, terus kamu baik baik aja? yang mana yang luka?


Aku menaikkan sedikit leging di kaki ku. Terlihat jelas muka mereka yang sangat kaget melihat luka di kaki ku yang warnanya biru keunguan.


Selalu saja dia datang dengan aura yang sangat menakutkan seperti tadi pagi. Aku berjalan dengan berlari kecil mensejajarkan langkah kaki panjang Kak Oji.


Detak jantung ku berdegup tak beraturan. Ada rasa takut yang bercampur engap karena berlari-lari kecil mengikuti tarikan tangan Kak Oji.


" Kenapa bisa kamu bilang hutang budi padaku" Mata kak Oji terlihat merah karena marah padaku.


Ayu : Kak Ayu minta maaf (melepaskan tangan dari cengkraman Kak Oji)


Kak Oji : Maaf (melepaskan tanganku cukup keras karena reflek)


Kak Oji tau aku tidak mau disentuh begitu saja oleh laki-laki. Biar saja orang berkata aku kampungan. Aku berusaha menjadi pribadi yang berpegang teguh pada Agamaku.

__ADS_1


"Ayu tak bermaksud menyinggung perasaan Kaka. Tapi sepertinya sikap Kak Oji terlalu berlebihan pada Ayu. Ayu saja tak kenal Kaka dengan baik".


Aku mencoba membuat Kak Oji menjauh dariku. Aku tidak suka dengan sikap nya padaku. Aku tidak mengenal dia dengan baik.


Dan aku agak takut dengan peringatan Jofan.


"Sudah lah, ayo aku antarkan. Tenang saja kita tidak berdua, ada pak Ayub". Jelas Kak Oji


Akupun mengikuti Kak Oji dari belakang. Sesampainya di mobil, Kak Oji langsung memerintahkan Pak Ayub untuk jalan. Tapi arah jalan nya bukan ke arah rumah Mbak Murni.


" Kak, kita kayaknya salah jalan deh" Aku celingukan karena jalan yang di lewati sangat asing. Aku berfikir kalo Kak Oji akan menculikku. Seharusnya aku mendengarkan kata kata Jofan tadi. Aku sangat khawatir, kepalaku jadi pening karena terlalu berpikir keras.


"Tenang saja, kita hanya makan sebentar. Tidak akan aku culik". Kak Oji tau isi kepalaku.


Loh...loh, kok bisa tau isi kepalaku. Apa tadi aku mengeluarkan suara yah. Tanganku reflek saja menutup mulutku sendiri.


Aku pun tersenyum sambil menggaruk garuk kepalaku yang tertutup hijab. Padahal tidak gatal sama sekali.


Tak lama kami pun tiba di restoran yang cukup besar. Aku perhatikan tidak ada satu pengunjung pun yang ada di tempat itu.


Menu makanan di sodorkan oleh seorang pelayan perempuan di atas meja. Aku membolak balik menu makanan berkali-kali. Tak satupun nama makanan yang aku tau. semua namanya sangat asing.


"Kak Oji, apa ini Halal?" pertanyaan ku membuat kening Kak Oji berkerut. Namanya sangat asing. Bukan Bahasa Inggris, sepertinya bahasa Itali atau entahlah.


" Tentu saja Yu, aku juga Muslim. Aku makan makanan Halal. Pesanlah, pilih yang mana saja yang kamu suka".


Akhirnya aku makan-makanan yang di rekomendasikan oleh Kak Oji. Lebih enak makan nasi padang menurut lidahku. Tapi nikmati saja, biar gak kampungan.

__ADS_1


Untung saja Ibu pernah mengajariku cara makan di restoran mahal. Jadi tidak memalukan.


__ADS_2