
Perjalanan hidup membawa seseorang belajar banyak hal. Membuat setiap insan belajar bagaimana bersikap dan menjadi dewasa dalam menyikapi setiap gejolak perjalanan setiap masalah yang membawanya mengarungi petualangannya.
Pagi ini Ayu mendapat kesempatan mengikuti perlombaan cerdas cermat mewakili sekolahnya bersama Jofan.
Mereka anak-anak cerdas yang mempunya banyak prestasi membanggakan.
Malik sudah siap sejak subuh, dia tidak melewatkan kesempatan besar mendampingi Ayu melewati momen bahagia dalam hidupnya.
“Apa kau sudah siap?” Jantung Malik berdegup kencang. Padahal bukan dia yang akan ikut lomba.
“Sudah Kak, aku sangat gugup.” Ayu sudah merasa gugup satu minggu belakangan.
Malik menangkup wajah menggemaskan Ayu dengan kedua tangannya. Mengusap dengan lembut pipi Ayu yang merona.
“Kau sudah bekerja keras sayang. Apapun hasilnya kita harus menerimanya.” Ayu semakin bersemu mendapati perlakuan yang sangat manis.
“Kenapa mukamu sangat merah, kau takut atau sedang jatuh cinta. Hah...” Malik memcubit hidung Ayu dengan gemas.
“Siapa yang jatuh cinta, aku bahkan sudah menyerahkan hatiku.” Kalimat terakhir diucapkan sangat lirih, tapi Malik masih bisa mendengarnya.
“Kau sedang menyatakan perasaanmu? Kau sudah mulai nakal sekarang yah.” Malik memeluk erat tubuh Ayu yang hendak lari.
“Lepaskan Kak, kau membuatku berantakan. Aku sudah bersiap sejak tadi.” Ngambek menghindari pertanyaan-pertanyaan aneh yang bisa saja muncul.
“Tidak perlu malu, aku ini kan suamimu. Kenapa harus malu mengatakan kalau kau mencintaiku.” Malik memaksa.
“Aku tidak mengatakan itu. Kak Malik salah dengar.” Ayu mencoba melepaskan pelukan Malik. Jantung nya sudah tidak terkontrol karena sangat canggung dan malu.
“Kau menghindariku? Kau berani menghindar dariku?” Jurus andalan, mengancam.
“Ayo kita jalan, nanti aku bisa di marahi Jofan kalo datang terlambat.” Ayu mencoba berdiri dari pangkuan Malik.
“Dia berani memarahimu? Aku akan buat perhitungan.”
Mendengar itu, Ayu langsung memeluk tubuh Malik, kata-katanya mengundang pertikaian.
“Jangan suka marah Kak. Kan itu hanya kiasan saja. Jofan juga sangat menyayangiku.” Memilik kata-kata sehalus mungkin.
“Apa! Berani-beraninya dia menyayangi istriku, aku harus buat perhitungan.” Malik melepaskan pelukannya.
Bersikap seolah-olah sedang benar-benar marah, padahal dia hanya menggoda Ayu.
Ya Tuhan, kenapa laki-laki ini sangat sensitif. Seperti sedang datang bulan saja. Ayu meronta dalam hatinya yang tidak tau harus berbuat apa.
“Kak tenanglah, dia hanya menyayangiku seperti adiknya. Dia sangat menyayangi Arumi. Dia bahkan selalu melindungiku seperti adik kandungnya.”
Degggg.....
Malik tersiksa mendengar ucapan Ayu. Entah apa yang akan terjadi jika Ayu tau siapa dirinya.
Semoga tidak ada yang menyalahkannya. Semoga Rey dan Jofan kelak bisa menerimanya dengan lapang dada.
Ayu hanya korban. Jika bisa memilih, tidak ada orang yang mau di lahirkan dengan jalan yang salah.
Mereka akan memilih bagaimana dia terlahir ke dunia denga penuh cinta kasih.
Malik memeluk erat tubuh Ayu yang sangat Malik cintai. Membalur dengan do’a yang Malik ucapkan dengan segenap cintanya.
Ayu dan Malik berangkat lebih pagi, mereka menuju gedung tempat di adakannya lomba.
Tampak Jofan sudah duduk dengan santai membaca sebuah komik di tangannya.
Malik sampai heran karena mereka memiliki kecerdasan luar biasa di balik hobi yang bertolak belakang.
"Kau tidak belajar?" Jofan menoleh mencari sumber suara.
"Aku sedang me reefrash otakku Kak. Bisa-bisa aku mabuk karena terlalu banyak membaca materi pelajaran." Jofan bersikap ramah.
"Sama dengan Ayu, dia semalaman menghabiskan waktunya menonton drama Korea." Malik tau strategi otak mereka.
Belajar giat sebelum waktu pelaksanaan, saat waktunya tiba mereka sudah siap dan menyegarkan pikiran dengan melakukan kegiatan yang mereka suka.
Dengan begitu otak akan bekerja dengan baik saat dibutuhkan.
"Kak, aku bawakan coklat hangat." Ayu menyodorkan minuman setelah Malik mengijinkan dengan menganggukkan kepala.
Jofan meneguk coklat hangat yang mampu mengembalikan semangat karena rasa manisnya.
"Apa kepala sekolah sudah sehat?" Malik masih khawatir dengan Ferdinan.
__ADS_1
"Sudah lebih sehat Kak. Dia bahkan hari ini berjanji akan datang." Jofan meneguk coklat dengan gaya maskulin.
"Syukurlah, kamu harus lebih memperhatikan nya Jofan. Dia orang yang sangat baik terlepas apapun perbuatan di masa lalunya." Jofan mengernyit. Kata-kata Kak Malik menyiratkan sesuatu.
Jofan mengangguk dan tersenyum. Masih tidak bisa menebak apa tujuan dari ucapakan nya.
"Aku mau ke toilet. Aku sangat gugup sampai bolak balik ke kamar kecil." Malik tersenyum.
Padahal sebelum masuk Ayu sudah ke kamar kecil.
Malik menggandeng tangan Ayu, tidak membiarkannya pergi sendiri.
***
"Kau tidak mau bicara? Aku sangat sedih Kak Rey. Tolong beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi?" Ana bingung dengan sikap Rey belakangan ini.
"Aku tidak bisa membicarakannya. Maaf membuatmu tidak nyaman."Rey memeluk Ana.
Ada kesedihan mendalam di lubuk hatinya yang membuka luka lamanya.
"Aku akan bantu jika memang bisa. Tolong katakan." Ana sangat bingung.
"Hhhhmmmm....Tidak An. Ini semua hanya masalah keluarga ku."Rey membuang kasar nafasnya, Rey berkelit.
"Aku bukan keluargamu? Kau tidak bisa percaya padaku?" Ana berdiri bertolak pinggang.
Rey menarik lembut Ana dalam pelukannya. Ana sudah sangat sabar menghadapi dirinya. Tapi Rey begitu bingung dengan perasaannya saat ini.
"Beri aku waktu, ini semua tidak mudah An." Rey memejamkan matanya.
Dia sangat menyayangi Ayu, selama ini Rey sangat mencintai Ayu seperti adik kandungnya.
Saat mengetahui siapa Ayu sebenar nya. Membuat hati Rey berusaha untuk membencinya.
Setiap kali dia memikirkan keceriaan wajah Ayu. Kebenciannya sirna begitu saja.
Ayu sudah membawa Rey mencintainya apa adanya. Membuat Rey sulit untuk membencinya.
"Aku tidak mau terlalu lama, ini menyiksaku Kak." Sudut mata Ana basah.
Hatinya juga terluka melihat Rey tidak bersemangat belakangan ini.
"Jangan menagis, aku sangat mencintaimu." Membelai rambut panjang Ana.
"Maaf kan aku An. Maaf kan aku." Rey masih belum siap menceritakan nya.
Tok....tok...tok
"Masuk lah." Rey mempersilahkan masuk.
"Lihat Kak Rey, aku membawa piala keberhasilan ku hari ini." Jofan sangat bangga bisa menang.
"Wah kau keren sekali, bagaimana bis...." Rey terkejut melihat Ayu dan Malik masuk di belakang Jofan.
Jofan meraih tangan Ayu. Mengajaknya memamerkan piala kemenangan mereka.
Ayu hanya tersenyum, masih mengingat raut wajah Kak Rey terakhir kali.
"Selamat ya sayang, kalian hebat sekali." Ana memeluk Jofan dan Ayu bergantian.
"Terimakasih Kak Ana. Ini berkat otak Jofan yang sangat encer." Ayu tersipu.
"Kak Rey, kau tidak mengucapkan selamat?" Ana heran Rey hanya mematung.
Dia biasanya memeluk Ayu dan Jofan dengan lembut. Dia sangat menyayangi mereka berdua.
"Ah...selamat Jofan, Ayu." Ada senyum yang di paksakan.
"Kau tidak mau memeluk ku dengan erat?" Jofan yang memeluk tubuh Rey.
Johan menarik tangan Ayu dan membawanya dalam pelukan Kak Rey.
Mereka bertiga berpelukan, seperti layaknya keluarga bahagia.
Ayu masih menangkap raut wajah Kak Rey yang tidak menatapnya seperti pertemuan terakhir.
Ayu sangat penasaran karena Kak Rey menghindari kontak mata dengan nya.
Malik menangkap jelas Netra Ayu yang berkaca, dia menahan sangat keras dengan senyum cantiknya.
__ADS_1
"Aku mau ke toilet sebentar." Tempat paling aman untuk menangis.
"Mau aku temani Yu?" Malik bersikap seolah tidak terjadi apapun.
"Tidak Kak, aku segera kembali." Malik memberikan ruang agar Ayu meluapkan emosinya tanpa ada yang tau.
Setelah Ayu hilang di balik pintu, Malik mendekat duduk di sebelah Rey.
"Apa kau tidak bisa bersikap sedikit baik padanya!" Malik sedikit terganggu dengan sikap Rey.
"Kau pikir aku tidak berusaha keras, aku juga mencobanya." Rey meledak.
"Kau menyakiti perasaannya. Dia bisa sangat terluka kalau sikap kamu selalu begini setiap bertemu dengannya." Malik juga ikut meledak.
Perdebatan Malik dan Rey mengundang banyak pertanyaan di benak Jofan dan Ana.
Siapa sebenarnya yang sedang mereka bahas.
Tapi mereka berdua mengambil kesimpulan yang sama, mereka berdua sedang membicarakan Ayu.
"Jangan hanya menyalahkan ku. Lebih baik aku tidak melihatnya lagi." Rey berdiri meninggalkan ruangan.
"Rey, jaga sikapmu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti perasaannya!." Peringatan keras.
Malik tersenyum kemudian keluar meninggalkan ruangan.
Ceklek.....
Terdengar suara pintu toilet yang di kunci oleh seseorang.
Ayu mempercepat membersihkan diri dan segera keluar dari toilet.
Ayu terkejut saat membuka pintu toiletnya, di depan pintu keluar toilet sudah berdiri laki-laki yang tidak asing.
Dia membalikkan badan, menatap Ayu dengan tajam kemudian tersenyum.
"Kau terkejut?" Oji tersenyum.
"Apa yang Kak Oji lakukan." Ayu berusaha menggapai gagang pintu. Tapi tangannya di halangi.
"Tunggu sebentar saja, aku ingin memberimu hadiah." Menyerahkan kotak kecil berwarna merah.
Oji perlahan membuka kotak merah itu yang berisi sebuah cincin.
"Aku tidak bisa menerimanya." Ayu mundur beberapa langkah.
"Kenapa kamu menolak. Kita berdua saling mencintai." Oji sudah lama terobsesi dengan Ayu.
Oji mendekat, membuat Ayu gemetar ketakutan.
"Tolong...to....." Oji membekap mulut Ayu dengan tangannya.
Ayu hanya mampu menangis, tubuhnya terlalu kecil untuk bisa melawan Kak Oji.
"Jangan berteriak, atau semua orang tau kalau kita sedang berduaan di sini."
Tok...tok...tok...
"Ayuna, kau masih di dalam sana?" Malik khawatir karena Ayu sudah terlalu lama di dalam toilet.
Oji mengendurkan tangan yang membekap mulut Ayu.
"I...iya Kak." Suara Ayu bergetar.
"Kau baik-baik saja?" Malik menangkap ke janggalan.
"Ak..aku baik-baik saja Kak." Oji mencengkeram lengan Ayu dengan sangat kuat.
Mengancam Ayu agar tidak mengatakan apapun.
"Jangan katakan apapun pada siapa pun. Aku sangat mencintaimu, aku akan menunggu sampai kau siap dan datang padaku." Oji melepas kan tangan Ayu.
Ayu langsung lari menjauh dari jangkauan Oji keluar dari dalam toilet.
Brugghg....
Ayu membuka pintu degan sangat kasar. Tangannya masih gemetar.
"Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Malik menangkap tubuh Ayu yang masih sedikit gemetar.
__ADS_1
Melihat ke dalam toilet yang tidak ada siapapun di dalam sana.
Ayu menggeleng, menarik tangan Kak Malik agar segera membawanya pergi dari sana.